
"Mas,"
"Apa kamu mencintainya?"
"Hah?" Mutia mengerutkan dahi, menatap Yudha dengan sorot bingung. Tak menyangka Yudha akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu, padahal ia sudah menceritakan semuanya, termasuk tentang perasaannya pada Ghifar.
"Mas, tadi kan aku sudah bilang..."
"Jawab saja." Yudha menyela, membuat Mutia menghela nafas pelan.
"Tidak." jawabnya mantap, tanpa keraguan. "Sejak awal, aku menatap kak Ghifar tak lebih dari seorang kakak." helaan nafas panjang keluar dari sela bibir Mutia.
"Satu-satunya alasan yang membuatku mempertahankan hubungan kami, hanya karena aku merasa nyaman dengannya dan takut kehilangan sosok kakak yang tidak pernah kumilikki." menatap Yudha, Mutia mengulas senyum getir.
"Aku terdengar egois dan jahat, bukan? Aku bersamanya hanya demi kepentingan diriku sendiri, tanpa berniat membalas kebaikannya dengan mencintainya juga."
"Apa kamu pernah belajar untuk mencintainya?" memiringkan sedikit kepalanya, Yudha menatap Mutia dengan lekat. "Mendengar dari ceritamu, Ghifar adalah pria yang baik dan tidak akan sulit untuk mencintainya."
Mutia mengangguk, tersenyum, kemudian memberitahu Yudha rahasia yang ia simpan rapat. Alasan yang membuatnya mengambil keputusan besar dengan melepaskan pria sebaik Ghifar dan menerima permintaan Ayahnya untuk menikah dengan Haikal.
"Temui dia, Mutia."
Serta merta Mutia mengangkat wajah. Menatap Yudha dengan sorot tak percaya.
"Selesaikan masa lalu kalian."
"Kami memang sudah selesai sejak bertahun-tahun lalu, Mas."
Yudha tersenyum. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala Mutia. Disingkirkannya helaian rambut yang mengganggu pandangannya untuk menatap Mutia kebalik telinga wanita itu, sebelum beralih menggenggam tangan Mutia.
"Kamu menggantung ceritanya, Mutia."
Ucapan Yudha, Mutia tanggapi dengan kernyitan dahi.
"Apa yang kamu lakukan terhadap Ghifar, memutuskan hubungan kalian hanya melalui pesan singkat, tanpa penjelasan dan tidak lama setelah itu dia menerima kabar bahwa kamu sudah menikah, tentu saja melukai egonya. Ghifar tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan jawaban tentang apa yang salah, sampai dulu kamu tiba-tiba meninggalkannya. Dia memang membencimu, sesuai keinginanmu, tapi kamu lupa... saat kita membenci ataupun mencintai seseorang, kita tidak akan bisa berhenti untuk memikirkannya."
"Jadi dulu aku mengambil keputusan yang salah?"
"Saat itu kamu dalam keadaan terdesak. Dan sudah menjadi sifat alami manusia, akan bertindak ceroboh kala merasa tertekan." Yudha tersenyum hangat, merengkuh satu sisi wajah Mutia dan memberikan usapan seringan bulu di pipi wanita itu dengan ibu jarinya.
Mutia menunduk, menatap jemarinya yang saling meremas gelisah. "Kupikir dengan kak Ghifar membenciku, akan membuatnya melupakanku dan kembali melanjutkan hidup."
"Tidak, Sayang. Apa yang kamu lakukan justru membelenggu Ghifar. Kamu seperti mengikatnya tanpa tali. Dan itu lebih kejam, daripada kamu benar-benar melilit tubuhnya dengan rantai besi."
Mutia mengutuk dirinya dalam hati. Bagaimana bisa pipinya masih sempat-sempatnya merona saat mendengar Yudha memanggilnya sayang.
"Temui dia." meraih dagu Mutia, Yudha memaksa wanita itu untuk menatapnya. "Jelaskan semua padanya, agar Ghifar bisa melepaskan diri dari ikatan masa lalu dan memulai lembaran baru."
