
Niat awalnya pulang untuk mengambil pakaian, namun saat akan masuk ke dalam ruang keluarga, ia justru mendengar pembicaraan Ghifar dan Lamia tentang Mutia, bahwa adik iparnya itu sudah mengetahui keberadaan Mutia, sehingga membuatnya mengurungkan niat untuk masuk dan justru memilih berdiri di balik dinding.
Dari hasil mencuri dengar Azril mengetahui dimana Mutia tinggal sekarang, tempatnya bekerja, keadaan wanita itu yang ternyata sudah melahirkan dan mendapatkan seorang anak laki-laki. Namun dari sekian banyak informasi yang Azril dapatkan, ia paling membeci kenyataan bahwa sebentar lagi Mutia akan menikah dengan seorang pria bernama Yudha, yang merupakan atasan wanita itu.
Azril memutuskan untuk mengurungkan niatnya mengambil pakaian dan meninggalkan rumah dengan hati dipenuhi amarah. Ia tidak akan membiarkan Mutia menikah dengan pria lain.
Setelah hari mencuri dengar itu, Azril mulai mengawasi Mutia setiap kali ada kesempatan. Lalu saat ia tahu Ghifar akan mengunjungi Mutia, ia mengikuti adik iparnya itu secara diam-diam. Ternyata hari itu Ghifar berkunjung ke tempat tinggal baru Mutia dan disana penjagaannya cukup ketat, membuat Azril tak bisa langsung mengambil tindakan sembrono.
Selama berhari-hari Azril hanya memikirkan bagaimana cara untuk masuk ke dalam komplek perumahan yang Mutia tinggali dan mengambil Yusuf. Hingga akhirnya peluang itu ia dapatkan, saat pulang ke rumah dan menemukan dompet Ghifar tergeletak di dekat sofa. Adik iparnya itu pasti tanpa sengaja menjatuhkannya.
Mengetahui bahwa Ghifar menyimpan kartu pengunjung pemberian Mutia di dalam dompet, dari hasil pengintaiannya, ia pun tanpa membuang waktu segera mengambil kartu pengunjung tersebut. Beruntung ia pulang saat tidak ada orang dirumah, sehingga tidak akan ada yang tahu bahwa ia lah yang mengambil kartu tersebut.
Dan disinilah Azril sekarang. Berbaring diatas ranjang bersama Yusuf yang tengah memainkan sebuah bola karet dan menggumam tidak jelas, membuat Azril tersenyum dan mengecup sayang dahi bayi mungil itu. Rasanya begitu menakjubkan sekaligus membahagiakan, saat apa yang selama ini ia impikan menjadi kenyataan.
Sembari mengusap lembut perut Yusuf, Azril berucap dengan senyuman. "Aku akan membuat ibumu menikah denganku, bagaimana pun caranya, agar aku tak lagi kehilanganmu dan ibumu. Lalu kita akan hidup bersama selamanya. Bukankah itu terdengar menyenangkan, Nak?"
Dan senyuman Azril semakin lebar saat Yusuf menanggapi ucapannya dengan seulas senyum polos nan menggemaskan. Dalam benak Azril beranggapan bahwa Yusuf menyetujui ucapannya.
...* * *...
Terpaksa Yudha menghentikan langkahnya untuk mengejar Mutia saat ponsel yang berada di dalam saku celananya berdering nyaring. Berdiri di teras rumah dengan mata menatap lurus pada Mutia yang kian menjauh, lantas mengeluarkan benda pipih tersebut dan menjawab panggilan tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Yudha,"
"Ghifar?" alisnya bertaut. Lalu untuk memastikan, Yudha melirik layar ponselnya dan mendapati nama Ghifar tertera disana. Sejak Ghifar berkunjung ke rumahnya yang ditinggali Mutia, ia sudah bertukar nomor dengan kakak sepersusuan calon istrinya itu.
"Iya, ini aku. Dimana Mutia? Sejak tadi aku menghubunginya berulang kali, tapi tidak dia angkat."
"Aku tidak tahu kemana Mutia, dia baru saja pergi. Aku sedang mengejarnya saat kau menelpon. Dan apa yang ingin kau katakan pada Mutia?"
"Ini soal Azril. Aku sudah tahu dimana keberadaannya."
"Azril?" Yudha membelalak saat ia baru mengingat tentang kakak ipar Ghifar yang menculik Yusuf. "Apa mungkin Azril sudah menghubungi Mutia, sehingga Mutia pergi tanpa memberitahuku?" Yudha bergumam, yang masih bisa Ghifar dengar.
"Sepertinya begitu. Aku menelpon Mutia juga untuk memberitahu bahwa kata Teh Lamia, Azril memiliki rumah pribadi. Seharusnya saat pindah ke Bali mereka menempati rumah itu, namun pihak kantor sudah menyiapkan rumah untuk Azril tempati, sehingga selama ini Azril dan Teh Lamia tinggal dirumah yang disediakan oleh kantor. Jadi besar kemungkinan Azril bawa Yusuf kesana. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu sekarang."
