Untuk Mutia

Untuk Mutia
Traktir


__ADS_3

"Terima kasih atas bantuan kamu, Mutia." bersamaan dengan itu wanita yang mengenakan dress musim panas motif bunga mengulurkan tangannya pada Mutia, mengajak berjabatan, yang langsung di sambut Mutia dengan perasaan suka cita.


"Karena bantuan kamu aku bisa menyelsaikan urusan pembelian mobil dalam waktu satu hari dan besok mobilnya sudah parkir di rumahku." candanya sembari tertawa renyah.


"Justru aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih." melepas tautan tangan mereka, Mutia menatap wanita bertubuh tinggi ramping di hadapannya dengan seulas senyum hangat.


"Terima kasih karena sudah membeli mobil melalui aku sebagai perantaranya. Berkat Ayuk, aku berhasil menjual satu mobil. Tinggal satu lagi untuk mencapai target, setelah itu aku resmi menjadi karyawan tetap di Barata Mobilindo. Ahh... senangnya."


Melihat mata hitam Mutia tampak berbinar dan ekspresi menggemaskan yang wanita hamil itu tunjukan, memancing tawa gemas keluar dari sela bibir wanita berambut coklat tua di hadapan Mutia.


Elma Yuntari, wanita tiga puluh dua tahun asal Palembang yang kini menetap di Bali bersama suami dan dua orang anaknya, adalah pemilik nomor asing yang tiga hari lalu menghubunginya. Wanita yang membuat Mutia syok dan kehilangan kata-kata karena merasa terlalu bahagia. Bahkan sampai detik ini Mutia masih mengingat jelas ucapan Ibu dua anak itu.


"Kemarin suami kasih brosur mobil dan disana tertera nomor ponsel Mutia. Karena saya mau membeli mobil keluarga, jadi saya segera menghubungi kamu. Apa besok kita bisa bertemu untuk membicarakannya?"


Setelah mendapatkan kesadarannya, Mutia tentu saja langsung menyanggupi permintaan Elma. Keesokan harinya mereka pun bertemu, berbincang ringan untuk saling mengenal, lalu mulai membicarakan tentang pembelian mobil.


"Ayuk pulangnya gimana? Naik taksi?"


"Nanti di jemput suami. Ihh... padahal kan aku udah nggak sabar mau nyetir mobil baru."


Elma mendesah kecewa. Namun secepat raut muram-nya muncul, secepat itu pula di gantikan dengan binar cerah dan senyuman lebar saat mobil sang suami sudah berhenti di depan gedung. Pintu kaca mobil di turunkan, sedetik kemudian seorang pria berkacamata melambaikan tangannya pada Elma.


"Tunggu sebentar." Elma menggerakan bibir tanpa suara, lantas mengarahkan atensinya pada Mutia. "Aku doa-kan target penjualan kamu segera tercapai, supaya kamu nggak perlu lagi mondar mandir di jalanan dan kepanasan." kemudian Elma menggerakan tangannya mengusap perut buncit Mutia. "Dan aku juga doa-kan semoga kamu serta bayimu selalu sehat dan senantiasa selalu dalam lindungan Allah."


"Amin, ya Allah." sudut bibir Mutia kian tertarik. "Terima kasih atas doa-nya, Yuk."


...* * *...


"Kok Mas Yudha ikut kesini?" tanya Mutia pada Faisal, saat sosok Yudha yang berpamitan ke toilet telah menghilang dari pandangannya.


Beberapa saat lalu, tepat setelah kepulangan Elma, Mutia segera menghubungi Faisal. Mengajak adik semata wayangnya itu untuk makan siang bersama. Dan saat ini mereka sudah berada di salah satu restoran seafood yang ada di Kuta.


Faisal memutar mata, kemudian menanggapi ucapan Mutia. "Aku kan lagi sama Mas Yudha. Nggak tahu diri banget aku, kalau sampai tinggalin Mas Yudha gitu aja."


Mutia meringis pelan, merasa bersalah. Faisal benar, setelah semua yang Yudha lalukan, rasanya tidak tahu diri sekali jika Faisal meninggalkan Yudha untuk makan siang bersamanya.


"Omong-omong, hari ini kamu kemana aja?"

__ADS_1


"Dari pagi aku sama Mas Yudha cuma di pantai doang. Berselancar, paralayang, menyelam, sampai lomba membuat istana pasir." jelas Faisal dengan antusias.


"Hah? Istana pasir?"


"I know, itu kekanakan, tapi aku menikmatinya. Dan dari hasil pengamatanku selama beberapa hari ini, Mas Yudha adalah tipe pria yang penyayang. Sangat cocok dijadikan suami dan seorang Ayah." Faisal mengerling pada Mutia, yang ditanggapi sang kakak dengan dengusan pelan.


Melihat manik hitam adiknya yang tampak begitu hidup dan tawa yang terdengar begitu lepas, membuat seberkas perasaan bersalah memggayuti hati Mutia. Ditatapnya lekat Faisal dengan sorot menyesal.


"Maaf, selama empat hari kamu liburan disini, aku tidak bisa menemanimu."


