Untuk Mutia

Untuk Mutia
Menuai kebaikan


__ADS_3

"Jadi kamu benar-benar nggak ingat sama aku?" ketika pelayan meninggalkan mereka, wanita itu memusatkan tatapannya pada Mutia.


"Maaf." Mutia meringis tak enak hati. "Aku memiliki daya ingat yang cukup buruk."


Wanita cantik berpenampilan menarik mengerutkan bibir, sebelum menanggapi ucapan Mutia. "Aku wanita yang pernah kamu tolong waktu di bandara, beberapa bulan yang lalu."


Mutia diam saja, karena ia masih belum mendapatkan ingatan tentang wanita yang duduk di hadapannya.


"Kamu rela membatalkan penerbangan ke Medan hanya untuk membantuku. Ingat?"


Lalu seperti mendapatkan kunci yang tepat, Mutia berhasil membuka ingatan tentang wanita cantik di depannya. Seketika sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan manis, tatkala manik hitamnya berbinar cerah.


"Ya Allah, Astari Keyla. Benar kan?"


"Yes!" sembari tersenyum lebar wanita itu menjentikkan jari.


"Maaf, aku sempat tidak mengingatmu."


"It's okay. Lagian tadi kamu udah bilang, kalau kamu memiliki daya ingat yang buruk." sahutnya sembari mengerling, membuat keduanya pun tertawa.


"Bagaimana kabarmu?" bersamaan dengan pelayan menyajikan pesanan mereka, Mutia bertanya pada wanita di hadapannya.


"Baik. Kamu sendiri?"


"Alhamdulillah, wa syukurillah." melihat Astari yang mulai menyantap makanannya, Mutia pun turut serta. "Omong-omong, bagaimana keadaan Ayahmu?"


Gerakan Astari menyuap makanan seketika terhenti. Meletakan sendok, Astari menatap Mutia dengan sorot sendu. "Saat aku sampai di Medan, Papa dalam keadaan sadar. Kami sempat melepas rindu dan bicara banyak hal. Bahkan tawanya masih terngiang di telinga dan kepalaku. Tapi beberapa menit setelah kedatanganku, kondisi Papa tiba-tiba drop. Papa kejang-kejang dan di bawa ke ruang ICU. Tidak lama setelah itu, Papa menghembuskan nafas terakhir."


"Inalillahi wa Inalillahi roji'un." lirih Mutia. Manik hitamnya menatap iba pada Astari yang kini tengah menyeka air mata. "Aku turut berduka cita, Astari."

__ADS_1


"Terima kasih." tak lupa Astari memberikan senyum tulus pada Mutia


"Bukan hal yang mudah menerima kenyataan, bahwa orang yang kita sayangi telah pergi untuk selamanya. Kehilangan pacar saja, sebagian wanita bisa menangis dan meratap hingga berminggu-minggu, apalagi kehilangan orang tua." guyon Mutia. "Namun aku berharap kamu tetap mampu berdiri tegak dan mengikhlaskan kepergian beliau."


"Aku sudah mengikhlaskan kepergian Papa. Sebab aku tahu, itulah yang terbaik untuknya, daripada Papa menderita karena penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya." meski matanya berkaca-kaca, namun bibirnya mengulas senyum lepas.


"Setidaknya aku merasa lega, karena sempat bertatap wajah dengan Papa, bicara dan mendengar tawanya. Semua itu karenamu, Mutia. Jika hari itu kamu tidak membantuku, sudah pasti aku tidak akan sempat bertemu Papa dalam keadaan masih bernyawa dan aku juga akan merasakan penyesalan seumur hidup karena tidak bersamanya saat Papa menghembuskan nafas terakhir. Sungguh, aku berterima kasih atas itu, Mutia."


Manik jelaga Mutia menyorot hangat nan lembut pada Astari yang kembali menangis terisak lirih.


"Tidak perlu berterima kasih, Astari. Sudah kewajiban sesama manusia untuk saling membantu. Aku hanya perantara Allah."


