Untuk Mutia

Untuk Mutia
Bukan cuma aku


__ADS_3

Ruangan itu luas. Mungkin berukuran tiga kali lipat dari luas kamar Mutia di kota kelahirannya. Didalam ruangan tersebut tampak sebuah meja panjang dengan dua puluh kursi berada di masing-masing sisinya.


Setelah melewati pintu geser dengan bahan kaca, Mutia melangkah masuk dan berjalan menuju kursi yang sejak awal sudah ia tempati. Semua calon sales seolah sudah mengklaim masing-masing kursi sebagai milik mereka, sehingga tidak ada yang boleh berpindah tempat.


Setibanya di kursi barisan ke empat yang berada dekat dengan dinding kaca, Mutia mengerutkan dahinya ketika menemukan susu khusus ibu hamil dengan kemasan kotak berukuran 240 ml berada di atas meja.


Masih diliputi perasaan bingung, Mutia meraih susu kotak tersebut dan disaat bersamaan sebuah kertas berukuran kecil —yang menempel pada bagian bawah permukaan kotak— terjatuh di lantai dan menarik perhatiannya. Segera saja Mutia membungkuk, lantas mengambil kertas tersebut.


Semoga harimu menyenangkan, Mutia. Semangat!


B. Yudha.


Ada namanya tertera di kertas tersebut. Membuktikan bahwa susu itu memang untuknya. Tanpa sadar Mutia menyunggingkan senyum saat mengetahui bahwa susu itu adalah pemberian Yudha.


Lalu dengan perasaan membuncah Mutia meletakkan tasnya, sebelum berjalan keluar tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya. Ia berniat naik ke lantai empat untuk menemui atasannya dan mengucapkan terima kasih secara langsung.


"Ya Tuhan, Mutia."


Karena begitu tergesa-gesa, Mutia nyaris menabrak seorang wanita yang baru saja akan keluar dari lift.


"Maaf, bu Baldev."


Bu Baldev adalah wanita berusia tiga puluh enam tahun yang bekerja di bagian keuangan dan saat ini wanita itu tengah hamil anak keduanya yang berusia empat bulan.


"Kamu mau kemana? Buru-buru banget."


"Mau ke lantai empat, bu. Ketemu pak bos. Ada yang mau dibicarakan."


"Lah, pak bos kan baru aja pergi. Ada pertemuan di luar. Mungkin baru balik setelah makan siang."


Bahu Mutia melunglai bersamaan dengan helaan nafas pelan keluar dari sela bibirnya. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa kecewa tidak bisa bertemu Yudha hari ini.


"Eh, kamu dapet susu?"

__ADS_1


"Hah?" mengangkat wajahnya, Mutia menatap bu Baldev dengan alis bertaut.


"Itu," bu Baldev menunjuk susu kotak yang ada dalam genggaman Mutia. "Di kasih pak bos, kan?"


"Kok, bu Baldev tahu?"


Wanita tiga puluh enam tahu itu nyengir lebar sembari merogo saku blazer-nya, lalu menunjukan susu kotak yang sama persis seperti milik Mutia meski berbeda rasa.


"Bu Baldev dapet juga." Mutia tak bisa menutupi nada kecewa dalam suaranya.


"Iya. Pak bos sering kasih susu kotak khusus ibu hamil, buah-buahan atau camilan sehat untuk semua wanita hamil di BM. Nggak setiap hari, sih, paling dua kali dalam satu bulan."


Seketika euforia yang Mutia rasakan beberapa saat lalu, kini hilang tak berbekas. Ternyata bukan cuma aku.


"Kamu nggak usah ngerasa aneh apalagi bingung, ya. Pak bos orangnya memang baik. Waktu hamil Baldev aku juga sempat bingung dan bahkan berpikiran buruk sama pak bos, takut-takut dia tertarik sama aku, tapi ternyata... pak bos melakukan hal serupa pada karyawan lainnya yang juga sedang hamil. Dari sana aku baru tahu, bahwa pak bos selalu memberi perlakuan spesial pada wanita hamil."


Ya, dia memang baik. Terlalu baik malah, hingga membuatku sempat terbawa perasaan. Mutia menatap nanar susu kotak yang beberapa saat lalu membuatnya tidak berhenti tersenyum.


...* * *...


Di awal bekerja Mutia begitu bersemangat, ia menikmati pekerjaannya dan sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun. Hingga tadi malam tubuhnya mulai melakukan protes, karena dipaksa untuk terus bekerja di luar batas kemampuan kondisinya yang sedang hamil besar. Dan inilah akhirnya, Mutia merasakan tubuhnya remuk redam seperti baru saja di pukuli orang satu RT.


Rasa kantuk baru menghampirinya setelah Mutia menunaikan ibadah. Sekuat tenaga Mutia menahan dirinya agar tidak tertidur, karena sebentar lagi ia harus bersiap-siap untuk pergi bekerja. Namun rasa kantuknya begitu tak tertahankan, hingga membuatnya menguap berulang kali dan berakhir dengan terlelap di atas lantai berlapis karpet bulu. Bahkan karena terlalu mengantuk, Mutia tidak sempat melepaskan mukena yang membalut tubuhnya.


Tidur Mutia begitu lelap. Sinar matahari yang menerobos dari ventilasi udara, bahkan tak mampu mengusik tidur wanita hamil itu. Desakan untuk buang air kecil lah yang akhirnya berhasil membangunkannya, membuat Mutia dengan malas-malasan beranjak menuju kamar mandi.


