
Setelah malam itu Yudha tak pernah datang lagi untuk menemui Yusuf, bahkan pria itu menuruti saran pak RT dengan menugaskan orang kepercayaannya —yang tentu saja seorang wanita— untuk memeriksa kondisi rumah yang saat ini ia tinggali.
Ada kelegaan yang Mutia rasakan, karena selain tak perlu lagi menerima kecaman buruk dari para tetangga, keputusan Yudha yang tidak pernah datang lagi membuat Mutia memiliki pertahanan terakhir untuk tidak semakin jatuh hati pada pria itu.
Mutia menyadari perasaannya untuk Yudha, setelah semua yang pria itu lakukan dan bagaimana pria itu memperlakukannya, mana mungkin Mutia pada akhirnya tak memiliki perasaan lebih untuk Yudha. Biar bagaimana pun, ia hanyalah seorang manusia yang begitu mudah tersentuh hatinya.
Namun disisi lain, tak bertatap wajah secara langsung dengan Yudha sejak kejadian malam itu, membuat perasaannya tak nyaman. Ada rasa gelisah menahan rindu, juga kecewa, karena keputusan Yudha yang memilih untuk menjauhinya dan Yusuf. Mutia tak tahu apa yang ia inginkan, semuanya terasa... serba salah.
"Mutia, kok kamu udah masuk kerja, sih?" Keyla menyambut kedatangan Mutia di lobi kantor dengan raut bingung.
Demi melegakan hatinya yang menahan rindu menyesakkan dada, Mutia memutuskan untuk mengakhiri masa cutinya lebih cepat.
"Yah... karena aku butuh uang, Key." dengan tak acuh Mutia melangkahkan kaki, sementara Keyla menyajarkan langkah.
"Mut, melahirkan secara normal aja butuh waktu lama untuk pemulihan, apalagi kamu yang melalui operasi caesar. Lagipula... perusahaan memberi waktu dua bulan untuk cuti melahirkan. Lah, kamu... satu bulan aja belum. Gimana kalau jahitan kamu terbuka? Kan bahaya, Mut. Terus itu anak kamu dimana? Kok nggak kamu bawa?" tergopoh Keyla mengikuti Mutia yang masuk ke dalam lift dan tanpa membuang waktu menekan tombol angka dua.
"Kalau aku, sih, dapet masa cuti selama dua bulan, bakal aku manfaatin liburan itu sampai merasa bosan." sambungnya disertai dengan cengiran lebar.
"Itu karena kamu tidak terlalu membutuhkan uang, Key." sahut Mutia, tanpa menoleh pada wanita disampingnya. "Kamu masih sendiri, punya Ibu dan seorang kakak laki-laki, yang tidak akan keberatan memberimu sedikit uang untuk sekadar membeli make up. Sementara aku, aku seorang janda, punya adik yang masih sekolah dan butuh biaya besar, apalagi sekarang aku juga sudah punya anak, yang meski masih bayi, namun keperluannya cukup banyak."
"Mutia, maaf." Keyla merasa tak enak hati. "Aku... hanya khawatir padamu."
Menoleh pada Keyla, Mutia mengulas senyum lebar nan hangat. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku dan aku janji akan baik-baik saja, Key."
Keyla mengangguk dengan raut muram. "Tapi kamu tidak boleh terlalu lelah atau mengangkat barang yang berat. Aku tidak ingin kamu balik ke rumah sakit karena benang jahit yang putus."
"Siap, bos." Mutia mengedipkan satu matanya, kemudian tertawa renyah bersama Keyla.
"Oh iya, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu tidak mengajak Yusuf?"
Mutia menggeleng. "Usianya belum genap satu bulan, Key, jadi aku tidak bisa membawanya keluar rumah. Jika kulakukan, Yusuf pasti akan dengan mudah terserang penyakit."
"Lalu... dimana Yusuf?"
Lift berdenting, kedua wanita yang mengenakan seragam khusus sales Barata Mobilindo itu melangkah keluar bersamaan. Dan sebelum Mutia menanggapi pertanyaan Keyla, langkah mereka terhenti karena kemunculan Fajar yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan mereka, menghalangi jalan.
"Mut, ke ruangan bos sekarang."
Ucapan Fajar membuat Keyla seketika menoleh pada Mutia. "Pasti bos udah lihat kamu dari kamera cctv di lobi. Buruan ke ruangannya sana, aku yakin bos mau marahin kamu karena udah masuk sebelum masa cuti berakhir."
Mutia tak mendengarkan ucapan Keyla. Saat ini ia tengah sibuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup kencang, karena sebentar lagi ia akan bertemu Yudha. Pria yang beberapa waktu terakhir hanya bisa ia lihat dari balik layar ponsel, ketika pria itu melakukan video call untuk berinteraksi dengan putranya.
Oh jantung, tenanglah. Aku tidak ingin melakukan hal bodoh yang memalukan karena ulahmu.
__ADS_1
"Mutia," sentak Keyla sembari menggoyang tangan Mutia, membuat sang empu terkejut dan memberinya tatapan linglung. Keyla berdecak. "Malah melamun. Buruan, jangan buat pak bos makin marah, karena terlalu lama menunggumu."
...* * *...
"Mas Yudha memanggilku." ujarnya.
Pemilik manik kelam yang tengah sibuk dengan laptop-nya kini mengarahkan atensi pada Mutia. Sikunya menumpu pada meja, tatkala kedua belah tangannya bertautan di depan wajah. Menatap Mutia dengan tajam dan intens.