Manik hitam Mutia menatap obsidian Yudha dengan lekat. Ia terhisap dan terjebak di kedalaman manik mata Yudha yang menghipnotis, hingga tanpa mendapat perintah dari otaknya, Mutia menganggukan kepala.
"Bagus." Yudha tersenyum puas. Menepuk dua kali puncak kepala Mutia, sebelum menarik tangannya.
"Tapi Mas Yudha temani aku, ya?"
...* * *...
"Mutia."
Serta merta Mutia mengarahkan atensinya pada asal suara yang baru saja menyerukan namanya. Mutia pun segera beranjak dari duduk saat mendapati sosok Ghifar tengah berjalan tergesa menghampirinya dan langsung memeluknya setibanya pria itu di hadapannya.
Tiga hari setelah pembicaraannya dengan Yudha, Mutia pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran calon suaminya itu. Ia memang harus bicara dengan Ghifar untuk menyelsaikan masa lalu mereka.
"Kak," perlahan Mutia mendorong tubuh Ghifar, berusaha sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan pria itu dan membuatnya merasa tertolak.
"Ah, maaf." kikuk, Ghifar melepaskan rengkuhan lengannya pada tubuh mungil Mutia dan beralih menggenggam kedua tangan wanita itu. Menatap lekat wajah wanita yang masih menjadi pemilik hatinya.
"Ehm, kak. Sebaiknya kita duduk." ujar Mutia sembari menarik tangannya dari genggaman Ghifar. Pandangannya menjelajah dan merasa tak nyaman saat beberapa pasang mata mulai memerhatikan mereka.
__ADS_1
"Kamu sudah pesan makanan?" Ghifar bertanya saat mereka telah duduk dengan posisi saling berhadapan. Sebenarnya Ghifar ingin sekali duduk disamping Mutia, namun ia khawatir tak bisa menahan tangannya untuk merengkuh tubuh mungil Mutia dan membuat wanita itu berubah pikiran. Ghifar tentu tidak ingin hal itu terjadi.
"Be-belum, kak." Mutia duduk gelisah dikursinya. Sesekali tatapannya tertuju pada meja yang berjarak dua meter dari tempatnya berada saat ini. Disana tampak Yudha tengah duduk memangku Yusuf.
Pantas saja semua orang memerhatikanku, pikirnya. Mengingat beberapa menit yang lalu ia masuk bersama Yudha dan anaknya, tapi sekarang ia justru duduk dengan pria lain.
"Kamu mau pesan apa, Mut?"
Suara Ghifar menyadarkan Mutia dari lamunannya. Wanita itu tampak linglung, kemudian menatap wanita berpakaian pelayan restoran disampingnya, membuat Mutia bergumam lirih saat menyadarinya.
"Aku... ayam betutu aja, kak."
Ghifar mengangguk, sebelum mengalihkan perhatiannya pada pelayan restoran. "Saya pesan ayam betutu, sop ikan be sunar dan sate lilit, yang ayam ya."
"Minumnya, Bli?"
"Berry blow lonic dan fruity lemon squash." sahut Ghifar tanpa bertanya pada Mutia. Saat pelayan meninggalkan meja mereka, Ghifar mengembalikan atensinya pada Mutia.
"Masih suka lemon squash, kan?"
Dengan kaku Mutia menganggukkan kepalanya. Sudah sekian tahun, kak Ghifar masih mengingat apa yang menjadi kesukaanku, batinnya.
"Aku senang kamu akhirnya mau bertemu dan bicara denganku. Yah... meski harus dengan sedikit ancaman. Aku minta maaf untuk itu, Mutia. Aku sudah kehabisan cara untuk mengajakmu bicara karena kamu selalu menghindariku, jadi aku terpaksa menggunakan... tunanganmu." suara Ghifar melirih di akhir kalimat.
Mutia tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, kak. Memang sudah seharusnya aku berhenti menghindari kakak dan menyelsaikan masa lalu kita."
