
"Ghifar!"
Suara bernada tinggi itu terdengar satu detik setelah pintu ruang rawat terbuka kasar dan menghantam dinding dengan keras. Membuat empat orang yang tengah berada di dalam ruang rawat tersebut berjengit kaget dan serta merta mengarahkan atensi pada sosok wanita dua puluhan yang baru saja menciptakan kegaduhan.
"Ya Allah, Ghi." dengan panik Lamia menghampiri ranjang rawat, memerhatikan kondisi pria yang ia panggil Ghifar, dari kepala hingga ujung kaki. Lalu dengan dramatis Lamia menangkup wajah Ghifar dan menatap horor pada benjolan cukup besar di pelipis pria itu.
"Kamu kok bisa kayak gini? Itu benjolan, kan? Kenapa udah kayak telur rebus?"
CeloTehan Lamia membuat Azril yang berdiri di belakangnya menutup mulut, berusaha menahan tawa yang nyaris menyembur.
Beberapa menit yang lalu Lamia menerima telpon dari pihak rumah sakit, memberi kabar bahwa adiknya tengah di rawat dan meminta pihak rumah sakit menghubunginya. Lamia yang panik segera menelpon Azril, memaksa pria itu menjemputnya di kantor dan mengantarnya ke rumah sakit.
"Maaf, nyonya. Tolong... bicaranya pelan-pelan." perawat yang mendampingi dokter memeriksa kondisi Ghifar, menegur Lamia yang terus mengeluarkan suara tinggi.
Lamia nyengir canggung, lalu meminta maaf. "Bagaimana keadaan adik saya, dok?"
"Benturan yang di terimanya cukup kuat, sehingga membuat pasien mengalami gegar otak ringan." jelas pria yang Lamia taksir berusia awal tiga puluhan.
"Ge-gegar otak, dok?"
Dokter mengulas senyum menenangkan. "Tidak perlu khawatir. Kondisinya sudah mulai membaik, kecuali benjolan di pelipisnya yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menghilang."
"Ah... syukurlah. Jadi apa Ghifar harus rawat inap, dok?"
"Kita tunggu beberapa jam ke depan. Jika pasien tidak mengalami muntah-muntah yang hebat, pasien bisa pulang hari ini juga."
Lamia mengangguk pelan. "Terima kasih, dok."
Pria bersnelli mengulas senyum sopan. "Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Dua jam lagi saya akan kembali untuk memeriksa keadaan pasien."
Setelah dokter dan perawat meninggalkan ruang rawat Ghifar, Lamia menarik kursi yang tersedia mendekat pada ranjang rawat, lalu menjatuhkan bokong diatas permukaan kursi. Manik hitamnya menatap lekat pada Ghifar. Pria itu kini tengah menekan pelipisnya yang tidak terdapat benjolan, sesekali memberikan pijatan ringan saat nyeri mendera.
"Apa yang terjadi sampai pelipis kamu bisa benjol sebesar ini?" tanya Lamia, menarik perhatian Ghifar. Sementara Azril yang berada di sisi lain ranjang rawat, menepuk lembut bahu Ghifar, meminta pria itu memaklumi kekhawatiran Lamia yang berbalut keingintahuan.
__ADS_1
"Teteh tanya saja pada pelakunya." dagu Ghifar mengedik ke sudut ruang rawat, membuat Lamia dan Azril seketika mengikuti arah tatapan Ghifar, hanya untuk mendapati sosok Mutia tengah berdiri kaku dengan kedua tangan saling bertaut dan wajah imut-nya menampakan raut cemas.
"Mutia?" keduanya berseru, antara kaget dan bingung.
"Kok bisa?" Lamia menatap bergantian pada Ghifar dan Mutia. Ingin salah satu dari mereka memberi penjelasan padanya.
"Teh," panggilan Mutia bukan hanya menarik perhatian Lamia, namun juga atensi Azril dan Ghifar. "Jadi begini... pas mau beli sayur, aku ingat betul mengunci pintu rumah. Tapi waktu aku pulang, pintu rumah sudah dalam keadaan terbuka lebar. Lalu saat masuk, aku menemukan pria itu..." manik hitam Mutia melirik Ghifar yang tengah melotot padanya. "Dia berdiri di depan televisi. Kupikir dia akan mencuri televisi itu. Jadi... karena panik, aku memukulnya."
"Wow..." Azril berseru takjub. "Pukulan kamu hebat juga, sampai bisa membuat Ghifar pingsan dan benjol seperti ini."
"Tanya dengan apa dia memukulku." Ghifar menyela sinis.
Lamia dan Azril menatap Mutia dalam diam, menunggu jawaban wanita hamil itu yang kini tengah mengusap satu lengannya sembari tersenyum kikuk.
"De-dengan pemukul bisbol."
"Astagfirullah," Lamia menyentuh dada, tatkala Azril melepaskan tawa renyah.
Melihat mata Lamia yang membelalak, membuat Mutia merasa bersalah sekaligus khawatir. Ia pun menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Teh," Mutia berhasil menarik perhatian. "Sungguh, aku tidak bermaksud membuatnya luka parah dan sampai dibawa ke rumah sakit. Tolong, Teh, jangan pecat aku."
