
"A', tolong kembalikan Yusuf pada Mutia."
"Lamia."
Azril bergumam saat melihat sosok istrinya kini berdiri di ambang pintu dengan Ghifar berada disamping wanita itu. Dengan cepat Azril menjauhkan Yusuf dari jendela, kemudian memeluk bayi mungil itu dengan erat. Membuat Mutia yang melihatnya merasa khawatir anaknya akan kehabisan nafas, apalagi ditambah dengan Yusuf yang tak berhenti menangis.
"A'..." Mutia melangkahkan kakinya, namun Azril berteriak dengan keras memintanya untuk tidak mendekat sembari melangkah mundur, hingga kini membuatnya dan Yusuf terpojok di jendela.
"Kalau kalian tetap mendekat, aku benar-benar akan membawa serta Yusuf terjun dari jendela ini."
"Tidak, A'." maju satu langkah, Lamia menatap Azril dengan tatapan memohon. Mata wanita itu tampak merah, namun tak ada air mata yang mengalir keluar.
"Jangan lakukan itu, kumohon. Yusuf butuh Ibunya, sama dengan anak kita yang membutuhkanmu. Tolong kembalikan Yusuf, demi anak kita, A'."
"Anak?" Azril menatap Lamia dengan dahi mengernyit, kemudian mengikuti gerakan tangan Lamia yang kini menyingkap bajunya. Disaat bersamaan Ghifar dan Yudha memalingkan wajah mereka.
Melihat perut Lamia yang tampak menyembul, Azril terlihat begitu syok. Tanpa sadar ia maju dua langkah, namun kembali memundurkan langkahnya saat mendengar tangisan Yusuf. Menyadarkannya bahwa ia tak boleh mendekati mereka, tak boleh terpengaruh.
Lamia tidak mungkin hamil, ini hanya halusinasiku saja. Pikirnya, berusaha meyakinkan diri.
"Usianya sudah tiga bulan, A'." dengan penuh kasih sayang dan mata yang berkaca-kaca Lamia mengusap perutnya. "Aku bisa melalui masa kehamilan seorang diri, tapi aku tidak ingin melahirkannya ke dunia tanpa ada kamu disisiku, A'. Aku butuh kamu. Aku tidak ingin kamu dipenjara karena hal ini dan membuatku juga harus melahirkan sendirian. Aku butuh kamu, A'. Anak kita butuh kamu. We need you."
Jangan terpedaya, Azril. Dia bukan Lamia. Istrimu tidak mungkin ada disini. Apa yang kau lihat saat ini hanya khayalanmu saja. Kau harus fokus mendapatkan Mutia dan Yusuf. Bisikan ditelinganya membuat Azril dilanda kebingungan. Berulang kali ia menatap bergantian pada Lamia dan Yusuf yang masih menangis tersedu dalam pelukannya.
"Tidak, tidak." Azril menggeleng berulang kali. "Kamu bukan Lamia. Kamu hanya manifestasi pikiranku saja. Lamia tidak mungkin hamil. Dokter bilang..."
"Aku akan sulit untuk hamil, bukannya tidak bisa hamil, A'." potong Lamia untuk menghentikan penyangkalan yang Azril buat, lantas menurunkan kembali pakaiannya.
"Setelah mengetahui bahwa ada masalah dengan rahimku, aku segera melakukan terapi. Aa ingat kapan terakhir kali kita berhubungan? Saat itu aku sedang dalam masa subur dan akhirnya Tuhan memberi kita kepercayaan untuk memiliki salah satu malaikatnya."
Azril tercenung mendengar penjelasan Lamia. Ia tentu saja ingat kapan terakhir kali mereka berhubungan. Malam itu ia pulang larut dalam keadaan emosi karena masih tidak berhasil menemukan Mutia. Lalu saat melihat Lamia, ia terbakar emosi. Ia menyalahkan istrinya yang telah membuat Mutia pergi, hingga ia melampiaskan emosinya dengan memperkosa Lamia.
Mata Azril memejam rapat. Perasaan bersalah seketika menyerangnya saat mengingat kejadian malam itu.
"Kembalikan Yusuf, A'."
