Untuk Mutia

Untuk Mutia
Diculik


__ADS_3

Kalau yang like lebih dari 70 hari ini aku post dua bab sekaligus 😜


Happy reading 😉


...****************...


"Aku masih sulit untuk memercayai kamu bisa mendapat ijin dari Yudha semudah itu. Kupikir butuh waktu lebih dari setengah jam untuk kamu bicara dengan calon suamimu, tapi ternyata dalam lima belas menit kita sudah duduk direstoran ini."


Tanpa menghentikan aktifitasnya yang tengah membolak-balik daging sapi di atas panggangan, Mutia melirik Ghifar sembari mengulum senyum. Pria itu tampak senang bermain dengan Yusuf yang berada di atas pangkuannya.


"Ya, aku bersyukur calon suamiku bukanlah pria yang posesif. lucky me." ujarnya dengan nada riang, membuat Ghifar mendengus.


"Apa kamu sedang menyindirku?"


Mengingat dulu saat mereka masih sepasang kekasih, Ghifar cukup posesif terhadap Mutia. Kemanapun dan dengan siapapun Mutia pergi, gadis itu harus memberitahunya atau mereka akan bertengkar karena Ghifar berpikir Mutia mengkhianatinya. Itulah kenapa saat mereka menjalani long distance relatioship, mereka sangat sering bertengkar karena hal sepele, namun meskipun begitu, Ghifar tidak pernah ingin hubungan mereka berakhir.


Mau bagaimana lagi, Ghifar sulit untuk jatuh cinta, maka saat ia merasakannya, Ghifar akan menjaganya dengan sepenuh hati, bahkan cenderung terlalu berlebihan.


"Ahh." Mutia menutup sekilas mulutnya dengan dramatis, tatkala matanya membelalak. "Kakak merasa tersinggung?"


"Dasar!" tersenyum gemas, Ghifar mengulurkan tangannya untuk mencubit kuat pipi kanan Mutia, sebuah kebiasaan yang tidak pernah berubah setiap kali Ghifar merasa gemas, membuat wanita dua puluh tiga tahun itu meringis sakit dan mencebikkan bibir.


Tawa renyah Ghifar mengalun merdu saat melihat Mutia yang menekuk wajah, kesal.


"Mut?"


Karena sedang mengunyah makanan, Mutia hanya menanggapi panggilan Ghifar dengan gumaman pelan.


"Aku senang akhirnya kita bisa kembali duduk berhadapan seperti ini, saling bicara dan melemparkan lelucon garing." Ghifar menatap lekat, tatkala bibirnya mengulas senyum.


Menghentikan makannya, manik hitam Mutia menunjukkan sorot bersalah. "Maaf, kak, seharusnya aku memberitahumu dari awal dan bukannya menghindarimu."


"Tidak, Mutia. Aku memaklumi sikapmu. Kamu melakukan itu semua untuk menjaga perasaanku." lembut Ghifar menepuk dua kali puncak kepala Mutia, membuat wanita dihadapannya kembali tersenyum. "Aku justru berterima kasih padamu. Jika kamu mengatakannya dulu, aku pasti tidak akan sebijak beberapa waktu lalu saat mengetahui kebenarannya, mengingat dulu aku belum cukup bisa mengendalikan emosiku."


Mutia mendesah pelan. "Ahh... sekarang rasanya begitu lega. Aku tak perlu lagi menjaga jarak dengan kakak dan kita bisa mengenang masa lalu tanpa rasa sakit lagi."


Ghifar membalas senyum Mutia, meskipun kenyataannya kini Ghifar merasakan hatinya bak disayat sembilu. Terluka, namun tak berdarah. Memang benar ia akan berusaha untuk menganggap Mutia tak lebih dari sekadar adiknya, tapi bukan berarti ia bisa membunuh perasaan cinta itu dengan mudah.


