Untuk Mutia

Untuk Mutia
Ekstra bab 2 (Terakhir)


__ADS_3

Ekstra bab 2


"Tidak!"


Guncangan kuat pada tubuhnya membuat Mutia seketika membuka mata dan terduduk kaku. Nafasnya tersengal dengan bulir-bulir keringat membasahi dahi. Menoleh ke samping, Mutia mendapati Yudha tengah menyodorkan segelas air padanya dan menatap dengan khawatir.


"Mimpi kecelakaan malam itu lagi?" tanya Yudha saat Mutia mengambil gelas yang ia berikan, lalu mengusap peluh di dahi Mutia.


Setelah meneguk air hingga tersisa setengah, Mutia menganggukkan kepalanya, kemudian meletakan gelas di nakas.


"Sayang, sampai kapan kamu akan seperti ini? Kejadian itu sudah delapan tahun berlalu. Kakiku juga sudah sembuh total, aku bisa berjalan dengan normal lagi."


Kecelakaan itu memberikan trauma tersendiri untuk Mutia. Karena bukan hanya kengerian saat mobil mereka di hantam yang membuat Mutia ketakutan, tapi juga saat melihat Yudha yang melindunginya mengalami luka parah di kepala dan salah satu kakinya terjepit badan mobil, sehingga membuat Yudha koma selama dua bulan. Lalu saat sadar, Yudha tidak bisa menggerakkan kakinya. Dan itu semua terjadi karena pria itu melindungi Mutia. Butuh waktu lebih dari setahun menjalani pengobatan untuk Yudha bisa kembali berjalan.


Selain menjadi phobia saat menaiki mobil, efek lain yang ditimbulkan oleh kecelakaan itu adalah Mutia seperti mengalami kembali kejadian tersebut di dalam mimpinya. Anehnya, kecelakaan mengerikan itu yang kini menjadi mimpi buruknya, hanya hadir di saat tanggal pernikahan mereka.


"Kalau Mas Sultan tahu kamu seperti ini, Mas Sultan pasti akan terus merasa bersalah, Mutia."


Penyebab kecelakaan memang karena Yudha yang mengantuk, namun kantuk yang tiba-tiba Yudha rasakan saat itu disebabkan oleh obat tidur yang Sultan berikan. Putra sulung Apsel berniat membalas dendam atas kejahilan adiknya, tapi karena Yudha mengawasi makanan dan minuman Mutia dengan ketat, jadilah Sultan beralih mencampur obat tidur ke dalam minuman Yudha. Saat itu Sultan tidak tahu bahwa Yudha dan Mutia akan pergi. Ia juga tidak mengingat apa yang telah dilakukannya, bahkan setelah mobil Yudha meninggalkan rumah Wak Agus.


Ketika pihak rumah sakit menghubungi mereka dan dokter menjelaskan tentang kondisi Mutia dan Yudha, serta informasi tentang ditemukannya kandungan obat tidur dalam tubuh Yudha, baru lah Sultan tersadar. Bahwa kejahilannya lah yang membuat sang adik dan istrinya terbaring di ranjang rumah sakit.


"Kalau Mas nggak cerita, Mas Sultan nggak akan tahu."


"Kamu sesekali tidur sama Arumi. Gimana kalau kamu bermimpi saat kamu sedang bersama Arumi dan Arumi menceritakannya pada Mas Sultan?"


Mutia tak bisa menjawab. Dalam hati membenarkan ucapan Yudha.


"Kita ke psikolog, ya." menggerakkan tangannya, Yudha menyingkirkan helai rambut yang menghalangi pandangannya untuk menatap Mutia. "Aku nggak mau lihat kamu terus seperti ini setiap tahunnya."


"Mas,"


"Please," Yudha memelas. Ini bukan kali pertama, karena itu Yudha akan pastikan Mutia tidak akan menolak permintaannya lagi.


Mutia menghela nafas, kemudian mengangguk pelan, membuat Yudha tersenyum lebar.


"Terima kasih, Sayang. Aku akan mencari psikolog terbaik." dikecupnya dahi Mutia. "Omong-omong, happy anniversary yang ke delapan tahun, istriku."


Mutia tersenyum lebar dan memeluk Yudha dengan erat. "Happy anniversary juga, Mas. Semoga kita bisa terus bersama sampai maut memisahkan."


Yudha mengaminkan doa Mutia, kemudian menunduk untuk mencium sang istri. Namun saat bibir mereka hanya tersisa sedikit jarak, suara bedebum pintu yang dibuka keras seketika menarik perhatian keduanya. Sembari melepas pelukan, mereka menatap ke ambang pintu dan mendapati dua orang anak laki-laki berbeda usia sedang saling mendorong.


