
8 bab menuju ending + 2 ekstra bab.
...****************...
Setibanya Yudha dan Mutia di rumah, mbah Sriti langsung menceritakan apa yang terjadi tanpa menghilangkan jejak panik dan kekhawatiran dari wajah tuanya. Beberapa waktu lalu, setelah membereskan rumah dan memasak makan siang, mbah Sriti mengasuh Yusuf di ruang keluarga sembari menggosok pakaian.
Awalnya Yusuf tidak rewel dan bermain, bahkan sesekali tawa renyahnya terdengar, namun tiba-tiba Yusuf menangis hingga berhasil menarik perhatian mbah. Segera saja mbah memeriksa celana Yusuf, tapi ternyata bukan buang air yang membuat bayi lima bulan itu menangis, suhu tubuh Yusuf pun normal, menandakan bahwa bayi itu baik-baik saja. Menyadari bahwa Yusuf sedang lapar, mbah Sriti beranjak menuju dapur untuk mengambil botol ASI, meninggalkan Yusuf yang berguling-guling di karpet ruang keluarga.
"Mbah pikir aman membiarkan Yusuf sendirian, mengingat Yusuf ada di dalam rumah, tapi ternyata... saat mbah kembali ke ruang keluarga Yusuf sudah tidak ada. Padahal mbah meninggalkannya tidak sampai lima menit." jelasnya dengan raut bersalah, kemudian menunduk. "Maafkan mbah, Mas Yudha. Mbah sudah lalai menjaga Yusuf."
"Sudah, mbah. Tidak apa-apa." sembari tersenyum Yudha mengusap pundak ringkih mbah Sriti. "Lagipula mbah tidak tahu hal ini akan terjadi. Kalau mbah tahu, aku yakin mbah tidak akan melepaskan pengawasan pada Yusuf meski hanya satu detik saja."
Menoleh pada Mutia yang duduk di sofa panjang, Yudha mendapati wanita itu tengah menggigiti kuku ibu jarinya dengan perasaan gelisah. Senyum manis nan hangat yang biasanya menghiasi wajah wanita itu sama sekali tak terlihat, yang tampak kini hanya raut khawatir dan juga takut. Yudha maklum, memangnya Ibu waras mana yang tidak akan merasa khawatir juga takut saat anaknya di culik.
Menghampiri Mutia, Yudha mendudukkan tubuh di samping wanita itu. Tangannya bergerak merengkuh pundak, kemudian menyandarkan kepala Mutia di dadanya.
"Mas, aku mau Yusuf." Mutia kembali terisak, sementara tangannya meremat kemeja Yudha di bagian dada dengan kuat, hingga membuat kemeja pria itu tampak berkerut. "Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Kalau tadi kita mengajak Yusuf, sekarang Yusuf masih sama kita, Mas."
"Apa yang terjadi pastilah karena kehendak Allah, Mutia. Jadi sekuat apapun kita menghalangi hal itu terjadi, semua tetap akan terjadi bagaimana pun caranya. Sekalipun tadi kita bawa Yusuf, bisa saja Yusuf diculik sewaktu di jalan. Membawanya serta tidak menjamin Yusuf akan baik-baik saja, Sayang."
Untuk pertama kalinya Mutia tak merona saat Yudha memanggilnya Sayang. Saat ini Mutia tidak bisa memikirkan apapun, selain Yusuf, putranya. Dimana Yusuf? Bagaimana keadaannya? Siapa yang menculiknya? Kenapa orang itu menculik Yusuf-nya yang masih sangat kecil? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
__ADS_1
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan, Mas? Kita tidak mungkin diam saja seperti ini, kan?" rintihan pilu seorang Ibu kembali terdengar, memberi sayatan tak kasat mata pada setiap hati yang mendengar. Kemudian tiba-tiba Mutia mendongak, menatap Yudha dengan mata berkaca-kaca, namun juga tampak sedikit harapan disana.
"Kita lapor polisi sekarang, Mas." pintanya.
"Tidak bisa, Mutia. Ini belum 1x24 jam. Polisi tidak akan memprosesnya." ucapan Yudha memupus harapan Mutia.
"Dalam 24 jam apapun bisa terjadi pada Yusuf, Mas." tanpa sadar Mutia menaikan nada suaranya satu oktaf.
Tak mengambil hati saat Mutia terkesan membentaknya, Yudha justru mengeratkan pelukannya pada Mutia. Ia tahu saat ini calon istrinya tengah kalut, jadi Yudha tidak akan mempermasalahkan luapan emosi wanita itu.