Kedatangan pelayan dengan membawa pesanan mereka, menginterupsi pembicaraan. Mutia mengucapkan terima kasih sembari tersenyum ramah, saat pelayan usai menyajikan pesanan mereka dan berpamitan pergi.
"Aku juga ingin minta maaf," Mutia memainkan jemarinya dengan kepala menunduk. "Karena dulu mengakhiri hubungan kita hanya melalui pesan singkat."
Gerakan tangan Ghifar yang hendak menyuap sup ikannya seketika terhenti, tiba-tiba saja perasaan laparnya menguap entah kemana.
"Kenapa, Mutia? Apa cinta yang kuberikan padamu masih kurang?"
Mutia menggeleng pelan. "Justru cinta yang kakak berikan padaku begitu besar, hingga membuatku merasa ketakutan sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa membalasnya."
"Sekian tahun kita bersama, kamu tidak pernah sedikit pun mencintaiku, Mutia?"
"Selama kita bersama, tidak pernahkah kamu belajar untuk mencintaiku? Atau paling tidak, memiliki niat untuk membalas cintaku?"
Bodoh, kau sudah tahu jawabannya, Ghifar. Kenapa kau harus menanyakan sesuatu yang jawabannya akan membuatmu semakin sakit? Batinnya memaki.
"Pernah."
Jawaban Mutia seketika menarik perhatian Ghifar. Pria itu menatap Mutia yang kini telah mengangkat wajahnya, dengan sorot tak percaya.
"Pe-pernah? Kamu pernah belajar untuk mencintaiku?"
Mutia mengangguk mantap, tatkala pandangannya lurus ke depan. Memutar memori lama yang masih melekat erat dalam otaknya.
"Saat pertama kita bertemu, aku sudah memiliki ketertarikan pada kak Ghifar. Lalu semakin sering kita bersama, semakin aku merasa nyaman bersama kakak. Aku seperti menemukan seorang kakak yang tidak pernah kumiliki dan hal itu membuatku akhirnya bertindak egois. Aku... menerima perasaan kakak, semata-mata karena aku tidak ingin kehilangan kakak."
Ghifar sudah tahu sejak awal, bahwa Mutia menganggapnya tak lebih dari seorang saudara, namun saat wanita itu kembali menegaskannya, Ghifar tetap saja tidak terbiasa dengan rasa sakitnya.
"Tahun demi tahun kita lewati dengan status sebagai sepasang kekasih. Meski terpisah oleh jarak dan waktu, kakak tetap saja menghujaniku dengan perhatian dan cinta. Hingga disuatu hari aku akhirnya mengambil keputusan untuk belajar mencintai kakak, sebab aku tak yakin suatu saat akan kembali menemukan pria sebaik kakak yang begitu mencintaiku. Tapi ketika aku membicarakan tentang hal itu dengan kedua orang tuaku, mereka menentang keputusanku dan bahkan memaksaku untuk mengakhiri hubungan kita."
"Ke-kenapa? Kupikir kedua orang tuamu menyukaiku?" mengingat setiap kali ia datang, kedua orang tua Mutia selalu menyambutnya dengan ramah. Sikap mereka bahkan membuat Ghifar seperti pulang ke rumah dan bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Mereka memang menyukaimu." menggigit bibirnya, Mutia menatap Ghifar dengan mata berkaca-kaca. Rasanya berat untuk mengatakan alasan yang membuat mereka tidak bisa bersama. "Tapi bukan sebagai kekasihku, melainkan sebagai anak mereka, saudaraku."
"Apa maksudmu, Mutia?" dada Ghifar bergerak naik turun dengan ritme cepat.
"Kita tidak akan pernah bisa bersama, kak. Bagaimana pun caranya. Jika kita memaksakan diri untuk bersama, Allah akan murka."
"Dan kenapa Allah murka jika kita bersama, Mutia?!" Ghifar hilang kesabaran hingga tanpa sadar meninggikan suaranya. Menarik perhatian banyak orang, namun ia bersikap tak acuk. Justru menarik tangan Mutia agar wanita itu menatapnya.
