Untuk Mutia

Untuk Mutia
Kedatangan masa lalu


__ADS_3

Dua hari yang lalu Mutia dan Yudha tiba di kota kelahiran. Kepulangan mereka disambut antusias oleh keluarga Mutia dan juga kedua sahabatnya yang tentu saja membuat sebuah kehebohan, mereka menghujani Mutia dan Yudha dengan taburan berbagai jenis bunga sembari berteriak mengucapkan selamat datang calon pengantin, hingga menyebabkan banyak tetangga yang keluar dari rumah mereka untuk melihat apa yang terjadi. Saat itu Mutia hanya bisa meringis malu akan tingkah kedua karibnya dan berulang kali meminta maaf.


Yah, terkadang mereka memang sering lupa diri bila sudah berkumpul. Tidak ingat usia yang sudah lewat kepala dua dan bahkan dua diantaranya sudah menjadi seorang Ibu. Mau bagaimana lagi, setelah Arumi dan Mutia berkeluarga, mereka jarang memiliki waktu berkumpul, jadi wajar saja bila memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama, mereka akan membuat kehebohan bak anak kecil di taman kanak-kanak.


Dan kehebohan itu semakin menjadi saat Yudha tanpa menunda lagi, segera menyampaikan niatnya untuk meminang Mutia pada keluarga wanita itu.


Lamaran Yudha tentu saja disambut baik oleh Wak Agus, kakak dari Ayah Mutia, sebab tak ada alasan baginya untuk menolak lamaran pria itu. Mutia sudah lebih dulu memberitahunya tentang keinginan Yudha untuk menemuinya, namun ia tetap saja merasa kaget saat Yudha tanpa aba-aba langsung mengatakan tujuannya ketika mereka baru saja menjatuhkan bokong di atas sofa.


Setelah penerimaan yang diberikan oleh keluarga Mutia, Yudha mengucap syukur berulang kali di dalam hatinya, kemudian berjanji akan segera membawa kedua orang tuanya untuk melakukan lamaran resmi dua hari lagi, yaitu malam ini.


"Mut, rambutnya mau di gelung atau di gerai aja?"


Arumi yang berdiri di belakang Mutia, menatap wanita itu dari pantulan kaca meja rias. Sekarang ia tengah membantu Mutia berdandan untuk acara lamaran wanita itu beberapa saat lagi.


Saat hari lamaran resmi ditetapkan, kedua karib Mutia tampak begitu antusias mengurus keperluannya ini dan itu. Selama dua hari ini Arumi dan Kavira selalu bolak-balik ke rumah Mutia, setiap kali ada kesempatan, sekadar untuk mengajak wanita itu berburu pakaian atau melakukan perawatan kecantikan.


Dalam hati Mutia mendesah lelah, sebab baru acara lamaran saja kedua sahabatnya itu sudah membuat banyak energi-nya terkuras, lalu bagaimana saat mereka mengurus acara pernikahannya nanti? Mutia yakin jiwa dan raganya pasti akan remuk redam.


Oh oke, itu memang sedikit berlebihan.


"Digelung aja. Biar Mas Yudha bisa lihat leher Mutia yang putih jenjang, minta banget di jilat." celetuk Kavira, mendahuli Mutia yang baru saja akan membuka mulut untuk menanggapi pertanyaan Arumi.


"Heh!" Arumi membalik tubuhnya. Menatap Kavira yang tengah memangku Yusuf sembari berkacak pinggang. Satu tangannya yang memegang sisir teracung pada Kavira, tatkala matanya menyorot tajam.


"Masih gadis, nggak boleh ngomong kayak gitu."


Kavira mencebik, sementara Mutia terkikik geli melihat pertengkaran kedua sahabatnya.


"Aku memang masih gadis, tapi aku juga wanita dewasa, Rum. Hal begitu tidak lagi tabu untukku." debat Kavira, membuat hidung Arumi kembang-kempis.


"Vira_"


"Digelung aja, Rum." sela Mutia, menghentikan perdebatan tak penting yang dilakukan kedua karibnya. "Biar nggak gerah."


"Oke." Arumi membuang nafas kasar dan kembali fokus mengurus penampilan Mutia. "Kamu mending keluar aja, deh, Vir. Bantuin aku nggak, ganggu iya." sungutnya kesal sembari menatap tajam pantulan Kavira di kaca meja rias.


"Cie... cie... yang mau di lamar, mukanya bersinar terang banget, kayak lampu taman." mengabaikan ucapan Arumi, Kavira justru kembali melakukan kegiatan wajibnya dua hari terakhir.


Seolah tak ingat usia, Kavira terus saja menggoda Mutia seperti mereka adalah remaja SMP yang baru saja mengalami cinta monyet dan di tembak laki-laki dengan sepucuk surat.


