
"Kau kenapa, Ghi? Aku perhatikan, sejak awal kita hangout, wajahmu itu terus memasang raut masam. Sementara dahimu, tidak berhenti mengernyit. Kau seperti orang yang terlilit banyak hutang dan bingung untuk membayarnya, sementara besok para penagih akan datang karena sudah jatuh tempo." tepat setelah mendudukkan tubuh di kursi dalam restoran, pria berjaket denim mengomentari tingkah pola Ghifar, yang kini duduk berseberangan dengannya. Tampak malas, seperti kehilangan gairah hidup.
"Iri, benar." sedetik kemudian pria berkemeja abu-abu merasakan pukulan di tengkuk, membuatnya serta merta menoleh ke samping sembari memegangi tengkuknya dan melotot pada pelaku yang baru saja melakukan kekerasan padanya. "****! Kenapa lo gaplok gue, nying?!"
"*Baseng bae nyebut namo wong. Namo aku bagus-bagus, Dzuhairi Arshaq, kau panggel Iri. Payo, cubo panggelan tuh yang keren dikit. Ars. Cak itu kan lemak nengarnyo." dalam keadaan emosi, Arshaq tanpa sadar mengeluarkan bahasa kota kelahirannya.
(*sembarangan saja menyebut nama orang. Nama aku bagus-bagus, Dzuhairi Arshaq, kamu panggil Iri. Ayo, coba panggil tuh yang keren sedikit. Ada. Begitu kan enak dengarnya.)
"*Panggelan Ars tuh, dak sesuai dengan muko kau."
(*Panggilan Ars itu, tidak sesuai dengan wajahmu.)
"*Nah, nak ngajak belago kau?! Payo, keluar bae kito amen kau cak hebat nian." kian terpancing emosi, wajah Arshaq sudah merah padam. Arshaq memang bersumbu pendek, yang akan langsung tersulut saat ada yang mematik api.
(*Nah, mau ngajak berantem kamu?! Ayo, keluar saja kita kalau kamu memang hebat.)
"Damai, Ars, damai." pria berkaos abu-abu menunjukan jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V, sembari memasang cengiran lebar. "Sensi amat, lo. Kek wanita datang bulan, atau sekarang lo lagi mengalami perubahan hormonal karena kehamilan, makanya sensitif kek tespack."
Bersungut-sungut Arshaq menggulung mie ayam di depannya menggunakan garpu, lalu dengan kasar menyuapkan gulungan mie itu pada sahabatnya. "Makan! Lo suka rese, kalo lagi laper."
Setelah meneguk mie di dalam mulut, pria berkaos abu-abu kembali menguji kesabaran Arshaq. "Lah, korban iklan nih anak."
"Diam, Zhafran Arwan! Sebelum kepalan tangan gue yang bicara sama mulut bebek lo itu!"
"Oke, gue diem." Zhafran mengangkat kedua tangan. Masih memasang cengiran bak orang tak waras. Kemudian ia beralih menatap Ghifar yang sejak tadi hanya diam memerhatikan kedua karibnya yang sukses membuat keriuhan dan menjadikan mereka pusat perhatian.
"Gue pikir, pas lo ngajak kami keluar, lo akan ngasih kami oleh-oleh setelah berbulan-bulan menjelajah setiap kota bahkan negara, paling tidak membawa dua wanita cantik yang istri-able untuk kami, tahunya cuma ngasih muka masam doang." bibir Zhafran mencebik. "Kalo mangga enak, yang asam dan kecut bisa dijadiin rujak. Lah, lo? Emangnya lo mau gue ulek?"
Arshaq mendengus. Dalam satu kedipan mata Arshaq membekap mulut Zhafran, lalu menjepit kepala pria itu di ketiaknya.
"Shit!" Zhafran menatap berang pada Arshaq, setelah berhasil meloloskan diri. "Sumpah, ketek lo kecut, banget! Udah berapa hari lo nggak mandi? Jangan karena jomblo, lo jadi males bersih-bersih. Yang ada, cewek-cewek malah tambah lari pas nyium bau badan lo."
"Kampret! Nih anak mulutnya udah nggak ada rem lagi." Arshaq melotot saat melihat Zhafran membuka mulut untuk kembali mendebatnya. "Lebih baik kau gunakan itu mulut untuk makan saja, daripada kau terus berkicau, membuat kupingku sakit. Biaya ke THT mahal, lebih baik uangnya kugunakan untuk kredit tanah, lalu bangun kontrakan."
