Untuk Mutia

Untuk Mutia
Pria kurang micin


__ADS_3

Mendapat pengabaian dari suaminya, lagi. Lamia menghela nafas pelan, lantas dengan lelah menjatuhkan bokong di atas kursi. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, tepatnya seminggu yang lalu, ia merasakan perubahan pada diri suaminya. Azril selalu bersikap tak acuh dan tak pernah lagi bicara dengannya. Setiap kali ia mengajak bicara, pria itu hanya mengangguk, menggeleng atau berdehem sebagai tanggapan.


Pekerjaan yang semakin banyak dan membuatnya harus rela tetap bekerja di hari libur, serta intensitas pertemuan mereka untuk bertatap wajah hanya pada saat pagi hari, membuat hubungan mereka kian merenggang, karena tak kunjung ada penyelesaian. Namun Lamia sudah bertekad, sabtu nanti ia harus mendapatkan waktu liburnya dan mengajak Azril bicara untuk menyelsaikan masalah diantara mereka.


Lalu bagaimana jika Azril kembali memintamu berhenti bekerja, Lamia?


Bisikan batinnya membuat Lamia diserang perasaan ragu, hingga Lamia memutuskan untuk kembali mengulur waktu. Ia akan mengajak Azril bicara, setelah ia mendapatkan keputusan atas pekerjaannya. Apakah tetap lanjut atau berhenti sesuai keinginan Azril.


"Mutia."


Panggilan itu tidak hanya membuat pemilik nama menoleh pada Azril, namun juga Lamia yang kini menatap suaminya dengan satu alis terangkat, lalu melirik Mutia yang berdiri di hadapannya.


"Hari ini jadwal kamu check up kandungan, kan?" Azril menyilangkan peralatan makan, setelah menandaskan nasi goreng yang menjadi sarapannya pagi ini.


Mutia menatap sekilas pada Lamia, sebelum menanggapi ucapan Azril.


"Iya, A'. Jam sepuluh nanti."


"Jam sepuluh ya? Nanti aku sempatkan pulang untuk menemanimu check up." meraih cangkir kopi, Azril menatap Mutia dari sela cangkir.


Mutia membelalak, sementara Lamia tersedak ludah. Dengan kikuk Mutia menatap Lamia, merasa tak enak hati.


Bagaimana mungkin Azril berusaha menyempatkan waktu untuk menemaninya check up kandungan, padahal itu bukanlah kewajiban Azril, sedangkan pria itu justru mengabaikan Lamia yang jelas-jelas adalah istrinya dan lebih berhak mendapat perhatian darinya.


Mutia menyadari ada yang tidak beres diantara Azril dan Lamia. Selama satu minggu ini ia memerhatikan interaksi keduanya yang sudah seperti orang asing. Dan bukan keputusan bijak jika ia menyetujui ucapan Azril, yang ada justru akan menimbulkan kesalahpahaman serta membuat jarak diantara pasangan suami istri itu semakin jauh. Mutia tentu tidak ingin menjadi salah satu alasan dari pertengkaran mereka.


"Tidak perlu, A'. Aku..."


"Dia bisa pergi sendiri." Ghifar yang baru saja muncul di ruang makan, menyela ucapan Mutia. Pria itu menarik kursi di dekat Mutia, mendudukan tubuhnya, lalu meminta wanita hamil mengisi piringnya. "Lagipula... Mutia hanya pembantu di rumah ini, bukan istri Aa, yang membuat Aa sampai harus ijin keluar kantor hanya untuk menemaninya periksa kandungan."


Ucapan Ghifar berhasil membuat atmosfer di ruang makan terasa semakin tidak nyaman. Pria itu sukses menciptakan kecanggungan karena perkataannya yang seolah bermakna; Mutia adalah istri Azril, bukannya Lamia.


Azril berdehem kikuk, lalu meraih tas kerjanya yang berada di lantai, sebelum beranjak dari duduk. "Aku pergi." manik hitamnya tertuju pada Mutia. "Kamu hati-hati. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku."


"Lalu Aa akan segera datang untuk Mutia?" sela Ghifar, tanpa mengarahkan atensinya pada Azril. "Bukankah kata-kata itu seharusnya Aa tujukan pada Teh Lamia?"


Mengabaikan sindiran Ghifar, Azril melenggang pergi. Meninggalkan Mutia yang kini berdiri canggung sembari meremas jemarinya yang saling bertaut. Apa yang Azril lakukan tadi, membuatnya merasa tak enak hati pada Lamia.


"Mutia, nanti tolong bersihkan kamar mandi di kamarku, ya. Lantainya sudah licin dan berlumut." ujar Lamia, memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta karena ulah Ghifar beberapa saat lalu. "Sekalian, bak mandinya juga di bersihkan."


