
"Nah, ini dia. Dasar istri nakal. Kamu meninggalkan anak-anak dan pergi menyebrang pulau tanpa meminta ijin pada suami."
Adalah kalimat yang menyambut Arumi dan Mutia, saat mereka baru saja memasuki ruang keluarga. Tampak Sultan berdiri dengan berkacak pinggang, tatkala manik hitamnya menatap tajam pada Arumi yang menyengir lebar disamping Mutia.
"Ahh... Mas suami, kamu tiba lebih cepat dari perkiraanku." tanpa merasa bersalah Arumi menghampiri Sultan, memeluk singkat suaminya, lantas memberikan kecupan di kedua pipi pria itu.
Sultan yang awalnya ingin mengabaikan Arumi, seketika luluh hanya dengan pelukan dan kecupan yang sang istri berikan. Yah, Sultan memang semurahan itu bila berurusan dengan istrinya.
"Mami," suara Karalo berhasil menarik perhatian Arumi. Wanita dua puluh tiga tahun itu pun mengarahkan atensi pada anak keduanya, kemudian mengangkat tubuh mungil Karalo.
"No, kamu lagi hamil." cegah Sultan sembari mengambil alih putra kecilnya. "Ingat kamu nggak boleh angkat yang berat-berat."
"Arumi hamil?" celetuk Mutia, menarik perhatian Sultan dan Arumi.
Pria yang sebentar lagi akan memiliki tiga anak itu mengangguk sembari tersenyum penuh antusias pada Mutia. "Enam minggu. Makanya aku khawatir sekali saat bibi bilang Arumi ke Bali. Tanpa ijin dan bahkan ninggalin anak-anak sama Mama Rena." kini manik hitam Sultan berpindah menatap anak keduanya.
"Alo bahkan nggak berhenti nangis, setelah sadar bahwa Arumi pergi terlalu lama, jadi Mama nelpon aku. Dan pada akhirnya aku sama Papi terpaksa segera menyusul kemari. Kalau nggak gitu, Alo nggak akan berhenti nangis. Dia bahkan sempat sulit bernafas, karena terlalu lama menangis."
"Ya ampun," mengusap rambut Karalo, Arumi memandang dengan sorot bersalah. "Maafkan Mami ya, Sayang." kemudian atensinya beralih pada Sultan. "Maaf ya, Mas. Saat itu aku terlalu exited waktu Mami ajak ke Bali. Yang ada dipikiran aku cuma ingin segera bertemu sahabat sekaligus calon iparku."
"Kamu kayak nggak tahu aja, kalau Mami itu orangnya tidak sabaran. Seharusnya kamu menahan Mami, bukannya malah ikut-ikutan. Gimana kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu dan Mami? Semua orang pasti akan khawatir."
"Iya, iya, maaf. Janji, nggak lagi-lagi, deh." bak anak kecil, Arumi menyengir sembari mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya, yang ditanggapi Sultan dengan gelengan pelan, lalu menepuk dua kali puncak kepala istrinya.
"Mutia." bukan hanya pemillik nama yang menoleh saat Sekar memanggil, namun juga sepasang suami istri yang tengah bermesraan seolah sudah bertahun-tahun tidak bertemu. "Sini, Sayang."
Serta merta Mutia melangkahkan kakinya menghampiri Sekar, kemudian mendudukkan tubuh disamping calon ibu mertuanya.
"Ini calonnya Yudha, Pa." ujar Sekar sembari menepuk punggung tangan Mutia yang berada dipangkuan wanita itu.
"Loh, ini Mutia, kan? Sahabatnya Rumi?"
"Iya, om." sedikit mengangkat tubuh, Mutia meraih tangan Apsel untuk ia kecup punggung tangannya. "Apa kabar, om?" ujarnya basa-basi, setelah kembali mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Yah, seperti yang kamu lihat, Mut. Masih bisa bernafas dengan baik." kelakarnya membuat Mutia tersenyum. "Tapi... omong-omong, kamu udah lulus sekolah, Mut?"
Mutia meringis samar.
"Ihh, Papi. Masih aja suka godain Mutia." tegur Sekar, sebelum beralih menatap Yudha. "Papi kamu ini suka banget ngejek Mutia karena tubuh mungilnya. Dulu, pas pertama datang kerumah, Arumi dikira Papi temenan sama anak SMP."
Penjelasan Sekar hanya Yudha tanggapi dengan senyum tipis, lantas ia kembali sibuk mengajak Yusuf berinteraksi.
"Mau bagaimana lagi, semua orang yang baru pertama kali ketemu Mutia, pasti akan berpikiran sama. Papi nggak nyangka, kalau tipe istri Yudha itu yang mungil menggemaskan kayak Mutia ini." ujar Apsel, menatap Mutia dengan sorot geli.
"Papi, udah deh. Kecil-kecil gini, Mutia udah bisa lahirin anak kecil, loh." Sekar tersenyum jahil, membuat Mutia ingin sekali menenggelamkan dirinya di rawa-rawa.
Tante Sekar sebenarnya mau belain aku atau nggak, sih?
Kemudian deheman Apsel menarik seluruh perhatian, kecuali Yudha yang masih bersikap tak acuh serta Permata dan Karalo yang masih fokus bermain dengan mainan yang dibawa serta oleh Ayah mereka.
"Tentang suami kamu terdahulu, apa dia tidak keberatan Yusuf bersama kalian nantinya? Bukan apa-apa, om hanya tidak ingin hal ini menjadi masalah di masa depan."
Ucapan Apsel membuat Mutia pucat pasi. Lidahnya seketika kelu, membuatnya sulit untuk mengeluarkan suara. Lalu ketika ia berhasil mendapatkan kembali suaranya, Yudha sudah lebih dulu menjawab.