Kali ini cairan bening mulai keluar dari mata indah Lamia, membasahi pipinya. Namun ia tetap mengulas senyum saat menatap Azril dengan penuh cinta. Tangannya terulur, meminta Azril mendekat padanya.
"Ayo kita pulang, A'."
Sekali lagi Azril menatap Lamia dan Yusuf bergantian, lalu menatap cukup lama perut Lamia yang tertutup pakaian.
Lamia hamil. Kami akan punya anak. Sebentar lagi aku akan menjadi Ayah. Aku akan memiliki anakku sendiri, dari Lamia, istriku. Benak Azril berkecamuk saat sisi lain dirinya kembali menghasutnya.
Kau yakin itu anakmu, Azril? Kau jarang sekali pulang dan bahkan dua bulan terakhir kau sama sekali tidak pulang, apa kau yakin Lamia tidak bermain gila di belakangmu?
Azril berteriak keras sembari memukuli kepalanya dengan satu tangan, membuat Yusuf yang berada dalam gendongannya menangis semakin keras. Sementara Mutia dan yang lain panik melihat Azril yang berteriak histeris seperti orang kerasukan, apalagi saat mendapati Yusuf yang akan terlepas dari pelukan Azril. Namun kala merasakan kepalanya yang semakin berdenyut sakit, Azril tanpa sadar melepaskan pelukannya pada Yusuf dan menggunakan kedua tangannya untuk mencengkram kepala, berharap cara itu bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.
"Yusuf!" Mutia menjerit panik. Ia ingin meraih Yusuf, namun kakinya sama sekali tidak mau mengikuti perintah otaknya, sehingga hanya bisa diam di tempat.
Seketika Mutia terduduk saat tubuh Yusuf sebentar lagi akan jatuh menghantam lantai keras, andai saja Yudha dan Ghifar tidak bergerak dengan cepat. Mutia menghela nafas lega dengan jantung yang berdetak menghentak kuat dadanya saat mendapati Yusuf yang kini telah berada dalam pelukan Yudha. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan putranya, jika Yudha dan Ghifar tidak berhasil menyelamatkannya.
"Yusuf, Yusuf."
Dengan berderai air mata Mutia menghampiri Yudha yang masih dalam keadaan berbaring dan Yusuf telungkup di dadanya. Nafas pria itu terdengar tersengal, tangannya yang gemetar memeluk Yusuf erat. Sementara Ghifar yang berada di dekat Yudha terduduk lemas dengan punggung bersandar pada badan ranjang.
Beruntung, beruntung Ghifar sempat meraih bantal dan menggunakannya sebagai pendaratan darurat untuk Yusuf dan Yudha dengan sigap meraih bayi mungil itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Mengambil alih Yusuf, Mutia mendekap bayi yang masih menangis itu dengan perasaan lega. Dikecupnya seluruh permukaan wajah Yusuf, tampa memedulikan wajahnya yang kini bersimbah air mata dan peluh dingin.
"Sttt... Sayang, tenanglah. Ini Bunda, Nak." tangan Mutia tampak gemetar saat mengusap kepala Yusuf. Ia takut menyakiti bayi kecilnya yang rapuh. "Tidak apa-apa, Sayang. Semua sudah baik-baik saja. Kamu aman bersama Bunda."
Dan seolah mengerti ucapan Ibunya serta merasakan kekhawatiran sang Ibu telah menghilang, Yusuf berhenti menangis. Matanya yang indah menatap Mutia, tatkala bibirnya mengulum ibu jari. Bayi lima bulan itu kini tampak baik, seolah dia tidak pernah mengalami hal buruk beberapa saat lalu.
Memeluk Yusuf, Mutia mengecupi puncak kepala anaknya berulang kali, hingga kemudian manik matanya menangkap sosok Azril yang kini terduduk di dekat jendela dengan Lamia mendekapnya erat.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Sungguh, aku tidak berniat menyakiti Yusuf ataupun Mutia." berulang kali Azril meminta maaf. Meski suaranya terendam karena pelukan Lamia, namun Mutia beserta Yudha dan Ghifar masih bisa mendengar ucapan pria itu.
Menjauhkan wajahnya dari dada Lamia, Azril menatap Mutia dengan sorot menyesal. Pria itu kini tampak begitu rapuh, tak ada lagi sosoknya yang menakutkan beberapa saat lalu. Membuat Mutia prihatian dan menatap pria itu dengan iba.
