Untuk Mutia

Untuk Mutia
Menyelesaikan masa lalu (END)


__ADS_3

Sepanjang Mutia menceritakan semuanya, tanpa ada lagi kebohongan yang di sembunyikan, Yudha hanya diam mendengarkan, tak ingin melewatkan satu katapun. Lalu saat ia mengetahui alasan sebenarnya dari perceraian Mutia adalah karena Haikal yang berselingkuh dengan adik sepupu wanita itu, bahkan sampai hamil, Yudha hanya bisa menahan geram sembari mengepal kuat tangannya. Jika Haikal ada di depannya saat ini, sudah pasti ia akan membuat pria itu babak belur sampai wajahnya tidak bisa lagi dikenali.


Beraninya pria itu berlaga seperti korban dan menjadikan Mutia sebagai pemeran antagonis-nya.


Menghela nafas kasar, Yudha mengutuk kebodohannya siang itu. Seharusnya ia tak langsung terpancing emosi, hingga menelan mentah-mentah ucapan Haikal, tak memberikan kesempatan yang sama pada Mutia untuk bicara dan melakukan pembelaan diri. Padahal sebelumnya Yudha sudah bertekad untuk tidak langsung memercayai perkataan Haikal dan akan mendengarkan penjelasan dari sisi Mutia, namun pada kenyataannya ia justru terbakar api amarah yang menghanguskan mereka berdua.


"Kata orang, perceraian yang terjadi saat pihak wanita sedang dalam keadaan hamil, maka perceraian itu tidak sah. Karena alasan itulah aku jadi merahasiakan kehamilanku dari Haikal. Aku tidak ingin kembali padanya. Selain karena aku tak mungkin bisa menjalani pernikahan dengan berbagi suami, aku juga memikirkan nasib anakku. Jika nanti Haikal memiliki anak dengan Sonya, aku tidak ingin anakku mendapatkan perlakuan yang berbeda dari Haikal, mengingat Haikal tidak mencintaiku, pastilah dia akan lebih menyayangi anaknya dan Sonya."


Melihat cairan bening yang mengalir dari sudut mata Mutia, Yudha menggerakkan tangannya untuk menyeka air mata wanita itu, kemudian tersenyum saat Mutia mengarahkan atensi padanya. Yudha menatap lekat manik hitam Mutia, sembari menggenggam erat tangan wanita itu.


"Aku ingin kamu menghubungi Haikal dan ajak dia bertemu."


Mutia menggeleng berulang kali. "Aku tidak mau bertemu ataupun berhubungan lagi dengan Haikal, Mas. Setiap kali aku menemuinya, selalu ada saja hal buruk yang terjadi padaku."


"Kamu percaya padaku, kan?"


Seperti terkena hipnotis, Mutia menganggukkan kepalanya, sehingga disini lah mereka sekarang. Duduk berdampingan di dalam sebuah restoran, dengan Yusuf yang berada di pangkuan Yudha, menunggu kedatangan Haikal.


"Mau lagi? Ayo ambil dari Ayah." sengaja Yudha mendekatkan roti ditangannya pada Yusuf, kemudian menjauhkannya saat bayi lima bulan itu berusaha mengambilnya. Yudha sengaja menggoda Yusuf, hingga membuat bayi lima bulan itu mencebikkan bibir dan ia pun tertawa.


"Mas, udah. Nanti Yusuf nangis, susah dieminnya." tegur Mutia, tak menyangka Yudha masih bisa bersikap tenang dan bahkan bercanda dengan Yusuf, sementara ia sendiri sudah merasa panas dingin.


Mengabaikan teguran Mutia, Yudha terus saja menjahili Yusuf, hingga suara rengekan mulai terdengar dan mata bayi itu pun sudah berkaca-kaca, barulah Yudha memberikan roti ditangannya. Namun Yusuf yang terlanjur merajuk tak lagi menginginkan roti itu, justru menangis keras.


"Tuh, kan. Aku bilang juga apa."


Kemudian Mutia mengambil alih Yusuf sembari mendelik kesal pada Yudha yang hanya memasang cengiran tanpa dosa. Lalu ia merogoh tas berisi keperluan Yusuf, mengeluarkan sebuah botol susu, lantas memberikannya pada bayi mungil itu. Beruntung putra kecilnya langsung diam, sehingga tidak membuat keributan lebih lama.


Mendekatkan kursinya pada Mutia, Yudha merangkul pundak wanita itu, sementara tangannya yang lain bergerak mengusap pipi Yusuf. "Anak Ayah kok gampang merajuk, sih. Nggak boleh, Nak. Kamu itu kan laki-laki."


