
"Duduklah, Jane."
Wanita dengan rambut berpotongan sebahu itu pun menurut. Dengan rikuh menarik kursi di hadapan Yudha dan menjatuhkan bokongnya disana.
"Apa kau sudah bosan bekerja disini, Jane?!" ujar Yudha tanpa tedeng aling-aling.
Jane terkesiap, menatap Yudha dengan sorot cemas. Jemarinya saling bertaut, tatkala kepalanya menggeleng panik. Ketakutannya kian menjadi saat mendengar nada suara Yudha yang tidak seperti biasanya. Kali ini terdengar dingin dan tak bersahabat, sementara manik hitam kelamnya menunjukan kemarahan yang begitu pekat.
"Jawab, Jane! Apa kau tidak punya mulut untuk menjawabku, hah?!" hardik Yudha, membuat Jane berjengit kaget dan memejamkan matanya sesaat untuk meredakan ritme jantungnya yang berdetak cepat. "Atau kau ingin aku menjahit mulutmu sekalian, agar kau tidak bisa bicara lagi?"
Jane menggeleng panik, ketakutan. "A-aku masih ingin bekerja disini, bos." dengan gemetar Jane menyeka peluh dingin yang mengalir dari pelipisnya.
"Lalu kenapa kau lakukan ini?"
"Me-melalukan apa, bos?" Jane menatap Yudha dengan raut bingung.
"Tidak perlu berakting, Jane. Aku sudah tahu apa yang kau lakukan." kasar Yudha mengarahkan layar laptop pada Jane, menunjukan rekaman cctv yang ia dapatkan dari Fajar. Salah satu orang kepercayaannya, yang beberapa hari lalu ia minta untuk mencari tahu siapa pelaku yang telah memberikan obat pencahar pada Mutia.
Fajar baru saja keluar dari ruangannya setelah memberikan sebuah kepingan cd berisi rekaman cctv di lobi, saat Jane memberikan kantung plastik hitam pada Mutia dan juga hasil pemeriksaan laboratorium pada makanan yang Mutia terima dari Jane. Fajar merasa curiga dengan makanan pemberian Jane, sebab setelah menikmati camilan itu, menurut informasi karyawan yang tinggal bersama Mutia, wanita itu tidak memakan apapun lagi.
"Kau memberikan camilan pada Mutia dan camilan itu mengandung obat pencahar. Apa yang kau lakukan sungguh membuatku kecewa."
Tak ada kata yang keluar dari mulut Jane. Wanita berambut sebahu justru menundukkan kepala dan sedetik kemudian terdengar suara isakan lirih, tatkala bahu Jane bergetar samar.
"Ma-maaf, bos."
Permintaan maaf Jane adalah pembenaran atas tuduhan yang ia berikan. Yudha membuang nafas kasar, menyandarkan punggungnya dan memijat pangkal hidung saat pening mendera.
"Kenapa, Jane?"
"Aku..." mengangkat wajahnya, Jane menatap Yudha dengan berurai air mata, sementara manik matanya menyorot penuh kesakitan. "Aku... cemburu. Aku tidak suka melihat perlakuan baik bos pada Mutia."
"Aku memperlakukan semua karyawanku dengan baik, termasuk kau. Atau... ini hanya perasaanku saja, sementara kenyataannya kau merasa aku tidak memperlakukanmu dengan baik?"
"Kamu memperlakukanku dan semua karyawan disini dengan baik." jawabnya lirih. "Tapi tidak dengan Mutia."
"Apa maksudmu?"
"Caramu memandang Mutia dan memerhatikannya, berbeda dengan apa yang kamu tunjukan padaku. Kamu menatapku, sama seperti caramu menatap yang lain, tapi pada Mutia tidak seperti itu. Selama ini aku tidak merasa terancam, karena tidak ada satupun wanita yang bisa menarik perhatianmu, tapi setelah Mutia resmi bergabung dengan BM, aku merasa khawatir. Aku tidak ingin kamu merasa tertarik dan berakhir dengan jatuh cinta padanya, karena itu sungguh tidak adil. Aku mencintaimu lebih dulu, tapi kamu justru memberikan hatimu pada Mutia."
__ADS_1
"Hatiku adalah urusanku, Jane. Kau tidak berhak ikut campur kepada siapa kupercayakan hatiku." desis Yudha dengan gigi menggeletuk. "Apa kau tahu, perbuatanmu nyaris membunuh Mutia dan bayinya?"