Seperti yang Yudha katakan, Azril bukan orang jahat. Dia hanya terobsesi untuk memiliki seorang anak. Mutia tak menyangka, keinginan yang mendalam, bisa mendorong seseorang untuk berbuat nekat dan menghilangkan jati dirinya.
"Mutia," suara Lamia yang serak berhasil menarik perhatian Mutia. "Aku tahu ini sangat egois, tapi kumohon... jangan laporkan Aa ke polisi. Aku..."
"Tidak akan." Mutia menyela, karena ia tahu apa yang selanjutnya akan Lamia katakan. "Sejak awal aku tidak pernah berniat melaporkan Aa ke polisi. Aku sudah mengatakan pada Mas Yudha bahwa aku akan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Jika sebelumnya aku mengambil keputusan itu karena mengingat semua kebaikan Teteh, tapi sekarang aku juga melakukannya untuk calon anak kalian. Aku tidak mau Teteh mengalami hal yang sama denganku. Aku tidak ingin Teteh menjalani kehamilan sendirian, melahirkan tanpa suami dan merasakan kesedihan yang mendalam saat tak ada suami yang akan mengumandangkan adzan untuk anak Teteh. Rasanya tidak enak, aku tidak mau lagi ada wanita yang bernasib sama denganku."
Menarik nafas dalam, Mutia menatap Yusuf yang kini terlelap dalam pelukannya. "Lagipula yang terpenting bagiku, Yusuf baik-baik saja."
...* * *...
Menunggu cukup lama, akhirnya panggilan video yang Mutia lakukan pun mendapat jawaban. Sedetik setelah panggilan video itu di terima, sosok Yudha muncul di layar ponselnya, lengkap dengan senyum hangat menghiasi wajah tampan pria itu.
"Assalamualaikum, Mas."
"Wa'alaikumussalam, Mutia. Maaf aku baru mengangkat panggilanmu, tadi aku sedang ke toilet."
Mutia tersenyum kikuk. "Kupikir Mas sudah bosan menjawab panggilanku."
Tawa renyah Yudha terdengar sebelum pria itu menanggapi ucapan Mutia. "Jadi karena itu sekarang kamu melakukan video call?"
"Aku hanya merasa khawatir, Mas, karena itu aku ingin melihat Yusuf untuk memastikan dia baik-baik saja." helaan nafas panjang keluar dari sela bibir Mutia.
"Mas lagi di ruang kerja?" ujarnya saat memerhatikan latar belakang tempat Yudha duduk saat ini.
Terlihat Yudha menganggukkan kepalanya. "Tapi Yusuf sama aku, kok, dia lagi tidur."
Beranjak dari duduknya, yang membuat kamera tidak fokus, Yudha berjalan menghampiri box bayi, kemudian sedikit membungkukkan tubuh, hingga membuatnya dan Yusuf kini berada dalam satu frame.
"Lihat, dia lelap sekali kan?" perlahan dan lembut Yudha mengusap pipi Yusuf dengan punggung jari telunjuknya.
"Apa Yusuf rewel?" ia khawatir Yusuf merepotkan Yudha. Seharusnya tadi ia membawa Yusuf, bukannya setuju saja saat Yudha memintanya untuk meninggalkan Yusuf dengan pria itu.
Yudha terkekeh geli sembari menjauh dari box bayi. "Rewel tidak, Yusuf hanya menangis sesekali saat merasa lapar, pipis, atau poop. Dan itu masih dalam batas kewajaran. Kamu tidak perlu khawatir, Sayang."
Dengan pipi bersemu Mutia kembali mengeluarkan suaranya. "Aku hanya tidak ingin Mas kerepotan karena Yusuf."
Yudha menghela nafas. "Mutia, Yusuf juga anak aku, jadi aku tidak akan merasa direpotkan. Sudah kewajibanku untuk merawat dan menjaganya, karena aku Ayahnya. Atau... kamu mulai meragukan aku bisa menjadi Ayah yang baik untuk Yusuf karena penculikan waktu itu."
Dengan panik Mutia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Sungguh, Mas, aku tidak pernah berpikir seperti itu."
