Untuk Mutia

Untuk Mutia
Berwudhu dan sholat-lah


__ADS_3

"Mutia!"


Panggilan itu berhasil menyentak Mutia dari lamunannya. Membuat Mutia yang tengah memasak nasi goreng berjengit kaget dan tanpa sengaja menyentuhkan lengannya pada wajan panas. Spontan Mutia melepaskan spatula sembari meringis lirih, lalu beralih memegangi lengannya yang terasa perih.


Tak sampai dua menit seseorang meraih tangannya, kemudian membalurkan cairan kental pada luka bakarnya. Menoleh ke samping, Mutia menemukan Yudha tengah memberikan pertolongan pertama pada lukanya dengan raut khawatir.


"Kamu kenapa nggak hati-hati, sih. Udah tahu lagi masak, malah melamun." gerutunya sembari menyimpan botol berisi madu ke dalam kabinet atas, sebelum melemparkan tatapan tajam pada Mutia.


Mengulum senyum, Mutia tak langsung menanggapi gerutuan Yudha, justru sibuk membalurkan madu di bagian lengannya yang terbakar. "Aku nggak melamun, Mas." kilahnya. "Memangnya siapa yang nggak akan kaget kalau tiba-tiba di panggil dengan nada sekeras tadi."


Yudha menaikkan satu alisnya mendengar penyangkalan Mutia. "Kalau kamu tidak melamun, seharusnya kamu mendengar langkah kakiku, menyadari kedatanganku dan menanggapi saat aku bertanya kamu sedang apa. Tapi pada kenyataannya kamu hanya diam dan memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong, sehingga membuatku akhirnya memanggilmu dengan keras."


"Benarkah?" raut wajah Mutia tampak bingung, kemudian mengedikkan bahu. "Aku bahkan tidak sadar kalau sedang melamun."


Melirik kompor yang masih menyala, Yudha segera mematikan nyala api agar nasi goreng yang Mutia masak tidak gosong, sebelum menanggapi ucapan wanita itu.


"Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan, Mutia? Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu sering sekali melamun dan kehilangan fokus, baik di BM ataupun di rumah. Mbah juga bilang sama aku kalau beberapa malam ini kamu selalu tidur larut, padahal Yusuf tidak rewel. Ada apa, Mutia?"


Tak ada jawaban, Mutia hanya menundukkan kepalanya.


"Kamu nggak bisa terus-terusan seperti ini, yang ada nanti kamu malah sakit. Dan kalau kamu sakit, Yusuf juga bisa ketularan." meraih tangan Mutia, Yudha menggenggam lembut, membuat wanita itu mendongak. "Kamu ingat kan, sebentar lagi kita akan menikah?"


Mutia menganggukkan kepalanya.


"Itu artinya kita harus saling terbuka. Untuk membangun sebuah kepercayaan, dibutuhkan kejujuran. Jika kita masih sama-sama menyimpan rahasia, berarti kita belum bisa saling percaya, sementara dalam pernikahan, kita membutuhkan kepercayaan sebagai salah satu pondasinya."


Manik hitam Mutia menatap Yudha dengan lekat, hingga suara tangisan menarik perhatian mereka. Keduanya secara bersamaan menoleh pada asal suara, hanya untuk mendapati Mbah Sriti berdiri di ambang pintu dapur dengan menggendong Yusuf yang menangis.


"Maaf mengganggu kalian. Yusuf dari tadi nangis, nggak mau diem, sepertinya dia mencari Bunda-nya." ucap mbah Sriti, menatap tak enak hati pada Yudha dan Mutia yang sebelumnya tampak terlibat pembicaraan serius.


"Tidak apa, mbah." Yudha menghampiri mbah Sriti, lantas mengambil alih Yusuf, yang secara ajaib tiba-tiba saja diam.