"Membunuh?" Jane tertawa sarkasme. "Tidak mungkin. Aku mencampurkan obat pencahar, bukan racun. Lagipula... aku tidak ingin membusuk di penjara, meski keinginanku untuk membunuh Mutia sangatlah besar, karena dia telah merebutmu dariku."
"Merebut? Kau bahkan tidak pernah memilikiku, Jane." Yudha membuang nafas kasar.
"Obat pencahar memang bukan racun mematikan, namun kau memberikannya pada wanita hamil, Jane. Karena ulahmu Mutia harus bolak-balik ke kamar mandi, hingga berakhir dengan membuatnya terpeleset. Dia mengalami pendarahan, kondisinya kritis dan bayinya harus dikeluarkan sebelum waktunya untuk menyelamatkan keduanya. Apa kau sudah kehilangan hati nuranimu, Jane? Kau nyaris membunuh seorang bayi yang tidak berdosa? Kau wanita, coba bayangkan jika kau yang berada di posisi Mutia saat itu."
"Ma-maaf." Jane kembali menunduk, namun Yudha sempat melihat tatapan bersalah dan menyesal di manik mata wanita itu.
"Aku menghargai penyesalanmu, Jane. Karena itu aku tidak akan memecatmu dengan tidak hormat, seperti yang aku lakukan sebelum-sebelumnya. Kau akan tetap menjadi bagian dari Barata Mobilindo." ucapan Yudha membuat Jane menatapnya dengan raut tak percaya dan mata berbinar. "Tapi aku akan memindahkanmu ke kantor cabang di Kalimantan. Berada di bawah kepimpinan Eros."
Mendengar nama Eros di sebut, membuat Jane bergidik. Pria yang kini berusia tiga puluh tahun dan memegang cabang BM di Kalimantan itu memiliki perangai buruk. Menurut informasi dari rekannya di Kalimantan, Eros adalah orang yang tempramental, otoriter dan selalu memberikan target tinggi pada karyawannya, sehingga membuat para kacung-nya harus bekerja gila-gilaan atau pada akhirnya memilih resign karena merasa sudah tidak kuat menerima tekanan batin.
Wajahnya yang tampan, nyatanya menyembunyikan perangai yang begitu buruk. Iblis berwajah malaikat, begitulah rekannya di Kalimantan memberi julukan untuk Eros. Cabang Kalimantan merupakan tempat hukuman, karena sebagian besar karyawannya adalah mereka yang telah melanggar peraturan.
"Ta-tapi, bos."
"Pilihanmu hanya memberikan surat pengunduran diri padaku, yang artinya kau harus membayar uang pinalti karena kau berhenti sebelum kontrak habis, kupecat dengan tidak hormat atau... bekerja pada Eros. Aku sudah cukup baik padamu, Jane."
Apakah memberikan seseorang pada iblis, bisa di sebut baik?
...* * *...
Sejak kepulangan Mutia dari rumah sakit, Yudha memang rutin datang ke rumahnya yang ditempati oleh karyawan BM untuk bertemu dengan Yusuf. Kedatangan Yudha tidak tentu, terkadang pagi hari saat akan berangkat kerja, siang saat jam istirahat, jam pulang kantor atau malam hari seperti sekarang.
"Dimana Yusuf?" tanya Yudha bersamaan dengan kakinya yang melangkah masuk.
"Dikamar, Mas."
"Dia tidur."
"Saat kutinggal ke dapur, dia masih dalam keadaan terjaga."
Yudha menatap tajam pada Mutia. "Dan kamu meninggalkannya sendirian? Bagaimana kalau dia jatuh dari ranjang, Mutia!"
Kemudian Yudha berderap cepat menuju kamar yang Mutia tempati. Helaan nafas lega keluar dari sela bibirnya saat membuka pintu kamar dan mendapati Yusuf dalam keadaan baik-baik saja. Bayi mungil menggemaskan itu tengah menggerakan kedua tangan kecilnya, seolah ingin menggapai mainan yang menggantung di atasnya, sembari mengeluarkan gumaman tak jelas.
"Aku sudah menghadang bagian kiri dan kanannya dengan bantal, Mas. Jadi Yusuf tidak akan terjatuh."
__ADS_1
Menoleh ke asal suara, Yudha menemukan sosok Mutia tengah berdiri diambang pintu. Menatapnya dengan sorot ketakutan, yang membuat Yudha merasa bersalah karena beberapa detik lalu telah membentak Mutia. Namun mau bagaimana lagi, ketika merasa khawatir, ia memang sedikit sulit mengendalikan emosi.