"Semua ada prosedurnya, Mutia." jawab Yudha dengan nada lembut. Kemudian tanpa sengaja matanya menatap televisi yang kini tengah menayangkan iklan sebuah kamera cctv. Seketika Yudha melepaskan pelukannya dan beranjak dari duduk, memancing perhatian Mutia.
"Mas mau kemana?" pertanyaan itu Mutia ucapkan dengan raut bingung.
Seharusnya ia juga memasang kamera cctv di dalam rumahnya. Namun ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi, hingga membuatnya lengah.
"Aku ikut, Mas."
Yudha mengangguk. Diraihnya tangan Mutia, kemudian mengajak wanita itu untuk berjalan disisinya. Sebelum keluar dari rumah Yudha berpesan pada mbah Sriti untuk tidak memberitahu keluarganya, karena Yudha tidak ingin membuat keluarganya khawatir.
"Saya mau lihat rekaman cctv di depan rumah saya sekitar satu jam yang lalu." ujar Yudha pada kedua satpam yang menyambut kedatangannya dan Mutia di pos jaga.
__ADS_1
Tanpa banyak tanya kedua satpam itu pun segera memeriksa rekaman cctv di setiap kamera yang menghadap ke arah rumah Yudha. Dan dalam beberapa detik mereka berhasil menemukan apa yang Yudha inginkan.
Dalam rekaman itu tampak seorang pria mengenakan jaket dan topi sedang mengawasi rumahnya dari balik pepohonan. Lalu setelah ia dan Mutia pergi, pria itu berjalan mendekati rumah. Mengamati keadaan di dalam rumah melalui jendela kaca, sebelum membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Sesaat pria itu memerhatikan sekitar, lantas melangkah masuk. Beberapa menit kemudian pria itu keluar dengan membawa serta Yusuf yang tampak lelap dalam gendongannya.
"Bagaimana pria ini bisa masuk? Kami tidak tahu ada orang yang akan berkunjung."
Alasan Yudha menempatkan Mutia dan Yusuf di komplek perumahan tersebut karena keamanannya yang terjamin. Setiap pengunjung yang masuk harus mengisi buku tamu, meminta orang yang ingin dikunjungi untuk menjemput atau menunjukan kartu pengujung yang sudah di berikan oleh pemilik rumah yang akan di kunjungi. Jika pengunjung tidak bisa memenuhi salah satunya, maka pengunjung itu di larang untuk masuk.
"Pria ini menunjukan kartu pengunjung pada kami." salah satu dari mereka menjawab, lalu memutar ulang rekaman pada awal kedatangan pria itu. "Lihat, dia menunjukan kartunya pada kami. Setelah memeriksanya dan memastikan kartu itu asli, kami tidak mungkin melarangnya untuk masuk. Sudah pasti ini bukan kali pertama pria itu berkunjung, karena dia memiliki kartu pengunjung."
"Tapi apa kalian sama sekali tidak merasa curiga saat dia pergi dengan membawa anak kami?" Yudha kembali menuntut.
"Maaf, pak. Kami tidak mungkin mencegahnya membawa anak bapak, jika dia bilang anak itu adalah keponakannya dan saat itu anak bapak juga sama sekali tidak menangis, sehingga kami tidak memiliki alasan untuk menahannya." kini satpam satunya yang memberikan penjelasan.
Yudha megusap kasar wajahnya. "Setidaknya kalian bisa menghubungi salah satu dari kami jika merasa curiga!"
"Mas," dengan sigap Mutia memegangi lengan Yudha, menenangkan pria itu yang sebentar lagi akan meledakkan emosinya. "Ada banyak orang yang menghuni komplek ini, Mas, mereka tidak akan mengenali setiap penghuninya satu persatu. Jadi mereka tidak mungkin tahu bahwa pria itu penculik yang membawa Yusuf kita."
Kemudian atensi Mutia beralih pada dua orang pria dihadapannya. "Bisa putar ulang rekamannya, pak?" salah satu dari satpam itu mengangguk dan melakukan permintaan Mutia. "Tolong berhenti." bersamaan dengan ucapan Mutia, satpam tersebut menjeda rekaman tepat saat kamera fokus pada pria berjaket. "Bisa perbesar gambarnya? Saya ingin melihat wajah pria itu."
Petugas keamanan menganggukkan kepalanya, kemudian memperbesar gambar pada rekaman. Sedetik kemudian Mutia terkesiap dengan wajah syok dan tanpa sadar memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Yudha menyadari perubahan gestur tubuh Mutia. Ia melirik layar komputer yang menayangkan rekaman cctv dengan dahi mengernyit. "Kamu kenal pria itu?"
Dengan kaku Mutia menatap Yudha, lantas mengangguk pelan.