Untuk Mutia

Untuk Mutia
Ekstra bab 1


__ADS_3

Hal pertama yang Mutia lihat saat keluar dari rumah Wak Agus, dengan Yusuf berada dalam gendongannya, adalah begitu banyak orang yang memenuhi halaman rumah dan menciptakan keramaian dengan tawa renyah mereka ataupun hanya sekadar perbincangan ringan. Ditelinga Mutia semua itu terdengar seperti dengungan lebah, namun bukannya merasa terganggu, Mutia justru tersenyum lebar.


Dulu, saat ia menikah dengan Haikal, keadaan juga seramai ini, tapi ia tak merasakan kebahagian. Karena saat itu ia melakukan pernikahan hanya untuk memenuhi permintaan Ayahnya, sebagai baktinya kepada orang tua. Berbeda dengan sekarang, Mutia merasa begitu bahagia sekaligus terharu karena orang-orang yang ia sayangi menyempatkan diri mereka untuk hadir di acara pernikahannya. Pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta. Alasan tersebut membuat hati Mutia kembali berbunga-bunga dan tak bisa menahan tarikan sudut bibirnya untuk mengulas senyum, dengan rasa panas menjalar di pipinya yang diberi blush on berwarna merah muda.


"Dicari di dalam, ternyata kamu sudah keluar duluan." bersamaan dengan kemunculannya disamping Mutia, Yudha mengambil alih Yusuf dari gendongan wanita yang sejak beberapa menit lalu sudah resmi menjadi istrinya. "Bagaimana bisa kamu meninggalkan pengantin priamu, heum? Kamu membuatku di ejek saat mencarimu."


"Diejek?" Mutia tersenyum geli sembari menatap Yudha yang kini tengah bercanda dengan Yusuf. Bayinya yang berusia tujuh bulan itu tampak tertawa saat Yudha mencium perutnya berulang kali.


"Ya," menghentikan aktivitasnya bermain dengan Yusuf, Yudha mengarahkan tatapan pada Mutia sembari mengulas senyum. "Aku dibilang seperti anak ayam yang kehilangan induknya."


Tawa Mutia pun pecah. Apalagi saat melihat Yudha menekuk wajahnya kesal. "Biar ku tebak. Pasti Mas Sultan yang mengatakan itu."


"Tentu saja. Dia sedang balas dendam padaku. Aku harap dia tidak menganggu malam pengantin kita, seperti apa yang aku lakukan padanya dulu."


Wajah Mutia terasa panas karena Yudha membicarakan tentang 'malam pengantin' dengan begitu santainya. Meski ini bukan pernikahan pertamanya, namun Mutia tetap saja merasa tidak nyaman membicarakan hal intim.


Untuk menutupi perasaan gugupnya, Mutia berdehem sebelum kembali mengeluarkan suaranya. "Memangnya apa yang Mas Yudha lakukan waktu itu?"


Yudha menyeringai, lantas menjawab pertanyaan Mutia. "Aku mencampurkan obat tidur ke dalam minuman Arumi. Jadi setelah makan malam, Arumi langsung tertidur."


"Kejam banget kamu, Mas." meskipun begitu, Mutia mengulum senyum geli.


Merangkul pundak Mutia, Yudha mendekatkan wajahnya, lalu berucap dengan nada lirih. "Karena itu, nanti malam kamu jangan makan apapun, ya. Aku akan memasak makanan khusus buat kamu, karena aku tidak mau Mas Sultan mencampurkan sesuatu ke dalam makanan atau minumanmu. Melewati malam pengantin dengan berbaring di samping istri yang tertidur lelap itu adalah bencana besar untuk pengantin baru."


Mutia mencebikkan bibir. "Dasar jahat. Suka jahilin orang, tapi dijahilin balik nggak mau."


"Oh, Sayang. Itu memang sudah menjadi sifat buruk manusia. Bahagia melihat orang lain menderita, tapi marah saat orang tertawa melihat penderitaan kita."


Menanggapi ucapan Yudha, Mutia hanya menggeleng pelan sembari tersenyum geli.