"Tidak banyak orang yang sepertimu, Mutia." menghentikan tangisnya, Astari menyeka air mata. "Uang yang kamu keluarkan untuk membeli tiket tidak lah murah, tapi kamu tanpa pikir panjang mau membatalkannya untuk membantuku."


"Sebab aku tahu rasanya kehilangan. Saat orang tuaku meninggal dan aku berada disisi mereka pun, rasanya masih sangat sakit. Apalagi jika kamu sampai tidak sempat bertemu Ayahmu sebelum ajal menjemput. Aku hanya menempatkan diriku di posisimu."


"Apapun alasannya, aku tetap berterima kasih." ujarnya riang, lalu melanjutkan makannya. "Dan belajar dari apa yang terjadi pada Papa, aku memutuskan untuk menetap di Bali bersama Mama. Aku takut hal itu kembali terulang, sementara aku belum tentu mendapatkan kesempatan yang sama dengan bertemu orang baik sepertimu."


"Jika belum berumah tangga, sebaiknya memang kita memanfaatkan waktu untuk menjaga dan menemani orang tua kita. Sebab kita tidak pernah tahu, hingga kapan orang tua kita akan bertahan. Jangan sampai meninggalkan penyesalan, karena bersikap tak acuh selagi mereka masih hidup."


Astari mengangguk setuju. Kemudian terjadi keheningan. Keduanya mulai fokus menyantap makanan. Hingga saat sudut mata Astari tanpa sengaja melirik bagian kursi disamping Mutia, membuat Astari memecah kebisuan yang tercipta.


"Kamu abis dari mana, Mut? Kok bawa tas segala."


Mutia melirik tas besar miliknya, lantas menjawab. "Aku baru saja berhenti kerja. Dan karena selama beberapa bulan ini aku tinggal di tempat kerja, jadi saat berhenti, aku tentu harus keluar dari rumah itu."


"Lalu sekarang kamu mau kemana?"


Mutia mengedikkan bahu dan meletakkan sendok saat merasakan perutnya bergejolak, ingin muntah. Mungkin bayinya sudah tidak tahan lagi terus di paksa untuk memakan daging panggang yang kini tak terasa senikmat yang pertama.

__ADS_1


"Mencari tempat tinggal, kemudian pekerjaan."


"Kamu butuh pekerjaan? Apa saja?" Astari tampak antusias, membuat Mutia menaikkan satu alis sembari tersenyum geli.


"Ya. Selagi itu halal, aku mau."


"Wahh... kebetulan sekali." Astari bertepuk tangan heboh. "Tempatku bekerja sedang membuka lowongan pekerjaan besar-besaran. Ya... meskipun cuma bagian sales. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku sekarang. Bagaimana?"


"Hmm... boleh."


"Good." senyum Astari kian lebar. "Kamu udah selesai makannya? Jam makan siangku hampir selesai, jadi aku harus segera balik ke tempat kerja."


Setelah mendapat anggukkan dari Mutia, Astari memanggil pelayan dan membayar makanan mereka. Kemudian Astari mengajak Mutia untuk beranjak meninggalkan restoran.


"Oh my God! Kamu hamil?" Astari berseru kaget dengan mata melotot, saat Mutia baru saja bangkit dari duduk dan memperlihatkan perut besarnya yang sejak tadi tersembunyi di balik meja.


Mutia mengangguk.


"Berapa bulan?"


"Jalan enam bulan."


"Terus suami kamu dimana? Kenapa kamu justru berkeliaran sendiri untuk cari pekerjaan dan tempat tinggal?"


"Ceritanya sambil jalan aja, ya. Tadi kan kamu bilang waktu makan siang kamu hampir habis."


"Oh iya," Astari menepuk dahi, lantas terkekeh. "Eh... tapi kamu nggak masalah kan naik motor?"


"Nggak masalah. Kandungan aku kuat kok. Selagi kamu bawa motornya nggak ugal-ugalan, bayiku akan baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2