"Tidak masalah. Liburan ditemani Mas Yudha lebih menyenangkan, semuanya serba gratessss." sahut Faisal dengan nada riang, membuat Mutia mencebik.


Di hari pertama liburan, Faisal memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Mengunjungi beberapa tempat dengan bantuan google sembari mengambil beberapa gambar. Mutia yang tidak bisa cuti kerja, terpaksa membiarkan adiknya berlibur tanpa ia temani. Hanya pada malam hari mereka bisa menikmati waktu bersama, itu pun hanya untuk wisata kuliner.


Lalu di hari kedua Yudha menawarkan diri untuk menemani Faisal. Pria itu beralasan bahwa ia juga butuh liburan, rehat sejenak dari pekerjaan yang membuatnya merasa lebih tua sepuluh tahun. Dan tentu saja, selain menemani Faisal mengeksplorasi Bali, Yudha juga tak segan mengeluarkan uangnya untuk membayar biaya makan sampai membeli oleh-oleh.


"Dasar, nggak tahu malu."


"Daripada nggak tahu diri." sedetik kemudian Faisal menjulurkan lidahnya, mengolok Mutia, yang langsung mendapat pukulan di lengan dari kakaknya.


"Kalian belum pesan?" kedatangan Yudha menginterupsi pertengkaran kecil kedua bersudara itu, lalu ia menarik kursi disamping Faisal, yang membuatnya duduk berhadapan dengan Mutia.


Yudha mengangguk pelan, kemudian memanggil pelayan. Mereka bertiga pun lantas memesan makanan. Dan tak sampai lima belas menit, semua pesanan mereka sudah tersaji di atas meja.


"Mas Yudha,"


Panggilan Mutia menarik perhatian si pemilik nama.


"Ini hari terakhir Faisal liburan, jadi aku mau minta rincian uang yang sudah Mas keluarkan untuk Faisal."


Yudha mengurungkan niat untuk menyuap, lalu mengedikkan bahu. "Aku tidak pernah menghitungnya, Mutia."


"Lalu berapa uang yang harus kuganti?"


"Aku tidak menghitungnya, karena aku tidak pernah berharap kamu mengembalikannya, Mutia. Aku yang mengajak Faisal liburan bersama, jadi sudah sewajarnya aku mengeluarkan uang."


Mutia menghela nafas. "Mas udah nggak mau dibayar uang sewa, uang makan dan sekarang juga uang liburan. Aku nggak enak, Mas."

__ADS_1


"Kalau nggak enak, ya jangan dimakan." guyon Yudha, membuat Faisal tergelak, tatkala Mutia mengerutkan bibir.


"Aku serius, Mas." sungut Mutia.


"Udah. Nggak usah dipikirin. Lebih baik sekarang kita makan, aku sudah sangat lapar."


Setengah jam kemudian piring-piring di atas meja sudah dalam keadaan kosong, semua isinya telah berpindah ke dalam perut Mutia, Yudha dan Faisal. Namun dari ketiganya, tampak Faisal lah yang paling merasa kenyang. Remaja itu saat ini tengah bersandar dengan tubuh lelah dan nafas tersengal.


"Faisal!" tegur Mutia saat mendengar bunyi samar yang diikuti oleh aroma busuk dari adiknya.


"Sttt..." Faisal menempelkan telunjuk dibibir, kemudian memerhatikan sekitar yang tampak bising karena bau gas yang ia keluarkan. "Nanti orang-orang pada tahu."


"Ya Allah, dosa apa aku punya adik kayak kamu." keluh Mutia, tatkala Yudha terkekeh geli melihat interaksi mereka berdua.


"Udah deh, aku mau ke toilet dulu." secepat cahaya Faisal berlari meninggalkan Mutia dan Yudha.


"Kamu pasti bahagia memiliki adik seperti Faisal." komentar Yudha dengan seulas senyum geli.


Mutia mengangguk. "Tapi lebih banyak jengkelnya."


Kemudian hening selama beberapa saat, hingga Mutia kembali mengeluarkan suaranya.


"Maaf ya, Mas. Kalau selama tiga hari ini Ical sering merepotkan."


"No, Faisal sama sekali tidak merepotkan. dia justru mengajariku bagaimana cara benar-benar menikmati hidup."


Mutia tersenyum kecil. "Dan juga terima kasih untuk semua yang sudah Mas lakukan."


"Aku tidak memiliki adik, Mutia. Lalu saat bertemu Faisal dan menghabiskan waktu dengannya, aku jadi tahu bagaimana rasanya memiliki adik."


"Ayuk, ayo pulang sekarang. Aku sepertinya akan diare." Faisal kembali dengan wajah bersimbah keringat dingin dan wajah pucat pasi.


"Kamu ke mobil duluan sama Faisal, biar aku yang bayar." ujar Yudha saat melihat raut panik di wajah Mutia.


"Biar aku saja, Mas." merogoh tas, Mutia mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Mutia..."

__ADS_1


"Mas, hari ini aku berhasil jual satu mobil. Aku sudah berniat untuk mentraktir Faisal dan juga Mas. Jadi kumohon, biar aku saja."


"Baiklah. Dan terima kasih untuk traktirannya."


__ADS_2