Kembali pada kejadian satu jam lalu, setelah pria yang menyerukan namanya hilang kesadaran, pak RT bersama istri dan beberapa warga komplek masuk ke rumah Lamia untuk membantu Mutia, tapi mereka justru mendapati seorang pria muda bertubuh tinggi tegap dengan wajah rupawan tergeletak dilantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Karena takut terjadi hal buruk pada pria itu, mereka pun segera membawanya ke rumah sakit dan Mutia menunggu hingga pria —yang tak lain adalah Ghifar— tersebut mendapatkan kesadarannya. Lalu saat sadar, Ghifar langsung meminta perawat menghubungi Lamia.
"Tidak apa-apa, Mutia. Ini hanya sebuah ketidaksengajaan. Kamu hanya melakukan tanggung jawabmu menjaga rumah kami." ujar Lamia, membuat Mutia menghela nafas lega.
"Tapi ketidaksengajaan itu membuatku mengalami gegar otak, Teh." sungut Ghifar, tak terima Lamia meloloskan Mutia begitu saja.
"Garis bawahi dan cetak tebal kata 'ringan', Ghi." celetuk Azril.
"Itu karena aku segera dibawa ke rumah sakit. Kalau tidak, mungkin sekarang aku hanya tinggal nama."
__ADS_1
Lamia memutar mata, lalu memukul lengan Ghifar, menegur adiknya yang bicara menggebu-gebu, hingga menampakkan urat leher. Sementara Mutia yang ketakutan mendengar suara benada tinggi yang Ghifar keluarkan, reflek mundur satu langkah sembari memeluk perut buncitnya.
"Ghifar, kamu membuat Mutia takut." Lamia melirik Mutia yang kini tampak pucat.
"Dan dia membuatku gegar otak." sembur Ghifar dengan berapi-api.
"Ghi, lagian ini salahmu juga." Azril seketika mendapat tatapan tajam dari Ghifar.
"Salahku?"
"Iya, salahmu. Seharusnya kamu tidak masuk begitu saja."
"Apakah aku harus ijin untuk masuk ke rumah sendiri, sementara aku memiliki kunci cadangan? Biasanya juga aku langsung masuk."
"Masalahnya sekarang ada Mutia yang bekerja pada kami dan dia belum pernah bertemu denganmu, jadi Mutia tidak tahu kalau kamu adikku, bukan pencuri." kali ini Lamia yang mengeluarkan suara.
Oh... jadi ternyata dia adiknya Teh Lamia. Batin Mutia, yang masih setia mendengarkan dalam diam.
"Kenapa kalian jadi memojokanku? Aku yang dipukul, aku yang masuk rumah sakit, aku pula yang disalahkan. Lagipula... mana ada pencuri berwajah tampan sepertiku dan masuk secara terang-terangan lewat pintu, lalu membiarkan pintunya terbuka lebar. Dasar wanita itu saja yang tidak punya otak."
"Heh, A'..." Mutia tak terima, di hina tak punya otak. Namun belum juga ia menyelsaikan ucapannya, Ghifar sudah lebih dulu mengeluarkan suara.
"Aku ini adik dari majikanmu, jadi... panggil aku tuan muda!"
Mutia melongo. Dasar gila hormat! "Baiklah, tuan muda. Sesuai keinginan anda." ujarnya dengan nada mengejek.
"Dan tadi kamu berkata apa? Berwajah tampan tidak mungkin seorang pencuri? Apa kamu tidak membaca berita akhir-akhir ini. Ada pencurian yang menggunakan wajah rupawan mereka untuk mengelabui korban, sementara rekannya sibuk menjarah barang-barang berharga. Pencuri jaman now juga tidak segan lagi untuk mencuri terang-terangan, bahkan ada yang sengaja menunjukan wajah dan identitasnya pada kamera CCTV saat sedang melakukan aksi pencurian."
Ghifar menganga saat mendengar Mutia bicara dengan cepat dan tanpa titik koma, disaat Lamia dan Azril terbahak-bahak. Senang melihat Ghifar yang kehilangan kata-kata menghadapi serbuan kalimat Mutia.
"Ya Tuhan," gumamnya, lalu menoleh pada Lamia. "Kenapa wanita seperti ini ada dirumah kita, Teh?"
"Oh, iya. Teteh lupa mengenalkan kalian." Lamia melambaikan tangan, meminta Mutia mendekat. Dengan patuh Mutia menghampiri Lamia, berdiri disamping majikannya. "Dia pekerja baru di rumah kita, menggantikan Mak Jum. Namanya Mutia Haruka." Lamia menoleh sekilas pada Mutia, lalu menyentuh lengan adiknya. "Pria ini adalah adikku, Mutia, bukan pencuri." ada kilat geli di manik hitam Lamia.
__ADS_1
"Namanya Ghifari Ardhan. Aku pernah mengatakan padamu, kalau aku tinggal bersama suami dan adikku. Nah, saat ini Ghifar adalah seorang first officer atau yang lebih dikenal sebagai co-pilot. Dia lagi kejar target untuk menjadi kapten, makanya dia jarang sekali pulang. Paling satu kali dalam tiga bulan."
Mutia mengangguk pelan, lalu mengarahkan atensinya pada Ghifar. Saat mendapati pria itu tengah menatapnya lekat dengan berbagai perasaan, Mutia seketika menundukan kepala.