"Kamu mau ketemu Ayah, ya? Denger suara Ayah dari kamar, tapi Ayah nggak dateng buat ambil kamu, jadi kamu nangis biar di gendong sama mbah dan dibawa ke Ayah. Wah, anak Ayah pinter banget, sih." dengan gemas Yudha mengecup seluruh permukaan wajah Yusuf sembari membuat suara-suara aneh, yang berhasil memancing gelak tawa Yusuf.


Sementara Mutia yang memerhatikan interaksi keduanya semakin merasa gelisah. Apakah setelah Mas Yudha mengetahui tentang Haikal, Mas Yudha akan tetap bersikap seperti ini? Batinnya kalut. Ia tak ingin Yusuf kehilangan Yudha, setelah Yusuf merasa begitu dekat dan nyaman dengan Yudha yang ia anggap sebagai Ayahnya.


"Mutia,"


Bersamaan dengan panggilan itu, Mutia merasakan sentuhan di lengannya, membuatnya menatap Yudha dengan seulas senyum kecil yang tampak dipaksakan.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Ada apa denganmu, heum?"


Mutia menggeleng, kemudian berucap dengan nada lirih. "Aku takut kebahagian ini hanya sekadar mimpi, lalu saat aku terbangun semuanya menghilang."


Menghampiri Mutia, Yudha memeluk wanita itu dari samping. Disandarkannya kepala Mutia di dadanya, tatkala bibirnya memberikan kecupan lama di puncak kepala Mutia, sebelum meletakkan dagunya disana.


"Kamu harus tahu, Mutia, tidak ada satu hal apapun yang abadi di dunia ini, begitu pula dengan kebahagian. Jika diibaratkan, bahagia dan sedih itu seperti sepasang kaki, yang selalu melangkah beriringan. Bayangkan bila kita kehilangan salah satu kaki? Kita tidak akan mampu berjalan dengan benar, bukan?"


Mutia mengangguk dengan mata yang tak lepas menatap Yudha.


Seraya tersenyum Yudha mengusap lembut surai hitam Mutia yang tergerai. "Sama hal-nya dengan kebahagian. Jika kita hanya merasakan bahagia, maka kita akan kehilangan keseimbangan. Perasaan bahagia sering kali membuat kita lupa diri dan meninggalkan Allah, lalu disana lah tugas kesedihan, untuk menyadarkan kita bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini dan kita harus senantiasa mengingat Allah." dengan senyum dikulum Yudha menjawil hidung Mutia. "Kamu mau kuberitahu cara untuk menghilangkan perasaan takut dan membuat hati kita lebih tenang?"


"Apa?"


"Berwudhu dan salat-lah."


Entah hanya perasaan Mutia saja atau memang tiba-tiba ada cahaya di belakang Yudha yang membuat pria itu kini tampak bersinar ketika ia tersenyum hangat pada Mutia, yang terasa begitu menentramkan jiwa.


"Dengan berwudhu akan membuat kita bisa berpikir jernih, menghilangkan segala kemarahan dan ketakutan. Sementara salat akan menguatkan iman kita dan semakin mendekatkan diri pada Allah. Sebab tak ada yang perlu kamu takutkan di dunia ini selain murka Allah."


...* * *...


Ponsel Yudha berdering nyaring saat ia baru saja keluar dari mobil. Mengambil ponsel yang ia simpan di saku celana, Yudha tak bisa menahan diri untuk terkekeh saat melihat nama Mutia tertera di layar ponselnya. Segera saja Yudha menjawab panggilan Mutia, sembari menyandarkan punggungnya pada badan mobil.


"Ya, calon istri?" ujarnya dengan nada geli setelah mengucap salam. "Baru juga aku tinggalin, udah kangen aja." godanya, yang ia yakini pasti membuat Mutia mendengus saat ini.

__ADS_1


Melihat kondisi Mutia yang tidak baik-baik saja —bukan fisiknya, namun psikisnya— membuat Yudha akhirnya meminta atau lebih tepatnya memaksa Mutia untuk tidak masuk kantor hari ini, karena wanita itu butuh mengistirahatkan dirinya.


"Terserah Mas aja, deh. Yang penting Mas senang."


