
"Maaf membuatmu menunggu lama." sedetik kemudian Yudha mendudukkan tubuhnya di samping Haikal yang tengah menyesap minuman. "Aku harus menunggu makan siang dari Mutia sebelum kemari."
"Makan siang dari Mutia?" perlahan Haikal meletakkan gelasnya yang berisi lemon tea, tatkala matanya menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang.
Dulu Mutia juga selalu memasak makan siang untukku dan mengantarnya ke kantor. Tak peduli saat itu hari sedang terik atau hujan deras, dia akan tetap datang. Mutia selalu melakukan semua kewajibannya sebagai seorang istri, tapi aku justru melukainya dan bahkan meneteskan air garam pada lukanya.
"Ah, tidak apa-apa." sahut Haikal kemudian sembari memaksakan senyum. "Kau mau pesan makanan? Aku sudah memesan lebih dulu." dagunya mengedik pada piring dan gelas di hadapannya.
Yudha menanggapi dengan seulas senyum kecil. Mengeluarkan sebuah kotak makanan dari dalam tas kain yang ia bawa dan meletakkannya di atas meja. "Aku hanya tinggal memesan minuman." ujarnya, lantas melambaikan satu tangan ke udara untuk memanggil pelayan, kemudian menyebutkan pesanannya saat pelayan berdiri di dekatnya.
"Bisa aku makan lebih dulu?" tanya Yudha setelah pelayan meninggalkan meja mereka. Karena jujur saja, Yudha merasakan firasat buruk. Entah kenapa Yudha yakin sesuatu yang ingin Haikal katakan padanya akan membuat nafsu makannya hilang, sementara saat ini ia sedang merasa sangat lapar.
Haikal mengangguk, bersamaan dengan kedatangan pelayan yang membawakan pesanan Yudha.
Selama beberapa menit hanya tercipta hening diantara mereka. Keduanya sibuk menyantap makan siang, sementara otak terus berpikir. Haikal yang memikirkan dari mana ia harus mulai memberitahu Yudha tentangnya dan Mutia.
Sedangkan Yudha tengah menerka-nerka apa yang akan Haikal katakan padanya dan kemungkinan terburuk yang Yudha pikirkan adalah, Haikal mantan kekasih Mutia yang belum bisa move on seperti Ghifar, terobsesi seperti Azril, lalu sekarang Haikal menemuinya untuk mengancamnya agar mau meninggalkan Mutia.
Tiga puluh menit kemudian mereka akhirnya menyelsaikan makan siang. Setelah mencuci tangan dan meminta pelayan membersihkan meja mereka, keduanya kini saling bertatapan untuk bicara.
"Jadi... kau ingin membicarakan apa? Jujur saja, ucapanmu pagi tadi membuatku tidak fokus bekerja dan ingin segera menemuimu untuk mengetahui apa yang ingin kau bicarakan. Sayang sekali, aku memiliki kewajiban yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja."
"Sebelumnya, aku ingin memperkenalkan diri." tangan Haikal terulur pada Yudha, mengajak berjabatan.
Ingin rasanya Yudha memutar mata jengah. Sudah dua kali mereka bertemu dan kali ini mereka bahkan duduk berhadapan selama lebih dari setengah jam, tapi Haikal baru akan mengenalkan namanya. Bagus sekali.
Kemudian Yudha menyambut uluran tangan pria yang ia kenali sebagai teman Mutia.
"Aku Haikal."
Yudha mengernyitkan dahi. Ia memiliki ingatan yang cukup baik dan ia seperti pernah mendengar nama itu. Namun sebelum Yudha berhasil mengingat dimana ia pernah mendengar nama Haikal, pria di hadapannya sudah kembali mengeluarkan suara.
"Mantan suami Mutia."
Ah, ya. Benar. Mantan suami Mutia. Ia pernah melihat nama Haikal di kartu keluarga Mutia setelah menikah, di berkas lamaran kerja dan beberapa kali Mutia juga pernah menyebut nama mantan suaminya.
Tapi tunggu dulu... bukannya suami Mutia sudah meninggal?
Manik hitam Yudha menghujam Haikal dengan tajam, tatkala bibirnya menyungging senyum sinis. "Kau pikir aku akan semudah itu percaya dengan ucapanmu? Aku tahu kau berbohong. Jadi katakan padaku siapa kau dan apa tujuanmu mengatakan hal itu padaku?"
Kali ini Haikal yang mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak berbohong. Mutia memang mantan istriku dan Yusuf adalah anakku."
