
"Kamu nggak keberatan kita ngobrol sambil makan, kan? Aku laper banget soalnya. Dari kampus aku langsung kesini."
Anggukan kepala adalah jawaban yang Mutia berikan sebagai tanggapan.
Arthan Malik Boru Purba adalah sepupu Keyla yang bekerja sebagai dosen disalah satu universitas terbaik di kota Bali. Keyla mengenalkan Mutia pada Arthan tiga hari lalu, karena sepupunya itu ingin membeli sebuah mobil. Awalnya Arthan meminta Keyla untuk mengurus pembelian mobilnya, namun wanita itu justru mengalihkan permintaan Arthan pada Mutia. Sehingga disinilah Mutia sekarang, duduk berhadapan dengan pria berkulit tan dengan kacamata bingkai tipis menghiasi wajahnya.
"Aku cukup terkejut saat kemarin Tari memberikan nomor ponselmu dan mengatakan agar aku membeli mobil melaluimu saja, mengingat selama ini Tari begitu ambisius dalam mengejar target penjualan. Dia bahkan sering kali melakukan promosi saat kami sedang kumpul keluarga." Arthan terkekeh kecil mengingat tingkah laku adik sepupunya.
Informasi yang Arthan berikan membuat Mutia merasa bersalah. Tidak seharusnya ia menikmati hasil dari jerih payah Keyla.
Tak mendapat respon dari Mutia, membuat Arthan menghentikan gerakan tangannya menyuap makanan, lalu mengarahkan atensi pada Mutia, hanya untuk mendapati wanita itu tengah menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Mutia," panggilan Arthan memberi efek kejut pada Mutia, sehingga menyebabkan wanita itu berjengit kaget. "Kamu melamun. Ada apa?"
Bibir Mutia mengulas senyum kecil. "Sebaiknya Abang minta Keyla aja yang bantuin Abang."
"Tapi Tari justru meminta kamu yang bantu aku." Arthan menghela nafas pelan. "Kenapa tiba-tiba berubah pikiran, Mutia? Kamu memenuhi undangan makan siang dariku, bukankah itu artinya kamu setuju membantuku, kan?"
"Aku nggak enak sama Keyla, Bang. Dia yang cari pembeli, tapi aku yang menikmati hasilnya."
Arthan tersenyum kecil. "Justru kamu harusnya merasa bahagia, karena itu berarti kamu menjadi orang terpenting dalam hidup Tari. Sepupuku itu memang orang yang ambisius, tapi dia akan dengan sukarela melepaskan apapun untuk orang yang dia anggap penting. Kamu... tidak ingin mengecewakan Tari dengan menolak permintaannya, kan?"
Sesaat Mutia diam terpaku, lantas menggeleng pelan.
"Oh iya... mobil yang gambarnya aku kirim ke WA kamu kemarin, warna merah ready?" sembari menyantap makanannya, manik hitam Arthan memerhatikan Mutia.
"Yang ready warna hitam sama abu metalik, Bang. Warna merah mungkin seminggu lagi baru ready."
"Ya udah, nggak papa. Aku nunggu aja. Soalnya udah lama ngincer yang warna merah. Abis makan siang kita ke BM, aku mau urus pembayaran sama berkas-berkasnya."
"Oke, Gan."
Arthan tertawa mendengar guyonan Mutia yang menyebutnya juragan, seperti interaksi di online shop.
"Mutia."
Makan siang mereka yang disertai dengan perbincangan ringan seketika terhenti saat seseorang menyerukan nama Mutia. Keduanya pun reflek mencari si pemilik suara, hanya untuk menemukan sosok Yudha yang kini tengah berjalan menghampiri meja mereka.
"Mas Yudha." bersamaan dengan itu Mutia beranjak dari duduk sembari memegangi perutnya yang besar.
"Kamu ngapain disini?"
Mutia mengernyit, karena ini kali pertama Yudha bicara dengan nada ketus padanya. Mata hitam pria itu pun menyorot tajam, seolah tak menyukai bertemu dengannya di restoran ini.
"Pukul dua siang. Waktu istirahat sudah berakhir. Bukankah seharusnya sekarang kamu kembali bekerja."
__ADS_1
"It... itu,"
"Maaf," Arthan yang sudah beranjak dari duduknya, berhasil menarik perhatian Yudha dan Mutia. "Saya yang meminta Mutia bertemu di jam sekarang, karena jam mengajar saya baru berakhir pukul dua siang."
"Dan siapa anda?" ketika bicara dengan Arthan, nada suara Yudha terdengar berkali lipat lebih ketus, namun tanpa intonasi —datar— dan terkesan dingin.
"Ah, saya Arthan." bibirnya menyungging senyum, sembari mengulurkan tangannya pada Yudha, namun pria dua puluh tujuh tahun itu mengabaikannya, justru melemparkan tatapan pada Mutia.
"Ehm, Bang Arthan ini mau beli mobil, Mas. Dan... Bang Arthan," Mutia melirik Arthan dan Yudha bergantian. "Ini Mas Yudha, pemilik Barata Mobilindo."
"Begitu rupanya," mengangguk-angguk pelan, Arthan menarik tangannya tanpa canggung. "Kebetulan sekali kita bertemu disini. Apa anda mau bergabung dengan kami? Sepertinya saya bisa..."
"Beri potongan 10% untuknya." sela Yudha pada Mutia, tanpa sedikit pun mengarahkan atensinya pada Arthan yang tengah mengajaknya bicara.
"Ahh... anda sangat pengertian." ujar Arthan dengan nada ceria. Oh jelas, siapa yang tidak senang mendapat potongan harga.