"Katakan, Mutia? Jangan membuatku bingung."
__ADS_1
Pipinya basah oleh air mata, sementara bibirnya bergetar saat mengatakan rahasia yang sekian tahun ia sembunyikan dari Ghifar.
"Karena kita..." menelan ludah kesulitan, Mutia merasa ada duri ikan yang menyangkut di tenggorokannya. "Saudara sepersusuan."
Seperti tangan Mutia menghantarkan arus listrik yang begitu kuat, Ghifar seketika melepaskannya dan menatap wanita itu dengan wajah pucat pasi.
"Sa-saudara sepersusuan?" Ghifar bergumam lirih diantara rasa syok yang menderanya, kemudian tertawa sumbang. "Jangan bercanda, Mutia! Aku tahu kamu tidak mencintaku, tapi haruskah sampai kamu menggunakan alasan tidak masuk akal itu untuk membuatku berhenti mengharapkanmu."
"Aku tahu kamu pasti tidak akan memercayai apa yang kukatakan, karena itu dulu aku memilih untuk membuatmu membenciku agar kamu bisa melupakanku, sebab aku tak ingin melihat tatapan kecewa dan terluka dimatamu seperti sekarang. Aku... tidak sampai hati untuk mengatakan kebenarannya padamu."
Ghifar hanya diam, sementara manik hitamnya mulai digenangi kristal bening.
"Kupikir saat itu keputusanku sudah benar, tapi ternyata aku salah. Apa yang kulakukan justru membuatmu terjebak masa lalu. Maafkan, aku."
"Bagaimana bisa?" meski Ghifar mengucapkannya dengan suara lirih, namun Mutia masih bisa mendengarnya.
"Ibumu dan ibuku melahirkan di rumah sakit yang sama dan di waktu yang juga bersamaan. Akan tetapi ibuku tidak seberuntung ibumu. Saat kamu berhasil dilahirkan, kakakku justru meninggal sesaat setelah dilahirkan karena menderita kelainan jantung."
"Ibu mengalami tekanan berat karena kehilangan anak pertamanya, bahkan saat dirawat Ibu tak jarang mengamuk dan mengambil setiap bayi yang Ibu lihat. Lalu di hari terakhir Ibu di rawat, Bapak bilang mereka mendengar suara tangisan bayi yang begitu keras dari kamar sebelah. Ibu yang memang tidak bisa menahan diri untuk mengambil setiap bayi yang beliau lihat, langsung berlari menuju asal suara, meninggalkan Bapak yang pontang-panting mengejarnya. Dan disanalah pertemuan pertama ibumu dan ibuku."
"Ibumu bilang, asi-nya hanya sedikit, sehingga tidak mencukupi kebutuhanmu dan membuatmu terus menangis karena masih merasa lapar. Ibu yang mendengar hal itu, tanpa pikir panjang menawarkan diri untuk memberikan asi-nya padamu. Sejak hari itu mereka menjadi dekat dan sering saling mengunjungi, hingga Ibu hamil aku dan keluargaku pindah, kontak mereka pun terputus."
"Saat kamu pertama datang kerumahku, Ibu sama sekali tidak mengenalimu. Sampai hari dimana kamu bicara tentang orang tuamu dan menunjukkan foto keluargamu, Ibu mulai mewanti-wanti aku untuk tidak menjalin hubungan denganmu lebih dari sepasang kekasih. Aku bertanya padanya, apa alasanya melarang kita berhubungan, sementara kelihatannya mereka begitu menyayangimu. Dan karena aku terus mendesak mereka, Ibu akhirnya mengatakan padaku bahwa kita adalah saudara sepersusuan."
Ghifar memejamkan mata sembari mengusap wajahnya. "Astaghfirullah."
Menatap nanar Ghifar yang kini tampak begitu rapuh, Mutia merogoh tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, lantas menyodor benda itu pada Ghifar, menarik perhatian pria itu.
