Untuk Mutia

Untuk Mutia
Tendangan pertama


__ADS_3

Merogoh tasnya, Mutia mengeluarkan benda pipih yang sejak tadi menjerit minta perhatian. Kala menemukan nama sang adik tertera pada layar ponsel, tanpa membuang waktu Mutia pun menjawab panggilan tersebut, sembari berjalan menghampiri kursi berbahan stainless di sudut lobi.


"Assalamualaikum, Dek." sapa Mutia, lantas mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu. Sedikit kesulitan, karena perutnya yang besar, membuat Mutia merasa bobot tubuhnya menjadi dua kali lipat.


"Wa'alaikumsalam, Yuk." sahut Faisal.


"Ada apa, Sal?" sedetik kemudian Mutia beristighfar dan menepuk pelan dahinya. "Ya Allah, maaf, Dek. Aku lupa mengirimi uang untuk bulan ini. Sebentar, aku akan segera mentransfer-nya."


"Yuk,"


Gerakan Mutia yang hendak menjauhkan ponsel dari telinganya untuk mengakses internet banking seketika terhenti saat mendengar panggilan Faisal.


"Aku menghubungi Ayuk, bukan selalu karena uang, Yuk." menangkap nada tersinggung dalam suara adiknya, membuat Mutia merasa bersalah.


"Maaf, Sal. Aku hanya tiba-tiba saja teringat kalau bulan ini aku belum mengirim uang padamu."


"Dibanding memikirkan uang, aku jauh lebih ingin tahu kabar Ayuk. Bagaimana keadaan Ayuk disana? Sudah seminggu ini Ayuk sulit di hubungi. Dan sudah beberapa hari terakhir ini perasaanku tidak tenang. Ayuk baik-baik saja, kan?"


Inikah yang dinamakan ikatan batin? Ketika ia mengalami kesusahan, Faisal merasakan kegelisahan yang sama. Memang sudah beberapa hari terakhir Mutia tidak menghubungi sang adik dan kedua sahabatnya, pun tidak juga menanggapi telpon dan pesan yang mereka kirimkan. Mutia sengaja menghindar, karena tidak ingin mereka tahu apa yang terjadi padanya dan membuat ketiga orang yang ia sayangi merasa khawatir.


"Aku baik-baik saja, Sal. Kamu tidak perlu khawatir, okay."


"Lalu kenapa sudah semingguan ini Ayuk susah di hubungi? Ayuk juga tidak menelpon balik dan membalas pesan-pesanku."


"Maaf, ya. Majikanku mengadakan syukuran untuk kelahiran anak pertamanya. Jadi semingguan ini aku sibuk membantu persiapan syukuran, sementara malam harinya aku kelelahan dan langsung tertidur."


Ya Allah, maafkan aku. Semenjak hamil Mutia sering kali berbohong. Ia berharap anaknya nanti tidak menurut tindakan buruknya.


"Sungguh? Ayuk nggak lagi bohongin aku, kan? Ayuk benar baik-baik saja?"


"Sal, kalau terjadi hal buruk padaku, saat ini aku pasti tidak sedang bicara denganmu. Mungkin orang lain yang menjawab panggilanmu dan memberi kabar tentang keadaanku."


"Yuk, Jangan bicara seperti itu. Oke, anggaplah aku percaya."


Bibir Mutia mengulas senyum saat mendengar nada tak rela kalah debat dalam suara Faisal. Meski tahu Faisal tidak semudah itu memercayai ucapannya, tapi setidaknya Faisal tidak akan bertanya lebih lanjut dan membuatnya semakin banyak berbohong.


"Kamu sendiri, bagaimana kabarmu? Terus sekolahmu?"


"Aku baik-baik saja. Ayuk tidak usah mengkhawatirkan aku, karena Wak merawatku dengan baik. Aku diberi makan tiga kali sehari dan saat sakit Wak Endah bahkan tidak tidur semalaman untuk merawatku. Sekolahku juga baik. Nilai-nilaiku stabil. Dan... aku terpilih untuk mengikuti seleksi beasiswa di Universitas Yogyakarta."