"Oh jelas. Aku senang bisa menikahi seorang Mutia Haruka yang cantik jelita, imut-imut menggemaskan kayak squishy." menggingit bibir, Yudha berusaha menahan diri untuk tidak melontarkan tawa.


"Squishy lagi, squishy lagi. Nggak ada persamaan yang lebih bagus apa?!"


Kali ini Yudha benar-benar meledakkan tawanya saat menangkap nada sebal dalam ucapan Mutia. "Maaf, jangan ngambek, dong. Nanti aku nggak tahan mau pulang buat peluk-peluk kamu."


"Ya Allah, Mas. Kenapa jadi genit gini, sih?!"


Tawa Yudha semakin keras. "Nggak papa. Aku genitnya juga sama calon istri sendiri. Nah, kalau aku genit sama istri orang, itu baru bahaya."


"Iya, iya, suka-suka Mas aja, lah. Aku nelpon cuma mau tanya, Mas makan siang mau dimasakin apa?"


"Aku minta kamu nggak kerja, biar bisa istirahat, terus ini kenapa mau anterin aku makan siang?"


"Aku cuma masakin, nanti minta pak Anton yang ambil di rumah."


"Ah, begitu." kemudian Yudha terdiam beberapa saat. "Tolong buatin oseng wortel, sambal dan Ayam rica-rica, ya."


"Ayam rica-rica? Ihh, aku jadi keinget sama Ata. Itu kan kesukaannya."


Yudha tersenyum saat membayangkan wajah keponakannya, yang begitu cantik meskipun usianya masih tujuh tahun.


"Oh iya, Mas cuma mau dibuatin itu aja?"


Yudha mengiyakan.


"Baiklah. Assalamualaikum, calon imam."


"Waalaikumsalam." panggilan berakhir, Yudha menatap ponselnya dengan seulas senyum lebar. Ia yakin saat ini Mutia pasti sedang merona malu karena ucapannya sendiri.


"Yudha."


"Masih ingat denganku?"


Yudha mengernyitkan dahi.


"Kita bertemu dua hari lalu di supermarket."


"Ah," Yudha tersenyum ramah saat berhasil mengingat sosok di hadapannya. "Kamu teman Mutia, kan?"


Pria yang kemarin tidak mengenalkan namanya menganggukkan kepala. "Bisa kita bicara? Ini tentang Mutia."


"Mutia?" Yudha membeo, kemudian melirik jam tangannya. "Maaf, tapi aku harus bekerja."


"It's okay, kita bisa bicara di jam makan siang. Bagaimana?"


"Baiklah."


"Aku menunggumu di restoran seberang." pria itu —yang tak lain adalah Haikal— menunjuk restoran yang ia maksud, sebelum berpamitan pergi. Meninggalkan Yudha yang diselimuti rasa penasaran.


...* * *...


Mutia sedang menyuapi Yusuf di ruang tengah sembari menonton televisi, ketika terdengar suara pintu yang di banting keras. Tak sampai dua menit setelah Mutia mengarahkan atensinya pada asal suara terdengar, sosok Yudha muncul, berdiri di dekat dinding pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.


"Mas Yudha," tersenyum lebar, Mutia meletakkan mangkuk bubur ke atas meja kopi, kemudian beranjak dari duduk. "Kalau pulang kayak gini, kenapa nggak sekalian makan siang di rumah aja, jadi nggak ngeropoti pak Anton buat ambil makan siang disaat jalanan sedang macet-macetnya. Makan siangnya udah sampai, kan?" sesaat Mutia melirik jam dinding. "Ah, tentu saja. Ini sudah setengah jam berlalu dari sejak kepergian pak Anton. Udah Mas makan juga, kan?"


Senyuman Mutia seketika menghilang saat ia menyadari bahwa saat ini Yudha terlihat berbeda. Rahang pria itu tampak mengetat, bibirnya menipis membentuk garis lurus, tangannya —yang salah satunya memegang sebuah map— mengepal kuat, sementara matanya... mata hitam yang selalu menatap Mutia dengan hangat kini berganti dengan tatapan tajam penuh kemarahan. Mutia juga bisa menangkap sorot kecewa dari cara pria itu menatapnya, begitu pekat hingga membuat Mutia merasa tercekik dan sesak nafas di saat bersamaan.


