
Matahari yang bersinar terlalu terik dan bayinya yang cukup sering menendang, adalah kombinasi sempurna untuk membuat Mutia merasakan lelah yang berkali-kali lipat. Sejak melakukan tendangan pertama saat Yudha mengusap perutnya, bayi dalam kandungannya menjadi sangat aktif bergerak. Meski tendangan itu membuatnya kesakitan dan tak jarang bernafas tersengal, namun Mutia merasa bahagia, sebab ia tahu bahwa bayinya berada dalam kondisi baik.
Haruskah aku berterima kasih pada Mas Yudha yang sudah membuat bayiku akhirnya menendang?
Suara adzan yang berasal dari ponselnya merupakan alarm penanda bahwa waktu sholat telah tiba. Mengambil ponsel dari saku baju hamil yang ia kenakan, Mutia segera mematikan alarm, sebelum beranjak mencari tempat ibadah terdekat untuk melaksanakan sholat dzuhur.
Usai melaksanakan kewajiban, Mutia berjalan menghampiri sebuah warung tenda di pinggir jalan guna mengisi perutnya yang sudah merengek minta diisi. Sebelum duduk, Mutia lebih dulu memesan makanan dan minuman, lantas menempati kursi kosong yang sedikit mengarah keluar dari warung.
Menopang dagu, Mutia menatap lurus ke depan dan menghela nafas panjang. Saat pertama bergabung dengan Barata Mobilindo, Mutia pikir pekerjaannya akan mudah. Kenyataannya... satu bulan telah berlalu, namun ia bahkan belum berhasil menjual satu mobil pun.
Ya Allah, pantas saja Mas Yudha cuma kasih target penjualan dua mobil dalam tiga bulan, bukan dua mobil tiap bulannya, karena susahnya minta ampun. Dan sekarang Mutia menyesal telah meremehkan tugas yang ia dapatkan.
"Saat hari pertama bekerja, seingatku kamu juga sedang menghela nafas panjang."
Seketika Mutia menoleh ke samping dan langsung menemukan sosok Yudha. Mutia merasa de javu. Duduk berdampingan dengan posisi yang sama seperti satu bulan yang lalu dan saling bertatapan. Kemudian Mutia meringis saat mengingat ucapan Yudha.
Memang setelah hari 'pemberian susu kotak', Mutia selalu menjaga jarak dari atasannya itu. Meminimalisir kemungkinan mereka akan berada dalam satu tempat yang sama dan dalam keadaan berdua saja. Mutia sadar bahwa hatinya mulai goyah karena kebaikan dan perhatian pria itu. Dan sebelum benteng pertahannya luluh lantak, Mutia harus segera menjauh dan melindungi dirinya, jika tak ingin kembali merasakan hancur lebur.
Namun sayangnya, usaha 'menjauhkan' diri menjadi sia-sia saja, saat semesta justru menggariskan takdirnya untuk selalu bersinggungan dengan Yudha. Setelah hampir dua minggu Mutia tidak bertemu dengan Yudha, merasa sedikit lega karena pria itu pulang ke kota kelahirannya, hari ini Tuhan malah mempertemukannya dan Yudha di sebuah warung tenda pinggir jalan.
"Mas... Yudha, kok bisa ada disini?"
Pria dua puluh tujuh tahun tak langsung menjawab, karena kedatangan seorang wanita muda yang kini tengah meletakan pesanan Mutia. Kemudian Yudha memesanan makanan, sebelum kembali menoleh pada Mutia saat pelayan meninggalkan meja mereka.
__ADS_1
"Tentu saja untuk makan siang, Mutia. Perutku sudah meronta minta diisi. Wajar sih, tadi pagi aku tidak sempat sarapan. Pas sampai bandara, aku langsung ke BM." jawab Yudha sembari mengedikkan bahu.
"Maksud aku, kenapa harus disini, Mas?"
Oh ayolah, Jimbaran tidak hanya seluas daun kelor. Ada banyak restoran di kabupaten Badung ini, tapi kenapa Yudha justru berakhir di warung yang sama dengannya.