"Pokoknya kamu nggak boleh makan atau minum pemberian siapapun, kecuali pemberian dariku, karena aku tentu akan memastikan keamanannya lebih dulu. Oke?" Mutia mengiyakan, membuat Yudha tersenyum lebar dan tanpa canggung memberikan kecupan di pipi Mutia. "Bagus. Istriku benar-benar penurut."


Disaat Mutia merona malu, kedua sahabatnya menghampiri dengan begitu heboh.


"Woi, penganten baru. Sibuk ¹dewek. ²Ngomong beduo bae, maseh ado tamu ini. Kagek bae amen nak mesra-mesraan. Nunggu di kamar bae." Kavira berseru lantang.


(¹Sendiri. ²Bicara berdua saja, masih ada tamu disini. Nanti saja kalau mau bermesraan. Saat di kamar saja.)


"Astaghfirullah, ³mulut gades sikok ini. Alangke cabulnyo." celetuk Arumi, sembari memukul keras lengan Kavira, membuat wanita disampingnya meringis kesakitan. "Malu, Vir. Semua orang mendengar ucapanmu."


(³Mulut gadis ini, sangat mesum.)


Tak ingin membuat Ibu dua anak itu semakin marah, Kavira menutup mulut dengan rapat, lalu keduanya mengarahkan atensi pada Mutia dan Yudha yang tengah menatap mereka dengan tawa dikulum.


"Udah, nggak usah di tahan. Ntar kentut. Kasihan para tahu yang mencium gas busuk kalian." ujar Kavira dengan nada sewot, membuat tawa Mutia dan Yudha pun akhirnya meledak.


"Ah, kalian ini. Usia saja yang bertambah, kelakuan masih sama seperti enam tahun lalu." Yudha menggeleng tak pecaya.


"Sifat kekanakan itu sudah mendarah daging pada setiap manusia, Mas. Lihat saja nenek yang usianya sudah tujuh puluh tahun, masih merajuk saat cucunya memindahkan channel TV."


Segera saja Mutia memegang lengan Yudha, menahan pria itu untuk kembali mendebat Kavira. Jika diteruskan, pasti tidak akan pernah berhenti, karena sahabatnya itu tidak pernah mau kalah.


"Kamu dateng sama siapa, Vir?" tanya Mutia mengalihkan pembicaraan.


"Sama pacarku lah." dengan dramatis Kavira mengibas rambut.


"Pacar kamu yang mana?" celetukan Arumi membuat Kavira seketika melemparkan tatapan kesal padanya.


"Pertanyaanmu itu mengindikasikan seolah aku banyak pacar saja."


"Lha, memang benar, kan?" sahut Arumi dengan polosnya.


"Pacar aku cuma satu, yang lain selingan." jawab Kavira, tak acuh. Lalu kembali menatap Mutia dengan tersenyum manis, tatkala tangannya menyodorkan sebuah kotak yang di bungkus sampul mengkilap pada Mutia.


"Happy wedding ya, Sayangku. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Aku juga mendoakan semoga ini menjadi pernikahanmu yang terakhir, hanya maut yang bisa memisahkan kalian." setelah Mutia mengambil alih kado pemberiannya, Kavira memeluk erat sahabatnya yang tengah berbahagia itu.


"Makasih, Vir." ucap Mutia dengan mata berkaca-kaca.


Kavira mengangguk, kemudian beralih memberi selamat pada Yudha. Setelahnya, Arumi dan Kavira meninggalkan kedua pasangan itu, dengan membawa serta Yusuf bersama mereka, agar Mutia dan Yudha bisa menyambut tamu-tamu yang juga ingin memberikan selamat pada mereka tanpa kesulitan karena menggendong Yusuf.


Akad nikah yang di laksanakan beberapa saat lalu hanya di hadiri oleh keluarga inti dari pihak Yudha dan Mutia, bahkan Kavira —sahabat Mutia— pun memilih untuk menunggu di luar karena tak ingin mengganggu kekhusyukan akad nikah Mutia dengan mulut cerewetnya yang sering kali sulit di kendalikan. Sehingga wajar jika sekarang banyak tamu mengerumuni Mutia dan Yudha untuk berjabat tangan memberikan selamat.