"Mbah." bukannya menanggapi ucapan Mutia, Yudha justru memanggil mbah Sriti. Dan tak sampai dua menit sosok wanita parubaya mucul dari arah dapur, berjalan tergopoh menghampirinya.


"Tolong bawa Yusuf ke kamar." pinta Yudha dengan nada selembut mungkin, meskipun saat ini yang paling ia inginkan adalah berteriak dengan keras.

__ADS_1


Tanpa banyak tanya mbah Sriti segera menggendong Yusuf dan mengajak bayi mungil itu ke kamarnya di lantai dua, meninggalkan Mutia yang kini menatap Yudha dengan alis bertaut, sementara Yudha sendiri mengawasi mbah Sriti yang membawa Yusuf.


Saat tak lagi melihat sosok mbah Sriti dan pintu kamar Yusuf tertutup rapat, Yudha mengalihkan atensinya pada Mutia. Membuka kasar map yang ia pegang tanpa memalingkan tatapannya dari Mutia, lalu dilemparnya beberapa lembar kertas di dalam map tersebut ke atas meja.


"Apa ini, Mutia?"


Masih dengan kebingungan, Mutia mengarahkan tatapannya pada lembaran kertas di atas meja. Sedikit membungkuk diambilnya selembar kertas, membacanya, kemudian membelalak. Sedetik kemudian Mutia menatap Yudha dengan wajah pucat pasi.


"Da-dari mana Mas mendapatkan ini?" ujarnya dengan gelagapan saat mendapati bahwa lembaran kertas yang baru saja Yudha lemparkan adalah berkas pernikahan serta perceraiannya dengan Haikal.


Yudha tersenyum sinis sebelum menjawab. "Menurutmu, dari mana aku mendapatkannya?"


Mutia bungkam. Tanpa Yudha memberitahunya pun ia sudah tahu jawabannya.


Melihat respon Mutia membuat Yudha tertawa sumbang. Manik hitamnya kian menyorot kecewa dan... terluka.


"Jadi benar... suamimu tidak meninggal?"


Bodoh! Sudah tahu jawabannya, kau masih saja bertanya, Yudha?


Karena aku berharap semua ini hanya cara Haikal untuk menciptakan kesalahpahaman diantara kami saja. Mutia tidak mungkin berbohong padaku! memejamkan matanya sesaat, Yudha menghela nafas kasar.


"Mas, aku bisa menjelaskannya."


Jawaban Mutia seketika melenyapkan seluruh keyakinan Yudha, membuat pria itu tersenyum getir.


Maju satu langkah, Mutia berusaha mendekati Yudha, namun pria itu justru memundurkan tubuhnya dan melemparkan tatapan menegur yang seolah berkata; jangan mendekatiku, Mutia!


"Menjelaskan?" kali ini Yudha tersenyum mengejek. "Itu artinya, semua ini benar." dengan tatapan kosong, Yudha menunjuk lembaran kertas yang berserakan di atas meja. "Kamu baru akan mengatakannya padaku, setelah aku mengetahuinya dari orang lain? Jika Haikal tidak mengatakan hal ini padaku, sampai kapan kamu akan menyembunyikannya, Mutia?!"


Reflek Mutia memundurkan tubuhnya, tak menyangka bahwa Yudha akan mengeluarkan nada tinggi padanya. Gemetar, Mutia menundukkan kepala dan menangis dalam diam.


"A-aku akan memberitahu, Mas, tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya." suara Mutia terdengar sengau di sela sesegukkannya.


"Menunggu waktu yang tepat? Kapan, Mutia? Aku bahkan sudah mengatakan rahasia terkelamku padamu, yang bahkan tidak diketahui oleh kedua orang tuaku. Itu semua kulakukan agar tidak ada satu pun rahasia diantara kita." bergerak gelisah, Yudha mencengkram rambutnya dengan kasar.