"Bunda, Mas Yusuf olesin selai strawberry ke seragam aku." lapor anak laki-laki berusia enam tahun, sembari melemparkan tatapan kesal pada sang kakak yang berdiri di sampingnya.


"Idrish duluan yang numpahin susu ke celana aku, Yah." Yusuf memberikan pembelaan, membuat sang adik kian menatapnya jengkel.


"Aku udah bilang nggak sengaja senggol gelas susu punya, Mas. Aku juga udah minta maaf, tapi Mas malah olesin selai ke seragam aku!" suara Idrish meninggi, sementara tangannya terkepal erat dan memandang Yusuf dengan marah.


Melihat pertengkaran kedua anaknya yang kian memanas, Yudha segera beranjak menghampiri mereka.


"Hei, hei. Kenapa harus bertengkar, heum? Kalian masih punya seragam lain. Jadi di ganti saja, oke?" Yudha berjongkok di hadapan keduanya.


"Aku malas ganti, Ayah." ungkap Yusuf.


"Aku juga." Idrish menimpali.


"Ya udah, kalau gitu kalian pergi sekolah dengan seragam seperti ini saja. Itu pun kalau kalian tidak malu. Ini baru hari senin, tapi pakaian kalian sudah kotor." Yudha berucap dengan santai. "Lalu Bunda kalian yang akan dianggap tidak becus mengurus anak, karena membiarkan anak-anaknya pergi sekolah dengan baju kotor dan bau. Kalian mau itu terjadi?"


Keduanya menatap pada Mutia yang tengah tersenyum lembut, lalu kompak menggeleng.


"Nah, jadi sekarang kalian ganti baju. Nanti terlambat."


Saat keduanya berbalik untuk pergi, Mutia memanggil kedua anaknya sembari berjalan menghampiri.

__ADS_1


"Yusuf, sebagai seorang kakak, kamu harus menjadi contoh yang baik untuk adik-adikmu. Dan belajarlah untuk memaafkan. Karena saat seseorang meminta maaf dengan tulus, itu artinya orang tersebut sudah menyesali perbuatannya. Bunda tidak mau kamu tumbuh menjadi pribadi yang pendendam."


"Iya, Bun."


Yusuf menundukkan kepala. Bunda-nya memang tidak pernah bicara kasar ataupun bernada tinggi, bahkan saat marah sekalipun. Namun setiap kalimat berupa nasehat yang Bunda ucapkan dengan suara lembut, selalu berhasil membuat Yusuf mengangguk patuh.


Mutia tersenyum lebar, lalu mengecup puncak kepala putra pertamanya. Saat Yusuf mendongak, Mutia sudah beralih menatap anak bungsunya.


"Dan Idrish, kamu adalah seorang adik yang harus selalu menghargai dan menghormati kakak-kakakmu. Bunda tidak mau lagi mendengar kamu berteriak dan membentak kakakmu seperti tadi. Coba kamu ingat, pernahkah Bunda memarahimu sambil berteriak dan membentak?"


Idrish menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca.


Mutia menekuk lutut, lalu menangkup wajah Idrish. "Kalau seandainya Bunda marah sambil teriak dan membentakmu, bagaimana perasaanmu?"


"Sedih. Takut." sahutnya lirih.


"Nah, itu juga yang akan di rasakan oleh orang yang kamu bentak. Bunda tidak pernah memarahi kalian dengan nada tinggi, karena Bunda tidak mau kalian meniru hal itu. Meluapkan emosi dengan berteriak, membentak atau bahkan memaki." cukup Ayah kalian saja yang seperti itu. Sudah sulit untuk mengubahnya.


Namun Mutia memiliki solusi jitu, bila merasakan tanda-tanda Yudha akan meluapkan emosinya yang meledak-ledak. Ia akan langsung menarik suaminya ke kamar dan mengunci pintunya. Kamar mereka di design kedap suara, jadi Yudha bisa berteriak sekeras apapun, tanpa di dengar oleh anak-anak. Cara itu sangat efektif, bahkan lebih seringnya Yudha akan segera melupakan kemarahannya dan justru beralih menikmati sang istri.


"Kamu bisa berjanji pada Bunda?"


"Iya, Bun. Aku minta maaf." Idrish menatap Mutia dengan sorot memelas.


Mutia terkekeh geli, lantas memberikan kecupan juga pada anak ketiganya. "Oke. Sekarang kalian ganti baju."