Jika mencintai Mutia hanya butuh waktu beberapa bulan saja, untuk berhenti mencintai Mutia ia bahkan tidak mampu meski sudah hitungan tahun berlalu.


"Oh iya. Omong-omong, sudah berapa persen persiapan pernikahan kamu?"


Lihatlah, bukankah Ghifar adalah manusia yang bodoh dan pintar di saat bersamaan? Ia begitu bodoh karena telah menanyakan hal yang pasti akan menyakitinya dan begitu pintar menyembunyikan perasaannya, berlaga seolah ia baik-baik saja.


"Udah 60%, kak. Sekarang aku sama Mas Yudha lagi cari gedung untuk acara resepsi. Nyari yang harganya terjangkau, lumayan susah." Mutia nyengir lebar, menampakkan gigi putihnya.


"Gedung?"


Mutia mengangguk.

__ADS_1


"Aku punya teman yang berkeja di tempat penyewaan gedung serba guna. Kalau kamu mau, aku bisa bantu hubungin mereka. Dan masalah harga, aku akan minta mereka kasih harga khusus. Bagaimana?"


"Beneran, kak?"


"Iya, dong. Apa sih, yang nggak buat adikku ini." tak bisa menahan diri, Ghifar kembali mencubit pipi Mutia, memancing ringisan keluar dari cela bibir ibu satu anak itu.


...* * *...


"Kamu yakin gedung ini?" sesaat Yudha melirik Mutia yang duduk disampingnya, sebelum kembali menatap gedung serba guna berwarna putih yang ada di hadapan mereka. "Bukannya waktu itu kamu bilang semua paketnya mahal-mahal?"


Yudha bukannya tidak mampu untuk menyewa gedung tersebut atau bahkan gedung yang lebih mahal lagi, namun Mutia yang tidak setuju mengeluarkan banyak uang untuk menyewa gedung. Mutia beralasan, daripada uangnya untuk membayar gedung mahal-mahal, lebih baik uangnya disisihkan untuk anak panti. Lebih berkah, katanya. Tapi sekarang, mereka justru berda di depan gedung keempat yang Mutia tolak beberapa minggu lalu.


"Ya soalnya kak Ghifar udah minta harga khusus buat kita." menatap Yudha sembari tersenyum, Mutia mengajak pria itu keluar dari mobil. Sesaat Mutia membuka pesan masuk di ponselnya, sebelum menoleh pada Yudha yang sudah berdiri disampingnya.


"Kak Ghifar bilang, temannya sudah menunggu kita di dalam."


Yudha mengangguk, kemudian mereka melangkah bersisian menaiki beberapa undakan tangga, hingga akhirnya mereka tiba di dalam gedung tersebut dan langsung disambut oleh senyum ramah seorang pria bertubuh tinggi tegap yang mengenakan setelan berwarna abu-abu.


"Mutia," pria itu berseru riang dan meraih tangan Mutia untuk berjabatan. "Senang bertemu lagi denganmu. Bagaimana kabarmu?"


Ucapan pria itu membuat Mutia mengernyit. Sekilas ia menatap Yudha yang tengah menatapnya dengan alis terangkat dan sorot bertanya; kamu kenal dia? Yang Mutia tanggapi dengan mengedikkan bahunya.


Melihat Yudha dan Mutia yang tampak bingung, pria itu terkekeh geli sembari melepaskan jabatan tangannya dengan Mutia dan beralih menjabat tangan Yudha sesaat.


"Aku salah satu sahabat Ghifar. Ya, meskipun Ghifar punya banyak teman, tapi cuma kami berdua yang tahan berteman dengan pria emosional seperti Ghifar." pria itu memberi clue, namun Mutia hanya mengernyitkan dahi. "Kamu mungkin lupa. Kita juga sudah lama tidak bertemu. Kalau tidak salah, pertemuan terakhir kita waktu sama-sama mengantar Ghifar ke sekolah penerbangan." tambahnya.