"Mending diam deh, Vir. Denger suara kamu bikin perut aku mual." sungut Mutia dengan wajah merah padam.


Kavira menganga, pura-pura syok. "Hah? Mual? Kamu udah *tekdung duluan, Mut?"

__ADS_1


Dengan Yusuf berada dalam gendongannya, Kavira bergegas menghampiri Mutia. Menatap sahabatnya yang sebentar lagi akan menikah dengan raut ingin tahu. (*hamil)


"Ihh, Kavira." tanpa perasaan Mutia memukul lengan Kavira, membuat wanita itu meringis sakit dan reflek menjauhkan diri. "Jangan asal ngomong, ya. Ntar ada yang dengar dan menganggapnya serius, lalu bikin aku jadi bahan pergunjingan."


"Ya, sorry." Kavira terkikik, tatkala satu tangannya bergerak menepuk-nepuk bokong Yusuf saat bayi mungil itu mulai merengek. "Abisnya kamu juga, sih. Pakek acara bilang mual segala. Aku kan jadi *salfok." sambung Kavira membela diri. (*salah fokus)


Arumi mendengus. "Ngeles aja terus, kek bajai."


"Beh, nggak elit banget, Rum. Nggak sekalian *bentor aja." goda Kavira, membuatnya mendapat delikkan tajam dari Arumi. (*becak motor)


"Kamu nggak capek godain kita terus, Vir? Aku yang dengernya aja capek." ucap Mutia dengan nada kesal, yang mendapat anggukan setuju dari Arumi.


"Nggak tuh." tersenyum jahil, Kavira tak acuh meninggalkan kedua karibnya dan beralih menghampiri jendela kamar.


"Udah, Mut. Biarin aja. Ntar kalau dia nikah, kita godain balik, habis-habisan." Arumi bersungut sebal.


Kavira menoleh pada Arumi sembari tersenyum miring. "Ah... kalau begitu aku bisa tenang, karena hal itu tidak akan pernah terjadi."


"Vir, suatu saat kamu pasti akan menikah." sorot mata Mutia melembut ketika menatap Kavira. "Seperti aku dan Arumi, kamu akan menemukan pria yang tepat untuk mendampingimu. Pria yang nanti akan membuatmu berani mengambil langkah besar untuk menikah."


Bibir Kavira menyungging senyum sinis, tatkala matanya kehilangan binar. "Menikah itu, sama seperti kamu memercayakan hidupmu, dengan dibonceng oleh orang yang baru saja belajar bawa motor. Kalau yang udah pro aja masih bisa kecelakaan, apalagi yang amatiran. Dan gue... nggak akan pernah siap dengan resiko itu."


Arumi dan Mutia saling pandang sembari menghela nafas lelah. Kalau Kavira sudah menggunakan kata gue-lo, itu artinya Kavira sudah sangat terganggu dan tidak mau lagi di debat.


"Mas Yudha dan keluarganya sudah datang. Ayuk disuruh Wak keluar."


...* * *...


Perlahan Mutia membaringkan Yusuf di tengah ranjang dan menghadang kedua sisi tubuh putranya dengan bantal. Setelah memastikan tidur bayi mungilnya tidak terganggu, Mutia bergegas menghampiri pintu depan yang telah di ketuk berulang kali.


Saat ini hanya ia dan Yusuf yang ada dirumah, sementara kedua Wak-nya sedang ke pasar dan Faisal sekolah, jadi tidak ada yang bisa membukakan pintu, sehingga membuat sang tamu terpaksa menunggu lama.


"Mutia?"


Sedetik pintu rumah terbuka, Mutia dengan secepat kilat menutupnya kembali saat melihat siapa tamu yang mengunjungi rumah Wak-nya. Usai mengunci pintu dengan rapat, Mutia mondar-mandir dengan wajah pucat pasi dan tubuh mengeluarkan peluh dingin.


Seharusnya aku melihat dulu siapa yang datang, keluhnya dalam hati dengan perasaan kalut. Tadinya ia pikir Yudha yang datang, sebab hari ini mereka memiliki janji untuk memesan baju pengantin yang akan mereka pakai di hari pernikahan nanti, dua bulan lagi.


"Mutia! Buka pintunya, Mutia! Kita harus bicara. Mutia!" bersamaan dengan itu terdengar suara gedoran pintu yang membuat Mutia semakin kalut. Bagaimana jika Mas Yudha datang, saat Haikal masih ada disini? Batin Mutia panik sambil menggigiti kuku ibu jarinya. Ya Allah, tolong aku, pintanya dengan sepenuh hati.


"Mutia, buka pintunya atau aku akan mendobraknya!"


Sekian detik berlalu, namun tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Hal itu membuat Haikal marah dan semakin brutal menggedor pintu.

