Untuk Mutia

Untuk Mutia
Calon


__ADS_3

Terburu-buru Mutia keluar dari kamar menuju pintu rumah, saat mendengar suara bel yang di tekan berulang kali dengan tidak sabaran. Bahkan karena terlalu terburu-buru, Mutia bahkan tidak sempat menggantung handuk kecil yang beberapa saat lalu ia gunakan untuk mengeringkan tubuh Yusuf sehabis mandi. Beruntung ia tidak lupa menyelimuti tubuh mungil putranya yang belum dipakaikan baju dan meletakkan guling kecil di kedua sisi tubuh Yusuf agar bayi empat bulan itu tidak terjatuh.


Mbah Sriti sedang pergi ke pasar, sementara para penghuni lain sudah pergi bekerja. Mutia sendiri tengah libur kerja, sehingga hanya ada ia dan Yusuf dirumah.


"Tunggu sebentar."


Mempercepat langkah kakinya, Mutia bergegas meraih handle pintu, membuka kuncinya, kemudian menarik benda persegi panjang itu ke dalam dan sedetik kemudian tubuh Mutia nyaris limbung karena pelukkan yang tiba-tiba ia dapatkan.


"Mutia, kangen!" ujar seseorang yang kini tengah memeluknya dengan nada riang dan kekehan geli.


"Arumi?" untuk memastikan bahwa ia tidak salah mengenali suara wanita yang kini tengah memeluknya, Mutia meraih bahu wanita itu dan sedikit mendorongnya, menciptakan jarak.


"Ya Allah, beneran Arumi!" Mutia berseru heboh. Senyum lebar menghiasi wajahnya dan kali ini Mutia lah yang menarik Arumi ke dalam pelukannya.


Kedua wanita itu berpelukkan sembari tertawa geli dan melompat-lompat bak anak kecil, melupakan sejenak fakta bahwa mereka sudah menjadi seorang Ibu.


"Masya Allah, aku kangen banget sama kamu, Rum." ucap Mutia setelah pelukkan mereka terlepas. Manik hitamnya memindai tubuh Arumi yang kini tampak berisi. "Tambah cantik dan subur aja kamu, Rum."


"Subur? Kayak aku tanaman aja." sesaat Arumi merengut, namun kemudian tersenyum sembari menggenggam tangan Mutia. "Aku juga kangen banget sama kamu, Mut. Ya Allah, satu tahun lebih kita nggak ketemu."


Mutia mengiyakan. "Kamu kok nggak kasih kabar mau ke Bali? Dan... bagaimana kamu bisa tahu tempat tinggalku, karena seingatku nggak pernah bagi alamat sama kalian."


Sebelum Arumi menjawab, terdengar suara deheman yang berhasil menarik perhatian keduanya. Mutia menatap wanita parubaya yang baru saja berdehem itu dengan raut bingung, tatkala Arumi nyengir lebar, merasa bersalah karena telah mengabaikan wanita tersebut.


"Tante Sekar?"


"Hai, Sayang." dengan ramah Sekar meyapa Mutia, lalu memeluk wanita satu anak itu dengan hangat.


Mutia membalas pelukkan Ibu mertua Arumi dengan dahi mengernyit, kemudian melemparkan tatapan tanya pada sahabatnya, namun Arumi hanya menanggapi dengan menaik-turunkan alisnya dan tersenyum penuh makna.


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Sekar setelah melepaskan pelukannya pada Mutia.


Sekar menatap Mutia dengan hangat sembari tersenyum keibuan, sama persis seperti bertahun-tahun silam ketika ia pertama kali bertemu Sekar di pernikahan Arumi dan Sultan. Wanita yang dulu selalu menyambutnya dan Kavira dengan ramah saat mengunjungi Arumi dan tak pernah absen menyediakan camilan serta minuman untuk mereka.


Saat itu dalam hati Mutia bergumam, betapa beruntungnya Arumi mendapatkan Ibu mertua sebaik Sekar dan berharap ia juga akan mendapatkan keberuntungan seperti Arumi. Sayangnya, ia justru menikah dengan Haikal dan memiliki Ibu mertua yang tidak menyukainya, bahkan hingga akhirnya mereka berpisah.


"Alhamdullilah, aku sehat. Tante sendiri bagaimana?"

__ADS_1


"Kalau tante mah nggak usah ditanya. Udah tua, wajar kalau sakit-sakitan." menggerakkan tangannya, Sekar mengusap sisi wajah Mutia dengan lembut.


Sejak dulu ia sangat ingin memiliki anak perempuan, namun Tuhan justru memberinya dua orang jagoan. Tapi itu tak masalah, karena sekarang ia sudah memiliki Arumi dan Permata, bahkan sebentar lagi akan ada anggota baru dalam keluarga mereka.


"Oh iya, tante, Arumi, ayo masuk. Maaf, sampe lupa ngajak masuk." sedikit menyingkir dari ambang pintu, Mutia mempersilahkan dua orang wanita beda usia itu untuk masuk dan memintanya keduanya duduk di sofa ruang tamu, sementara ia berpamitan ke dapur untuk membuat minum dan membawakan makanan ringan.


"Diminum, tante, Arumi." ujar Mutia sembari menyajikan dua gelas jus buah dingin dan beberapa potong brownies oreo. "Maaf, cuma bisa menyajikan ini, tante."


"Ya ampun, Mut, kamu sering banget bilang maaf. Udah, nggak pa-pa."