"Aku akan meminta Mang Diman untuk membersihkannya." Ghifar yang menanggapi ucapan kakaknya, sembari menyebutkan nama pria lima puluhan yang tinggal di belakang komplek perumahan dan jasanya biasa mereka pakai untuk memotong dahan pohon di halaman depan.


"Loh, kenapa?"


"Teteh lupa, Mutia lagi hamil. Kalau dia disuruh bersihin kamar mandi, terus kepeleset, pendarahan, nanti malah membuatku repot, karena hanya aku yang bersamanya di rumah." dengan sinis Ghifar melirik Mutia.


Sementara yang menjadi objek perhatian mendengus dalam hati, karena lagi-lagi Ghifar mengungkit saat ia mengalami kram perut hampir satu bulan yang lalu.


Teteh bilang, kak Ghifar jarang ambil jatah liburannya, tapi kenapa udah dua bulan ini dia selalu pulang? Menghadapi sikapnya yang menyebalkan seperti ini, membuat waktu delapan hari berlalu dengan sangat lambat. Keluh Mutia dengan wajah nelangsa.


...* * *...


"Perhatikan langkahmu!"


Teguran dari arah samping membuat Mutia seketika mengalihkan perhatian dari selembar foto USG yang memuat gambar bayi di dalam perutnya. Mutia tak bisa tak merasa takjub saat melihat keadaan bayinya, yang menurut hasil pemeriksaan dokter, tumbuh dengan baik juga sehat. Dan Mutia berharap hal itu akan terus bertahan hingga tiba hari dimana bayinya siap untuk menatap dunia.


Sekarang kandungannya sudah berusia lima bulan. Saat pemeriksaan tadi, dokter mengatakan jenis kelamin bayinya sudah terlihat, namun Mutia menolak untuk mengetahuinya karena ia ingin itu menjadi kejutan untuknya. Lagipula... tidak peduli perempuan atau laki-laki, yang terpenting bayinya lahir sehat dan tidak kekurangan satu hal apapun, Mutia sudah sangat bersyukur.


"Mutia, perhatikan langkahmu!" teguran itu kembali terdengar, kali ini satu oktaf lebih tinggi, karena sekarang Mutia justru berjalan sambil melamun dengan kepala menoleh ke samping. "Simpan gambar itu atau aku akan membakarnya."

__ADS_1


Ucapan Ghifar serta merta membuat Mutia gelagapan dan dengan segera menyimpan foto bayinya ke dalam saku dress hamil yang ia kenakan, lalu satu tangan Mutia bergerak mengusap perut. Ya Allah, nak. Amit-amit, jangan sampai kamu seperti om Ghifar. Nggak boleh galak, nanti cepat tua.


"Berhenti bicara buruk tentangku di dalam hati."


"Hah?" Mutia menoleh pada Ghifar.


Pria dua puluh lima tahun melirik Mutia sembari mengulas senyum tipis. "Aku tahu kamu sedang mengutukku dalam hatimu."


"Bagaimana tuan muda bisa tahu?" pertanyaan polos itu meluncur bebas dari kedua belah bibir Mutia yang dipoles lipstick peach.


Ghifar seketika menghentikan langkah, lalu menatap Mutia yang juga ikut berhenti. Matanya menyipit dengan sorot jengkel. "Jadi kamu benar-benar mengutukku?"


"Apa? Tidak-tidak." sembari menggoyangkan kedua tangannya, Mutia meneguk ludah. Sial! Permainan kata yang menjebak. "Eh... tuan, aku mau ke toilet dulu."


Ghifar mendengus. "Ingin melarikan diri, heh?"


Dengan cepat Mutia menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar mau ke toilet, tuan. Daripada aku ompol di mobil, kan bahaya."


"Lalu aku harus menunggumu, begitu?" kalimat sinis Ghifar tidak berhenti disana. "Akan menjadi pertama dalam sejarah, majikan menunggu pembantunya. Sudah bagus aku dengan berat hati mau menemanimu kemari. Jangan melunjak!"


Memangnya siapa yang minta di temani?


Mutia masih inget, tadi pagi Ghifar berkata dia bisa pergi sendiri saat Azril menawarkan diri untuk menemaninya, tapi ternyata... lima belas menit sebelum pukul sepuluh Ghifar sudah merongrongnya untuk segera bersiap karena pria itu yang akan mengantarnya ke rumah sakit.


Ghifar beralasan ia mau ke rumah temannya yang searah dengan tempat tujuan Mutia. Dan lagi-lagi, nyatanya... Ghifar justru ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan serta bertahan disana hingga sekarang mereka pulang.