Seolah tak menyukai ucapan Yudha, Yusuf berpaling dan menempelkan wajahnya pada sang Ibu, membuat Yudha mencebikkan bibir melihatnya, sementara Mutia tertawa geli.


"Kasihan dicuekin." ledek Mutia sembari mengelus rahang Yudha yang mulai ditumbuhi bakal janggut.


Melihat interaksi ketiganya, orang-orang pasti berpikir bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis, hangat dan saling menyayangi, padahal kenyataannya mereka baru akan membentuk sebuah keluarga.


Canda tawa mereka seketika terhenti saat mendengar suara deheman. Serentak keduanya mengarahkan atensi pada asal suara, bahkan Yusuf pun sempat melepaskan botol susunya dan menatap ke arah yang sama, namun kemudian kembali larut dalam dunianya sendiri.


"Kupikir kita hanya akan bicara empat mata." ujar Haikal dengan nada sinis sembari menatap tajam pada Yudha. Pasalnya kemarin Mutia hanya mengirim pesan berisi ajakan bertemu untuk bicara, tanpa mengatakan keikutsertaan Yudha dalam pembicaraan mereka.


"Jika bukan karena Mas Yudha, aku bahkan tidak sudi lagi bertemu denganmu!" Mutia menjawab tak kalah ketus.


Saat merasakan sentuhan di lengan, Mutia memalingkan wajahnya dan beralih menatap Yudha yang tengah menggeleng pelan, memintanya untuk tidak terbawa emosi. Tapi bagaimana Mutia bisa tenang, jika orang yang selalu memberinya kesedihan dan rasa sakit ada di depan matanya. Meski begitu Mutia tetap menuruti ucapan Yudha dan hanya melampiaskan kekesalannya dengan membuang nafas kasar.


"Duduklah, Haikal." tatapan Yudha tertuju pada Haikal yang masih berdiri mematung. "Aku ingin menjawab permintaanmu waktu itu."


Seperti menemukan oase di padang pasir, manik hitam Haikal tampak berbinar ketika akhirnya ia mendudukkan tubuh di hadapan Yudha dan Mutia. Saat pandangannya terarah pada Yusuf yang berada di pangkuan Mutia, Haikal menatap bayi lima bulan itu dengan sorot lembut nan hangat dan penuh kasih sayang.


"Aku bersedia melepaskan Mutia dan Yusuf."


Ucapan Yudha bukan hanya berhasil menarik perhatian Haikal, namun juga membuat Mutia menatapnya dengan raut tak percaya.


"Mas!" ujarnya di sela rasa syok yang mendera.


Yudha menoleh pada Mutia, kemudian berucap lirih. "Percaya padaku. Oke?"


Jika kamu melepaskan kami, lebih baik kami pergi saja. Sampai kapan pun, aku tidak akan kembali pada Haikal. Batin Mutia dalam diamnya.


"Be-benarkah?" Haikal menatap Yudha penuh harap, sementara yang ditatap justru memasang seringai licik.


"Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" tanya Haikal. Dari nada suaranya pria itu terdengar tak sabar.


Yudha memberi jeda selama beberapa detik, sebelum melemparkan bom tepat di atas kepala Haikal.


"Ceraikan istrimu."

__ADS_1


Disaat Yudha bicara dengan santainya, Haikal justru menatap Yudha dengan wajah merah padam.


"Apa kau sudah gila?! Aku tidak mungkin menceraikan istriku." kali ini suara Haikal terdengar menahan geram


"Kenapa tidak?" menyandarkan punggung, Yudha melipat tangan sembari menatap Haikal dengan angkuh. Pria itu mendengus sebelum kembali mengeluarkan suaranya. "Karena kau mencintai istrimu?"


Haikal hanya diam. Dan diamnya Haikal adalah jawaban 'iya' bagi Yudha.


"Untuk apa kau mempertahankan wanita yang bahkan selalu gagal memberikanmu keturunan dan bahkan terancam tidak bisa lagi mengandung."


Tangan Haikal mengepal kuat di bawah meja, saat menangkap nada ejekan dalam kalimat Yudha.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan Sonya. Aku mencintainya dan akan terus bersamanya hingga akhir, tak peduli meskipun nanti kami benar-benar tidak akan memiliki anak."


Ada penekanan dalam setiap kalimat Haikal, menunjukkan kemarahannya, namun Yudha sama sekali tidak terpengaruh. Pria itu justru menenggak kan duduk, sedikit mencondongkan tubuhnya pada Haikal dan melemparkan tatapan dingin.