Mata Mutia membelalak saat ia berhasil mengingat sosok pria berkarakter ceria dan konyol yang ia kenal bertahun-tahun lalu. "Kak... Zhafran, kan?" ujarnya, dengan nada sedikit ragu.


Mutia tertawa pelan. "Kakak masih sama seperti dalam ingatanku. Lucu dan sedikit... menyebalkan." ungkapnya jujur, membuat Zhafran mencebikkan bibir, namun ikut tertawa.


"Kamu juga masih sependek dalam ingatanku, bahkan sekarang makin pendek. Kalau dulu kamu setinggi leher aku, sekarang cuma setinggi dadaku. Mutia, apa pertumbuhanmu berhenti di SMK kelas sepuluh?" oloknya sembari tertawa pongah.


Mutia mendengus, memilih untuk tidak menanggapi ejekan Zhafran. "Oh iya, kak. Kenalkan, ini calon suami aku. Namanya Yudha." bersamaan dengan itu Mutia menyentuh sekilas lengan pria disampingnya. "Dan, Mas Yudha, ini kak Zhafran. Sahabat kak Ghi dari sekolah menengah."


Yudha tersenyum kecil pada Zhafran sebagai salam sapaan, yang ditanggapi serupa oleh pria bersetelan rapi di depannya.


"Mengingat masa lalu, kupikir kalian akan berakhir bersama. Dulu banyak yang bilang kalian pasangan serasi. Karena selain wajah kalian yang mirip, alasan lainnya orang-orang berpikir kalian akan menikah di masa depan karena Ghifar yang begitu mencintai kamu. Tapi ternyata sekarang kamu justru berada disini untuk menyewa gedung, bersama pria lain yang berstatus calon suamimu."


Sesaat Mutia menatap Yudha dan mendapati pria itu sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Zhafran. Yudha masih tetap memasang senyum ramah, bersikap tak acuh, membuat Mutia merasa lega. Ia tak mengerti kenapa Zhafran tiba-tiba membahas masa lalunya dan Ghifar, padahal saat ini ia tengah bersama calon suaminya.


Sembari tersenyum canggung, kemudian Mutia menjawab dengan bijak. "Sebagai manusia kita hanya bisa berencana, sementara Allah-lah yang menentukan segalanya. Aku dan kak Ghi tidak berjodoh sebagai pasangan, melainkan sebagai saudara."


Zhafran mengangguk-angguk. "Sayang sekali, pria sebaik Ghifar, ya meskipun dia sedikit posesif, harus merasakan kekecewaan untuk kedua kalinya. Dulu karena kamu menikah dengan Haikal, sekarang kamu akan menikah dengan pria lain lagi. Dia sempat memiliki harapan bisa mendapatkanmu kembali, setelah mengetahui bahwa kamu dan Haikal berce..."


"Maaf, kak. Apa kita bisa membahas tentang sewa gedung sekarang? Soalnya aku dan Mas Yudha juga harus balik ke tempat kerja." potong Mutia dengan terburu-buru, takut Zhafran menyelsaikan ucapannya.


Dan hal itu membuat Zhafran menatapnya dengan mata memicing curiga.


"Baiklah." jawabnya. "Kalian mau lihat paketnya? Aku memberikan potongan 15% untuk paket manapun yang kalian pilih." bersamaan dengan itu Zhafran menyodorkan sebuah katalok pada Mutia.

__ADS_1


Padahal kenyataannya Ghifar yang akan membayar 15% itu. Aku tidak tahu Ghifar sebenarnya bodoh atau dungu. Sudah tahu Mutia akan menikah dengan pria lain, dia justru dengan suka rela membantu biaya sewa gedung. Entah aku harus tertawa atau merasa kasihan pada Ghifar. Zhafran membatin.


Disaat Mutia dan Yudha tengah memerhatikan katalok, suara dering ponsel memecah fokus mereka. Dengan segera Mutia merogo tas tangannya, lalu mengeluarkan ponsel yang berbunyi nyaring.