__ADS_1


"Benarkah?" manik hitam Mutia berbinar, tatkala senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Mutia tak bisa menutupi perasaan bahagianya, saat mendengar ucapan Faisal. "Selamat, Sayang. Aku doakan semoga kamu lulus seleksi, berhasil mendapatkan beasiswa itu dan bisa meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah."


"Amin. Oh iya, bulan depan aku libur selama dua minggu, aku berencana mengunjungi Ayuk ke Bali."


"Ke Bali? Emang kamu punya uang?"


"Punya, dong. Uang yang Ayuk kirim tiap bulan, aku kumpulkan. Sementara untuk uang saku setiap hari, di kasih sama Wak. Uangnya sudah cukup untuk beli tiket pulang-pergi."


Senyum di wajah Mutia seketika menghilang. Ia memang mengirim uang untuk kebutuhan Faisal, termasuk uang jajan, setiap bulannya. Sementara untuk uang makan, Mutia langsung mengirimnya ke rekening sang Wak.


"Kamu minta uang sama Wak?"


"Ya Allah, nggak, Yuk. Wak yang kasih dan maksa aku terima. Katanya, sesama keluarga nggak ada hitung-hitungan. Wak udah minta Ayuk nggak kirim uang lagi untuk biaya makan aku, tapi Ayuk nggak mau denger. Jadi uang makan yang Ayuk kirim, Wak kasih ke aku. Wak bilang, ada aku dalam keluarga mereka tidak serta merta menambah uang belanja dan beban kebutuhan makan."


Mutia memejamkan matanya sesaat. Inilah yang ia tidak inginkan. Saat akan menitipkan Faisal pada Wak-nya, Mutia sudah membuat kesepakatan. Dimana setiap bulan ia akan mengirim uang untuk biaya makan Faisal dan Wak-nya setuju. Karena itulah Mutia jadi memutuskan untuk menitipkan Faisal pada sang Wak. Jika tahu akan begini, waktu itu Mutia pasti lebih memilih menyewa kamar kost untuk Faisal. Bukannya tidak tahu terima kasih, tapi Mutia hanya tidak ingin merepotkan, sekalipun itu keluarganya sendiri.


"Ayuk, marah?"


Tak langsung menjawab, Mutia menghela nafas pelan. "Nanti aku akan bicara dengan Wak."


"Oke. Tapi... aku boleh ke Bali kan? Aku kangen sama Ayuk."


"Dua-duanya, sih." Faisal tergelak, pun dengan Mutia. "Pas Ayuk libur kerja, temenin aku jalan-jalan ya."


Mutia menanggapi ucapan adiknya yang bernada antusias dengan gumaman pelan.


"Ayuk juga jangan lupa kirimin alamat tempat tinggal Ayuk sekarang."


"Nanti aku jemput di bandara aja kalau kamu udah sampai di Bali."


"Nggak usah, Yuk. Lagian Ayuk pasti kerja. Aku nggak akan kesasar, meskipun baru pertama kali ke Bali, kok. Beneran."


"Ya udah, nanti aku kirimin alamatnya lewat WA ya."


"Oke, sip." kemudian terdengar suara bel dari seberang telpon. "Udah waktunya masuk. Nanti aku hubungi Ayuk lagi. Ayuk jaga diri baik-baik."


Setelah menanggapi ucapan Faisal, panggilan pun berakhir. Mutia menyandarkan punggung, kemudian menghela nafas panjang. Ia merindukan adiknya, kota kelahirannya serta kedua sahabatnya. Dan juga... sudah cukup lama ia tidak mengunjungi makam orang tuanya.


Semua ini karena Haikal. Andai saja pria itu tidak mengkhianatinya, Mutia tidak akan merasakan sakit dan kekecewaan yang amat sangat, sehingga membuatnya mengambil keputusan egois dengan meninggalkan Faisal.

__ADS_1


Astagfirullah... aku tidak boleh mengeluh. Apa yang terjadi padaku,sudah menjadi takdirku. Dan Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.


"Tidak boleh menghela nafas panjang seperti itu."