Menarik tangan Mutia, Sekar mengajak wanita dua puluhan itu duduk di sampingnya.


"Tante dengar dari Arumi, kamu udah punya anak, Mut."


Mutia tersenyum dengan mata berbinar. "Iya, tante. Laki-laki dan sekarang usianya sudah empat bulan." kemudian ia menepuk dahi, membuat Sekar dan Arumi menatapnya dengan dahi mengernyit saat Mutia beranjak dari duduk.


"Aduh, tante. Maaf, aku tinggal sebentar ya. Tadi aku baru selesai mandiin Yusuf dan belum memakaikannya baju."


"Astaghfirullah, Mutia! Baby Yusuf pasti kedinginan. Tega kamu."


Mutia nyengir kaku. "Mau bagaimana lagi, aku lupa." sekali lagi Mutia berpamitan pada Sekar, sebelum berjalan cepat menuju kamarnya, tak menyadari Sekar dan Mutia yang mengikutinya.


Setelah mengambil pakaian Yusuf dan mendudukkan tubuh di tepi ranjang, Mutia baru menyadari kehadiran Sekar dan Arumi yang berdiri di ambang pintu.


"Loh, tante, Arumi, sejak kapan disana? Ayo, masuk."


Tanpa di minta dua kali, mertua dan menantu itu pun menghampiri Mutia, lantas ikut duduk di tepi ranjang, mengamati Mutia yang tampak luwes mengurus anaknya.


"Bayi kamu tampan, Mut. Siapa namanya?" Sekar bertanya sembari mengusap lembut penuh kehati-hatian pipi anak Mutia yang tampak berisi.


"Namanya Evando Yusuf Adibrata. Panggilannya Yusuf, tante."


"Dan Mami harus tahu, yang kasih nama itu adalah calon suaminya, Mutia." Arumi mengedipkan mata, membuat Mutia menunduk malu, tatkala Sekar menatapnya dengan lekat sembari mengulum senyum.


"Ahh... jadi sebentar lagi kamu akan menikah, Sayang?" ujar Sekar dengan nada menggoda.


"Belum tahu, tante." pipi Mutia terasa panas. Ia yakin bagian itu pasti sudah merona merah. "Aku bahkan belum bertemu orang tuanya. Aku juga tidak yakin orang tuanya akan menerimaku dengan statusku seorang janda satu anak." suara Mutia terdengar lirih di akhir kalimat.

__ADS_1


"Oh, Sayang." Sekar mengusap lengan Mutia. "Tidak semua orang berpikiran sempit seperti itu. Mungkin saja Ibu dari calon suamimu justru senang, karena kamu telah berhasil mencuri hati anaknya, membuat sang anak akhirnya mau memutuskan untuk menikah, setelah sekian lama ia merasa khawatir dengan keadaan putranya yang tak kunjung mau menjalin sebuah hubungan."


Mutia tersenyum dan mengaminkan ucapan Sekar dalam hati.


"Oh iya, tante sama Arumi ada keperluan apa di Bali, soalnya Arumi sama sekali nggak kasih kabar mau kesini."


"Aku kan mau kasih surprise." ujar Arumi sembari terkekeh, yang di tanggapi Mutia dengan gelengan pelan.


"Tante mau ketemu calon mantu." kali ini Sekar yang memberikan jawaban sembari menatap Mutia dengan senyum ambigu.


"Calon mantu? Oh, anak bungsu tante mau nikah?"


Sekar mengangguk.


"Kapan, tan?"


"Kalau tante, sih, maunya secepatnya. Tante udah nggak sabar mau gendong cucu dari Yudha." senyum Sekar kian lebar, lalu tawanya dan Arumi terdengar memenuhi ruangan saat keduanya bertatapan.


"Yudha?"


Mutia mengernyitkan dahi. Kenapa nama calon suaminya sama dengan nama putra bungsu Sekar? Namun sebelum menyuarakan kebingungannya, terdengar suara mbah Sriti memanggilnya, memberitahu kedatangan Yudha dan sedetik kemudian sosok itu sudah berjalan masuk ke kamarnya.


"Mami? Arumi? Kalian..." tatapan kaget ia tujukan pada kedua wanita berbeda usia yang kini tengah menatapnya dengan binar geli dan bibir menyungging senyum.


"Hai, Mas Yudha." sapa Arumi dengan polosnya.


"Nunggu kamu bawa Mutia kelamaan, jadi Mami inisiatif datang kemari sama Arumi."


Sekar mengerling penuh konspirasi pada istri Sultan, membuat Yudha menghela nafas pelan.


"Ya Tuhan, kalian sungguh tidak sabaran." ketika pandangannya tertuju pada Mutia, ia mendapati calon istrinya itu tengah menatap mereka bergantian dengan raut cengo.


"Mut, beliau Mami-ku. Dan Mami, dia Mutia, calon istriku." Yudha memperkenalkan.


"Mami udah kenal, kok. Iya kan, Rum?" Sekar melirik Arumi, yang langsung mendapat anggukan dari menantunya. "Bahkan sebelum kamu kenal Mutia."


Yudha mengerutkan dahi. "Bagaimana bisa?"

__ADS_1


Saat Yudha menoleh pada Mutia, meminta penjelasan dari maksud ucapan Ibunya, Yudha justru mendapati wanita itu bergeming dengan tatapan kosong.


Ya Tuhan, Mas Yudha anaknya tante Sekar dan ipar-nya Arumi. Seketika Mutia dilanda perasaan takut.


__ADS_2