
Niat hati ingin segera mendapatkan penjelasan dari Azril tentang alasan pria itu membohonginya, namun keadaan sama sekali tidak mendukung, sehingga ia belum memiliki kesempatan untuk bicara dengan Azril. Dua minggu berlalu sejak Lamia memergokinya tidur di ranjang wanita itu, yang menyebabkan kesalahpahaman, Azril memutuskan untuk menetap di Bandung hingga pengajian hari ketujuh kematian Ibunya.
Sementara Lamia sendiri hanya menemani suaminya di pengajian hari ketiga, karena keesokan harinya Lamia sudah pulang. Ia hanya mendapatkan cuti dua hari dari atasannya dan hal tersebut tentu saja kembali memancing kemarahan Azril.
Disaat ia membutuhkan kehadiran Lamia disisinya, sang istri justru lebih mementingkan pekerjaan. Namun saat Lamia berpamitan pulang padanya, Azril sama sekali tidak mengeluarkan kemarahan seperti sebelumnya, hanya memendam dalam hati dan bersikap tak acuh. Azril bahkan tidak mengantar sang istri ke bandara, meskipun kakak tertuanya sudah berulang kali membujuk.
"Perhatikan langkahmu, Mutia! Aku tidak mau disalahkan, jika kamu terpeleset. Tadi kamu sendiri yang menawarkan untuk ikut bersamaku." pesan Lamia dengan nada ketus.
Mutia menanggapinya dengan anggukan kepala. Sejak kejadian dua minggu lalu, Lamia tak lagi bersikap hangat padanya. Mutia memaklumi hal itu, karena ia tahu betul bagaimana perasaan Lamia saat melihat wanita lain tidur di ranjangnya, meskipun Mutia sama sekali tidak melakukannya secara sengaja. Mutia sudah cukup bersyukur Lamia masih mau bicara —walau dengan nada sinis dan ketus— padanya, juga tidak memalingkan wajah saat melihatnya.
"Pegang ini." Lamia menyerahkan keranjang anyaman pada Mutia, lalu berjalan lebih dulu memasuki pasar, dengan Mutia melangkah pelan dan hati-hati di belakangnya.
Sekarang mereka tengah berada di pasar tradisional. Berhubung ini hari minggu dan bertepatan dengan kepulangan Azril, Lamia memutuskan untuk berbelanja ke pasar, karena biasanya Mutia lah yang belanja di tukang sayur keliling. Ia ingin memasak makanan kesukaan Azril untuk menyambut kepulangan suaminya itu. Lalu Mutia yang tahu bahwa Lamia ingin pergi ke pasar, memaksa untuk ikut, sebab jelas ia tak mungkin membiarkan majikannya berbelanja, sementara ia duduk santai di rumah karena semua pekerjaannya sudah selesai.
Sabar, Mutia. Sabar.
...* * *...
Hari yang Mutia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Pagi-pagi sekali Lamia sudah berangkat kerja karena ada pemeriksaan dadakan dari kantor pusat, sementara Ghifar memang telah meninggalkan rumah sejak beberapa hari yang lalu untuk kembali melakukan tugasnya sebagai co-pilot. Di hari senin pagi ini, hanya tersisa ia dan Azril di rumah, karena pria itu masih memiliki ijin cuti untuk istirahat sampai besok.
Sempat Mutia lihat tatapan tak rela meninggalkan rumah yang Lamia tunjukkan, saat wanita itu baru saja menuruni undakan teras. Lalu melemparkan sorot tajam sarat akan peringatan padanya, sebelum Lamia benar-benar masuk ke dalam mobil. Mutia tahu jelas maksud dari tatapan Lamia, wanita itu kini tak lagi bisa memercayainya dan hal tersebut menggores harga diri Mutia.
Apakah serendah itu dirinya sekarang di mata Lamia?
Ketika Mutia tengah memasukan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, terdengar suara Azril memanggilnya dari arah ruang makan. Mutia menyahut, meminta pria itu untuk menunggu sebentar, sementara ia menyalakan mesin cuci.