"Baiklah. Kita bertemu disana."
Tak lama setelah Yudha mengakhiri panggilan, ia menerima pesan whatsapp dari Ghifar yang berisi lokasi keberadaan Azril saat ini, lengkap dengan gambar rumahnya. Tanpa membuang waktu Yudha segera belari ke garasi, mengeluarkan motornya.
__ADS_1
Pikirnya, mengendari motor lebih efisien di jalanan Kuta yang padat, daripada ia membawa mobil yang kemungkinan besar akan memakan banyak waktu karena terjebak macet. Lalu dengan kecepatan diatas rata-rata Yudha melajukan motornya, meliuk-liuk di cela kecil antar kendaraan dan sesekali melewati jalan tikus untuk memotong jalan.
...* * *...
"Akhirnya kamu datang juga Mutia." adalah kata sambutan yang Azril berikan setelah ia membuka pintu dan menemukan sosok Mutia berdiri di hadapannya.
Melihat wajah Mutia yang bersimbah peluh dengan nafas wanita itu yang tersengal, bukannya membuat Azril merasa iba, justru ia tersenyum lebar. Menyadari bahwa Yusuf adalah umpan yang tepat untuk menarik Mutia mendekat padanya. Selagi Yusuf bersamaku, Mutia pasti akan melakukan apapun yang aku perintahkan, batinnya senang.
"Dimana Yusuf, A'?" ujarnya dengan nada khawatir yang begitu kentara. Manik hitammya menatap dari balik bahu Azril, berharap menemukan bayi mungilnya di belakang pria itu. "Aku mau ketemu Yusuf, A'. Dia pasti kelaparan sekarang."
"Tentu saja, Mutia. Aku pasti akan mempertemukanmu dengan Yusuf." sedikit menggeser tubuhnya, Azril mempersilahkan Mutia untuk masuk. "Yusuf ada di kamar atas."
Tak memedulikan apapun lagi, Mutia melesat cepat menaikki tangga menuju lantai dua. Dibukanya semua pintu kamar yang tertutup, hingga akhirnya ia menemukan Yusuf berbaring nyaman diatas sebuah ranjang berukuran besar dengan seprai coklat muda dan selimut biru bergambar mobil menutupi tubuh kecilnya.
Merasa begitu lega mendapati bayi mungilnya baik-baik saja dan bahkan kini dalam keadaan tertidur lelap, membuat air mata Mutia pun menetes, tatkala bibirnya mengulas senyum. Mengeluarkan sesak yang sejak beberapa jam lalu menghimpit dadanya.
Tepat di tengah ruangan, ketika Mutia akan mendekati Yusuf, Azril yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya, menahan tangannya sehingga membuat langkahnya terpaksa terhenti dan ia pun menatap pria itu dengan dahi mengernyit bingung.
"Aku mau peluk Yusuf, A'." ujarnya sambil berusaha melepaskan cengkraman Azril pada pergelangan tangannya. Ia harus segera memeluk Yusuf untuk meyakinkan diri bahwa mimpi buruknya sudah berakhir.
Ya, bagi Mutia kehilangan Yusuf adalah mimpi yang sangat buruk untuknya.
"Keinginan? Keinginan apa?" ujar Mutia tak sabaran. Ia ingin segera memeluk Yusuf dan menciumi bayi mungilnya.
"Menikah denganku."
"A-apa?" Mutia membelalak, menatap Azril dengan sorot tak percaya. "Aa sudah gila. Bagaimana bisa Aa bicara seperti itu, sementara Aa masih berstatus suami Teh Lamia?"
"Aku akan menceraikan Lamia. Lagipula tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap bertahan dengannya."
"Jangan lakukan itu, A'!" hardik Mutia sembari menghempaskan tangan Azril yang mencengkramnya. Manik hitam Mutia kini menatap Azril dengan sorot kecewa.
"Pernikahan kalian bukan hanya satu-dua hari. Sudah banyak hal yang kalian lalui bersama. Aa sangat mencintai Teh Lamia dan Aa harus ingat semua perjuangan Aa untuk mendapatkan Teteh. Aku tidak ingin Aa menyesal nantinya saat Aa kehilangan Teh Lamia dan menyadari bahwa semua yang Aa lakukan sekarang hanyalah keegoisan untuk memuaskan obsesi Aa semata."
Azril mengetatkan rahang, tampak tak menyukai ucapan Mutia. "Obsesi?!"
"Ya, obsesi." sahut Mutia dengan nada bergetar karena menahan tangis. "Aa tidak mencintaiku. Semua yang Aa lakukan hanya karena Aa menginginkan seorang anak. Kebetulan saja aku memiliki seorang anak, sehingga Aa merasa bahwa Aa mencintaiku."
