Untuk Mutia

Untuk Mutia
Tidak sendirian dan Yusuf


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Mutia?"


Yudha begitu khawatir saat salah satu karyawannya menghubungi dan memberi kabar bahwa ia menemukan Mutia tergeletak di kamar mandi beberapa menit lalu. Yudha pun langsung menuju rumah sakit, pria itu bahkan melupakan alas kakinya karena terburu-buru, beruntung ada sandal di dalam bagasi mobil yang bisa ia pakai.


"Masih di periksa sama dokter, bos." wanita berambut coklat terang menanggapi pertanyaan Yudha.


Mengusap wajahnya, Yudha menghela nafas kasar. Kemudian menatap bergantian lima wanita di hadapannya. "Siapa yang menemukan Mutia?"


Wanita berjaket denim dengan rambut sebahu mengangkat tangannya. "Tadi aku mau pinjem charger sama Mutia. Pas aku masuk Mutia-nya nggak ada dan kamar mandinya dalam keadaan terbuka, saat itu lah aku melihat Mutia tergeletak di lantai dengan darah segar mengalir keluar dari bagian bawah tubuhnya. Aku panik, lalu memanggil yang lain. Kikan langsung menghubungi pak bos, sementara Adriana meminta pertolongan. Para warga yang bantu kami bawa Mutia kemari."


"Ya Allah," Yudha menyugar rambut sembari beristighfar dalam hati.


Seluruh atensi kini tertuju pada pintu ruang UGD yang baru saja terbuka dan sedetik kemudian seorang pria bersnelli melangkah keluar. Mereka pun segera menghampiri dokter tersebut, dengan Yudha berada dibagian paling depan.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Yudha, mewakili keingintahuan para karyawannya akan kondisi Mutia.


"Kami menemukan sisa larutan obat pencahar di dalam tubuh pasien."


"Obat pencahar?" Yudha menautkan alis, tatkala suara terkesiap lirih terdengar dari belakang tubuhnya.


"Dan saat ini pasien dalam keadaan kritis. Benturan yang dialami oleh pasien cukup kuat, hingga menyebabkan pendarahan. Kami harus segera mengeluarkan bayi-nya dengan jalan operasi atau hal ini akan membahayakan kondisi ibu dan bayi." jelas sang dokter.


"Tapi... due date Mutia masih dua minggu lagi. Apa tidak masalah?" Yudha teringat saat ia menemani Mutia melakukan check up terakhir dan dokter memberitahu mereka tanggal prediksi untuk Mutia melahirkan.


"Jika kita membiarkan kondisi pasien seperti ini, justru akan sangat berbahaya, pak. Apalagi ketuban pasien sudah pecah akibat tubuhnya yang terhempas dengan kuat dan itu bisa menyebabkan ketubannya kering. Kami harus segera melakukan operasi pada pasien."


"Baiklah. Tolong, lakukan yang terbaik untuk Mutia dan bayi-nya."


Dokter tersebut mengangguk. "Apa anda keluarga pasien? Kami butuh persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan operasi."


"Bukan. Saya atasannya di tempat kerja, semua keluarganya berada di luar pulau, jadi saya yang bertanggung jawab."


"Kalau begitu, bisa ikut saya sekarang untuk menandatangani surat persetujuan?"


Yudha mengangguk, kemudian berbalik menatap para karyawannya. "Kalian pulang lah." kini atensi Yudha beralih pada wanita yang menemukan Mutia di kamar mandi. "Nyimas, kamu bisa nyetir kan?"


"Bisa, bos."


"Bawa mobilku." dengan itu Yudha memberikan kunci mobilnya pada Nyimas, yang langsung di ambil alih oleh wanita di hadapannya. "Tolong siapkan semua barang-barang dan kebutuhan bayi Mutia, lalu besok pagi kamu bawa kemari."


...* * *...