"Ada apa, A'?" Mutia menghampiri Azril yang sudah duduk di kursi balik meja makan dengan wajah khas bangun tidur.
"Dimana kopiku, Mutia?"
"Ah, maaf. Tadi pas sarapan Aa masih tidur dan tidak tahu pukul berapa akan bangun, jadi aku belum membuatnya, karena takut nanti kopinya sudah dingin. Tunggu sebentar." membalik tubuh, Mutia berjalan menuju dapur.
Dengan cekatan Mutia meracik kopi yang Azril inginkan, lalu kembali ke ruang makan dua menit kemudian dengan membawa secangkir kopi yang mengepulkan asap, lantas meletakkannya tepat di hadapan Azril.
__ADS_1
"Terima kasih, Mutia." menghidu dalam aroma kopi, Azril meminumnya perlahan. Bibir Azril membentuk senyum puas, saat kopi buatan Mutia terasa begitu pas di lidahnya. Kemudian Azril membalik piring dan mengisinya dengan nasi goreng udang, tempe, tahu goreng dan sambal sebagai pelengkapnya.
"A', ada yang ingin kubicarakan." ucapan Mutia berhasil menarik atensi Azril.
"Hmm?" sahutnya di sela menguyah makanan. "Duduklah."
Dengan patuh Mutia melakukan perintah Azril, karena ia juga mulai merasa pegal karena berdiri terlalu lama.
"Mau bicara apa?"
"Ini tentang adiknya Aa, Hasna."
Sontak Azril menghentikan makannya. Karena sudah kehilangan selera, Azril meletakan sendoknya dan memaku atensi pada Mutia.
"Ada apa dengan Hasna?"
Mutia meremas jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan, tatkala manik hitamnya berada dalam satu garis lurus dengan manik pekat Azril. Tatapan tajam pria itu yang terasa menembus sampai ke jantungnya, membuat Mutia mengeluarkan keringat dingin dan duduk dengan tak nyaman.
"Aku sudah tahu, bahwa Aa tidak memiliki adik perempuan, apalagi yang bernama Hasna. Dan tekanan mental yang dialami Ibu Aa, penyebabnya bukan karena kematian Hasna, tapi oleh perceraian yang terjadi setelah Ibu Aa mengetahui tentang perselingkuhan suaminya."
Demi Tuhan, Mutia rasanya tak ingin lagi bicara dan pergi sejauh-jauhnya dari Azril. Namun ia tak bisa, karena inilah saatnya untuk meminta penjelasan, sebab ia tak tahu apakah akan ada kesempatan jika di lain waktu.
"Mutia..."
"Kenapa Aa tega membohongiku?" tiba-tiba saja Mutia merasakan keberanian yang entah datang dari mana, membabat habis semua keraguan dan ketakutannya. "Aa bahkan mengarang cerita dan mengikutsertakan kisah Ibu Aa di dalam kebohongan itu. Kenapa A'?"
Sekian detik berlalu. Azril masih setia dalam bungkam dengan pandangan lurus pada Mutia dan tangan terkepal di atas meja makan.
"Jawab, A'! Aku butuh penjelasan dari Aa agar aku berhenti menerka-nerka dan berpikiran buruk tentang..."
"Aku tidak ingin kamu menolakku." Azril menyela cepat.
Mutia mengernyit, tak terlalu mendengar ucapan Azril. "A-apa?"
__ADS_1
"Awalnya... aku hanya tidak ingin kamu menolak segala bentuk perhatian dan pemberian dariku. Jujur saja, kehamilanmu membuatku yang sejak lama menantikan seorang bayi, merasa begitu bahagia. Semula niatku hanya ingin berbuat baik padamu. Aku merasa bersimpati melihatmu yang menjalani kehamilan tanpa seorang suami. Tapi... lama-kelamaan niat itu berubah." menegakkan duduk, Azril mempersempit jarak diantara mereka.