"Selamat ya, Nak." Hartono tersenyum lebar sembari mengusap puncak kepala Mutia, setelah ia bersalaman dengan Yudha. "Ayah ikut berbahagia untuk pernikahanmu, semoga kalian akan selalu bersama hingga ajal menjemput."


Mutia tersenyum, mengaminkan doa tulus yang Hartono berikan.


"Dan Ayah juga minta maaf atas perbuatan Haikal padamu dulu. Dia terus menyakitimu. Tapi itu tidak sepenuhnya salah Haikal, Ayah lah yang bersalah karena tidak bisa mendidiknya menjadi suami yang baik untukmu."


Dengan mata berkaca-kaca, Mutia menipiskan jarak dan memeluk erat sang mantan Ayah mertua. "Ayah adalah Ayah yang terbaik. Aku sudah memaafkan apa yang terjadi, meskipun tidak akan pernah bisa melupakannya, jadi kumohon Ayah jangan lagi merasa bersalah. Sekarang semua sudah baik-baik saja."


Hartono mengangguk dalam pelukan Mutia. Ditepuknya punggung wanita bergaun putih itu dua kali sebelum menciptakan jarak. Tangan tuanya bergerak mengusap cairan bening yang menggantung di sudut mata Mutia.


"Jangan menangis. Ini hari bahagiamu. Kamu harus tersenyum dengan lebar."


Mutia pun tersenyum lebar, namun air matanya justru mengalir keluar. Dengan segera Mutia mengambil tisu pemberian Yudha, lalu menyeka air matanya.


Suara deheman mengurungkan niat Mutia untuk menanggapi ucapan Hartono. Atensinya pun beralih pada wanita di samping Hartono yang memasang raut jengkel, membuat Mutia tersenyum kikuk. Karena terbawa suasana, ia sampai melupakan keberadaan mantan ibu mertuanya.


"I-ibu datang." ujar Mutia dengan nada gugup.


"Kenapa? Kamu tidak suka melihatku? Bukannya kamu juga mengundangku? Di undangan yang kamu berikan tertulis, kepada Bapak Hartono & Istri. Karena Bapak Hartono hanya memiliki satu istri yaitu aku, jadi sudah pasti aku yang menemaninya."


Bukannya tersinggung mendengar ucapan sinis Karlina, Mutia justru tersenyum lebar dengan mata yang kembali berkaca-kaca, lalu sedetik kemudian ia membawa wanita tua itu ke dalam pelukannya.


"Aku senang Ibu datang. Terima kasih, Bu."


Karlina mendengus, lantas mendorong Mutia perlahan. "Jangan terlalu percaya diri. Aku datang untuk bertemu cucuku. Mana Yusuf."


"Yusuf dibawa Arumi ke dalam, Tante." Yudha yang menyahut, membuat Karlina menatap sekilas padanya, lantas melenggang pergi.


"Maafkan Ibumu, dia..."


"Tidak apa-apa, Yah." Mutia menghentikan ucapan Hartono.


"Aku tahu Ibu hanya tidak mau menunjukkan sikap baiknya padaku. Melihat dari matanya, aku tahu Ibu tidak lagi membenciku. Walaupun Ibu bicara ketus, tapi matanya menatapku dengan lembut." meski Mutia juga menemukan sorot sedih di manik mata Ibunya yang tidak ia ketahui karena apa.


"Ya, kamu benar. Sejak tahu Yusuf adalah anakmu dan Haikal, Ibumu mulai melunak. Dia merasa sangat bersyukur kamu tidak menggugurkan Yusuf, padahal saat itu Haikal sudah menyakitimu sedemikian rupa. Apalagi saat mendapat berita buruk dari dokter bahwa ternyata Sonya menderita kanker rahim, yang membuat rahim Sonya dengan terpaksa harus diangkat, membuat Ibumu syok dan bahkan jatuh sakit selama hampir satu minggu. Dia sudah kehilangan harapan untuk memiliki cucu dari Haikal dan Sonya."

__ADS_1


"Oh iya, omong-omong tentang Haikal. Dimana Haikal dan Sonya?"


"Mereka tidak akan datang." helaan nafas berat keluar dari sela bibir Hartono. Wajah tuanya menampakkan raut lelah.