Sudut bibir Yudha tertarik membentuk seulas senyum. "Syukurlah. Kupikir kamu akan berpikir ulang tentang pernikahan kita."
Mutia menanggapi ucapan Yudha dengan senyum yang tak mencapai mata, merasa tak enak hati karena sudah membuat Yudha berpikir demikian. Lalu saat tatapannya menangkap sosok Keyla yang tengah berjalan menghampirinya, Mutia pun segera mengakhiri video call-nya dengan Yudha, lantas menyimpan ponsel ke dalam tas.
"Telpon pak bos lagi?" tanya Keyla setelah tiba di hadapan Mutia. Kedua tangan wanita itu tengah memegang gaun yang berbeda, baik style, motif, pun warnanya.
__ADS_1
Saat ini Keyla sedang menemani Mutia membeli gaun untuk acara resepsi pernikahan wanita itu. Awalnya Yudha yang ingin menemani Mutia, namun karena Mutia merasa pasti akan canggung jika ia mencoba berbagai gaun dengan Yudha sebagai penilainya, jadi Mutia memutuskan untuk meminta Keyla saja yang menemaninya.
"Aku hanya ingin melihat Yusuf." sahut Mutia, lantas menyentuh salah satu gaun di tangan Keyla. "Yang ini bagian bawahnya terlalu mengembang dan ekornya juga terlalu panjang."
"Kalau yang ini?" Keyla menunjukkan gaun berwana navy dengan desain sederhana ke hadapan Mutia.
"Cantik, sih, tapi lengannya..." Mutia bergidik melihat lengan gaun itu yang hanya seukuran dua jari. Tidak terlalu seksi memang, cuma karena Mutia tidak pernah memakai baju berlengan seperti itu, ia pasti akan merasa sangat risih, apalagi nantinya ia akan menjadi pusat perhatian.
Keyla membuang nafas panjang, kemudian memanggil seorang pramuniaga butik tempat mereka berada saat ini, lantas memberikan kedua gaun di tangannya.
"Kami akan mencari yang lain nanti." ujarnya sebelum mendudukkan tubuh di samping Mutia saat pramuniga tersebut sudah meninggalkan mereka.
"Kamu bosan ya, Key. Sudah hampir dua jam kita disini, tapi aku belum juga menemukan gaun yang pas. Kalau kamu mau pulang duluan, nggak papa kok, aku bisa lanjut sendiri."
"Aku sama sekali tidak bosan, Mutia. Karena untuk acara sepenting pernikahan, kita pasti ingin segala sesuatunya adalah yang terbaik, termasuk pakaian yang kita kenakan. Hanya saja, kamu merasa tidak ada gaun yang pas untukmu karena pikiranmu tidak disini."
Mutia menatap Keyla dengan sorot bersalah, kemudian menundukan kepalanya. "Maaf, aku memang tidak bisa fokus mencari gaun, karena aku terus memikirkan Yusuf."
"Yusuf bersama pak bos sekarang, dia akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan." meraih tangan Mutia yang bertaut di atas pangkuan wanita itu, Keyla menggenggam salah satunya.
"Aku tahu kamu khawatir dan takut, apalagi setelah kejadian penculikan Yusuf seminggu lalu, tapi kamu tidak bisa terus bersikap seperti ini, Mutia, apalagi saat Yusuf bersama pak bos. Sikapmu justru terkesan kamu tidak memercayai pak bos dan itu pasti sangat menyakitinya. Bukankah dalam sebuah hubungan kita harus saling memercayai? Lagipula... aku yakin pak bos pasti sudah belajar dari pengalaman yang telah lalu, dia juga pasti akan sangat menjaga Yusuf, agar kejadian lalu tidak terulang lagi."
Saat melihat Mutia masih menunduk dan sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, Keyla menghela nafas pelan. "Maaf, aku tidak bermaksud mengguruimu apalagi menyudutkanmu, Mutia. Aku hanya tidak ingin sikapmu ini nantinya menjadi pemicu merenggangnya hubunganmu dan pak bos."
Mengangkat wajahnya, Mutia memberi Keyla seulas senyum. Ditepuk-tepuknya punggung tangan Keyla yang menggenggamnya. "Aku justru ingin berterima kasih padamu. Terima kasih sudah mengingatkanku."