"Apa ini, Mutia? Kamu masuk kerja sebelum waktunya." kemudian menyandarkan punggung dengan tangan terlipat dibawah dada
"Aku mengeluarkan peraturan berupa cuti untuk wanita yang baru saja melahirkan selama dua bulan, bukan tanpa alasan, Mutia. Butuh waktu lama untuk pemulihan setelah melahirkan, aku tahu itu, karenanya aku memberikan ijin cuti. Sementara kamu sudah masuk kerja, disaat luka jahitanmu bahkan belum kering. Apa kamu mau aku dipandang sebagai bos yang kejam, karena memperkerjakan pegawainya yang bahkan baru saja melahirkan. Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"
Seperti dugaan Keyla, Yudha benar-benar marah besar padanya. Pria itu bahkan mengomelinya seolah ia adalah gadis kecil yang nakal, yang secara sembunyi-sembunyi memakan permen, padahal sudah berulang kali dilarang.
Namun bukannya merasa ketakutan, Mutia justru tersenyum dalam tundukkan kepalanya, merasa aneh karena ia begitu senang melihat wajah datar Yudha saat marah ataupun suara berat pria itu yang tidak lelah mengomelinya.
"Maaf."
Hanya begitu saja, sebab ia takut bila bicara terlalu banyak ia akan lepas kendali dan tak bisa menahan diri untuk mengulas senyum lebar. Hal itu tentu akan membuat Yudha kian berang karena berpikir ia tengah mengolok pria itu.
"Ya Tuhan, Mutia. Aku bicara panjang lebar dan kamu hanya menganggapinya dengan empat kata saja? I can't belive it." dengan gemas Yudha menyugar rambut, kemudian tawa gelinya terdengar, menarik perhatian Mutia untuk menatap pemilik suara tawa renyah itu.
"Dasar pembangkang." cibir Yudha dengan nada ketus, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang berkilat geli.
Bukan karena kemarahan pria itu, namun karena keinginan lancang yang muncul dalam dirinya, yang mendesaknya untuk memeluk Yudha, melepaskan rindu yang tak terungkap.
"Jika aku terlalu lama libur, artinya aku tidak akan mendapatkan gaji, sementara aku membutuhkan uang. Lagipula... aku merasa sudah sangat sehat, meskipun jahitanku belum kering."
"Ahh... betapa keras kepalanya wanita ini." kemudian Yudha mendengus. "Baiklah, sepertinya apapun yang aku katakan selalu saja mendapat jawaban darimu, jadi aku tidak akan melarangmu bekerja, dengan syarat... jika terjadi sesuatu yang membuat kondisimu memburuk, maka aku akan meliburkanmu selama tiga bulan penuh."
"Tidak ada bantahan!" putus Yudha dengan nada tegas saat melihat Mutia membuka mulut, bersiap untuk kembali mendebatnya.
"Baiklah." Mutia melemaskan bahu dan bertekat untuk berhati-hati agar selalu baik-baik saja.
"Omong-omong, dimana Yusuf? Aku sangat merindukannya dan ingin sekali menggendongnya. Apa beratnya sudah bertambah?"
"Yusuf dirumah, Mas."
"Hah? Dirumah? Dengan siapa?" alis Yudha bertaut.
"Emm... itu," Mutia merasa ragu untuk mngatakannya, karena entah mengapa ia merasa jawabannya akan membuat Yudha kembali marah besar.
"Itu apa, Mutia?" kali ini Yudha memicingkan matanya curiga.
__ADS_1
Mutia memejamkan matanya sejenak, menghela nafas sebelum menjawab.
"Aku menyewa jasa babysitter harian, Mas."
"Babysitter?" Yudha membeo. "Kamu mengenal babysitter itu?"
Mutia mengangguk. "Tapi tidak secara personal."
"Maksudmu?"
"Ak-aku mengenalnya hanya dari biodata yang tercantum dalam web mereka."
"Web? Web apa, Mutia? Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraanmu."
"Itu, Mas. Aku menyewa babysitter lewat situs online." suara Mutia mencicit diakhir kalimat.
"Apa?!"
Mutia memejamkam mata saat Yudha berteriak di depannya dengan wajah merah padam dan raut syok.
"Kamu menyewa orang tidak dikenal untuk mengasuh, Yusuf? Ya Tuhan, Mutia! Apa yang kamu pikirkan saat melakukan itu, hah? Apa kamu tidak berpikir hal buruk bisa saja terjadi, seperti pengasuh itu menculik Yusuf, misalnya."
Mutia membelalakkan mata. Jujur saja, perkataan Yudha itu sama sekali tidak terpkirkan sebelumnya. Dan sekarang Mutia merasa panik.
"Ba-bagaimana ini, Mas?" ujarnya dengan nada cemas yang begitu kentara.
Yudha mencoba untuk tenang. "Apa kamu memegang kartu identitasnya? Atau paling tidak, mengambil gambar wajah pengasuh itu?"
Sembari menggigit bibir, Mutia menggelengkan kepalanya.
"Ta-tapi aku punya nomor ponselnya, Mas."
"Kalau begitu segera hubungi pengasuh itu."
Mutia mengangguk dan melakukan perintah Yudha. Helaan nafas lega keluar dari sela bibirnya saat panggilan telponnya di angkat.
"Ada jawaban?" Yudha bertanya dengan nada berbisik dan Mutia menanggapinya dengan anggukan kepala. Setelah memastikan kondisi Yusuf baik-baik saja, Mutia mengakhiri panggilan.
"Kita pulang sekarang. Aku akan memberikan pengasuh terpercaya untuk Yusuf. Dan sesampainya dirumah, kamu harus segera memecat pengasuh itu."
Hati Mutia terasa menghangat. Entah karena perhatian Yudha atau karena kata pulang yang terdengar seperti mereka tinggal satu rumah, layaknya suami dan istri.
Oke, Mutia. Hentikan pemikiran mustahil itu!
__ADS_1