"Ayah pikir, rahim Sonya yang diangkat karena dia menderita kanker rahim adalah kenyataan paling buruk yang harus mereka terima, tapi ada hal lebih buruk lagi yang terjadi. Selama ini Sonya berselingkuh. Dia beralasan selalu gagal memiliki anak karena Haikal tidak becus membuahinya. Alasan lainnya karena Ibumu terus mendesak agar mereka segera memiliki anak. Desakan itu lah yang akhirnya membuat Sonya mengambil jalan salah dengan berselingkuh, berharap dia segera hamil kembali dan bisa mengakui anak itu sebagai anaknya dan Haikal. Tapi sayang, bersamaan dengan perselingkuhannya terungkap, Sonya juga harus kehilangan rahimnya akibat kanker yang ternyata sudah lama dia derita, bahkan sebelum menikah dengan Haikal."


Mutia terdiam kaku menerima informasi dari Ayah mertuanya. Sungguh, setelah mengikhlaskan apa yang terjadi dan berdamai dengan masa lalu, Mutia tak lagi menyimpan dendam pada Haikal maupun Sonya.


"Lalu bagaimana mereka sekarang?"


Hartono kembali menghela nafas berat. "Ayah juga tidak tahu bagaimana keputusan akhir mereka. Ibumu memaksa Haikal untuk menceraikan Sonya, tapi Haikal sendiri tidak ingin melakukannya. Apalagi setelah dia tahu bahwa ternyata hidupnya sudah tidak lama lagi."


Mutia membelalak. "Ma-maksud Ayah?"


Kali ini Hartono tersenyum getir. "Haikal menderita HIV."


"A-apa? Bagaimana itu bisa terjadi?"


"Setelah mengetahui tentang perselingkuhan Sonya, ditambah rahim istrinya yang diangkat, serta desakan Ibumu, membuat Haikal tertekan dan akhirnya terjerat narkoba. Haikal bilang dia baru tahu bahwa salah satu temannya yang memakai jarum suntik yang sama dengannya ternyata penderita HIV."


Melihat Mutia yang terdiam, Hartono tersenyum menenangkan sambil menepuk lembut pundak mantan menantunya.


"Ini adalah hari bahagiamu, tidak perlu memikirkan mereka. Mungkin ini adalah balasan dari Allah atas semua perbuatan buruk yang mereka lakukan terhadapmu."


Sebenarnya Mutia tidak terlalu memikirkan nasib Sonya dan Haikal, sebab apa yang terjadi sekarang adalah takdir Allah untuk mereka. Namun Mutia hanya mengasihani sang Ayah mertua yang saat ini pasti merasa sangat sedih kala mengetahui putra tunggalnya menderita penyakit mematikan.


...* * *...


"Mutia!"


Teriakan heboh itu tidak hanya berhasil menarik perhatian Mutia, namun juga Yudha yang sebelumnya tengah berbincang dengan rekan kerjanya, Eros. Pria yang memegang dealer cabang di Kalimantan dan menjadi momok bagi karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinannya.


Kembali pada sosok yang baru saja memanggilnya, Mutia menyipitkan mata saat mendapati seorang wanita tengah berjalan tergesa menghampirinya sembari menggandeng seorang anak laki-laki berusia tujuh tahunan, sementara di belakang wanita itu tampak seorang pria berkacamata dengan tubuh tinggi tegap.


"Akhirnya kalian nikah juga." sedetik tiba di hadapan Mutia, wanita itu serta merta memeluknya erat, tampak begitu akrab. Sementara Mutia, membalas pelukan wanita itu dengan dahi mengernyit bingung.


"Btw, selamat ya. Semoga langgeng terus sampai maut memisahkan." bersamaan dengan itu, wanita tersebut memberikan kotak hadiah pada Mutia.


Si pengantin wanita tersenyum canggung, sembari menerima hadiah itu. "Terima kasih."


"Ish, kok kaku banget sih, Mut. Kamu kayak baru pertama kali ketemu aku." ucapan wanita berparas cantik itu kian membuat Mutia mengerutkan dahi.


Sentuhan di lengannya membuat Mutia seketika mengarahkan tatapan pada suaminya.