"Yudha!" tegur Sekar sembari melemparkan tatapan tajam, yang sama sekali tidak Yudha pedulikan.
Seketika suasana hangat di ruang keluarga, berganti dengan aura ketegangan. Mutia sadar betul bahwa hubungan Yudha dan Ayahnya tidak telalu baik.
Disatu sisi Mutia meras lega, karena ketegangan yang Yudha ciptakan, membuat semua orang melupakan perihal mantan suami-nya. Namun disisi lain Mutia merasa prihatin, karena sempat melihat sendu nan getir di manik hitam calon mertuanya saat mendengar kata-kata Yudha.
...* * *...
Niat hati ingin menginap selama dua hari, pada kenyataannya Arumi dan Sekar justru hanya berada di Bali selama satu hari. Alasannya karena Sultan memiliki pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan dan Permata yang harus sekolah. Karena terlalu terburu-buru menyusul sang istri, Sultan sampai lupa mengirim surat ijin ke sekolah putrinya.
Begitu pula dengan Sekar, wanita yang masih terlihat cantik di usianya itu juga memutuskan untuk pulang lebih awal, sebab tak ingin membuat Yudha merasa tak nyaman karena keberadaaan Apsel. Sekar tahu jelas keputusan Yudha untuk menetap di Bali setelah lulus S1, alasannya karena ingin menjaga jarak dengan sang Ayah. Entah sampai kapan putra bungsunya itu akan terus menghindari Apsel. Andai saja dulu mereka tidak hanya fokus pada Sultan, maka sekarang Yudha tidak akan bersikap antipati pada Ayahnya.
"Seminggu lagi kamu ambil cuti kerja, ya. Kita harus balik ke Prabu, soalnya Mami mau ketemu sama keluarga kamu untuk membicarakan tanggal pernikahan kita."
__ADS_1
Ucapan Yudha sukses menghentikan gerakkan tangan Mutia yang tengah mengaduk kopi. Wanita itu menoleh pada Yudha, meninggalkan pantry sambil membawa secangkir kopi, lantas berjalan menghampiri calon suaminya yang tengah bermain dengan Yusuf. Bayi empat bulan dengan tubuh yang tampak berisi itu Yudha dudukkan diatas meja makan.
"Seminggu lagi?" bersamaan dengan itu Mutia memberikan cangkir kopi Yudha. "Tapi kemaren tante nggak ada ngomong itu sama aku."
"Tante?" Yudha seketika menatap Mutia dengan mata melotot. Membuat Ibu satu anak itu meringis dan memasang cengiran. Lupa bahwa Sekar sudah memintanya untuk memanggil Mami.
"Maaf, Mas. Belum terbiasa."
"Ya, dibiasakan kalau begitu."
Mutia mengerutkan bibir, lantas menjatuhkan bokong pada kursi yang berseberangan dengan Yudha.
Pagi-pagi sekali Yudha sudah menyambangi rumahnya yang ditempati Mutia untuk mengajak calon istrinya itu sarapan diluar, namun setibanya di tempat tujuan, Yudha justru mendapati Mutia tengah membuat sarapan, jadi ia putuskan untuk sarapan di rumah saja.
Kehadirannya tentu saja membuat semua penghuni rumah memutuskan berangkat lebih pagi. Entah langsung ke tempat kerja atau mencari sarapan diluar, yang terpenting mereka segera meninggalkan rumah karena tak ingin merasa diawasi oleh sang atasan, sehingga kini hanya tersisa mbah Sriti bersama Yudha dan Mutia.
"Sini, biar Yusuf sama aku." mengulurkan kedua tangannya, meminta Yusuf, yang langsung di berikan oleh Yudha. "Mas sarapan, gih."
Yudha mengangguk patuh, kemudian menyalin nasi goreng ke dalam piringnya. Pria itu makan dengan nikmat, tak menyadari Mutia yang tengah menatapnya lekat.
"Mas," panggilan Mutia sama sekali tidak menarik perhatian Yudha. Pria itu hanya menanggapi dengan deheman pelan, tanpa mengalihkan tatapannya pada Mutia.
"Aku mau nanya, boleh?"
Kali ini Yudha mengangkat pandangannya sembari tersenyum menggoda. "Mau nanya apa, Sayang?"
Sontak saja Mutia merasakan pipinya memanas, karena ini pertama kalinya Yudha memanggil ia seintim itu sejak mereka memutuskan untuk menjalin hubungan. Namun Mutia berusaha keras mengabaikan rasa malu, salah tingkah dan rona merah yang pasti sudah menghiasi pipinya, tetap fokus pada pertanyaan yang ingin ia dapatkan jawabannya.
"Semalem aku lihat Mas ngobrol sama Mas Sultan dan... Papi." ucapan Mutia membuat selera makan Yudha seketika menghilang. "Dari apa yang kuperhatikan, interaksi Mas dan Papi tampak canggung, bahkan seperti ada aura ketegangan yang selalu menyelimuti kalian. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi."
Memalingkan sejenak wajahnya, Yudha membuang nafas kasar. Dan respon yang Yudha berikan membuat Mutia ingin sekali menampar mulutnya, karena sudah lancang mengeluarkan pertanyaan itu.
"Maaf, Mas. Aku..."
__ADS_1
"Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, jadi sudah seharusnya aku memberitahumu apa yang terjadi. Sebuah rahasia dalam keluargaku yang disimpan dengan sangat rapat, hingga yang tampak di permukaan hanyalah sebuah keluarga bahagia yang harmonis."