Suara bariton yang terdengar dari arah samping, membuat Mutia serta merta menoleh. Matanya membelalak saat mendapati sosok Yudha duduk di sampingnya, sebelum kemudian mengulas senyum.


"Mas Yudha. Pagi." sapanya.


"Pagi juga." Yudha membalas senyuman Mutia. "Mamiku selalu bilang, saat kita menghela nafas panjang, saat itu kita tengah mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Padahal, harusnya kita bersyukur, karena sampai detik ini Tuhan masih berbaik hati memberi kita kehidupan."


Mutia meringis dalam hati dan tersenyum kikuk, secara tak langsung membenarkan ucapan Yudha dan itu membuatnya malu.


"Mas... sejak kapan duduk disini?" ujarnya, mengalihkan fokus.


"Sejak kamu bilang, Kangen sama aku? Atau pengen liburan ke luar kota untuk pertama kalinya?" ucapan Yudha di akhiri dengan senyuman, membuat Mutia kembali meringis setelah mengetahui sudah cukup lama Yudha duduk disampingnya, namun ia tidak menyadarinya sebelum pria itu mengeluarkan suara.


"Sudah pukul delapan kurang. Ayo ke ruang pertemuan. Aku harus memberi semangat untuk kalian, sebelum kalian berpanas ria." guyon Yudha sembari terkekeh geli, lantas beranjak dari duduk.


Mutia tertawa pelan, kemudian mengangkat bokongnya dari kursi yang sudah ia duduki selama lima belas menit terakhir. Namun karena gerakannya yang terlalu tiba-tiba, membuat bayi di dalam perutnya kaget dan menendang kuat, sehingga Mutia tanpa sadar meringis pelan dengan dahi mengernyit.


"Mutia, kamu tidak apa-apa?" sedikit membungkuk, Yudha menatap khawatir pada Mutia. Ia bahkan refleks meletakan tangannya di punggung dan perut Mutia, lantas memberikan usapan lembut.


Sejenak keduanya saling pandang. Terpaku menatap satu sama lain dengan jantung berdetak cepat. Sentuhan pertama yang terasa asing, namun mendebarkan. Ada perasaan hangat yang merasuk ke dalam jiwa, saat kulit mereka bersentuhan. Juga seperti ada aliran listrik bertegangan rendah, yang memberi kejut ringan, yang justru terasa menggelikan.


Hingga kemudian tendangan pada perut Mutia berhasil menarik kesadaran keduanya. Tatkala Mutia merasa salah tingkah dan wajahnya merah padam, Yudha yang masih menempelkan tangannya pada perut Mutia justru tersenyum lebar dengan mata berbinar.


"Dia menendang?" ujarnya takjub. Menatap sekilas pada Mutia, sebelum kembali fokus pada perut wanita itu. Yudha memberi usapan pelan dan bayi dalam perut Mutia merespon usapannya dengan tendangan yang cukup kuat. "Apa ini yang tadi membuatmu meringis?"


Mutia berdehem. Mengamati keadaan lobi, dimana beberapa orang mulai menaruh perhatian padanya. "I-iya, Mas."


"Wow... dia kembali menendang. Anakmu bersemangat sekali, Mutia. Dia menendang dengan kuat. Aku yakin, saat lahir nanti dia akan menjadi jagoan."


Sklera Mutia memerah. Seharusnya Haikal lah yang berada di posisi Yudha saat ini. Mengusap perutnya dan menerima tendangan pertama dari anaknya. Tapi apa mau di kata, kenyataan memang sering kali menyakitkan.


Tak ingin terbawa suasana, Mutia memutuskan untuk menghentikan keadaan melankonis ini. Memanggil Yudha, Mutia berhasil menarik perhatian lelaki itu.


"Mas, bukannya kita harus ke ruang pertemuan sekarang."


"Ah ya, kamu benar. Ayo." bahkan tanpa sadar Yudha meraih tangan Mutia, menggandeng wanita itu dan berjalan disampingnya.

__ADS_1


Kalau kayak gini, pantes banyak yang bawa perasaan.


__ADS_2