"Kamu lupa? Dia Elma. Orang yang beli mobil melalui kamu." beritahu Yudha, lantas menyambut jabatan tangan dari suami Elma dan menyapa hangat anak laki-laki di samping wanita itu.


"Elma?" untuk beberapa detik Mutia berpikir, hingga di detik ketiga Mutia membulatkan mulutnya. "Yuk Elma? Ya Allah, maaf, Yuk, karena tadi tidak mengenali Ayuk. Abisnya sekarang Ayuk kelihatan beda dari pertemuan terakhir kita." sesaat Mutia memeluk Elma.


Memang setelah interaksi mereka saat Elma membeli mobil, mereka sudah tidak pernah bertemu lagi karena suami Elma dipindah tugaskan ke Medan, sehingga tentu saja Elma harus turut serta dengan suaminya.


"Ayuk apa kabar?"


"Baik, Mut. Kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah, Yuk. Aku juga baik-baik saja."


Pembicaraan keduanya terhenti saat mendengar suara pecahan gelas. Menoleh ke sumber suara, Mutia mendapati baju Yudha yang kotor dan Permata yang menunduk dengan pecahan gelas berada di dekat kakinya.


"Maaf, Om. Ata nggak sengaja nabrak Om dan buat baju Om basah." ujar putri sulung Arumi dengan nada lirih, merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Sayang." sembari tersenyum Yudha mengusap puncak kepala Permata, membuat gadis kecil itu mendongak. "Tapi Ata nggak boleh lari-larian lagi ya, nanti Ata jatuh."


Gadis kecil itu mengangguk.


"Terus Ata kenapa lari-lari di tengah banyak orang kayak gini?"


"Ilyas kejar Ata, Om. Tangannya kotor karena coklat, terus mau di lap ke bajunya Ata. Gaun Ata kan putih, nanti jadi kotor, Ata nggak mau di marahin Mama."


Yudha mengangguk-angguk pelan, lalu menoleh pada Mutia yang diam mengamati interaksinya dan Permata. "Aku ganti baju bentar ya."


Setelah Mutia mengangguk, pria dua puluhan itu menggandeng tangan Permata, mengajak serta gadis mungil itu untuk masuk ke rumah.


"Eh, Mut. Aku mau kasih tahu kamu sesuatu." tiba-tiba Elma mengeluarkan suaranya, mencuri perhatian Mutia.


"Kasih tahu apa, Yuk."


"Tentang rahasianya Yudha. Kamu mau tahu?"


Mutia mengangguk antusias.


"Sebenarnya waktu itu suami aku mau beli mobil langsung lewat Yudha, biar dapet potongan harga gitu. Tapi Yudha malah kasih brosur pada suamiku, dengan nomor hp kamu tertera di sana. Yudha bilang, kalau suamiku mau beli mobil lewat kamu saja dan kami akan tetap mendapat potongan harga."


"Ayuk serius?"


Elma mengangguk. "Tapi saat itu Yudha meminta kami untuk tidak memberitahu kamu tentang hal tersebut dan mengarang cerita seperti yang kukatakan padamu hari itu. Dan berhubungan sekarang kamu sudah menjadi istrinya, aku rasa kamu berhak tahu tentang hal ini. Bahwa Yudha sudah menaruh perasaan padamu, bahkan sejak perutmu masih dalam keadaan sangat besar."


...* * *...


Pukul empat sore semua tamu sudah meninggalkan kediaman Wak Agus, sehingga Mutia mulai menyiapkan barang-barangnya yang akan ia bawa ke rumah orang tua Yudha. Untuk sementara mereka memang akan menetap di rumah orang tua Yudha, sebelum kembali ke Bali karena pusat usaha Yudha berada di pulau Dewata tersebut.


Selagi memasukkan pakaian dan peralatan make up ke dalam koper, pintu kamarnya di ketuk dua kali, yang membuat Mutia seketika mengarahkan atensinya pada ambang pintu, hanya untuk mendapati sosok adik semata wayangnya tengah berjalan menghampirinya.


"Aku tidak menyangka secepat ini Ayuk akan kembali meninggalkanku." tiba di dekat ranjang, Faisal pun langsung mendudukkan tubuhnya disana.