"Aku kesana dulu." sekilas Yudha mengusap puncak kepala Mutia, lantas beranjak pergi. Menghampiri meja yang di tempati oleh beberapa pria berjas, yang letaknya tidak begitu jauh dari meja tempat Mutia berada.
"Jadi... dia bos-mu?" Arthan mengeluarkan suara setelah mereka kembali duduk.
Mutia mengangguk.
"Hanya sebatas bos?" kali ini Arthan menyipitkan mata.
"Ya," sahut Mutia mantap.
"Sepertinya dia memiliki perasaan lebih padamu, menilik dari cara dia memperlakukanmu."
Mutia tertawa lepas dan keras. Lalu saat ingat bahwa ia tengah berada di tempat umum, Mutia dengan segera menutup mulutnya. "Mas Yudha memang baik pada semua orang, bahkan banyak dari karyawannya yang jadi terbawa perasaan."
Melipat tangan di atas meja, Arthan menatap Mutia dengan lekat, tampak tertarik. "Lalu bagaimana denganmu?"
"Orang sepertiku, tidak ingin mengharapkan sesuatu yang berlebihan, Bang." menundukkan kepala, Mutia mengusap perutnya sembari tersenyum getir.
...* * *...
"Ngapain kamu ngedip-ngedip kayak orang cacingan gitu."
Keyla merengut, lalu merangkul lengan Mutia. "Udah resmi jadi karyawan tetap, nih. Traktir, dong."
"Iya. Aku memang udah niat ngajak kamu makan siang nanti." sahut Mutia, membuat Keyla tersenyum lebar.
"Sekarang aja yuk, Mut. Aku tadi belum sarapan. Nyokap lagi ke tempat Nenek, jadi nggak ada yang masakin."
"Tapi... ini kan jam kerja."
__ADS_1
"Kita pesan makanan aja, terus makan di pantry."
Mutia mengangguk setuju, kemudian membuka aplikasi ojek online untuk memesan makanan. "Oke, done. Kita tunggu di lobi atau langsung ke pantry?"
"Langsung aja, deh. Nanti minta salah satu OB yang ambilin."
Beberapa menit setelah mereka mendudukkan tubuh di pantry, ponsel Mutia berdenting satu kali. Ada chat masuk via Whatsapp yang menginformasikan bahwa pesanannya sudah tiba.
Keyla memanggil office boy yang kebetulan melewati pantry, meminta pria awal tiga puluhan itu untuk mengambil pesanan mereka. Sementara Mutia segera menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar pesanan, serta uang tips untuk OB tersebut.
"Ihh... si Troyan lama banget, sih. Apa dia nyasar dan tak bisa menemukan jalan pulang?" keluh Keyla.
"Sabar, Key. Mungkin sekarang Bli Troyan baru sampai di lobi."
"Tapi perut aku udah sakit banget, Mut."
"Itu sakit karena lapar atau mau buang kotoran."
Keyla nyengir lebar. "Aku memang belum poop, sih, tadi pagi. Ke toilet dulu, deh."
Mutia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Keyla berlari cepat meninggalkan pantry. Mungkin karena terburu-buru, Keyla sampai lupa kalau di pantry juga ada kamar mandi yang bisa ia gunakan.
"Loh, Mas Yudha." Mutia beranjak dari duduk sembari memegangi perutnya yang sudah sangat besar. Sempat Mutia merintih kala merasakan bayinya menendang, lantas menatap Yudha dengan dahi mengernyit.
"Mas butuh sesuatu? Nggak biasanya langsung ke pantry sendiri." tanya Mutia saat pria dua puluh tujuh tahun itu sudah berdiri di hadapannya.
Yudha menggeleng. "Tadi di lobi aku lihat Troyan ambil pesanan kamu. Karena kebetulan aku mau ke atas, sementara Troyan di suruh atasannya bersihin toilet, jadi aku menawarkan diri untuk membawanya sekalian." dengan itu Yudha menyodorkan kantong putih pada Mutia.
"Ya Allah, Mas. Seharusnya Mas nggak perlu repot-repot." Mutia mengambil alih kantong yang Yudha berikan. "Nanti Bli Troyan pasti akan meminta resepsionis untuk menghubungiku dan aku bisa mengambilnya sendiri."
"Dengan kondisi perut kamu sebesar itu?" Yudha mengedikkan dagu ke arah perut Mutia. "Aku khawatir kamu justru melahirkan di lift karena berulang kali turun naik."
Mutia tersenyum kikuk. "Makasih, Mas. Maaf merepotkan."
Yudha mengangguk. "Makan lah."
Setelah itu Yudha membalik tubuhnya, berjalan meninggalkan pantry. Tak sampai lima detik sosok Keyla melesat masuk dan menatap Mutia dengan mata menyipit.
"Kamu ada something special sama pak bos?" cecarnya.
"Nggak lah." Mutia menghampiri kabinet. Mengambil dua piring dan gelas, kemudian meletakkannya di meja, sebelum mendudukkan tubuh. "Kamu kenapa bisa ngomong kayak gitu?"
"Yah... karena pak bos mau aja repot-repot anterin pesanan kita."
Dan Mutia pun menjelasakan kenapa bisa Yudha yang membawa pesanannya, alih-alih Troyan.
__ADS_1
Keyla hanya mengangguk, sementara otaknya sibuk berpikir. Tadi aku berpapasan sama Troyan dan saat aku tanya pesanan yang dia ambil, Troyan bilang pak bos yang memaksa untuk membawanya. Bahkan pak bos juga yang bayar dan Troyan mengembalikan uang Mutia padaku. Ada apa ini sebenarnya?