Yusuf mengangguk, lalu berlari bersama Idrish, meninggalkan kamar kedua orang tuanya. Sementara Mutia dan Yudha kini membicarakan banyak hal, termasuk Kavira yang baru saja melahirkan anak keduanya tadi malam.


"Ini hari Jum'at, jadi Mas bisa pulang lebih cepat kan? Aku mau lihat gadis kecilnya Kavira."


Yudha mengangguk, lalu merangkul bahu Mutia, matanya menatap wanita itu dengan lekat. "Omong-omong tentang melahirkan, bagaimana kalau kita juga membuat adik untuk anak-anak?"


Menautkan alis, Mutia menatap Yudha dengan senyum geli. "Yakin? Mas nggak akan mengeluh karena diganggu anak-anak saat kita sedang bermesraan."


Yudha mengerang, lantas menjatuhkan kepalanya dengan lelah di pundak Mutia. "Kamu benar. Sekarang saja kita harus sangat hati-hati untuk bermesraan, karena anak-anak bisa muncul kapan saja. Bahkan aku yakin sebentar lag..."


"Nah, apa kubilang." ujar Yudha dengan nada jengkel setengah geli, saat mendapati sosok gadis kecil berlari memasuki kamarnya, sementara Mutia yang mendengar gerutuan sang suami tertawa renyah.


"Ayah kenapa?" gadis kecil itu berdiri di hadapan orang tuanya dan menatap Yudha yang bersandar pada Mutia dengan raut khawatir. "Ayah sakit? Badannya panas?"


Yudha tersenyum menanggapi pertanyaan putrinya, kemudian meraup gadis kecil itu ke dalam gendongan dan memberikan kecupan di kedua pipi anak keduanya. Rumaisha atau yang lebih akrab di panggil Mai, lahir tujuh menit lebih dulu daripada saudara kembarnya, Idrish.


"Ayah baik-baik saja, Sayang."


Rumaisha mengangguk-angguk sembari tersenyum lebar, kemudian beralih menatap Mutia. "Bunda, tolong ikat rambut Mai." ujarnya sembari menyodorkan sisir dan beberapa ikat rambut pada sang Ibu.


"Baiklah."


Mutia mengambil alih barang-barang yang Rumaisha berikan, lalu mengajak putrinya untuk duduk di depan meja rias, sementara Yudha masih setia menemani keduanya dengan duduk di tepi ranjang. Mengamati kedua bidadarinya sembari tersenyum lebar.


"Mai mau diikat kayak gimana?"


"Ikat dua, Bunda. Terus dikepang, terus digelung." penjelasan Rumaisha, yang sebenarnya sama sekali tidak jelas, membuat Mutia dan Yudha terkekeh geli.


Meraih ponselnya, Mutia mengetikkan sesuatu. Lalu beberapa detik kemudian ia menunjukan ponselnya yang menampilkan gambar seorang gadis kecil pada Rumaisha.


"Ikat rambutnya kayak gini?"


"Iya, Bun, iya."


Rumaisha berseru heboh sembari bertepuk tangan, membuat Yudha mencubit pipi putrinya dengan gemas.


"Sakit, Ayah." keluhnya, menatap jengkel pada sang Ayah dari pantulan kaca, yang hanya di tanggapi Yudha dengan seulas senyum jahil. "Ayah,"

__ADS_1


"Hmm?"


"Mai minta tambahan uang jajan, ya."


Yudha menautkan alis. "Untuk apa, Nak? Uang jajan kamu kurang?"


Rumaisha reflek menggeleng, membuat sang Bunda menatapnya dengan sorot menegur. Sembari memasang cengiran, Rumaisha meminta maaf.


"Uang jajan yang dikasih Bunda cukup, kok."


"Terus kenapa Mai minta tambahan uang saku sama Ayah?"


"Uangnya mau Mai kasih ke Jennie."


"Kenapa mau dikasih ke Jennie? Terus Jennie itu siapa?"


"Jennie itu temen sekelasnya Mai. Dia juga duduk sama Mai. Jennie tinggalnya di panti asuhan, karena Jennie nggak punya orang tua. Jennie selalu bawa bekal yang sangat sedikit karena dibagi sama anak-anak panti yang lain. Dia juga cuma di kasih uang dua ribu sama Ibu panti untuk jajan disekolah. Tapi... uangnya cuma bisa untuk beli air putih, soalnya makanan di sekolah harganya paling murah lima ribu. Mai mau jajanin Jennie, tapi uang jajan Mai nggak cukup, makanya Mai minta uang sama Ayah. Kata Bunda, kalau kita bisa membantu seseorang, kita harus membantunya. Karena dari rezeki yang kita miliki, ada rezeki orang lain di dalamnya. Kita adalah perantara untuk menyampaikan rezeki dari Allah pada orang itu."