Mutia tersenyum sembari mengacak gemas rambut Faisal, lalu duduk disamping adiknya. "Kamu takut aku akan melupakanmu seperti dulu?"


Faisal mengedikkan bahu tanpa mengeluarkan suara, namun itu sudah menjadi jawaban untuk Mutia bahwa adiknya sedang dilanda perasaan gelisah.


Meraih tangan Faisal, Mutia memberikan usapan lembut. "Aku tidak bisa berjanji untuk selalu menghubungi atau mengunjungimu, karena sebagai wanita yang sudah menikah, aku memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap suamiku. Tapi... jika kamu merindukanku ataupun Yusuf, kamu bisa datang kapan saja."


"Mas Yudha nggak akan keberatan?"


"Menikah denganku bukan berarti akan memutus hubungan Mutia dan keluarganya, Faisal."


Tidak hanya Faisal, Mutia pun ikut mengarahkan tatapan pada Yudha yang entah sejak kapan sudah berada di depan kamar dan kini berjalan menghampiri mereka dengan Yusuf berada dalam gendongannya.


"Menjadi istriku juga tidak akan mengubah hubungan persaudaraan di antara kalian." Yudha memberikan Yusuf pada Mutia, saat bayi tujuh bulan itu mengulurkan tangan pada sang Bunda. "Kau tetap adiknya, yang berhak untuk menemui Mutia kapapun kau mau. Lalu kenapa kau menanyakan hal itu?"

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin Mas Yudha merasa terganggu karena kedatanganku nantinya." ujar Faisal dengan suara pelan sembari beranjak dari duduk. Rasanya tidak nyaman saat ia duduk, sementara Mutia dan Yudha berdiri di hadapannya.


Tersenyum kecil, Yudha menepuk pundak Faisal. "Kalian sudah tidak memiliki orang tua, jadi Mutia hanya memilikimu sebagai keluarga dekat, mana mungkin aku merasa terganggu. Lagipula, adik Mutia, berarti juga adikku."


Faisal membalas senyum Yudha, sembari menghela nafas lega.


"Omong-omong, Mutia bilang kamu mau melanjutkan kuliah di UI."


"Iya, Mas." Faisal nyengir. "Tapi nggak lolos tes untuk mendapatkan beasiswa, jadi untuk sementara aku akan kerja dulu, ngumpulin uang."


Yudha tak langsung menanggapi ucapan Faisal, justru menghampiri lemari Mutia dan membukanya. Tak sampai tiga menit pria itu sudah kembali berhadapan dengan Faisal, kemudian menyodorkan sebuah map plastik pada adik iparnya.


"Itu formulir pendaftaran, segera kamu isi dan lengkapi berkas-berkasnya. Sisanya biar aku yang urus."


Segera saja Faisa membaca lembaran kertas yang berada di dalam map plastik tersebut. Dua menit kemudian ia menatap Yudha dengan raut syok.


"Mas serius masukin aku ke UI? Biayanya mahal loh, Mas. Bahkan Mas Yudha juga siapin rumah buat aku disana. Aku nggak mau ngerepotin Mas Yudha."


"Aku tidak memiliki adik, Faisal. Dan sudah kubilang, adik Mutia adalah adikku juga. Jadi apa salahnya jika aku membiayai sekolah adikku. Selain Mutia dan anak-anakku kelak, kau juga adalah tanggung jawabku, sampai kau bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri."


Faisal tak bisa menahan rasa haru. Bibirnya bergetar, jantungnya berdebar cepat, sementara matanya berkaca-kaca. "Te-terima kasih, Mas."


Sesaat Yudha menepuk bahu Faisal. "Ini tidak gratis, Faisal. Kamu harus membayarnya dengan keberhasilanmu. Kau bisa memenuhi ekspektasiku?"


Faisal mengangguk mantap penuh keyakinan. "Aku akan berusaha keras."


Kemudian lelaki tujuh belas tahun itu berpamitan pergi. Meninggalkan sepasang pengantin baru bersama Yusuf yang tengah mengoceh dengan bahasa bayi.


"Seharusnya Mas tidak perlu sampai melakukan hal itu. Aku masih bisa membiayai sekolah Faisal, meskipun hanya kuliah disini. Waktu itu aku bercerita pada Mas, bukan karena aku mau Mas membiayai kuliah Faisal."