"Aku ikut Fadli," bersamaan dengan itu Yudha mengedikkan dagu ke arah depan, yang langsung diikuti oleh tatapan Mutia. Tak jauh dari meja mereka tampak tiga orang pria tengah berbicara dan sesekali tertawa keras.
"Mereka anter mobil. Dan karena kebetulan pembelinya itu kenalanku, jadi aku memutuskan untuk ikut. Ya, sekadar menyapa dan sedikit basa basi. Lalu karena sudah waktunya makan siang, aku mengajak mereka kemari. Syukurnya mereka tidak protes karena makan di warung pinggir jalan."
Kedatangan pelayan menginterupsi pembicaraan mereka. Yudha tersenyum ramah saat pelayan menyajikan pesanannya. "Terima kasih."
"Memangnya Mas tidak lelah?" Mutia menyantap makan siangnya, sembari melirik Yudha. "Mas kan baru sampe, tapi udah langsung ikut anter mobil."
"Alhamdulillah, tidak. Lagian tadi yang bawa mobilku si Asep." Yudha tersenyum lebar, kemudian mengusap sekilas puncak kepala Mutia.
"Pelan-pelan saja, Mutia. Jangan takut, aku tidak akan merebut makananmu." terselip nada geli dalam suara Yudha.
Mutia yang masih sesekali terbatuk menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang ia yakin sudah menghiasi pipinya. Telapak tangan Yudha yang terasa hangat masih menempel di punggungnya, meskipun kini pria itu tak lagi memberikan usapan.
Bukan takut makananku Mas ambil, tapi perlakuan Mas yang membuatku takut.
Kemudian Mutia menegakkan duduknya, membuat jarak antara punggungnya dan tangan Yudha. Helaan nafas lega keluar dari sela bibir Mutia, saat Yudha menarik tangannya, meskipun harus Mutia akui ia merasa... kehilangan. Kehilangan rasa hangat menenangkan yang berasal dari tangan besar pria itu.
__ADS_1
Tak ingin berada di dekat Yudha lebih lama lagi, Mutia bergegas menyelsaikan makan siangnya dan kembali bekerja. Namun gerakannya menyuap seketika terhenti saat Yudha menyentuh punggung tangannya. Hanya sekilas memang, tapi efeknya terasa begitu lama.
"Aku mau sholat sebentar, bisa kamu pegang ini untukku." detik selanjutnya Yudha menyodorkan dompet, ponsel dan kunci mobil miliknya pada Mutia.
Tak langsung mengambil barang-barang Yudha, Mutia justru menatap piring pria itu yang tenyata sudah dalam keadaan kosong. Mata Mutia membelalak saat mengetahui betapa cepatnya Yudha makan. Ia bahkan baru menghabiskan setengah makanannya.
"Mutia."
"Hah?" alis Mutia bertaut.
"Tolong." Yudha kian mendorong barang-barang miliknya pada Mutia.
"Ah, ya." dengan salah tingkah Mutia mengambil alih dompet beserta ponsel dan kunci mobil pria itu.
"Kalau Fadli dan yang lain sudah selesai, kamu bayar dengan uang di dalam dompetku. Katakan pada mereka untuk duluan saja balik ke kantor." Mutia mengangguk, tatkala Yudha beranjak dari duduk. "Ah ya, satu lagi. Makananmu juga."
"Ma-makananku?"
Yudha mengangguk. "Hari ini aku sedang dapat rezeki, jadi aku juga ingin berbagi denganmu."
"Tapi..."
"Jangan menolak, Mutia. Atau aku akan marah."
__ADS_1
Akhirnya dengan terpaksa Mutia menganggukan kepala, membuat Yudha tersenyum puas. Pria itu menepuk dua kali puncak kepalanya, sebelum berpamitan pergi. Meninggalkan Mutia yang bergeming dengan tangan menyentuh dada, merasakan detak jantungnya yang bekerja di atas kata normal.
Ya Allah, apa ini?