
Tak biasanya Lamia pulang tepat waktu, namun hari ini ia sudah berada di rumah, bahkan saat jarum jam belum menunjukan pukul lima. Dengan tidak sabar Lamia menekan bel yang menempel pada kusen pintu, menunggu beberapa saat hingga kemudian pintu rumahnya di buka dari dalam dan menampakkan sosok Mutia.
"Kamu lagi ada kerjaan?" todong Lamia sembari melangkah masuk.
"Tidak ada, Teh. Udah selesai semua. Teteh butuh sesuatu?"
Lamia menggeleng. "Duduk. Aku ingin bicara denganmu."
Keduanya pun menghampiri sofa ruang tamu dan duduk berhadapan.
Bukan tanpa alasan Lamia pulang lebih awal hari ini. Sejak pagi, atau lebih tepatnya sejak ia mendengar diagnosa dokter bahwa Mutia tengah mengandung, ketika ia menemani wanita dua puluh tiga tahun itu, Lamia sudah ingin meminta penjelasan dari Mutia. Jika saja hari ini ia tidak memiliki pertemuan penting, Lamia akan memilih ambil libur hanya untuk memuaskan rasa keingintahuannya.
"Aku ingin lihat lagi e-ktp milikmu."
Sejenak Mutia mengernyit, namun saat otaknya berhasil menalar maksud dari permintaan Lamia, bibirnya menyungging senyum. Ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan hasil pemeriksaan dokter pagi tadi. Karena itu... Mutia pun segera mengambil e-ktp miliknya, lalu memberikannya pada Lamia.
"Kamu... sudah menikah?" lirih Lamia, saat melihat status hubungan pada kartu identitas Mutia.
"Teteh pikir, aku pergi jauh-jauh dari pulau Sumatera ke Bali, karena hamil di luar nikah, ya?" tembak Mutia, membuat Lamia menatapnya dengan sorot menyesal.
"Maaf, Mutia." menyerahkan e-ktp milik Mutia, Lamia kembali menyandarkan punggung. "Saat dokter menyatakan kamu hamil delapan minggu, aku syok bukan main. Dan aku memang berpikir seperti yang tadi kamu katakan."
"Nggak pa-pa kok, Teh. Tapi aku tidak mengira Teteh akan sekaget ini, mengingat sebelumnya Teteh sudah melihat kartu identitasku."
"Waktu itu aku hanya melihat nama dan tanggal lahirmu, karena terburu-buru harus balik ke kantor."
Mutia mengangguk maklum.
"Omong-omong, dimana Ayah bayimu? Apa kamu sudah memberitahunya?"
Sontak saja Mutia memeluk perut, seolah tengah melindungi janin dalam rahimnya. Ingatan ketika Haikal dengan terang-terangan mengakui bahwa pria itu mencintai Sonya dan memintanya bersedia dimadu, menorehkan luka teramat dalam di hatinya.
Berita kehamilan akan membuat perceraian mereka tidak sah dan mau tak mau ia harus kembali pada Haikal. Itu artinya... usaha Mutia melepaskan diri dari Haikal akan menjadi sia-sia.
Tidak. Aku tidak mau kembali pada Haikal. Jika dia saja tidak bisa mencintaiku, bagaimana mungkin dia bisa mencintai anakku. Apalagi Haikal dan Sonya juga akan segera memiliki anak. Aku tidak ingin anakku merasa terabaikan suatu hari nanti, karena Haikal pasti akan lebih memedulikan anaknya dan Sonya. Hasil dari cinta mereka, bukan seperti anakku yang kehadirannya dari sebuah ketidaksengajaan.
"Suamiku..." Mutia menjeda, larut dengan pikirannya. Hingga kemudian mulutnya berucap tanpa ia sadari. "Sudah meninggal."
"Innalillahi wa innalillahi rojiun." manik hitam Lamia menyorot iba. "Meninggal karena apa?"
Mutia tersentak, seolah baru tertarik kembali dari alam bawah sadar. Ia tampak linglung mendengar pertanyaan Lamia, tak ingat ia mengatakan bahwa suaminya telah meninggal.
Sementara Lamia yang melihat gelagat Mutia, justru merasa semakin prihatin. Ia beranggapan bahwa saat ini Mutia tengah bersedih, karena kembali diingatkan pada almarhum suaminya.
"Meninggal?" Mutia membeo.
"Maaf, aku membuatmu kembali bersedih." Lamia tampak tak enak hati. "Aku hanya ingin tahu, agar tak ada lagi kesalahpahaman. Dan juga... mengingat usia kandunganmu baru delapan minggu, aku yakin... suamimu belum lama ini meninggal, kan?"
Kepalang basah, nyebur aja sekalian, benaknya berbisik. "Iya, Teh. Dia meninggal satu minggu sebelum aku ke Bali. Kecelakaan kerja."
__ADS_1
Dalam hati Mutia memohon ampun pada Tuhan karena telah berbohong. Sungguh... ia tak ingin membohongi Lamia, namun ia lebih tak ingin kembali pada Haikal. Memang benar ia masih mencintai pria itu, namun ia bukan wanita bodoh yang akan tetap bertahan dengan Haikal, saat pria itu berkata akan menikah lagi. Cinta yang ia memiliki pada Haikal tidak sebuta itu, hingga ia merelakan hatinya diinjak-injak.