Yudha tersenyum lembut pada istrinya. "Sama sepertimu yang ingin memberikan hal terbaik untuk adikmu, aku juga begitu. Apa kamu tidak menyukainya? Merasa tersinggung dengan apa yang kulakukan?"


Mutia menggeleng. "Aku justru berterima kasih sama Mas. Aku hanya tidak mau merepotkan Mas."


Kekehan geli Yudha terdengar. "Berhenti merasa tidak enak. Sekarang aku bukan orang asing lagi, aku suamimu. Keluargamu adalah keluargaku, begitu pula sebaliknya. Aku memperlakukan keluargamu dengan baik dan kuharap kamu melakukan hal yang sama pada keluargaku."


...* * *...


Usai makan malam, Mutia dan Yudha bersiap untuk pergi ke hotel yang menjadi hadiah tambahan dari Eros, selain tiket pulang pergi ke Jepang. Mereka akan menikmati pelayanan —khusus pengantin baru— terbaik dari hotel milik keluarga pria dingin berwajah tampan itu.


Sebenarnya Yudha tidak terlalu menginginkan hal itu, karena seharusnya mereka berkumpul dengan keluarga setelah resmi menjadi suami istri, bukannya menghabiskan tiga hari mereka di hotel. Namun seperti yang Mutia katakan, mereka harus menghargai niat baik Eros, jadilah sekarang mereka tengah berpamitan pada keluarga yang masih berkumpul di rumah Wak Agus. Sementara Sultan dan Arumi menawarkan diri untuk menjaga Yusuf selama tiga hari ke depan serta membawakan barang-barang mereka.


"Buktikan bahwa kau benar-benar jantan, Yud. Aku tunggu kabar kehamilan Mutia paling lambat dua bulan dari sekarang." tantang Sultan sembari tersenyum miring, membuatnya langsung mendapat pukulan kuat di lengan dari istrinya.


"Jangan omong aneh-aneh." tegur Arumi, lengkap dengan delikan sebal.


"Lihat saja, aku bahkan mampu membuat Mutia hamil dalam hitungan minggu." sahut Yudha dengan nada pongah.


Kali ini Mutia yang menyikut pinggang suaminya dengan wajah merah padam. "Pembicaraan macam apa ini?" keluhnya, yang langsung memancing gelak tawa.


"Yudha, hati-hati nyetirnya." pesan Wak Agus sembari merangkul istrinya.


"Iya. Jangan sok-sok hebat kayak pembalap pro, padahal amatiran." timpal Sekar disertai dengan cibiran.


"Mami dan Wak tenang saja. Istriku tercinta ini tidak akan lecet sedikitpun." kemudian keduanya memeluk bergantian semua keluarga yang berada di halaman rumah, sebelum masuk ke dalam mobil.


"Mas." Mutia membuka suara setelah mobil yang di kendarai Yudha meninggalkan kediaman Wak Agus.


"Kenapa, Sayang?" sekilas Yudha melirik Mutia, mengusap lembut pipi sang istri.


Mutia menyampingkan duduknya menghadap Yudha, sebelum kembali mengeluarkan suara. "Tadi Yuk Elma kasih tahu aku rahasia Mas."


"Rahasiaku?" mengalihkan sejenak tatapannya pada Mutia, Yudha menaikkan satu alis. "Emang aku punya rahasia?"


Mutia mengangguk-angguk. "Kata Yuk Elma, dia beli mobil lewat aku, karena Mas yang minta."


Yudha berdecak. "Elma benar-benar nggak bisa jaga mulut."


Mendengar gerutuan Yudha, Mutia terkekeh geli. "Apa saat itu Mas sudah menyukaiku?"


Gelengan kepala Yudha adalah jawaban, membuat Mutia merasa kecewa. "Terus kenapa Mas ngelakuin itu?"


"Hanya karena rasa peduli. Aku nggak tega biarin kamu luntang lantung cari kerjaan dengan kondisi hamil besar. Karena itu aku cari cara untuk membuat kamu tetap di BM tanpa menimbulkan kehebohan. Dan disaat aku butuh bantuan, suami Elma datang."