"Sama hal-nya denganmu yang tidak ingin menceraikan istrimu, aku juga tidak bisa melepaskan Mutia dan Yusuf. Karena apa?" Yudha tersenyum sinis. "Karena untuk alasan yang sama sepertimu, Haikal. Aku mencintai Mutia dan sangat menyayangi Yusuf."


Mutia yang sejak tadi diam dan terus berusaha menyakinkan diri dalam hati untuk memercayai Yudha, terkejut dan reflek menoleh pada Yudha saat mendengar ucapan pria itu.


Mas Yudha men-mencintaiku? Benarkah?


Meski sulit memercayai apa yang ia dengar, Mutia tak bisa menahan luapan perasaan bahagia yang memenuhi dadanya, sehingga Mutia tersenyum sembari meneteskan air mata. Air mata kebahagian.


"Aku ingin memastikan kebahagian mereka, disaat aku tak bisa memberikan sendiri kebahagian itu." Yudha menggeleng pelan, sebelum kembali mengeluarkan suaranya. "Jika tadi kau memilih untuk meninggalkan istrimu demi Mutia dan Yusuf, maka aku akan berusaha ikhlas melepaskan mereka. Setidaknya aku tahu mereka sudah mendapatkan posisi yang aman. Tapi kenyataannya, kau sama sekali tidak ingin berkorban untuk Mutia dan Yusuf." menggeram rendah, Yudha melemparkan tatapan mencemooh. "Kau sudah kehilangan kesempatanmu, Haikal. Jadi jangan pernah berharap lagi aku akan melepaskan mereka untuk pria bajingan yang egois sepertimu!"


Kehilangan kata-kata, Haikal melampiaskan amarahnya dengan menggebrak meja, membuat Yusuf yang baru saja akan tertidur sontak saja terkejut dan menangis keras. Tangisan yang menarik perhatian Haikal pada bayi mungil tersebut dan mengabaikan tatapan kebencian yang Mutia lemparkan padanya, saat wanita itu berusaha menenangkan Yusuf.


"Jika kau tidak mau melepaskan mereka, maka aku akan membawa ini ke jalur hukum." ucap Haikal sembari mengarahkan tatapan pada Yudha. Apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan anaknya, tak peduli bagaimana pun caranya. "Saat perceraian kami terjadi, Mutia dalam keadaan hamil dan itu artinya perceraian kami tidak sah."


Bukannya memasang raut panik, Yudha justru menaikkan satu alisnya dan mengulum senyum geli. Apa yang Mutia takutkan kini Haikal jadikan sebagai senjata. Menoleh pada Mutia, ia menemukan wanita itu menatap kosong, tatkala tangannya memeluk Yusuf dengan erat. Segera saja Yudha meraih salah satu tangan Mutia, membawanya ke atas pangkuan dan menggenggamnya. Menarik perhatian Mutia yang langsung membalas genggaman Yudha.


"Kau yakin ingin membawa masalah ini ke pengadilan?" melepaskan genggamannya pada Mutia, Yudha mengeluarkan map yang berada di dalam tas berisi keperluan Yusuf, lalu menyodorkan map tersebut pada Haikal. "Aku sengaja mencetak artikel itu. Bacalah."


Haikal merasa de javu, lantas mengambil alih map yang Yudha berikan dan segera membacanya.


"Aku sudah mencari banyak artikel dan bahkan menanyakan masalah ini pada orang yang lebih paham tentang hukum. Kau bisa membacanya sendiri disana, bahwa mengenai perceraian ketika istri sedang hamil, hal tersebut tidak di larang, baik di dalam kompilasi hukum islam maupun di UU perkawinan dan peraturan pemerintah. Namun, terdapat masa iddah atau masa tunggu bagi janda yang di ceraikan saat hamil, yaitu sampai dia melahirkan dan Mutia sudah melewati masa iddah-nya"


"Tapi jika kau tetap ingin membawa masalah ini ke pengadilan, silahkan saja." dengan santai Yudha mengedikkan bahu.


"Jika pengadilan mengabulkan keinginanmu, saat itu Mutia juga bisa mengajukan gugatan. Karena secara hukum, terdapat alasan-alasan perceraian sebagaimana diatur dalam pasal 19 peraturan pemerintah no.9 tahun 1975 tentang pelaksanaan undang-undang no.1 tahun 1974 tentang perkawinan dan satu dari alasan tersebut adalah, salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan."


Sudut bibir Yudha tertarik membentuk seringai saat melihat Haikal yang mematung dengan wajah merah padam. Ia tahu pria itu sudah kalak telak, namun ia belum ingin berhenti untuk menyerang Haikal.