"Apa ini?"
"Itu foto-foto kebersamaan Ibuku, Mamamu dan kamu serta berkas-berkas rumah sakit tempat mereka bersalin." Mutia bisa melihat tangan Ghifar yang bergetar ketika meraih amplop coklat tersebut. "Kamu memang tidak bisa menanyakan kebenarannya pada Ibuku, karena beliau sudah meninggal, tapi kamu bisa bertanya pada orang tuamu. Mereka mengetahui ini setelah Ibu memberitahu tentang kita, dan aku yang melarang mereka untuk mengatakan kebenarannya padamu. Aku tidak ingin membuatmu kecewa dan lebih memilih membuatmu membenciku."
"Ya Allah," Ghifar menunduk, mencengkram surai hitamnya. "Kenapa kenyataan ini begitu menyakitkan."
Mutia merasa prihatin, namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Sudah waktunya Ghifar mengetahui rahasia yang ia simpan rapat agar pria itu bisa berdamai dengan masa lalu dan menemukan wanita yang benar-benar di takdirkan untuknya.
"Jadi... kamu adikku?" ketika menatap Mutia, Ghifar tak bisa menahan air matanya. Peduli setan dengan pandangan orang-orang, mereka tidak tahu bagaimana hancurnya hatiku saat ini, batin Ghifar.
"Sulit menerima kenyataan bahwa kita adalah saudara, namun aku akan berusaha ikhlas untuk menerimanya. Setidaknya..." nafas Ghifar tersengal. Ia kesulitan bicara karena tangis membuat hidungnya tersumbat. "Setidaknya aku tidak benar-benar kehilanganmu. Aku masih memilikimu meski hanya sebagai adikku." Ghifar memaksakan untuk tersenyum, yang membuat pria itu kian tampak menyedihkan.
"Ah, omong-omong aku ingin sekali bertemu dengan keponakanku." dengan cepat Ghifar menghapus air matanya. "Kapan aku bisa bertemu dengannya? Dia pasti sangat tampan, kan?"
"Kakak bisa bertemu dengan Yusuf sekarang, kok."
"Hah?"
"Tunggu sebentar." bukannya menanggapi kebingungan Ghifar, Mutia justru beranjak dari duduk. Berjalan menghampiri Yudha, mengajak pria itu beserta Yusuf untuk bergabung dengannya dan Ghifar.
"Ini Yusuf, kak." dengan sayang Mutia mengusap pipi Yusuf yang berada di gendongan Yudha.
"Boleh aku menggendongnya?" Ghifar tersenyum, meski tak mencapai mata.
"Tentu saja." sahut Mutia dengan nada riang.
Beranjak dari duduk, Ghifar mengulurkan tangannya pada Yudha dan mengambil alih Yusuf.
"Duduklah, calon adik ipar." seloroh Ghifar pada Yudha, sembari terkekeh kecil.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" Ghifar bertanya setelah mereka kembali duduk. Dengan sekuat tenaga Ghifar menahan denyutan nyeri yang menghujam jantungnya dan berusaha keras untuk bersikap baik-baik saja.
"Kami belum menentukan tanggalnya. Dalam waktu dekat saya bahkan baru akan menemui keluarga Mutia untuk melakukan lamaran resmi." jawab Yudha, yang ditanggapi Ghifar dengan anggukkan kepala.
"Tolong jaga... adikku."
Lidah Ghifar terasa kelu saat menyebut adikku pada wanita yang sekian tahun ia cintai. Namun mau bagaimana lagi, kenyataan memang terkadang sepahit Denatonium Benzoate.
Dengan mantap, tanpa keraguan Yudha menjawab. "Pasti!"
__ADS_1
...****************...
Ada yang mengira alasan kenapa Mutia dan Ghifar tak bisa bersama, bukan hanya karena Mutia tak bisa mencintai Ghifar, tapi juga karena ternyata mereka adalah saudara sepersusuan?