"Aku tidak peduli kamu janda karena suamimu meninggal ataupun karena bercerai, yang membuatku kecewa adalah kamu membohongiku, Mutia, disaat pernikahan kita sudah di depan mata."


Kemarahan Yudha sudah tak terbendung, jadi Mutia memilih untuk mengatupkan mulutnya dengan rapat. Percuma saja ia bicara, Yudha tidak akan mendengarkannya. Karena disaat kita sedang emosi, kita akan menjadi buta dan tuli, sehingga tak bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.


Diam adalah pilihan yang paling bijak untuk meredakan amarah, sebab jika ia mendebat Yudha sekarang, sudah bisa di pastikan mereka akan terbakar emosi dan berakhir jadi abu.


"Aku selalu menjaga hatiku, karena tidak ingin ada wanita lain yang bernasib sama seperti Mami. Sejak mengetahui apa yang terjadi pada Mami, aku sudah bertekad, ketika aku jatuh cinta, aku hanya akan mencintai istriku seumur hidupku."


Kali ini Mutia tak bisa menahan dirinya untuk terisak.


"Cukup banyak wanita yang berusaha menarik perhatianku agar aku mendekati mereka, namun aku selalu bersikap tak acuh. Karena apa? Karena aku tidak ingin wanita-wanita dari masa laluku kelak menjadi penyebab dari kesedihan istriku, seperti yang terjadi pada Mami."


"Bertahun-tahun, Mutia, aku mempersiapkan diriku sebaik mungkin untuk istriku nanti. Karena apa? Sekali lagi, karena aku tidak ingin istriku mengalami luka yang sama seperti Mami. Karena aku tidak ingin menjadi bajingan seperti Papi, yang meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk cinta pertamanya!"


Berjalan cepat menghampiri Mutia, Yudha mencengkram kedua pundak wanita itu, membuat Mutia meringis dan mengangkat wajahnya, menatap Yudha dengan mata memerah serta wajah basah bersimbah air mata.


"Tapi kenapa sekarang justru aku yang berada di posisi Mami? Jika Papi saja bisa meninggalkan Mami untuk cinta pertamanya yang dulu tidak berhasil Papi milikki, apalagi kamu yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk kembali pada Haikal mengingat kalian pernah bersama. Lalu bagaimana denganku, Mutia?!" kasar Yudha mengguncang pundak Mutia. "Katakan padaku, apa kamu masih mencintai Haikal?"


Mutia tetap bungkam, namun matanya menatap Yudha dengan lekat.


Menjauhi Mutia, Yudha mengacak-acak rambut dan berteriak frustasi. Kemudian ditatapnya Mutia dengan sorot lelah sebelum berucap. "Sepertinya aku harus memikirkan kembali tentang pernikahan kita, Mutia."


Tanpa menunggu tanggapan Mutia, Yudha membalik tubuhnya, melangkah pergi dengan dada sesak di penuhi oleh kemarahan dan kekecewaan.


"Aku mencintainya."


Ucapan Mutia dengan suara serak berhasil menghentikan langkah Yudha, namun tak cukup mampu untuk membuat pria itu berbalik menatapnya.


"Tapi itu dulu. Dan sekarang... aku sangat mencintaimu, Mas. Aku tidak ingin kehilanganmu. Jika kamu ingin pernikahan kita di tunda atau dibatalkan sekalipun, tidak apa. Hanya saja, kumohon... jangan tinggalkan aku dan Yusuf. Kita... kita akan memulainya dari awal dan kali ini aku berjanji, tak ada lagi kebohongan."

__ADS_1


"Luka fisik bisa dengan mudah di obati, Mutia, tapi tidak dengan hati yang kecewa." setelah mengatakan itu Yudha benar-benar melangkah pergi.


Ya Allah, apa memang tidak ada kebahagian untukku?


__ADS_2