Keyla terkekeh. "Sama-sama. Itulah gunanya teman." memeluk Mutia sesaat, lantas mencubit pipi wanita itu dengan gemas. "Jadi... kita lanjut cari gaunnya?"
Mutia mengangguk dan mereka pun beranjak dari duduk. Namun baru saja mereka akan melangkah, suara dering ponsel yang berasal dari tas Keyla mencuri perhatian. Dengan segera Keyla merogoh tasnya dan mengeluarkan benda pipih tersebut.
"Ghifar." gumam Mutia saat melihat nama yang tertera pada layar ponsel Keyla. Bibirnya menyungging senyum penuh arti, sementara matanya berkilat jahil.
"Kapan kalian bertukar nomor ponsel? Sudah berapa lama kalian berhubungan? Kok, kamu nggak cerita sama aku, sih. Padahal kan aku cerita semuanya sama kamu, termasuk tentang penculikan Yusuf, yang bahkan keluargaku saja tidak kuberitahu." kecuali Kavira, yang memang lebih dulu tahu, tanpa harus ia beritahu.
Keyla merona dan bicara dengan gugup. "A-aku akan memberitahumu nanti, sekarang aku harus mengangkat panggilan ini. Kamu cari gaun sendiri dulu ya."
Lalu tanpa menunggu jawaban dari Mutia, Keyla berjalan cepat meninggalkan Mutia, membuat Mutia terkekeh geli melihat tingkahnya. Kemudian ia beranjak menghampiri beberapa gaun yang terpasang pada manekin, berpindah dari satu gaun ke gaun yang lainnya, hingga ia menemukan gaun yang berhasil mencuri perhatiannya.
Gaun itu berdesain sederhana. Bagian bawahnya mengembang, namun tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk membuatnya tidak kesulitan berjalan. Warnanya merah terang, yang menjadi warna kesukaan Yudha. Sementara lengannya panjang hingga pergelangan tangan dan berbahan brokat. Memang sedikit transparan pada bagian tangannya, namun itu masih lebih baik dari pada gaun lengan dua jari yang tadi Keyla tunjukan, yang membuatnya merasa tidak memakai baju bahkan hanya saat memandangnya saja, apalagi saat memakainya.
Ketika Mutia akan memanggil pramuniaga untuk menunjukan gaun yang ia inginkan, tanpa sengaja Mutia menangkap sosok yang terakhir kali ia lihat lebih dari satu bulan lalu, berjalan di depan butik tempatnya berada. Tubuh Mutia gemetar dan ia reflek menyembunyikan diri di balik manekin.
Kenapa Haikal bisa ada di Bali?
Mutia berjengit kaget dan tanpa sadar memekik keras saat ada yang menepuk pundaknya, membuat si pelaku yang menepuknya ikut menjerit dan menjadikan mereka pusat perhatian.
"Keyla, kamu buat aku kaget." ujar Mutia dengan nada kesal bercampur cemas.
"Maaf." Keyla menyengir. "Abisnya kamu ngapain sembunyi-sembunyi kayak gini. Kamu lagi sembunyi dari siapa, sih?" lantas memerhatikan sekitar.
Mutia berdehem sembari menegakkan tubuhnya. "Aku bukan lagi sembunyi, Key, tapi sedang berusaha melepaskan gelangku yang tersangkut di gaun ini."
Keyla mengangguk-angguk, sama sekali tidak merasa curiga. "Kamu udah dapat gaunnya?"
"Udah. Aku pilih gaun ini." bersamaan dengan itu Mutia menyentuh gaun yang ia inginkan.
"Ho-ho, warna merah akan membuatmu terlihat sexy dan elegan. Nice choice. Aku yakin pak bos pasti akan mimisan saat melihatmu." kemudian Keyla tertawa, begitu pun Mutia.
__ADS_1
Namun berbeda dengan Keyla yang tertawa lepas, Mutia justru tertawa dipaksakan. Kesenangan yang beberapa saat lalu ia rasakan kini hilang tak berbekas, berganti dengan perasaan cemas. Takut Haikal akan menemukannya dan mengetahui bahwa Yusuf adalah anak pria itu.