"Masih berserikeras untuk membawa hal ini ke meja hijau? Pikirkan lagi, Haikal. Karena jika kau tetap pada keputusanmu, itu artinya kau sudah siap dengan konsekuensinya. Kau akan mendapat dua kerugian sekaligus, Haikal. Yang pertama, aku pastikan kau akan kehilangan hak asuh atas Yusuf. Dan yang kedua, kau akan mempermalukan dirimu sendiri saat orang-orang tahu bahwa alasan sebenarnya kalian bercerai bukan karena merasa tidak cocok dan hanya menganggap satu sama lain sebagai saudara, melainkan karena kau berselingkuh dan bahkan selingkuhanmu itu sampai hamil."


Seketika bahu Haikal melemas. Tatapannya kosong, kehilangan harapan. Saat menatap Yusuf, sorot mata pria itu tampak putus asa.


"Aku melakukan ini bukan untuk memutus hubungan Yusuf dengan Ayah kandungnya, aku hanya ingin menghentikan keegoisanmu yang pasti akan menyakiti mereka."


Ucapan Yudha menarik perhatian Haikal, membuat pria itu menatapnya dengan raut bingung.


"Itu artinya, kau bisa menemui Yusuf kapan pun kau mau. Nanti saat dia sudah lima tahun, kau bisa sesekali mengajaknya menginap denganmu. Aku tidak akan menghalangi kalian untuk bertemu."


"Be-benarkah?" manik hitam Haikal kembali berbinar penuh harap.


Yudha menyungging senyum tipis. "Sudah kubilang, aku tidak akan sekejam itu memisahkan seorang anak dari Ayahnya." karena aku tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa seorang Ayah. "Meskipun nantinya Yusuf memiliki aku sebagai Ayahnya, tentu dia akan lebih bahagia karena mengetahui bahwa dia memiliki Ayah kandung."


Haikal tak bisa berkata-kata. Namun dari matanya yang berkaca-kaca dan bibirnya yang mengulas senyum, tentu akan langsung membuat siapapun tahu bahwa saat ini pria itu tengah merasa terharu dan bahagia.


"Aku juga sudah sepakat dengan Mutia tentang nama yang akan tertera di akta kelahiran Yusuf adalah namamu." dengan santai Yudha mengedikkan bahu. "Karena kau memang berhak atas itu. Kau dan Mutia memang bercerai, tapi Yusuf tetap anak kalian. Tak ada hal apapun yang bisa mengubah itu."


Dalam hati Haikal berulang kali mengucap syukur. Bahkan tanpa sadar Haikal meneteskan air mata, namun dengan cepat ia menyekanya saat cairan bening itu mulai menuruni pipi.


"Aku memberikan akses tanpa batas padamu untuk menemui Yusuf ataupun mengajaknya berpergian dan menginap denganmu nantinya. Tapi ingat ini baik-baik Haikal, jangan pernah merebut Yusuf dari Mutia, bahkan untuk memikirkannya saja sekalipun. Jika sampai kau melakukan itu, maka detik itu juga kau akan kehilangan hak atas Yusuf."


Dengan mantap Haikal menganggukkan kepalanya. "Sepakat."

__ADS_1


Yudha tersenyum puas. "Bagus."


Terjadi hening selama beberapa saat, hingga suara deheman canggung yang Haikal keluarkan memecah keheningan itu.


"Bo-bolehkah aku menggendong Yusuf?" Haikal menatap Mutia dengan sorot memohon.


Mutia tak langsung menjawab, justru mengarahkan tatapan pada Yudha. Lalu saat mendapati pria itu mengangguk, Mutia pun menyerahkan Yusuf pada Haikal.


"Ya Tuhan," Haikal berseru takjub menatap Yusuf yang tertidur dalam dekapannya. Kali ini Haikal tak lagi menahan diri, ia biarkan saja air matanya mengalir keluar.


"Kau benar-benar malaikat, Nak." kemudian menunduk, mengecup setiap inci wajah halus putranya.


"Aku akan ke meja lain?" mendongak, Haikal menatap Yudha dan Mutia bergantian. "Aku mau menghubungi Ayah dan menunjukkan Yusuf padanya."


Mutia hendak mengajukan protes. Ia masih tidak bisa memercayai Haikal sepenuhnya. Bisa saja pria itu berbuat nekat dengan membawa pergi anaknya. Namun genggaman di tangannya mengurungkan niat Mutia dan membuatnya beralih menatap Yudha yang tidak memalingkan wajahnya dari Haikal. Pria itu kini tampak tersenyum tipis.