"Lalu... orang tua dan mertuamu? Kamu tidak memberitahu mereka juga?" jeda sejenak, Lamia cepat-cepat menambahkan. "Jangan berpikir aku bertanya seperti ini, karena aku ingin kamu pulang ke kotamu Mutia. Sungguh... aku sama sekali tidak akan memintamu pergi."
Mutia tersenyum kecil, kemudian mengangguk paham. "Orang tuaku sudah meninggal, Teh. Kalau mertuaku, hanya Ayah yang menerimaku, sementara Ibu, sejak awal pernikahan kami, beliau memang tidak setuju. Setelah kematian suami, aku bertahan disana selama beberapa waktu, namun aku sering mendengar pertengkaran mereka. Karena tak ingin mereka selalu berdebat yang disebabkan oleh keberadaanku, aku pun memutuskan untuk pergi."
Kali ini Mutia tidak sepenuhnya berbohong tentang kedua mertuanya.
"Ya Allah, Mutia." Lamia merasa semakin bersimpati pada Mutia. "Kamu harus kuat, ya. Apalagi sekarang kamu sedang hamil. Aku yakin, Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan untukmu."
Mutia tersenyum tulus, dalam hati mengaminkan ucapan Lamia.
"Tapi... biar bagaimana pun, kamu harus tetap memberitahu mereka. Aku yakin, Ayah mertuamu pasti senang mengetahui bahwa ia akan segera menjadi kakek."
"Iya, Teh. Aku akan segera memberitahunya." maaf, Ayah. Untuk kali ini aku tidak akan mengatakan apapun padamu, karena aku tidak ingin Ayah memperjuangkanku agar kembali bersama Haikal. Aku sudah cukup lega dengan pilihan yang kuambil.
"Apa... setelah Teteh tahu aku janda, Teteh... akan memecatku?" ujarnya hati-hati, membuat Lamia mengernyit.
"Dan kenapa aku akan memecatmu? Seingatku, kamu bekerja dengan baik dan tidak membuat kesalahan. Lalu untuk alasan apa aku memecatmu?"
"Karena aku janda?" sahut Mutia dengan nada bertanya, penuh keraguan.
"Aku semakin tidak mengerti, Mutia."
Helaan nafas keluar dari sela bibir Mutia. "Menjadi seorang janda selalu di pandang sebelah mata, Teh. Orang-orang beranggapan bahwa seorang janda adalah wanita penggoda. Status ini, membuat banyak wanita di kucilkan dan bahkan di lecehkan. Teteh... tidak masalah mempekerjakan seorang janda?"
"Masya Allah, Mutia. Aku tidak berpikiran sesempit itu. Kamu nggak usah khawatir." Lamia menyungging senyum, membuat Mutia menghela nafas lega.
Kedua pasang mata yang tengah saling bertatapan itu seketika mengalihkan atensi pada asal sumber suara terdengar, hanya untuk mendapati sosok Azril dengan pakaian kerjanya yang dihiasi lambang petir, berjalan menghampiri sofa. Membuat Lamia dan Mutia seketika beranjak dari duduk, untuk menyambut kedatangan pria itu.
"Tumben kamu udah ada di rumah saat bulan belum keluar?" Azril melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul lima lewat dua belas menit.
Lamia mengerut. "Aa mah gitu. Aku pulang terlambat, diomelin. Aku pulang cepat, dipertanyakan." menghampiri Azril, Lamia meraih tangan suaminya untuk ia kecup punggung tangan.
"Ya, penasaran aja. Kamu nggak mungkin rela pulang tepat waktu, kalau nggak ada suatu hal yang penting dan mendesak." sekilas diusapnya surai hitam Lamia yang masih tersanggul ketat, sebelum menjatuhkan tubuh di sofa.
"Aku permisi ke belakang, Teh." pamit Mutia, yang mendapat anggukan dari Lamia. Namun Azril memanggilnya, membuat langkah Mutia seketika terhenti. Ia pun berbalik dan menatap bertanya pada Azril.
"Tolong buatkan kopi, Mut. Seperti biasa, ya."
"Siap, pak bos." dengan cengiran lebar, Mutia meninggalkan sepasang suami istri yang kini duduk berdampingan.
"Jadi... karena apa kamu pulang cepat?" Azril menatap penasaran pada Lamia.
"Udah beberapa hari ini Mutia muntah-muntah, jadi tadi pagi aku menemaninya ke dokter. Dan... dokter bilang, Mutia hamil."
"Hamil?" Azril membelalak, namun ada binar dimatanya yang tak disadari Lamia.
"Iya. Usianya delapan minggu. Aku kaget A', terus kepikiran, soalnya aku nggak tahu Mutia udah nikah..."
__ADS_1
"Lah, bukannya kamu pernah lihat kartu identitasnya?" Azril menyela.