"Hei, kamu udah sadar?" setelah menandatangani surat persetujuan, Yudha kembali ke ruang UGD untuk menemui Mutia. Saat melangkah masuk, ia mendapati wanita hamil itu tengah mengarahkan tatapan padanya. Manik hitam yang biasanya begitu berbinar juga penuh semangat, kini tampak sayu dan berkaca-kaca.


"Ma-Mas Yudha." suara Mutia terdengar serak. Entah karena baru sadar atau karena menahan tangis. Lalu saat Yudha tiba di sampingnya, pertahanan Mutia pun hancur. Ia menangis terisak bak anak kecil. "A-aku nggak mau di operasi, Mas. Aku takut." rengeknya.


Yudha meraih tangan Mutia, menggenggamnya lembut, sembari mengulas senyum menenangkan. "Kenapa harus takut? Bukannya kamu sudah menyiapkan diri untuk menjalani proses persalinan? Kamu juga sudah tidak sabar untuk melihatnya, kan?"


"Iya," Mutia menunduk, menatap perut besarnya dan memberikan usapan pelan. "Tapi itu untuk persalinan normal. Aku tidak pernah membayangkan akan berada di situasi ini. Orang bilang, proses penyembuhan operasi caesar, lebih lama dari pada melahirkan secara normal."


Tanpa canggung Yudha mengusap puncak kepala Mutia. "Sebagai manusia kita hanya bisa berencana, sementara Allah lah yang menentukan segalanya. Melahirkan secara normal ataupun dengan jalan operasi, tidak akan menjadi masalah, yang terpenting bayi kamu lahir dengan selamat dan sehat, tanpa kekurangan satu hal apapun."

__ADS_1


Mutia menggeleng berulang kali. Dan kini wanita itu tampak panik saat melihat beberapa perawat masuk ke dalam ruang UGD untuk menyiapkan operasi persalinannya.


Meraih lengan Yudha, tatkala air matanya kian deras mengalir keluar. "Mas, tolong. Aku nggak mau di operasi."


Melepas pegangan Mutia, Yudha menunduk, lantas menangkup pipi wanita itu. "Lalu kamu akan membiarkan kondisi bayi kamu semakin memburuk? Apa kamu siap kehilanganmya?"


Mutia menggeleng keras dan menangis tersedu-sedu. Setelah semua kehilangan yang ia alami, Mutia tak ingin kehilangan anaknya juga.


"Stt..." Yudha menyeka air mata Mutia dengan ibu jari, kemudian secara lembut memberikan kecupan di dahi. "Allah akan mewujudkan apa yang kamu pikirkan. Karena itu, kamu harus selalu berprasangka baik. Dan insya'allah semua juga akan baik-baik saja. Serahkan segalanya pada Allah, sebab tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terbaik untuk kita, selain Allah Sang Pemberi Kehidupan."


Meraih satu tapak tangan Yudha yang menangkup pipinya, Mutia menggenggam erat, menjadikan pria itu sebagai pegangan, tatkala matanya menunjukan sorot memelas. "A-aku tahu tidak seharusnya meminta hal ini pada Mas Yudha, tapi kumohon... temani aku. Aku tidak ingin melalui semua ini sendirian."


Yudha tersenyum lebar, kemudian mengangguk. "Pasti. Aku pasti akan menemanimu sampai semuanya selesai. Jangan pikirkan apapun, fokus saja pada bayimu." dengan gerakan perlahan Yudha membelai pipi Mutia. "Kamu tidak sendirian. Aku akan selalu menemanimu."


......* * *......


Beberapa menit setelah berhasil melewati proses persalinan, Mutia merasa tubuhnya begitu lelah, hingga membuatnya berakhir dengan hilang kesadaran. Satu jam kemudian, saat Mutia membuka mata, ia langsung mendapati pemandangan sosok pria bertubuh tinggi tegap, berdiri membelakanginya di dekat jendela ruang rawat.


