Untuk Mutia

Untuk Mutia
Kecewa


__ADS_3

Ghifari Ardhan. Pemilik nama itu sempat singgah di hatinya bertahun-tahun yang lalu. Ia ingat betul bahwa Ghifari Ardhan adalah sosok kakak kelasnya yang menjabat sebagai ketua osis sewaktu di sekolah menengah kejuruan beberapa tahun silam. Saat itu Ghifari berada di kelas tiga, sementara ia sendiri merupakan siswi baru.


Pertemuan pertama mereka terjadi saat Mutia salah masuk kelas sekembalinya ia dari lab komputer. Karena pada saat itu kelas dua belas sedang melakukan magang selama tiga bulan, untuk sementara siswa kelas sepuluh lah yang menempatinya. Mutia lupa, bahwa ruang lantai dua yang sempat ditempati oleh siswa baru adalah milik kelas dua belas jurusan Penjualan dan kelas sepuluh sudah di pindahkan ke ruangan dekat kantin belakang sekolah.


Saat itu Mutia merasa benar-benar malu. Apalagi perhatian semua pasang mata tertuju padanya, membuat Mutia merasa seperti daging mentah yang tengah diincar oleh puluhan singa lapar.


"Apa aku di panggil ke kantor guru?"


Tiba-tiba saja Ghifar menghampirinya sembari tersenyum ramah. Mutia mengenal pria itu saat acara penyambutan kembalinya siswa magang dan para guru mengenalkan beberapa dari mereka yang memiliki jabatan. Salah satunya Ghifari Ardhan yang merupakan ketua osis sekolahnya.


"Bu Marlina pasti mencariku, karena aku tidak kunjung kembali setelah fotocopy kertas ulangan yang beliau minta, kan? Karena itu bu Marlina menyuruhmu untuk memeriksaku dikelas." Ghifar mengedipkan matanya satu kali. Dan seolah mengerti maksud kedipan mata Ghifar, Mutia mengangguk pelan. Lalu dengan seulas senyum Ghifar mengajak Mutia beranjak keluar.


"Kak," Mutia memanggil Ghifar saat mereka tengah menuruni tangga. "Terima kasih sudah menolongku."


"Sama-sama." senyuman Ghifar terasa sehangat sinar mentari pagi, membuat Mutia terpesona dan seketika menaruh respect terhadap kakak kelasnya.


Setelah hari itu, mereka menjadi dekat. Sering menghabiskan waktu istirahat bersama, tentunya saat Kavira dan Arumi tak menemani Mutia. Sering makan diluar, jalan-jalan, menonton bioskop dan Mutia juga secara rutin menemani Ghifar bermain futsal, berenang, latihan basket, karaoke atau hanya sekedar kumpul bareng dengan teman-teman Ghifar.


Interaksi yang intens di luar sekolah, berhasil menumbuhkan perasaan istimewa. Hingga di awal semester genap, Ghifar menyatakan perasaanya pada Mutia di halaman parkir saat jam pulang sekolah. Membuat beberapa siswa yang berniat pulang, menunda niat mereka dan justru menyaksikan sang ketua osis meminta siswa kelas sepuluh untuk menjadi kekasihnya.


Jujur saja, sebenarnya Mutia tidak memiliki perasaan lebih pada Ghifar. Kedekatan mereka selama ini, Mutia anggap tak lebih dari sebuah jalinan persahabatan. Ia ingin menolak, namun saat melihat banyaknya orang disekitar mereka, membuat Mutia akhirnya menganggukkan kepala. Tak mungkin ia mempermalukan Ghifar, menjatuhkan harga diri pria itu dengan sebuah penolakan di hadapan semua orang.

__ADS_1


"Kak," setibanya di rumah, Mutia meminta Ghifar yang mengantarnya untuk menunggu sejenak, karena ada yang ingin ia katakan. "Soal yang diparkiran tadi..."


"Aku tahu kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku." Ghifar lebih dulu bicara. "Ah... bukan tidak, tapi belum."


Mutia mengerutkan dahi.


"Beri aku kesempatan, Mutia. Setidaknya... hingga aku lulus, bertahanlah sebagai kekasihku. Jika sampai hari kelulusan tiba, kamu masih belum bisa mencintaiku, maka aku akan melepaskanmu."


Dan sesuai permintaan Ghifar, Mutia pun setuju untuk tetap menjadi kekasih pria itu. Lalu berbulan-bulan kemudian, hari kelulusan pun tiba. Tepat disaat Ghifar menerima surat kelulusan, pria itu menanyakan tentang perasaan Mutia padanya.