"Kalian membuat kepalaku semakin pening." untuk pertama kalinya, setelah tiga puluh menit mereka duduk di dalam restoran dan pelayan mengantarkan pesanan, Ghifar mengeluarkan suara emas-nya yang berharga.
"Akhirnya lo ngomong juga, coeg. Gue pikir lo mendadak bisu." komentar Zhafran dengan nada berlebihan.
"Kau ada masalah, Ghi?" daripada menanggapi kekonyolan Zhafran, yang selalu berhasil membuat tensi darahnya naik, Arshaq lebih memilih untuk mengintrogasi Ghifar. "Atau... ada yang kau pikirkan?"
__ADS_1
Selama beberapa detik Ghifar membiarkan pertanyaan Arshaq berlalu begitu saja, kemudian helaan nafas berat keluar dari sela bibirnya, sebelum mengucapkan satu nama. "Mutia."
"Mutia?" Arshaq membeo.
Zhafran yang tengah menyantap makanannya, seketika berhenti. "And... who is she? You're girlfriend?"
"Tunggu-tunggu. Aku sepertinya tidak asing dengan nama itu." Arshaq menyela. Dahinya berkerut dalam. Lalu beberapa detik kemudian, Arshaq berseru. "Mantan pacarmu di SMK, kan?"
Mereka bertiga menjalin persahabatan sejak sekolah menengah pertama, lalu saat SMA pun mereka memutuskan masuk ke sekolah yang sama, jadi tentu saja Arshaq dan Zhafran mengenal Mutia, yang pernah menjadi bagian dari kisah Ghifran semasa mengenakan seragam putih abu-abu.
"Mutia!" kali ini Zhafran membelalakan mata, saat berhasil mengingat visual wanita yang kini tengah menjadi objek pembicaraan. "Maksud lo, cewek imut-imut, yang pernah Ghifar paksa buat jadi pacarnya?"
"Sialan! Aku nggak maksa." sungut Ghifar, tak terima dengan tuduhan Zhafran. "Waktu itu aku menayakan kesediaannya dan dia setuju. Itu artinya kesepakatan, dodol."
Sebelum Zhafran kembali mengeluarkan suara, Arshaq mendahuluinya. Jika terus melayani ucapan Zhafran, maka tidak akan pernah ditemukan kata selesai.
"Lalu... ada apa dengan Mutia?"
"Dia sekarang di Bali."
"Hah? Serius lo?" Zhafran berucap heboh. "Kalian emang jodoh kayaknya. Sudah terpisah pulau saja, kalian masih bisa ketemu."
"Wah... wah... fix, kalian memang berjodoh." Kehebohan Zhafran semakin menjadi. "Ya, meskipun membutuhkan waktu dua tahun lebih, untuk Tuhan kembali mempertemukan kalian. Tapi it's okay, sekarang Mutia sudah bercerai dengan suaminya, jadi kalian tidak memiliki halangan lagi untuk bersatu. Meskipun Mutia sudah berstatus janda, tapi kalau cinta, itu tentu tidak masalah untuk Ghifar. Iya, kan?"
"Bercerai?" bukankah seharusnya Zhafran mengatakan, suami Mutia sudah meninggal?
"Ya salam, gue ngomong panjang lebar, dia cuma ngeh kata bercerai, doang. Iye, Mutia udah cerai sama suaminya. Girang banget lo, sampe sulit percaya, berasa mimpi disiang bolong, makanya diulang-ulang mulu." cerocos Zhafran, tak menyadari kebingungan di manik hitam sahabatnya.
"Kenapa, Ghi?" Arshaq yang lebih waras dari Zhafran, menyadari kejanggalan dari raut wajah Ghifar.
"Bercerai yang Zhafran omongin tadi, itu cerai hidup, maksudnya?"
Arshaq menganggukkan kepala. "Beberapa bulan yang lalu Mutia bercerai dengan suaminya, tak lama setelah itu, mantan suami Mutia menikah lagi, wanita itu tak lain adalah sepupu Mutia. Sonya namanya, kalau aku tidak salah ingat."
Jadi Mutia berbohong tentang kematian suaminya? "Darimana kau tahu?"
"Kau masih ingat dengan kembaran Zhafran, tapi beda orang tua?"