__ADS_1


Tadinya ia berniat menemui Wak Agus untuk kembali membujuk pria itu agar memberitahunya dimana keberadaan Mutia, namun ternyata Tuhan begitu baik padanya hingga sekarang mempertemukannya dengan mantan istrinya itu.


"Haikal!" teriakan bernada marah itu sukses menghentikan kebrutalan Haikal dn menarik perhatian pria itu. "Mau apa lagi kau kemari? Bukankah aku sudah bilang, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahumu dimana Mutia. Jadi sebaiknya kau pergi sebelum aku memanggil pak Rt."


"Wak..." Haikal bergegas menghampiri Agus, kemudian menunjuk ke arah rumah pria tua itu. "A-ada Mutia di dalam." ucapan Haikal sempat membuat kedua pasang suami istri itu membelalak. "Aku ingin bicara dengannya, Wak. Kumohon, minta dia keluar."


"Sepertinya kau sudah mulai gila." sinis Agus. "Tidak ada Mutia di rumah kami. Mungkin kau sudah terlalu merasa bersalah pada keponakanku, hingga berhalusinasi melihatnya."


"Tidak, Wak. Aku dengan jelas melihatnya. Mutia yang membukakan pintu untukku."


Agus tak menanggapi, ia justru menatap istrinya dan memberi isyarat yang langsung ditanggapi istrinya dengan anggukkan kepala. Wanita itu segera menghubungi pihak keamanan komplek dan tak sampai lima menit dua orang satpam sudah berada di depan kediaman mereka.


"Pria ini membuat keributan dengan menggedor-gedor pintu rumah kami, sementara kami sedang tidak ada di rumah." lapor Agus pada kedua pria berseragam di hadapannya. "Tolong bawa pergi pria ini, karena sepertinya dia mengalami gangguan kejiwaan."


"Tidak, tidak. Lepaskan aku. Aku harus bicara dengan Mutia." Haikal meronta saat dua orang satpam berbadan kekar memegangi tangannya dan menariknya paksa untuk pergi. "Mutia! Keluar, Mutia! Aku hanya ingin kita bicara." teriakan itu terus terdengar seiring dengan tubuh Haikal yang semakin menjauh.


Agus menghela nafas lega, namun kelegaan itu tak bertahan lama saat melihat mobil Yudha berhenti di depan rumahnya dan pria itu keluar bersamaan dengan Haikal yang kembali berteriak memanggil Mutia, menarik perhatian Yudha untuk mengarahkan atensi padanya.


"Wak pikir kau akan datang setelah makan siang." suara Agus berhasil menarik perhatian Yudha. Pria itu mengucap salam, lalu mengecup punggung tangan suami istri di hadapannya.


"Iya, Wak. Mami yang minta. Katanya lebih baik pagi, daripada siang hari. Apalagi sekarang cuaca sedang panas-panasnya." jelas Yudha, kemudian melirik ke arah dimana Haikal masih berteriak keras. "Siapa pria itu, Wak? Tadi kalau tidak salah dengar, dia menyebut nama Mutia."


"Ada dua nama Mutia di blok ini, Yud. Nah, pria itu adalah mantan kekasih Mutia yang tinggal tiga rumah dari sini. Pria itu tidak terima karena diputuskan kekasihnya." ampuni aku Tuhan. Aku terpaksa berbohong, karena Mutia lah yang harus menjelaskannya pada Yudha.


"Ah begitu," Yudha mengangguk pelan. Ia tersenyum saat Agus mengajaknya masuk, namun baru dua langkah, pintu rumah Agus terbuka dan sosok Mutia keluar sedetik kemudian.


"Kamu sudah siap?" tanya Yudha, yang ditanggapi Mutia dengan anggukan pelan dan seulas senyum tipis. Berusaha untuk menunjukkan sikap biasa-biasa saja agar Yudha tidak curiga. "Kalau begitu, kita pergi sekarang?"


"Nggak masuk dulu, Nak?" istri Agus menyela dengan nada ramah.


"Nanti saja, Wak. Sepulang dari butik. Soalnya kalau udah ketemu Yusuf, takutnya aku malah tidak mau pergi." sahut Yudha, yang langsung memancing gelak tawa.


"Wak, aku titip Yusuf ya." ucap Mutia pada Wak Endah.


"Iya, kalian hati-hati. Kalau bisa pulang sebelum makan siang, biar kita bisa makan sama-sama."


Mutia mengangguk, lalu mengikuti Yudha masuk ke dalam mobil pria itu. Saat mobil yang di kendarai Yudha melewati Haikal dan dua orang satpam, Mutia tanpa sadar menahan nafas sembari menundukkan kepalanya.


Ya Allah, kenapa Haikal muncul kembali disaat aku akan memulai hidup baru?


...****************...


Quote: Selesaikan masa lalumu, sebelum memulai masa depan agar hal itu tidak mengusik kehidupan barumu.

__ADS_1


__ADS_2