"Tapi tetap saja, hal ini berbahaya, Mutia." menghampiri ranjang, Yudha mendudukkan tubuhnya, lalu meraih tangan kiri Yusuf. Memegang lembut dan sesekali memainkannya. "Besok aku akan membeli box bayi untuk Yusuf."
"Aku rasa itu tidak perlu, Mas. Lebih baik Yusuf tetap tidur satu ranjang denganku."
"Lalu membiarkanmu menindihnya?"
"Itu tidak akan terjadi, Mas." sungut Mutia tak terima.
"Bisa saja, Mutia. Kamu dalam keadaan tidak sadar karena tertidur, lalu tanpa sengaja menindih tubuh kecil Yusuf." Yudha tetap keras kepala. "Pokoknya besok aku akan membeli box bayi untuknya. Aku tidak ingin terjadi hal buruk pada anakku." kemudian Yudha kembali fokus mengajak Yusuf bermain. Tidak memedulikan Mutia yang menegang kaku akibat mendengar ucapannya.
Ini bukan kali pertama Yudha menyebut Yusuf sebagai anaknya, pria itu bahkan sering kali memanggil dirinya Ayah saat tengah berinteraksi dengan Yusuf, namun reaksi Mutia masih tetap sama saja seperti sebelumnya. Menegang kaku dengan jantung bertalu-talu. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya dan juga perasaan takut yang begitu besar. Ia takut terbawa perasaan, hingga berakhir dengan jatuh cinta pada bos-nya sendiri.
Tidak! Tidak lagi. Aku tidak mau lagi merasakan cinta sepihak. Batin Mutia sembari menggeleng berulang kali.
"Ada apa, Mutia?"
Menghentikan gerakan kepalanya, Mutia mengarahkan atensi pada Yudha hanya untuk mendapati pria itu tengah menatapnya dengan dahi berkerut.
"Kepalamu pusing?"
"Tidak, Mas. Aku tidak apa-apa." kemudian Mutia kembali pada pokok pembahasan. "Tentang box bayi tadi, Mas tidak perlu membelinya."
"Mutia..."
"Aku akan memastikan Yusuf baik-baik saja. Tapi jika seandainya terjadi sesuatu saat dia tidur satu ranjang denganku, saat itu juga aku tidak akan lagi melarang Mas Yudha untuk membeli box bayi. Bagaimana?" Mutia menggigit bibir. Berharap Yudha setuju dengan penawarannya.
"Baiklah."
Tanpa ditahan Mutia menghela nafas lega, membuat Yudha yang melihatnya terkekeh geli.
"Kamu tampak seperti baru saja keluar dari marabahaya." ujarnya dengan mata berbinar jenaka. "Aku hanya ingin membeli box bayi, Mutia, bukan memberimu potongan tubuh manusia. Kenapa kamu begitu ketakutan?"
Bagaimana Mutia tidak ketakutan, jika hampir tiap hari Yudha selalu datang dengan membawa barang-barang untuk Yusuf. Kemarin saja Yudha baru membelikan stroller dan memaksa Mutia untuk menerimanya atau pria itu akan marah.
Stroller itu kini berada di sudut ruangan, bergabung dengan tumpukan mainan —mobil-mobilan, mulai dari yang manual sampai yang menggunakan remote kontrol, begitu juga dengan motor-motoran, pesawat, bola dan lain sebagainya— yang bahkan belum bisa Yusuf mainkan. Berbagai jenis pakaian, serta perlengkapan mandi. Mutia sudah lelah melarang Yudha membeli barang-barang seperti itu, karena Yudha hanya menganggapnya angin lalu.
"Kamu ingin makan apa? Aku akan memesan makan malam." ucap Yudha, membuat Mutia yang sebelumnya memandang horor tumpukan barang di sudut kamar, seketika mengalihkan atensi pada pria dua puluh tujuh tahun yang masih setia mengajak Yusuf berinteraksi.
__ADS_1
"Nggak usah, Mas. Aku masak makan malam..." Mutia melebarkan matanya saat menghidu aroma gosong, begitu pula dengan Yudha yang mengerutkan hidungnya.
"Ya Allah, ikanku." sedetik kemudian Mutia berjalan cepat menuju dapur. Meninggalkan Yudha yang terbahak karena kecerobohannya.