Menghadap ke depan, Mutia menekuk wajah. "Terus kapan Mas jatuh cinta padaku? Katanya setelah nikah bakal kasih tahu. Sekarang kita udah nikah, loh."


"Tapi malam pengantinnya belum kan?" Yudha mengerling, membuatnya mendapat cubitan dari Mutia di lengannya.


"Mas, aku nanya serius."


"Iya, iya. Ya Allah, galaknya istriku." dengan gemas Yudha mencubit pipi Mutia. "Saat kamu melahirkan."


"Hah?" Mutia kembali duduk menghadap Yudha. "Maksudnya Mas jatuh cinta sama aku waktu lahirin Yusuf?"


Yudha mengangguk. "Waktu aku temenin kamu lahiran, genggam tangan kamu, dengar suara teriak kesakitan kamu, merasakan tubuhmu yang mendingin dan melihat wajahmu yang pucat pasi, aku merasa ketakutan. Aku takut tangan yang kugenggam melunglai, aku takut nafasmu yang tersengal tak lagi kudengar, aku juga takut tak bisa melihat mata indahmu lagi. Saat itu aku menyadari, bahwa aku menginginkanmu lebih dari apa yang selama ini aku pikirkan."


Sesaat Yudha tersenyum sebelum melanjutkan. "Awalnya kupikir aku hanya menaruh rasa iba padamu, tapi ternyata perasaanku tidak sesederhana itu. Lalu saat kamu berhasil melahirkan Yusuf dan mendengar suara tangisannya, saat itulah aku tahu apa yang kuinginkan. Aku ingin kamu dan Yusuf menjadi bagian dari hidupku. Setelah hari itu, aku selalu membayangkan tentang sebuah pernikahan, aku dan kamu, serta sebuah keluarga dengan keriuhan anak-anak kita."


Mutia berkaca-kaca. Mendekat pada Yudha, Mutia merengkuh lengan pria itu dan menyandarkan kepalanya di pundak. "Seharusnya Mas bilang kalimat seromantis tadi saat melamarku."


"Well, aku menunggu waktu yang tepat. Ungkapan romantis sebelum malam pengantin akan membuat suasana lebih mendukung." dikecupnya puncak kepala Mutia sembari mengulum senyum. Disaat bersamaan Mutia mencubit gemas perutnya.


"Mas mengantuk?" tanya Mutia saat mendongak dan menemukan Yudha tengah menutup mulutnya yang menguap.


"Entahlah. Tiba-tiba saja aku merasa mengantuk."


Menegakkan duduk, Mutia menatap Yudha dengan lekat. "Minggir dulu, deh. Di depan ada warung, Mas bisa cuci muka sekalian minum kopi."


"Nggak usah, Mut. Lagian udah deket. Aku masih tahan, kok. Sepuluh menit lagi kita juga sampai." ujar Yudha sambil kembali menguap.


"Tapi..."


Sejujurnya Mutia merasa khawatir, namun ia tidak mau mengganggu konsentrasi Yudha dengan kepanikannya. Karena itu Mutia memilih diam, meski raut tegang tampak jelas di wajahnya, tatkala tangannya yang berada di atas pangkuan saling meremas gelisah.


Disamping Mutia, Yudha kembali menguap sembari menggelengkan kepalanya berulang kali, berharap cara itu bisa menghilangkan rasa kantuknya. Namun yang terjadi pandangannya justru memburam dan kantuknya kian tak tertahankan. Yudha nyaris kehilangan kesadarannya, jika suara klakson yang nyaring tidak mengagetkannya.


Ketika pandangan Yudha mulai jelas, matanya membelalak saat mobil yang ia kendarai berada di jalur yang salah, sementara dihadapannya terlihat sebuah mobil melaju tak terkendali. Menoleh panik pada Mutia, ia menemukan istrinya duduk tengang dengan wajah pucat pasi, namun tak ada teriakan yang keluar dari sela bibirnya yang digigit kuat.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Yudha melepaskan setir mobil dan bergerak cepat melindungi tubuh mungil Mutia dengan tubuhnya, tepat saat mobil yang mereka tumpangi di hantam dengan kuat.


__ADS_2