Ucapan Mutia membuat Azril meragu. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah benar semua yang ia lakukan ini hanya karena keinginan terbesarnya untuk memiliki anak? Bukan karena ia mencintai, Mutia.
__ADS_1
"Aa bisa menganggap Yusuf sebagai anak Aa, tanpa kita harus menikah dan menyakiti banyak pihak." bujuk Mutia, saat melihat kebimbangan di mata Azril. Pria itu mulai goyah.
Namun semua keraguan itu seketika menghilang saat Azril mendengar suara langkah kaki. Menoleh ke arah pintu, ia menemukan sosok Yudha berdiri disana dengan nafas memburu. Bibirnya mengetat dengan gigi menggeletuk saat manik hitamnya kembali menatap Mutia, menghujam dengan tajam.
"Bukankah aku sudah bilang untuk datang sendiri, Mutia?!"
"Aku memang datang sendiri, A'. Aku sama sekali tidak memberitahu Mas Yudha."
"Bohong!" bentak Azril, telunjuknya mengacung pada Yudha tanpa mengalihkan tatapannya. "Buktinya sekarang pria itu ada disini."
Dalam sekejap mata Azril sudah berada di tepi ranjang. Dengan tergesa-gesa Azril mengangkat tubuh Yusuf, hingga membuat bayi mungil itu terkejut dan serta merta menangis keras.
"A', berikan Yusuf padaku. Dia ketakutan."
"Jangan mendekat, Mutia." cegah Azril saat melihat Mutia menggerakan kakinya. "Kalau kamu tetap mendekat, aku tidak akan segan-segan membawa Yusuf terjun dari jendela ini."
"Tidak, A'. Kumohon, jangan lakukan itu." menutup mulutnya dengan kedua tangan, Mutia berusaha menahan isakannya. Wajah wanita itu sudah kembali dibasahi oleh air mata.
Saat merasakan pelukan di pundaknya, Mutia pun menoleh. Dengan kasar Mutia menyingkirkan tangan Yudha dari tubuhnya dan melemparkan tatapan tajam pada pria itu disela deraian air matanya.
"Kenapa Mas datang? Sedikit lagi, padahal sedikit lagi aku berhasil membujuk A' Azril." Mutia terisak.
"Aku mengkhawatirkanmu dan Yusuf, mana mungkin aku diam saja." Yudha menjawab dengan nada lirih, sementara manik hitamnya menyorot lembut.
Tangis Mutia kian pecah. Melihat tatapan lembut Yudha disaat ia sudah membentak pria itu, membuat Mutia merasa bersalah. Tidak seharusnya ia membentak Yudha, padahal pria itu hanya ingin membantunya.
"Bagaimana mungkin kamu memutuskan untuk menikah dengan pria itu, Mutia? Aku lah yang berhak menikah denganmu dan menjadi Ayah Yusuf, karena aku sudah menjaga Yusuf saat dia bahkan masih di dalam kandungan." suara keras penuh emosi yang Azril keluarkan menarik perhatian Mutia dan Yudha. "Batalkan pernikahamu dengannya dan menikahlah denganku, atau... kamu tidak akan pernah melihat Yusuf lagi selamanya."
"Tidak... tidak, A'." Mutia begitu panik saat melihat Azril menjulurkan tubuh Yusuf ke luar jendela. Jika Azril melepaskan pegangannya pada Yusuf, Mutia akan kehilangan jiwanya detik itu juga.
"Jangan. Tolong, A', Yusuf masih sangat kecil, dia tidak tahu apapun. Kumohon, jangan sakiti Yusuf." tangisan Mutia semakin kencang, menyertai tangisan Yusuf.
"Azril, aku yakin kau bukan pria yang jahat. Kau tidak akan tega membunuh Yusuf, karena kau menyayanginya." Yudha berhasil menarik perhatian Azril. "Lihat Mutia. Lihatlah Yusuf. Apa ini yang kau inginkan? Menyiksa mereka? Membuat mereka menangis?"
Secara bergantian Azril menatap Mutia dan Yusuf. Saat ini Azril merasa kebingungan. Disatu sisi ia tak ingin menyakiti Mutia dan Yusuf, namun disisi lain ada bisikkan dalam dirinya yang terus mendorongnya untuk mendapatkan Mutia dan Yusuf, tidak peduli bagaimana pun caranya, termasuk menyakiti siapapun.
Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku? Kenapa aku seperti ini? Apa yang sedang kulakukan?
Suara langkah kaki mendekat, kembali menarik perhatian Azril. Bersamaan dengan ia mengarahkan tatapannya pada pintu kamar, terdengar suara lembut memanggil namanya.
__ADS_1