"Iya, tapi waktu itu aku nggak lihat status hubungannya. Dan ternyata... suami Mutia udah meninggal, begitu pula dengan orang tuanya. Sementara mertuanya, yang nerima dia cuma mertua laki-laki, yang perempuan nggak setuju dari awal mereka menikah. Kasihan kan, A'?"
"Ini kopinya, A'." kedatangan Mutia dengan membawa secangkir kopi,menghentikan pembicaraan Azril dan Lamia. Keduanya menoleh pada Mutia yang kini tengah menyajikan kopi di atas meja.
"Duduk, Mut." pinta Azril, yang langsung Mutia patuhi.
"Lamia bilang kamu hamil?"
Azril tak bisa menutupi nada senang dalam suaranya. Bagi Azril, kehamilan adalah sebuah keajaiban yang sangat mengagumkan. Bayangkan, ada sebuah janin yang tumbuh dalam rahim, kian waktu kian bertumbuh, sembilan bulan kemudian akan terlahir sebagai manusia baru. Ia selalu saja merasa takjub saat melihat wanita dengan perut besar karena kehamilan.
"Iya, A'. Kata dokter baru delapan minggu."
Azril mengangguk-angguk dengan seulas senyum menghiasi wajah tampannya. "Masih sangat muda, kamu harus benar-benar menjaganya. Jangan terlalu lelah, jangan mengangkat barang-barang yang berat, jangan telat makan, harus banyak mengkonsumsi buah, jangan tidur larut. Oh iya, kamu udah beli susu Ibu hamil, belum? Kapan cek ke dokter lagi? Terus... kalau kamu ngidam, bilang aja... insya'allah aku bantu untuk memberikannya."
Bukan hanya Mutia yang melongo, Lamia —istrinya— itu pun menatapnya dengan mulut menganga.
"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanyanya dengan dahi mengernyit, menatap bergantian pada Lamia dan Mutia.
"Aa tahu, tadi Aa ngomong udah kayak dokter aja." ujar Lamia dan mendapat anggukan setuju dari Mutia.
Azril menggaruk alis. "Maaf. Aku terlalu exited dengan kehamilan Mutia."
Kali ini Lamia menatap suaminya dengan lekat, sementara Mutia berdehem kikuk. Merasa tak nyaman dengan respon Azril, yang sudah seperti seorang suami. Begitu bahagia mendengar berita kehamilan istrinya.
"Ehm... Teh, aku ke kamar ya. Mau mandi."
Lamia mengangguk. Setelah sosok mungil Mutia tak lagi terlihat, perhatiannya tertuju penuh pada suaminya.
"Aa bahagia dengan kehamilan, Mutia?"
Sudut bibir Azril tertarik membentuk sunggingan manis. "Kamu tahu kan, aku sangat menyukai anak-anak, termasuk pertumbuhan mereka di dalam rahim seorang Ibu. Setiap kali melihat seorang wanita hamil, aku selalu merasakan kebahagiaan yang membuncah. Dan sekarang, Mutia yang tinggal di rumah kita sedang hamil, kondisi hidupnya juga memprihatinkan, apakah salah jika aku bersimpati padanya? Aku yakin, bukan hal yang mudah untuk Mutia menjalani kehamilan seorang diri."
Lamia terpaku. Dalam hati membenarkan ucapan Azril. Bagaimana mungkin beberapa saat lalu ia sempat cemburu? Azril tak akan mungkin mengkhianatinya. Ia tahu betul sebesar apa cinta yang Azril miliki untuknya. Pria itu bahkan rela merendahkan diri di hadapan orang tuanya, hanya untuk menjadikannya seorang istri. Jadi... tidak sepatutnya Lamia mencurigai Azril.
"Maaf, aku belum bisa kasih anak buat Aa." ujarnya kemudian.
Azril tersenyum. Tangannya bergerak merangkul pundak Lamia, sebelum mendaratkan kecupan di dahi istrinya. "Itu di luar kuasa kita. Tuhan belum memercayai kita untuk memiliki seorang anak atau... Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk menikmati waktu berdua. Jangan terlalu dipikirkan, ya." dengan lembut Azril mengusp lengan atas Lamia. "Aku mandi dulu."
Lamia menatap lekat punggung suaminya yang kian menjauh, hingga kemudian menghilang di balik pintu kamar. Meninggalkan Lamia yang mematung di tepatnya dengan hati di selimuti rasa bersalah.
Bagaimana jika kamu tahu, kalau kita belum memiliki anak hingga sekarang, itu karena ulahku yang sengaja meminum obat pencegah kehamilan?
Sesuai list hidupnya, Lamia berencana hamil saat usianya tiga puluh tahun, sementara sekarang ia masih berusia dua puluh tujuh tahun. Saat ini ia ingin menapaki karir dan merasakan berada di pucak untuk memuaskan ambisinya. Dan agar bisa mencapai keinginannya, Lamia harus mau berkorban. Yaitu, mengorbankan keinginan Azril untuk memiliki anak.
"Tiga tahun lagi, A'. Bersabar lah. Tiga tahun itu sama sekali tidak lama."
Tapi Lamia lupa, bahwa dalam jangka waktu tiga tahun apapun bisa saja terjadi.
__ADS_1
...****************...