"Endut itu bukan kembaran gue, ya! Tolong di catet!" sela Zhafran, tak terima, namun tak ada yang memedulikannya.
__ADS_1
"Si Kelly?" tentu saja Ghifar masih mengingat gadis gemuk yang dulu juga sekelas dengannya. Gadis cerewet yang membuatnya mendapat julukan Zhafran versi wanita.
"Ya. Kelly kan tetangganya Mutia dan wanita itu suka bergosip. Saat reuni beberapa bulan yang lalu, dia menjadikan Mutia sebagai bahan rumpi."
Sedetik kemudian Ghifar beranjak dari duduknya. Berlari cepat, bak dikejar anjing gila, keluar dari restoran. Meninggalkan Arshaq yang menatapnya dengan dahi mengernyit, tatkala Zhafran menganga dengan mulut terisi oleh makanan.
"Ghi, mau kemana lo?!"
"Zhaf!" dengan jijik Arshaq mengusapnya wajahnya yang baru saja mendapat semburan makanan dari mulut Zhafran. "Dasar jorok!"
"Sorry, bro. Nggak sengaja." kemudian menyengir tanpa dosa. "Eh, itu si Ghifar mau kemana?"
"Entah." Arshaq mengedikkan bahu sembari masih membersihkan wajah dan pakaiannya.
"Hahhh, dasar pria gagal move on." olok Zhafran. "Gue heran dah sama si Ghifar. Dia kan bekerja di penerbangan, setiap hari ketemu pramugari yang rata-rata berwajah cantik dan bertubuh ideal, tapi kenapa nggak ada satu pun yang berhasil membuatnya melupakan Mutia si wanita mungil."
Ketika menoleh ke samping, Zhafran tak lagi menemukan sosok Arshaq. Ia mengedarkan pandangan, lalu berdecak saat menemukan Arshaq sudah berada di luar restoran.
"******, memang! Gue ditinggal." manik hitamnya menatap nelangsa pada piring-piring yang memenuhi meja. "Terus ini semua gue yang bayar? Sialan dah! Nggak tahu apa kalau ini tanggal tua? Niat makan gratis, gue malah ketorok."
...* * *...
Setibanya dirumah, suasana heninglah yang menyambut Ghifar. Jarum jam masih menunjukan pukul empat sore, itu artinya Lamia dan Azril belum pulang dari bekerja. Ini waktu yang pas untuk bicara dengan Mutia.
Lalu dimana wanita mungil berbadan dua itu? Biasanya, ketika sore hari Mutia akan berada di halaman depan, menyiram tanaman Lamia yang hanya diurus pemiliknya saat weekend, itupun bila Lamia sedang mood mengurus tanaman.
Tapi kali ini Ghifar tak menemukan sosok mungil Mutia di halaman depan, karena itu Ghifar memutuskan untuk mencarinya di kamar atau ruang mencuci. Namun baru juga kakinya membuat satu langkah, terdengar suara pecahan gelas. Tanpa membuang waktu Ghifar segera melesat cepat menuju dapur.
"Mutia!"
Ghifar berseru panik saat mendapati pecahan gelas berserakan di sekitar Mutia yang kini tengah duduk berselonjor kaki dan menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangan.
"Kamu terpeleset?" sesampainya di hadapan Mutia, Ghifar berjongkok, lalu menatap Mutia dari atas hingga bawah.
Mutia menggeleng. Wajahnya sudah dipenuhi oleh peluh dingin. Sesekali ia menghela nafas panjang. "Ma-maaf, tuan. Aku tidak sengaja memecahkan ge-gelasnya."
"Tidak usah pedulikan gelas itu." Ghifar mengamati Mutia yang berwajah pucat kini tengah mengusap-usap perutnya. "Apa yang terjadi?"
Mutia menggeleng. Kini nafasnya mulai tersengal. "Kram. Pe-perutku kram, tuan." dengan sisa tenaga yang ia miliki, Mutia meraih lengan Ghifar dan mencengkramnya kuat, berusaha mengalihkan rasa sakit yang ia alami.
__ADS_1
"Perutmu kram? Kita ke rumah sakit sekarang." menyadari hal buruk bisa saja terjadi pada kandungan Mutia, Ghifar dengan cepat mengangkat tubuh mungil mantan kekasihnya. Membawa serta Mutia dalam gendongannya, Ghifar berjalan cepat menuju mobil.