"Diam!" Yudha menggebrak meja dengan keras, mencuri banyak perhatian, namun ia sama sekali tidak peduli. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal di atas meja, hanya menunggu sedikit disulut lagi, Yudha akan meledak dan besar kemungkinan menyakiti Haikal.
"Aku sungguh tidak berbohong, Yudha." sebisa mungkin Haikal tetap bersikap tenang dan diam di kursinya, meskipun saat ini ia merasa seperti berdiri di ujung jurang dengan singa lapar berada tepat di belakangnya.
Kau harus bertahan jika ingin mendapatkan Yusuf, Haikal. Sisi lain dirinya menyemangati, membuat Haikal mengangguk samar.
Menyandarkan punggung, Yudha tersenyum miring sembari menatap Haikal dengan sorot mencemooh. "Ah, beruntungnya aku yang mendapatkan Mutia. Ada begitu banyak lelaki yang tergila-gila padanya."
Haikal menghela nafas pelan, lantas meronggoh tas yang ia bawa dan menarik keluar sebuah map berisi salinan berkas-berkas pernikahan serta perceraiannya dengan Mutia, yang sempat ia minta Sonya kirimkan melalui email.
__ADS_1
"Kau mungkin tidak bisa memercayai ucapanku, tapi berkas-berkas ini pasti bisa membuatmu percaya." perlahan Haikal menyodorkan map yang ia bawa ke hadapan Yudha. "Bukalah."
Selama beberapa detik Yudha mengintimidasi Haikal dengan tatapannya, lantas mengambil map tersebut dengan malas-malasan.
Saat membaca lembar demi lembar berkas yang Haikal berikan, Yudha berusaha untuk bersikap tetap tenang. Ia tidak boleh terpancing emosi berlebih, sebelum menanyakan kebenarannya pada Mutia dan membuat Haikal senang karena berhasil mempengaruhinya. Ia harus lebih memercayai Mutia daripada pria di depannya yang bahkan baru ia temui dua kali.
"Kami menikah atas permintaan Ayah Mutia." Haikal memutuskan untuk memberitahu Yudha dari awal pernikahannya dan Mutia. Tentang hubungan mereka yang tak mengalami peningkatan, karena ia tak bisa menatap Mutia lebih dari sekadar adik, namun Haikal menyembunyikan kenyataan bahwa ia lah penyebab dari perceraian itu terjadi. Dan saat dua tahun pernikahan, mereka memutuskan untuk bercerai.
"Mutia tidak pernah memberitahuku bahwa saat kami bercerai, saat itu juga Mutia tengah mengandung anakku. Sampai beberapa waktu lalu, saat kalian pulang ke Prabu dan aku mengunjungi rumah Wak, aku mendengar dari para tetangga tentang Mutia yang memiliki seorang anak laki-laki. Saat itu aku masih ragu bahwa Yusuf adalah anakku, hingga pertemuan kita di supermarket membuatku benar-benar yakin. Yusuf adalah duplikatku. Dia begitu mirip denganku saat seusianya." bersamaan dengan itu Haikal mengeluarkan selembar foto usang dari dalam dompet dan menyodorkannya pada Yudha.
Mengabaikan foto yang Haikal berikan, Yudha menatap pria di depannya dengan satu alis terangkat. "Lalu sekarang apa maumu?"
Menyimpan kembali fotonya sewaktu kecil, lantas menghela nafas pelan. "Aku tahu permintaanku ini pasti sangat egois, mengingat kalian sebentar lagi akan menikah. Tapi aku tidak bisa membiarkan Yusuf mengenalmu sebagai Ayahnya, sementara aku adalah Ayah kandungnya."
"Jadi kau menginginkan Yusuf?" gigi Yudha menggeletuk dan ia mencengkram pinggiran meja dengan kuat.
"Begitu juga dengan Mutia. Yusuf masih kecil dan pasti sangat membutuhkan Ibunya. Aku tidak mungkin memisahkan mereka."
Yudha hanya menggeleng tak percaya sembari membuang nafas kasar. Kemudian meletakan selembar uang ratusan di atas meja untuk membayar pesannya, setelah itu beranjak pergi dengan membawa serta map yang Haikal berikan, tanpa menanggapi permintaan pria itu.
...* * *...
Masih dengan air mata berderai dan sesegukkan Mutia merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponsel, Mutia mengaktifkan kembali nomor Haikal yang ia blokir, lalu segera menghubungi pria itu.
Sayang, ponsel Haikal tidak aktif, sehingga membuat Mutia berteriak putus asa dan membanting ponselnya.