"Perasaanku masih sama, kak." jawaban Mutia mengurangi kebahagian Ghifar. "Tapi... aku merasa nyaman bersama kakak."


"Bukannya kakak mau masuk sekolah pilot? Dan juga meninggalkan kota ini."


"Meninggalkan kota ini, bukan berarti kita putus hubungan. Lagipula... keluargaku masih disini. Aku akan sering pulang untuk menemui mereka dan juga kamu. Jadi... bersediakah kamu tetap bertahan denganku?"


Mutia mengangguk setuju dan hubungan mereka pun terus berlanjut meski harus terpisah jarak dan waktu, serta tak jarang bertengkar hanya karena hal sepele. Namun hubungan mereka tetap bertahan, hingga dua setengah tahun yang lalu Mutia tiba-tiba mengirim pesan pada Ghifar, yang berisi pesan perpisahan. Ghifar yang saat itu melakukan penerbangan pertamanya, tidak bisa menemui Mutia untuk meminta penjelasan. Dan beberapa bulan kemudian ia menerima kabar dari teman sekolahnya, bahwa Mutia sudah menikah.


Ghifar kecewa, marah dan terluka. Bertahun-tahun ia berusaha membuat Mutia mencintainya, namun wanita itu justru menikah dengan pria lain. Akhirnya Ghifar memutuskan untuk tak kembali lagi ke kota kelahiran, agar ia tak nekat menemui Mutia dan menghacurkan rumah tangga wanita yang ia cintai. Ghifar memutuskan untuk menetap di Bali, tinggal bersama kakaknya.


Dan sekarang, takdir kembali mempertemukannya dengan Mutia. Perasaan kecewa yang masih mengakar kuat dihatinya, membuat Ghifar memilih untuk bersikap seolah tak mengenal Mutia. Mungkin ini yang terbaik, melupakan masa lalu dan memulai cerita baru, batinnya.

__ADS_1


"Ghi, jangan lihatin Mutia seperti dia adalah musuh kamu." teguran Lamia berhasil menarik Ghifar dan Mutia dari ingatan beberapa tahun yang lalu. "Masalah pemukulan tadi pagi, kan, Mutia udah minta maaf."


"Tetap saja. Kata maaf, tidak bisa memperbaiki apapun. Luka yang kuterima, tidak akan serta merta sembuh hanya karena sebuah kata maaf."


Sembari berucap, Ghifar tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Mutia yang semakin menyembunyikan wajahnya. Ia yakin Mutia pasti tahu bahwa ucapannya baru saja, merujuk pada kejadian bertahun-tahun lalu, bukan hanya perihal pemukulan yang ia alami.


"Baiklah, sepertinya Ghifar butuh istirahat untuk menenangkan emosinya. Jadi... lebih baik kita berikan dia waktu." Azril membuka mulut, kemudian menatap istrinya. "Aku antar kamu balik ke kantor."


"Nggak usah, A'. Aku udah ijin nggak balik lagi ke kantor."


Azril mengangguk, sebelum beralih menatap Mutia yang tertunduk. Ketika Azril memanggil Mutia, ia panik saat mendapati wajah pucat wanita itu dihiasi keringat dingin. "Kamu sakit? Perut kamu kram?"


Kalimat bernada khawatir yang Azril keluarkan membuat Lamia juga ikut panik. Wanita dua puluh tujuh tahun itu beranjak dari duduk dan langsung memegangi lengan Mutia. "Kejadian tadi pasti membuatmu syok dan stress. Kita periksa, ya. Takutnya terjadi apa-apa dengan kandunganmu."


"Kandungan?" Ghifar berseru kaget, sejenak mengarahkan atensi pada perut Mutia, sebelum kembali menatap lekat wajah pucat wanita yang kini berada dalam rangkulan Lamia. "Kamu hamil? Lalu dimana suamimu?"


"Introgasi-nya, nanti saja." Lamia menyahut. "Aku akan menemani Mutia. Aa bisa tunggu disini sebentar?"


Azril mengangguk. Saat sosok Mutia dan Lamia telah menghilang di balik pintu ruang rawat, Azril menjatuhkan bokong diatas kursi yang sebelumnya Lamia tempati.


"A', wanita itu hamil? Bagaimana dia bisa bekerja pada kalian dengan kondisi seperti itu? Lalu dimana suaminya? Kenapa suaminya membiarkan wanita itu bekerja?" Ghifar memberondong Azril dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2