Kedua tangannya yang kekar nan kuat, menimang seorang bayi dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Sesekali pria itu mengajak bicara bayi dalam rengkuhannya, tertawa saat si bayi memberi respon, meski hanya sekadar kedipan mata, lalu memberikan kecupan di dahi, pipi, bahkan ujung hidungnya. Bagi siapapun yang melihatnya, pasti akan berpikir bahwa pria itu tengah bahagia menyambut kelahiran anaknya.


"Ma-Mas Yudha."


Membalik tubuh, Yudha mengarahkan atensi pada Mutia sembari mengulas senyum hangat. "Akhirnya kamu bangun juga. Dia sudah sangat kelaparan."


Beranjak menghampiri Mutia, Yudha mengecup dahi bayi mungil itu sebelum diberikan pada Ibunya.


"Aku akan keluar sebentar."


"Hai, Sayang. Selamat datang. Bunda senang melihatmu." dengan mata berkaca-kaca dan perasaan bahagia yang begitu membuncah, Mutia mengecup setiap permukaan wajah putranya.


Mutia tersadar saat mendengar suara tangis bayinya, bahwa ia harus segera memberikan asi, namun ia tidak tahu caranya. Ini pengalaman pertama dan ia takut melakukan kesalahan, yang akan membahayakan putranya.


Disaat Mutia tengah larut dalam pikirannya, pintu ruang rawat terbuka dan sedetik kemudian seorang perawat melangkah masuk sembari tersenyum ramah padanya.


"Tadi suami anda menemui dokter dan mengatakan bahwa anda sudah sadar, lalu dokter meminta saya kemari untuk membantu anda memberikan asi pada bayi mungil ini." jelas perawat tersebut, setibanya ia di samping ranjang rawat Mutia.


"Suami?" Mutia mengajukan pertanyaan saat perawat membantu bayinya mendapatkan posisi yang nyaman untuk menikmati asi pertamanya.


"Iya. Pria sama yang menemani anda saat menjalani operasi. Dia... suami anda, kan?" setelah melakukan tugasnya, perawat itu menatap Mutia dengan mata menyipit.


Mutia merasa ada batu besar yang menyumbat tenggorokannya, hingga ia kesulitan untuk meneguk ludah, sekaligus kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan suara. Mutia dilema, namun akhirnya mengangguk dengan kaku.


"Suami anda begitu perhatian dan menyayangi anda."


Mutia teringat saat ia tengah menjalani operasi, Yudha tidak pernah berhenti bershalawat sembari menyeka peluh dan air mata yang membasahi wajahnya, sementara satu tangan pria itu tak lepas menggenggam erat tangannya, memberi keyakinan bahwa ia tidak sendirian, bahwa ia memiliki tempat untuk berpegangan.


"Saat anda pingsan dan dokter mengatakan anda mengalami pendarahan yang cukup banyak, suami anda begitu panik. Apalagi ditambah kami membutuhkan waktu yang lama menunggu pihak bank darah mengantarkan beberapa kantung darah, sementara anda sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Lalu dengan wajah pucat pasi suami anda keluar dari ruang operasi, dia menghampiri setiap orang yang ada di rumah sakit ini dan menanyakan golongan darah mereka. Tidak sampai sepuluh menit, suami anda sudah kembali dengan membawa seorang wanita yang bersedia mendonorkan darahnya untuk anda."


Ucapan perawat tersebut membuat Mutia tak bisa berkata-kata. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya, namun Mutia takut untuk membuat kesimpulan. Ia tak ingin berharap lebih, yang justru akan membuatnya tersakiti.


"Nyonya, bayinya sudah kenyang." perawat itu menatap bayi Mutia yang telah menjauhkan wajah. "Apa anda ingin saya memindahkannya ke box bayi?"

__ADS_1


Mutia menggeleng. "Biarkan dia bersamaku."