Rumaisha melirik Mutia yang tersenyum di belakangnya. "Iya kan, Bun?"


Mutia mengangguk dan memberikan kecupan di puncak kepala anaknya. "Anak Bunda hebat banget, sih, bisa ingat semua ucapan Bunda."


"Iya, dong." Rumaisha tersenyum lebar. "Mai kan anaknya Ayah sama Bunda." lalu keduanya pun tertawa.


"Jennie itu, bagaimana dia bisa sekolah di sekolah kamu?" tanya Yudha.


Bukannya bermaksud meremehkan, hanya saja tempat Rumaisha bersekolah adalah salah satu sekolah dasar terbaik di kota mereka. Biaya perbulan di sekolah itu cukup mahal, belum lagi jika harus membeli buku-buku paket.


"Oh, Jennie itu pintar Ayah, makanya dia di kasih beasiswa."


Yudha mengangguk-angguk sembari tersenyum kecil, tanpa mengeluarkan satu katapun, membuat Rumaisha jengkel.


"Ayah, jadi gimana? Ayah bakal tambahin uang jajan Mai, kan?"


"Iya, Nak." Yudha mengusap puncak kepala putrinya. "Kapan-kapan kamu ajak Jennie kesini, ya. Ayah mau ketemu sama dia."


"Oke, Yah."


"Nah, sudah selesai." ucap Mutia, membuat Rumaisha tersenyum senang melihat hasil karya Ibunya yang sesuai dengan keinginannya.


Menaiki kursi, Rumaisha mengecup pipi sang Bunda. "Terima kasih, Bunda."


Kemudian turun dan beranjak menghampiri Yudha, memberikan kecupan juga pada sang Ayah, sebelum berlari keluar dari kamar, meninggalkan kedua orang tuanya yang tersenyum hangat melihat tingkahnya.


Ketika Yudha mengulurkan tangannya pada Mutia, wanita itu segera meraih uluran tangan suaminya. Mendudukkan tubuh di samping Yudha dan bersandar di dada pria itu yang selalu terasa nyaman.


"Diusia yang masih belia, Mai sudah memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Aku tidak tahu harus merasa bangga atau justru khawatir."


"Kenapa begitu?"


"Aku bangga memiliki seorang anak yang memiliki rasa kepedulian, namun aku juga khawatir sifat Mai yang terlalu peduli ini akan menjadi bumerang untuknya dimasa depan. Aku yakin pasti akan ada orang-orang yang memanfaatkan kebaikan putri kita."


Mutia tersenyum, mengerti kekhawatiran sang suami. "Dan aku yakin, selagi kita masih hidup, Mas tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti anak-anak kita."


"Tentu saja." Yudha tersenyum pongah. "Aku bahkan rela mengorbankan nyawa untuk mereka dan juga untukmu." dikecupnya pelipis Mutia dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih sudah setia mendampingiku selama delapan tahun terakhir, memberiku tiga orang anak yang membanggakan, selalu sabar menghadapi semua sifat burukku, tidak pernah mengeluh dengan segala kekacauan yang sering kami buat dan selalu menjadi pendengar serta pemberi solusi yang baik saat aku berada di titik terendah. Aku mencintaimu, Mutia. Dan aku sangat bersyukur Allah menakdirkan kamu sebagai istriku. Tidak ada lagi yang kuinginkan, selain selalu bersamamu sampai aku tak bisa lagi membuka mata."


Mutia menangis haru, kemudian memeluk Yudha dengan erat. "Aku tidak bisa merangkai kata-kata manis seperti yang tadi Mas ucapkan. Tapi Mas harus tahu, aku juga mencintai Mas sama besarnya."


"Kami juga mencintai Ayah dan Bunda." tiba-tiba saja Yusuf, Idrish dan Rumaisha muncul di belakang kedua orang tuanya, lantas memeluk keduanya sembari tertawa renyah.


Yudha ikut tertawa, sementara Mutia tersenyum dengan air mata yang kian deras mengalir keluar.

__ADS_1


Sebuah tangis kebahagian.


Bahagia adalah ketika kita mampu menemukan hal sederhana dalam kehidupan dan tetap mensyukurinya.


__ADS_2