"Silahkan saja. Sudah kubilang, kau memiliki akses tanpa batas, selagi kau memenuhi janjimu."


Haikal tersenyum senang, lalu beranjak dari hadapan Mutia dan Yudha. Selagi Haikal menghampiri meja yang berada di dekat dinding kaca, Mutia terus memerhatikan pria itu, seolah takut jika ia mengalihkan perhatiannya sedikit saja, Haikal akan menghilang dengan membawa anaknya.


"Hei," meraih pundak Mutia, Yudha memaksa wanita itu agar mengarahkan atensi padanya. "Beri kesempatan pada Haikal. Meski kamu tidak menyukainya, tapi dia tetap Ayah Yusuf dan dia memiliki hak yang sama sepertimu. Aku tahu ini berat untukmu, namun seperti yang tadi aku bilang, kita tidak bisa memutus hubungan Ayah dan anak, sama seperti Haikal yang tidak bisa memisahkanmu dengan Yusuf."


Ketika Mutia menganggukkan kepalanya, meski dengan terpaksa, Yudha tersenyum kecil dan membawa wanita itu bersandar di dadanya, sementara tangannya bergerak konstan mengusap lembut lengan Mutia.


"Mas,"


"Hmm."


Jeda beberapa detik sebelum Mutia kembali mengeluarkan suaranya. "Mengenai pernikahan kita, apakah akan dilanjut atau tidak? Soalnya kemarin siang pihak katering dan percetakan undangan hubungin aku. Mereka minta pembayaran segera dilunasi." menghela nafas panjang, Mutia menatap jemarinya yang kini tengah memainkan kancing kemeja Yudha. "Kalau di batalkan, mereka bilang uang yang udah masuk tidak akan di kembalikan."


Yudha tersenyum. Tangannya kini bergerak membelai rambut panjang Mutia. "Iya. Nanti aku transfer. Gaun kamu gimana? Udah selesai."


Seketika Mutia menciptakan jarak dan menatap Yudha dengan dahi mengernyit. "Mas mau lunasin pembayarannya? Itu berarti..."


Kembali Yudha membawa Mutia ke dalam pelukannya. "Tadi aku tanya, gaun kamu udah selesai belum?"


Tak bisa Mutia menahan senyumannya. Wanita itu semakin menempelkan wajahnya pada dada bidang Yudha. "Mbak Santi belum hubungin aku."


"Mau mampir ke butik sepulang dari sini?"


"Boleh."


Ah... Mutia merasa benar-benar lega. Sekarang ia bisa melangkah tanpa di bayangi lagi oleh perasaan takut Yudha akan mengetahui kebohongannya dan hal itu akan menjadi penyebab dari perpisahan mereka.


"Eumm, Mas. Aku penasaran,"


Sesaat Yudha menatap Mutia. "Penasaran dengan apa?"


Mutia mendongak bersamaan dengan Yudha yang menunduk menatapnya. Membuat tatapan mereka berada dalam satu garis lurus. Keduanya saling memandang dengan lekat.


"Sejak kapan Mas mencintaiku?"


Yudha mengulum senyum geli saat melihat raut wajah Mutia yang tampak serius ketika bertanya, kemudian menjawil hidung wanita itu dengan tatapan jahil.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget."


"Idihh," reflek Mutia memukul pelan dada Yudha. "Nggak cocok sama umur, Mas."


"Lho, kenapa? Aku belum setua itu."


Menegakkan duduknya, Mutia melipat tangan sembari menatap Yudha dengan mata menyipit. "Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Mas."


Yudha tergelak, lalu menangkup wajah Mutia —yang merah padam karena kesal— dengan gemas. "Aku akan memberitahumu setelah kamu resmi menjadi istriku."


Melampiaskan rasa kesalnya, Mutia memukuli lengan Yudha, membuat pria itu meringis disela gelak tawanya dan menjadikan mereka pusat perhatian. Melihat Yudha yang tertawa dengan lepas, Mutia pun menghentikan pukulannya, lalu tersenyum lebar, sebelum berhambur ke pelukan Yudha yang terasa begitu hangat dan melindungi. Ia berharap Yudha adalah pria yang benar-benar Tuhan takdirkan untuknya hingga jantung tak lagi berdetak.


Sementara di meja lain, Haikal yang sejak tadi memerhatikan interaksi Mutia dan Yudha pun tersenyum tulus. Ia merasa bahagia sekaligus lega, melihat Mutia yang selalu ia sakiti, kini bisa tersenyum dan tertawa kembali.

__ADS_1


...****************...


......THE END......


__ADS_2