"Baiklah. Jika anda butuh sesuatu, bisa tekan tombol di dinding itu." perawat menunjukan tampat yang ia maksud dan mendapat anggukan dari Mutia.


Setelah kepergian perawat, Mutia sibuk dengan pikirannya sembari menepuk-nepuk lembut bokong putranya. Bahkan karena terlalu fokus berpikir, Mutia sampai tidak mendengar suara pintu terbuka dan menyadari kehadiran Yudha yang sudah berdiri di dekatnya.


"Aku membeli roti bakar."


Mutia tersentak kaget dan serta merta mengarahkan tatapan pada Yudha yang kini tengah meletakan sebuah plastik putih transparan ke atas nakas.


"Tapi kamu baru bisa makannya nanti. Dokter bilang kamu harus puasa selama enam jam ke depan." sambung Yudha.


Mutia mengangguk sembari tersenyum kecil, tatkala Yudha mendudukan tubuh di kursi yang tersedia. "Mas,"


"Hm?"


"Bayiku... sudah di adzani?"


Yudha mengangguk. "Aku yang melakukannya. Maaf, telah lancang."


"Justru aku mau berterima kasih." menatap putranya, Mutia tersenyum getir. "Jika tidak ada Mas, entah siapa yang akan mengadzani putraku."


Menggerakan tangannya, Yudha mengusap lembut kepala bayi Mutia yang tampak begitu kecil. "Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?"


Mutia menggeleng. "Saat menggandungnya, yang aku pikirkan apa aku bisa melahirkannya dengan selamat atau tidak. Dan jika tidak, siapa yang akan mengurus bayiku."


"Astaghfirullah, Mutia. Seharusnya kamu tidak berpikiran seperti itu."


"Iya. Tapi perasaan takut, membuat otakku selalu memunculkan pikiran-pikiran buruk."


"Baiklah, tidak apa-apa. Kamu memiliki banyak waktu untuk mencari nama yang tepat."


Jeda sesaat. Keduanya fokus menatap malaikat kecil menggemaskan yang berbaring nyaman di samping tubuh Mutia, hingga suara Mutia yang memanggil Yudha memecah keheningan diantara mereka.


"A-apa... Mas Yudha keberatan memberi nama untuk putraku?"


Gerakan tangan Yudha yang dengan menepuk-nepuk pelan perut bayi Mutia seketika terhenti, tatakala manik hitamnya menatap Mutia dengan lekat.


"Kenapa aku?"


"Karena Mas Yudha yang menemaniku saat bersalin, Mas Yudha yang pontang panting mencarikan pendonor untukku dan juga mengumandangkan adzan untuk putraku. Jadi kupikir, Mas pantas memberikan nama untuk anakku. Tapi... jika Mas Yudha keberatan..."


"Suatu kehormatan bagiku telah diberi kepercayaan untuk memberikan nama pada bayi menggemaskan ini." dengan sayang Yudha mengusap pipi bayi Mutia menggunakan punggung jari telunjuk. "Sebenarnya, saat pertama kali menggendongnya, aku sudah memikirkan nama yang cocok untuknya."


"Apa?" Mutia tampak antusias, menatap Yudha dengan berbinar.


Sembari tersenyum lebar Yudha menjawab. "Evano Yusuf Adibrata. Evano artinya anugerah Tuhan yang paling indah. Dan Adibrata artinya tingkah yang unggul. Jika diucapkan secara cepat, nama akhirnya memang terdengar seperti namaku." dengan tersenyum kikuk Yudha mengusap tengkuknya. "Bagaimana?"


"Aku setuju." Mutia mengangguk semangat. "Lalu... panggilannya? Evan?"


Yudha menggeleng tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya. "Yusuf. Semoga dia akan tubuh dengan semua kebaikan yang dimiliki oleh nabi Yusuf."

__ADS_1


Memejamkan mata, Mutia berucap dengan sepenuh hati. "Amin ya robbal alamiin."


__ADS_2