Mutia menekuk kakinya dan kembali menangis keras. Ia harus menemui Haikal untuk melampiaskan kemarahan dan rasa sakitnya. Memang tidak akan bisa memperbaiki hubungannya dan Yudha, tapi setidaknya itu bisa sedikit meringankan sesak yang menghimpit dadanya.
Saat mengingat Ayah mertuanya, Mutia bergerak cepat mengambil ponsel yang berjarak satu meter darinya. Hembusan nafas lega keluar dari sela bibir saat mendapati ponselnya masih bisa menyala, meskipun layarnya sudah retak.
Gemetar Mutia membuka blokir pada nomor Ayah mertuanya, lalu menghubungi pria parubaya yang begitu baik padanya. Satu kali, tidak diangkat. Mutia mencoba kembali, masih tidak diangkat. Begitu terus hingga panggilan ketujuh, membuat Mutia ingin kembali membanting ponselnya dengan sangat keras hingga tidak bisa di gunakan lagi. Namun baru saja Mutia mengangkat tangannya untuk membanting ponsel, benda pipih tersebut justru berdering dengan nyaring.
Saat menemukan nama sang Ayah mertua tertera di layar ponselnya, tanpa membuang waktu Mutia segera menjawab panggilan itu setelah menyeka air matanya. Mutia berdehem agar suaranya tidak terdengar serak, lantas mengucap salam.
"Mutia, akhirnya kamu menghubungi Ayah. Sejak pergi dari Prabumulih, Ayah selalu menghubungimu, tapi nomor kamu tidak pernah aktif. Kamu baik-baik saja, kan, Nak?"
Sejenak Mutia memejamkan matanya. Merasa bersalah pada Ayah mertuanya. Memang sejak meninggalkan kota kelahiran, Mutia memutus semua kontak dengan keluarga Haikal, termasuk Ayah mertuanya yang baik.
Ayah menanyakan kabarku, artinya Haikal belum memberitahu apapun pada Ayah. "Eum, aku baik-baik saja. Ayah sendiri?"
"Ah, syukurlah. Kalau Ayah, semakin merasa baik setelah mendengar suaramu dan mengetahui kamu baik-baik saja, Nak."
"Ayah, heum... Haikal,"
"Dia juga baik-baik saja, Nak."
Tidak, bukan itu yang ingin kuketahui, Ayah. Batinnya.
"Haikal sedang di Bali sekarang. Mewakili kami untuk membantu mengurus pernikahan anak Pamannya."
"Ya, aku bertemu dengannya beberapa hari lalu."
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu di Bali, Nak?"
"Aku mendapat pekerjaan disini, Yah." jeda selama beberapa detik. Mutia berdehem, sebelum mengatakan tujuannya menghubungi mantan Ayah mertuanya. "Haikal di Bali menginap dimana, Yah? Aku... ingin bertemu dengannya. Ada hal yang ingin aku bicarakan."
Hartono tak langsung menjawab. Bukan karena ia tak ingin memberitahu Mutia, namun ia hanya sedang terkejut sekaligus merasa senang. Mutia ingin bertemu Haikal? Hartono berharap Haikal dan Mutia bisa kembali bersama.
"Ayah meminta Haikal menginap di rumah sepupunya, tapi Haikal justru memutuskan untuk menginap di hotel." kemudian Hartono memberitahu Mutia nama hotel tempat Haikal menginap.
Setelah mengucapkan terima kasih dan berjanji akan mengunjungi sang Ayah mertua, Mutia mengakhiri panggilan. Lalu tanpa membuang waktu ia bergegas ke kamarnya, mengambil tas dan berpamitan pada mbah, sebelum beranjak meninggalkan rumah.
Dalam dua puluh menit perjalanan ia tempuh dengan menggunakan taksi, akhirnya Mutia tiba di lobi hotel tempat Haikal menginap selama di Bali. Segera saja Mutia menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan nomor kamar Haikal, namun wanita yang berada di hadapannya tidak dengan mudah mengabulkan permintaannya.
"Saya Mutia Haruka. Tolong hubungi pak Haikal dan katakan saya ingin bertemu."
Wanita bersanggul ketat dengan senyum ramah profesional meminta Mutia untuk menunggu selagi ia menghubungi Haikal. Tak sampai dua menit wanita itu menutup telpon dan memberitahu Mutia nomor kamar hotel Haikal.
Selama sepuluh detik Mutia bergerak gelisah di dalam lift, beruntung tidak ada siapapun bersamanya di dalam kotak besi itu atau ia pasti akan membuat orang yang bersamanya merasa terganggu.