"Perasaan yang aku milikki untukmu kian bertumbuh, melebihi sekedar perasaan kasihan. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku, tahu-tahu saja aku sudah jatuh hati padamu. Aku menginginkanmu, Mutia. Sebagai seorang pria yang menginginkan wanita yang dia cintai."
"Aa sudah gila!" seketika beranjak dari duduk, Mutia menatap berang pada Azril. Perasaan kecewa tampak begitu jelas di manik hitam Mutia. Bagaimana tidak, selama ini ia sudah menganggap Azril sebagai kakaknya, tapi pria itu justru menyimpan perasaan terlarang untuknya.
"Aku ingatkan, jika Aa lupa. Aa sudah memiliki istri. Teh Lamia begitu baik padaku. Dia menolongku, memberiku tempat tinggal, memperlakukanku seperti adik sendiri. Bagaimana mungkin Aa tega mengkhianatinya dengan membagi hati?"
"Sudah kubilang, aku tidak bisa mengendalikan hatiku, Mutia. Jika kamu ingin marah, marah saja pada Tuhan yang sudah menghadirkan cinta dalam hatiku untukmu."
"Jangan menyalahkan Tuhan. Rumput tetangga memang selalu lebih indah, A'. Dan satu-satunya cara untuk menahan diri agar Aa tidak menghampiri rumput tetangga, adalah dengan tidak menoleh ke sana dan menaruh perhatian." membuang nafas kasar, Mutia kembali mendudukan tubuhnya.
"Seharusnya Aa tetap menatapku sebagai seorang adik, seperti yang selama ini kulakukan. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikiranku untuk memiliki Aa, sehingga setan tidak mendapatkan cela untuk menghasutku. Sementara Aa, aku yakin Aa pasti sering melakukan pengandaian. Seandainya aku bertemu Mutia lebih dulu. Seandainya Lamia seperti Mutia. Seandainya Mutia lah istriku dan pengandaian lain sebagainya, hal itu membuat setan berpesta pora dan terus membujuk Aa untuk berbuat dosa, hingga akhirnya kini Aa memiliki perasaan terlarang untukku."
Azril memejamkan mata, tak mengeluarkan kalimat bantahan, sebab apa yang Mutia katakan memang benar adanya. Ia selalu berandai-andai sejak mengetahui kehamilan Mutia.
Astagfirullah, ya Allah. Kenapa Engkau tempatkan aku di posisi ini? Aku membenci Sonya yang telah merebut suamiku, tapi kenapa sekarang Engkau membuatku berada di posisi perebut. Apa Engkau sedang mengujiku, ya Allah?
Tanpa sadar Mutia meneteskan air mata saat merasakan sesak menghimpit dadanya. Meski ia tidak memiliki sedikitpun perasaan lebih pada Azril, selain perasaan sayang seorang adik, tetap saja Mutia merasa berdosa karena telah membuat Azril mengkhianati Lamia dengan membagi hati padanya. Ia tahu bagaimana sakitnya dikhianati dan Mutia tidak akan memberikan kesakitan yang sama pada wanita lain.
"Jangan mendekat, A'." cegah Mutia saat melihat Azril hendak beranjak menghampirinya. Tampak jelas kekhawatiran di mata pria itu saat melihatnya menangis. "Satu lagi... apa malam itu Aa yang membawaku ke ranjang?"
"Ya."
Air mata Mutia semakin deras mengalir keluar. Dengan suara serak, Mutia kembali bicara. "A-apa Aa tidur disampingku?"
Kali ini Azril menggeleng. "Sekembalinya dari kamar mandi, aku membaringkanmu di ranjang, sementara aku tidur di sofa."
Mutia mengangguk-angguk sembari menyeka air mata. Setidaknya Azril masih memiliki akal sehat untuk tidak tidur satu ranjang dengan wanita yang bukan istrinya.
"Apa Aa sudah menjelaskannya pada Teh Lamia?"
"Sudah. Apa dia masih bersikap ketus padamu?"
__ADS_1
"Aku memang pantas menerimanya." Mutia tersenyum getir.