Lalu tadi Ghifar berkata seolah-olah Mutia yang meminta untuk ditemani. Heol, yang benar saja. Dasar pria kurang micin. Makanya nggak sedap di lidah!


"Jadi aku harus bagaimana? Menahannya sampai ke rumah? Aku tidak yakin bisa bertahan selama itu, apalagi ini weekdays, jalanan macet tuan."


"Kenapa kamu yang kesal? Harusnya aku yang menggerutu." Ghifar berdecak, lalu mengibaskan tangan. "Ya sudah, sana. Jangan lama-lama. Aku tunggu di parkiran."


Saat Ghifar sudah berjalan meninggalkannya, Mutia menatap punggung tegap pria itu sembari mencebikkan bibir dan mengikuti ucapan Ghifar dengan suara mencicit seperti tikus terjepit.


Puas mengeluarkan kekesalan dalam hatinya dengan mengoceh, Mutia memutar tumit dan berjalan menuju toilet. Tadinya ia memang hanya menjadikan toilet sebagai alasan untuk menghindari Ghifar agar tak memperpanjang konfrontasi, namun sekarang ia justru merasa kandung kemihnya tiba-tiba saja penuh dan mendesak untuk segera di keluarkan.


"Ah... leganya." Mutia mendesah puas saat merasakan perut bagian bawahnya tak lagi terasa sesak dan penuh.


Dengan sangat hati-hati serta memerhatikan langkahnya Mutia keluar dari toilet. Namun meski pun sudah berusaha sehati-hati mungkin, jika Tuhan berkata ia akan celaka, tetap saja Mutia akan mengalaminya. Tepat setelah ia keluar dari toilet, seseorang menabraknya hingga membuatnya limbung dan nyaris terjatuh jika tidak dengan segera berpegangan pada dinding serta bantuan dari seseorang baik hati yang menahan punggungnya.


"Perhatikan langkah anda, pak. Anda nyaris membuat seorang wanita hamil terjatuh." teguran bernada rendah dan sopan terdengar dari arah belakang Mutia, bersamaan dengan tubuh Mutia yang di bantu untuk berdiri sempurna.


Ah... cara bicaranya beda sekali dengan kak Ghifar, yang sekarang lebih suka bicara sinis dan menghardik. Mutia membantin. Ia selalu memberi nilai plus untuk pria-pria yang mampu menempatkan emosinya dengan tepat.


"Maaf, maaf. Saya sudah tidak tahan, makanya tidak memerhatikan jalan. Sekali lagi saya minta maaf, Gek."


Mutia tersenyum lembut sembari mengangguk. "Tidak apa, pak. Silahkan." sedikit menyingkir, Mutia memberikan jalan untuk pria yang rambutnya sudah di dominasi warna putih.


Setelah pria penabrak hilang di balik pintu toilet yang berada tak jauh dari tempatnya berada, Mutia menoleh pada sosok penolong yang kini berdiri di sampingnya.


"Terima kasih sudah membantuku, Mas, eh pak, Bli?" Mutia kebingungan sendiri, lalu memasang cengiran kikuk.


Pria berwajah persegi dengan setelan jas biru dongker membalut tubuh tegapnya, menatap Mutia sembari tersenyum hangat nan menenangkan. Mutia bahkan bisa merasakan senyum itu sampai ke hatinya. Eh... apa yang kamu pikirkan, Mutia?


"Kamu tidak apa-apa?"


"Hah?" Mutia melongo, lalu gelagapan. "Ah, i-iya. Aku tidak apa-apa, Mas." sedetik kemudian Mutia merasakan perutnya nyeri, hingga membuatnya tanpa sadar membungkuk dan mengeluarkan ringisan lirih.


"Perutmu sakit?" pria bersuara berat itu bertanya dengan lembut sembari memegangi kedua lengan Mutia. Mengantisipasi kalau-kalau Mutia terjatuh karena tak sanggup menahan bobot tubuh. "Kita periksa. Takutnya terjadi apa-apa pada bayimu."

__ADS_1


"Ti-tidak perlu, Mas." ah... Mutia bahkan lupa kalau saat ini ia di Bali, dan Mas bukan panggilan yang tepat untuk ia gunakan. "Ini kram yang wajar di alami oleh wanita hamil."


"Kamu yakin?"


Mutia tersenyum sembari menegakkan tubuh, bersamaan dengan pria berwajah maskulin menarik tangannya dan menciptakan jarak aman.


"Iya. Sekali lagi terima kasih. Aku harus segera pulang."