Saat pintu lift akhirnya terbuka, Mutia berjalan cepat mencari nomor kamar Haikal. Butuh waktu cukup lama hingga ia menemukan pintu kamar Haikal, kemudian dengan brutal Mutia menggedor pintu kamar tersebut sembari berteriak memanggil nama mantan suaminya. Ia tidak peduli jika orang-orang merasa terganggu dan akan membuatnya mendapat teguran.
"Mutia," sedetik pintu terbuka, sosok Haikal muncul dengan seulas senyum, namun senyuman itu seketika menghilang dan berganti raut syok saat Mutia melayangkan tamparan keras di pipi kanannya.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Haikal sembari memegangi pipinya yang terasa perih.
"Rasa sakit itu belum ada apa-apanya dengan sakit yang kurasakan karena perbuatanmu, Haikal!" meski sudah berusaha keras untuk tidak menangis, nyatanya Mutia tetaplah seorang wanita yang lembut perasaannya, hingga air mata itu pun mengalir keluar dengan derasnya.
"Kenapa kamu begitu tega padaku, Haikal? Kenapa kamu memberitahu semuanya pada Mas Yudha?!"
"Aku terpaksa melakukan itu karena kamu tidak mau bicara denganku, Mutia. Jika Yusuf bukan anakku, aku tidak akan sampai seperti ini. Tapi kenyataannya Yusuf adalah anakku dan aku tidak akan membiarkan dia tumbuh dengan mengenal pria lain sebagai Ayahnya, sementara dia tidak mengenalku."
"Tapi haruskah dengan cara ini? Kamu mengatakan semuanya pada Mas Yudha, sementara aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahunya."
"Menunggu waktu yang tepat? Setelah dia menikahimu, maksudmu? Agar dia tidak meninggalkanmu, begitu? Kenapa kamu sangat egois, Mutia. Aku juga berhak atas Yusuf. Aku tidak akan membiarkan nama pria itu berada di akta kelahiran anakku."
"Anakku, anakku, kamu terus mengatakan itu, padahal kamu bahkan tidak tahu tentang keberadaannya."
"Itu karena kamu tidak memberitahuku, Mutia!"
"Karena kamu bahkan tidak mengingat saat kamu meniduriku, lalu bagaimana mungkin kamu akan percaya Yusuf anakmu jika aku mengatakan tentang kehamilanku saat itu. Yang ada kamu pasti akan menuduhku hamil dengan pria lain hanya untuk membatalkan perceraian kita, karena kamu merasa tidak pernah menyentuhku dan membuatku semakin buruk dimata semua orang!"
Haikal bergeming dengan mulut terkatup rapat. Ia tak bisa mengucapkan apapun lagi, sebab apa yang Mutia katakan adalah benar.
"Apa salahku padamu, Haikal?" Mutia menatap Haikal dengan putus asa, penuh kesakitan dan air mata berlinang. "Aku hanya mengikuti keinginan Ayahku untuk menikah denganmu. Jika itu adalah kesalahan, rasanya tidak sebanding kamu membalasnya dengan merenggut semua kebahagianku."
Meski mendengar beberapa pintu kamar hotel terbuka dan membuatnya menjadi pusat perhatian, Mutia sama sekali tidak meredakan tangisnya. Wanita itu justru terisak semakin keras. Bukan untuk menarik simpati, namun untuk melegakan hatinya.
"Aku bisa terima kamu berselingkuh dengan sepupuku, aku juga bisa terima sekarang kamu membuat pernikahanku dan Mas Yudha batal, tapi aku tidak bisa terima jika kamu mengambil Yusuf dariku. Yusuf adalah anakku dan dia sangat berharga bagiku. Aku tidak akan melepaskannya padamu, sekalipun kamu adalah Ayah kandungnya." menghapus jarak, Mutia berdiri sangat dekat dengan Haikal. Kepalanya mendongak, menantang mata hitam Haikal dengan sorot dingin, tatkala telujuknya menekan dada Haikal.
"Aku akan mempertahankan Yusuf bagaimana pun caranya. Dan jika kamu ingin merebutnya dariku, artinya kamu harus membunuhku terlebih dulu."
Kemudian Mutia melangkah pergi, meninggalkan Haikal yang mematung di ambang pintu.
__ADS_1
"Jadi benar Yusuf anakku." tangannya yang gemetar mengusap wajah dengan kasar. "Ya Tuhan, sekarang apa yang harus kulakukan? Aku menginginkan anakku, tapi jika aku memaksakan diri, maka aku akan kembali menyakiti Mutia."