Mata Mutia membelalak saat keluar dari kamar mandi dan mendapati jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 07.18 menit. Hal tersebut membuat Mutia panik, karena ia terancam akan terlambat bekerja. Butuh waktu lima belas menit untuk mandi dan bersiap-siap, lalu pada pukul 07.40 Mutia tengah dalam perjalanan menuju Barata Mobilindo. Mutia terpaksa meminta ojek online yang ia naiki untuk melaju dengan cepat agar ia segera tiba sebelum pukul delapan.


Perjalanan yang biasanya memakan waktu dua puluh menit, kini berhasil di tempuh hanya dalam waktu sepuluh menit. Meski ia merasakan jantungnya bertalu-talu akibat adrenalin yang terpacu saat si bapak ojek mengebut, Mutia bersyukur masih ada sisa waktu sepuluh menit saat ia tiba di lobi kantor.


"Tunggu, tunggu! Tolong, tahan pintunya." pinta Mutia dengan suara tinggi, saat melihat lift yang menjadi tujuannya akan tertutup.


Ia harus menaiki lift itu agar bisa absen tepat waktu, jika menunggu lift-nya turun atau menunggu lift yang lain, bisa membutuhkan waktu minimal lima menit dan ia pasti akan berakhir dengan terlambat.

__ADS_1


Mendapati orang-orang di dalam lift mengabaikan permintaannya, Mutia bertambah panik. Dengan memegangi perutnya yang mulai terasa kram, Mutia melangkah lebar, bergegas menghampiri lift yang baru saja akan tertutup. Andai saja ia sedang tidak hamil, saat ini Mutia pasti sudah berlari dengan cepat.


Terlalu fokus pada lift yang akan menutup, Mutia tidak memerhatikan langkah kakinya. Wanita hamil itu terus melangkah, mengabaikan papan peringatan. Lalu saat kakinya menginjak lantai yang masih dalam keadaan basah dan licin itu, Mutia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, nyaris terjatuh jika saja tidak ada yang menahan punggung dan memegangi lengannya, kemudian membawanya menjauh dari area lantai licin tersebut.


Mutia merasa... de javu.


"Tahan pintunya!" ucapan bernada perintah itu serta merta membuat salah satu orang di dalam lift menekan tombol penahan. Mana mungkin mereka bisa mengabaikan perintah bos, seperti yang mereka lakukan pada Mutia. Itu namanya sama saja dengan bunuh diri.


"Kamu tidak apa-apa, Mutia?" Yudha menatap khawatir pada Mutia yang masih bergeming dalam pelukannya. Wajah wanita itu pucat pasi dengan tubuh mengeluarkan keringat dingin.


Serta merta Mutia mengusap perut besarnya yang baru saja mendapatkan tendangan. Mungkin bayinya ingin memberitahu bahwa ia baik-baik saja di dalam sana. Dan hal itu membuat Mutia menghela nafas lega.


"I-iya, Mas." bersamaan dengan itu Mutia menegakkan tubuhnya yang gemetar. Jika tadi sedetik saja Yudha terlambat menolongnya, entah apa yang akan terjadi pada bayinya.


"Kandunganmu sudah sangat besar Mutia, jadi kamu harus sangat berhati-hati. Kurangilah sifat cerobohmu itu." meraih tangan Mutia, Yudha mengajak wanita itu melangkah bersamanya. "Apa yang kamu pikirkan saat berlari dengan perut sebesar ini, hah?"


"Aku tidak berlari, Mas. Tadi aku hanya berjalan dengan cepat." bantah Mutia, melirik Yudha yang sesekali mengamati langkah kakinya.


"Di pandanganku, kamu terlihat berlari dengan kaki pendekmu itu."


Mutia merengut, namun tak lagi mendebat Yudha karena saat ini mereka sudah tiba di depan lift. Saat mereka memasuki kotak besi tersebut, orang-orang memundurkan tubuh agar bisa menciptakan ruang kosong. Mutia tahu betul, mereka melakukan itu untuk Yudha. Seandainya ia tidak bersama sang bos, mana mau mereka memberi sedikit ruang, meskipun lift itu masih cukup lengang.


"Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi." suara bariton Yudha memecah keheningan di dalam lift yang baru saja bergerak naik.


"Baik pada Mutia ataupun karyawan yang lain. Kalian sama-sama bekerja di gedung ini, sama-sama berusaha dan sama-sama mencari uang. Tapi jangan karena itu semua, kalian jadi menulikan telinga dan membutakan mata. Kalian harus ingat, alasan terbesar yang membuat kalian di terima di perusahaan ini, karena kalian memiliki attitude yang kuanggap baik. Jika hal itu sudah tidak ada lagi, maka silahkan angkat kaki dari perusahaan ini. Aku tidak membutuhkan karyawan yang tidak bisa menghargai satu sama lain."


Mutia mengamati orang-orang yang berada di dalam lift bersamanya. Mereka semua menundukan kepala, seolah teguran Yudha adalah sebuah tangan tak kasat mata yang menampar pipi mereka bolak-balik secara berulang kali.


Kemudian Mutia menoleh pada Yudha. Pria itu berdiri tegap, kedua tangannya berada di dalam saku celana, sementara pandangannya lurus ke depan. Lalu tiba-tiba saja Yudha mengarahkan tatapannya pada Mutia yang sejak tadi memerhatikan pria itu, membuat Mutia gelagapan dan salah tingkah. Namun Yudha hanya tersenyum, lantas mengedipkan satu matanya.


Serta merta Mutia memalingkan wajah, lalu menunduk, menatap ujung kakinya yang berbalut sepatu flat. Rasa panas menjalar dipipinya, membuat Mutia yakin bagian itu pasti sudah memerah. Entah untuk alasan apa ia merona. Untuk bantuan Yudha atau senyuman dan kedipan mata pria itu.


Mutia tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2