"Kalau tidak keberatan, aku akan menemanimu sampai depan. Takutnya nanti ada yang menabrakmu lagi."


"Tidak perlu, Mas. Majikanku sudah menunggu di parkiran."


"Tapi..."


"Pak bos, dicariin kemana-mana juga." tiba-tiba seorang pria —yang Mutia taksir berusia awal tiga puluhan— hadir di antara mereka. "Ternyata nongkrong di lorong toilet."


"Ada apa, Jar?"


"Si Luqman udah mau di operasi, pak bos. Dan pihak administrasi meminta pak bos segera mengurus biayanya."


Pria yang di panggil pak bos melirik Mutia, lalu mengeluarkan dompet dan menyodorkan sebuah kartu kredit pada pria di hadapannya. "Kamu urus pembayarannya. Aku mau mengatar wanita ini ke depan."


"Mana bisa, pak bos. Kan pak bos penanggung jawabnya dan butuh tanda tangan pak bos. Kecuali, pak bos sertakan ibu jari pak bos untuk aku bawa biar bisa stempel sidik jari."


Mutia mengernyit. Ia jadi pusing mendengar kata pak bos di ucapkan berulang kali.


"Tapi..." sekali lagi pria itu melirik Mutia. "Aku tidak bisa membiarkan wanita ini berjalan sendiri. Tadi saja dia hampir jatuh karena di tabrak orang."


Sungguh, Mutia tak mengerti kenapa pria di sampingnya begitu mengkhawatirkannya. Padahal pria itu sama sekali tidak memiliki tanggung jawab atas dirinya. Namun Mutia juga tak bisa untuk tak merasa kagum. Selain pria yang pandai menempatkan emosi, pria bertanggung jawab juga selalu membuatnya takjub.


"Mas, aku benar-benar bisa..."


"Ah... begini saja. Fajar, kamu tolong temani wanita ini ke parkiran. Pastikan dia baik-baik saja hingga bertemu majikannya. Setelah itu kamu bisa menyusulku ke ruang operasi."


"Siap, pak bos."


Pria bersetelan biru dongker menatap Mutia, meminta Mutia ikut bersama pria yang ia panggil Fajar, lalu berpamitan pergi.


"Mari, Gek."


Mutia mengangguk, kemudian mengambil langkah bersisian dengan Fajar. Sikap Fajar yang easy going, membuat mereka cepat akrab. Tak sampai sepuluh menit mereka tiba di parkiran dan Mutia di sambut dengan Ghifar yang berkacak pinggang di dekat mobil sembari melemparkan tatapan kesal padanya.


"Darimana saja kamu?" sembur Ghifar dengan wajah merah padam, lalu melirik sinis pria disamping Mutia. "Aku menunggumu disini hingga kering seperti jemuran ikan dan kamu justru muncul dengan tertawa bersama seorang pria. Siapa dia?" manik hitam Ghifar menatap Fajar sarat akan permusuhan.


"Terima kasih sudah mengantarku dengan selamat sentausa." guyon Mutia pada Fajar, tak langsung menanggapi pertanyaan Ghifar, yeng membuat kepala Ghifar semakin mengepulkan asap.


"Sama-sama. Aku bisa memberikan laporan pada pak bos bahwa mission success." Fajar menanggapi dengan tak kalah humor. "Kalau begitu aku pergi dulu. Senang berkenalan denganmu, Mutia."


"Jawab aku, Mutia! Siapa dia?"


Mutia berjengit kaget. Menatap Ghifar sembari mengelus dada. Apa tidak bisa bicara pelan-pelan? Jatungku bisa berhenti mendadak kalau terus seperti ini.


"Mutia?"


"Bos pria itu tadi membantuku yang di tabrak dan hampir jatuh pas kel..."


"Jatuh?" mendekati Mutia, Ghifar memegang kedua lengan atas Mutia, lalu mengamati tubuh wanita itu. "Perutmu sakit? Kram? Kita periksa lagi ke dokter. Jangan sampai terjadi hal buruk pada bayimu. Sialan sekali orang yang menabrakmu itu, apa matanya tidak berfungsi dengan baik hingga bisa menabrak wanita berperut besar sepertimu."


Kekhawatiran membuat Ghifar lupa, bahwa sebelumnya ia tengah marah dan kesal pada Mutia. "Tidak perlu, tuan. Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Dan jawaban Mutia seolah menyadarkan Ghifar. Serta merta Ghifar menjauhkan diri dari Mutia dan memalingkan wajah. "Awas saja kalau nanti kamu mengeluh. Aku tidak akan peduli. Dan jangan merepotkanku." Ghifar berdecak.


"Apalagi yang kamu tunggu? Cepat masuk!"


__ADS_2