"Dari Kavira." beritahu Mutia pada Yudha. "Aku jawab telpon dulu ya, Mas." pamit Mutia, kemudian sedikit menjauh setelah mendapat anggukan dari Yudha.


"Kenapa, Vir?" tanya Mutia usai mengucap salam.


"Kamu lagi dimana, Mut?" suara Kavira diseberang telpon terdengar... panik dan khawatir.


"Lagi ngelihat gedung tempat untuk resepsi. Kenapa?"


"Bawa Yusuf?"


"Nggak. Yusuf sama mbah dirumah. Kenapa, sih, Vir? Jangan buat aku penasaran, deh."


"Apa? Kamu nggak bawa Yusuf? Astaghfirullah, Mutia. Pulang, sekarang!"


"Tapi kenapa, Vir? Apa yang terjadi?"


"Tadi aku nggak sengaja ketiduran dan lihat Yusuf. Seseorang bawa Yusuf, Mutia. Aku tidak tahu siapa, karena posisinya membelakangiku. Tapi melihat dari postur tubuhnya, orang itu laki-laki."


"Ka-kamu serius, Vir?" Mutia mulai tertular kepanikan Kavira.


"Aku tidak mungkin menjadikan hal sepenting ini sebagai candaan, Mutia. Kamu harus pulang sekarang. Perasaan aku tidak enak."


Setelah mengatakan ia akan segera pulang, Mutia mengakhiri panggilan dan bergegas menghampiri Yudha. Dengan panik dan juga khawatir Mutia memberitahu apa yang Kavira katakan. Namun berbeda dengan Mutia, Yudha menanggapi kepanikan calon istrinya dengan seulas senyum dan mengusap pelan puncak kepala Mutia.


"Tenang, Mutia. Itu hanya mimpi Kavira."


"Mas nggak tahu. Vira itu punya keistimewaan. Apa yang ada didalam mimpinya, sering kali terjadi. Ayo kita pulang, Mas."


"Tapi gedungnya belum deal. Kita juga udah buat Zhafran menunggu." Yudha melirik Zhafran yang sejak tadi diam mengamati.


Mutia tidak peduli apapun. Sekarang yang ia inginkan hanya secepatnya pulang ke rumah pemberian Yudha yang sejak seminggu lalu ia tinggali bersama Yusuf dan mbah Sriti.


"Mutia, kamu harus tenang."


Tapi Mutia sama sekali tidak mendengarkan Yudha. Wanita itu kian merengek minta pulang dengan berderai air mata.


Memegang pundak Mutia, Yudha memaksa wanita itu untuk memaku atensi padanya. "Kamu tenang dulu. Aku akan hubungi mbah untuk memastikan keadaan Yusuf, oke?"


Dengan berat hati Mutia menganggukkan kepalanya.


Yudha menghela nafas lega saat berhasil membuat Mutia sedikit tenang, kemudian ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi mbah Sriti. Namun belum juga ia melakukan panggilan, ponsel Mutia kembali berdering, menarik perhatiannya.


"Mbah telpon." gumam Mutia, yang masih bisa Yudha dengar, lantas segera menjawab panggilan itu. "A-ada apa, mbah?"


Jika sebelumnya Mutia merasa panik dan khawatir, kini ia merasa begitu ketakutan dan seperti kehilangan jiwanya. Apa yang mbah Sriti katakan sukses membuat Mutia gemetar, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya kehilangan keseimbangan, hingga nyaris terjatuh andai saja Yudha tidak dengan sigap menahannya.

__ADS_1


"Ada apa?" Yudha bertanya setelah Mutia menjauhkan ponsel dari telinganya.


Mendongak, Mutia menatap Yudha dengan mata berkaca-kaca. "Yu-Yusuf, Mas. Yusuf diculik." sedetik kemudian tangis Mutia pecah.


__ADS_2