
Tidak banyak yang tahu, bahwa di balik keharmonisan keluarga Baldemar yang orang-orang lihat sekarang, pernah terjadi sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh Apsel Baldemar. Bertahun-tahun lalu, pria berdarah Jerman itu dengan tanpa hati meninggalkan istrinya yang tengah hamil enam bulan dan anak lelakinya yang masih berusia tiga tahun, demi cinta pertama yang menjadi obsesinya.
Disaat Apsel bahagia karena telah menikahi wanita yang menjadi cinta pertamanya dan menjalani pernikahan bak pasangan yang sedang di mabuk cinta, Sekar justru tengah berjuang keras untuk menghidupi anak pertamanya dan mengumpulkan banyak uang guna membayar biaya persalinan anak keduanya. Semua pekerjaan wanita itu lakukan, mulai dari menjadi tukang cuci-gosok pakaian, sampai menjadi biduan sewaan.
Sekar tak pernah malu ataupun merasa peduli dengan anggapan orang-orang bahwa ia adalah wanita penghibur, karena pekerjaannya yang menyanyi di atas panggung murahan. Meski dipandang hina dan sebelah mata, Sekar tetap mempertahankan pekerjaannya. Sebab dari bernyanyi lah ia mendapatkan uang cukup banyak untuk biaya hidupnya dan anak-anak, serta biaya sekolah Sultan.
Dan meski sudah dikhianati, Sekar tetap berbicara baik tentang suaminya. Menutupi kebusukkan Apsel dengan mengarang kebohongan pada anak-anaknya bahwa sang suami sedang bekerja di tempat yang jauh. Namun saat kebohongan itu terungkap, Sultan dan Yudha begitu marah juga membenci perbuatan kejam sang Ayah.
"Bagi Yudha kecil yang polos, hidupnya sudah sempurna, memiliki Ibu yang begitu mencintainya dan seorang kakak yang sangat menyayanginya, membuat Yudha kecil tak pernah merasa kekurangan. Apapun yang dia inginkan, lamban laun pasti akan kakaknya kabulkan, tak peduli meskipun sang kakak harus menjadi seorang tukang parkir setelah pulang sekolah. Tak pernah mengeluh meskipun masa remajanya dihabiskan untuk membantu sang Ibu mencari uang, tidak seperti anak-anak lain yang menghabiskan waktu mereka dengan bermain."
Genggaman ditangannya membuat Yudha menoleh. Ia tersenyum pada Mutia, sembari membalas genggaman wanita itu.
"Tahun demi tahun berlalu, kami sudah terbiasa hidup hanya bertiga saja. Hingga disuatu sore Papi kembali. Papi berkata beliau menyesal karena telah meninggalkan kami, namun kami tak memercayainya. Apalagi setelah kami tahu bahwa wanita yang menjadi cinta pertamanya meninggal karena kanker, tanpa memberinya seorang anak. Aku dan Mas Sultan tidak ingin menjadi cadangan, karena itu kami menolak dengan keras kedatangannya."
Setiap kali Apsel datang, setiap kali itu pula Sultan dan Yudha mengusirnya. Sampai suatu hari mereka menemukan Sekar pingsan di kamarnya. Mereka membawa Sekar ke rumah sakit dan dokter mendiagnosa Sekar terkena demam berdarah. Sang Ibu harus segera mendapatkan perawatan intensif sebelum terlambat. Saat itu Sultan dan Yudha tidak memiliki pilihan lain, mereka tidak akan bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Sultan pun akhirnya terpaksa meruntuhkan ego dan memohon bantuan pada Apsel.
"Setelah kejadian itu, Papi meminta kami tinggal bersamanya. Aku pikir Mas Sultan akan menolak Papi seperti biasanya, tapi ternyata tidak, Mas Sultan justru setuju kami tinggal bersama Papi. Aku mengira, keadaan telah membaik. Melihat Mami selalu bahagia bersama Papi, membuatku juga merasa bahagia. Aku tak lagi menyesali keputusan Mas Sultan yang setuju tinggal bersama Papi jika kebahagian Mami imbalannya. Tapi ternyata aku salah, Mas Sultan tidak sepenuhnya menerima Papi. Kakakku berubah, dia menunjukkan kemarahan dan kebenciannya dengan cara melakukan pemberontakkan serta keonaran."
Yudha menceritakan semua kenakalan yang dilakukan oleh sang kakak untuk membuat Apsel geram dan pergi dari hidup mereka, meskipun hasilnya nihil.
Mutia yang mendengar cerita Yudha, menutup mulutnya yang menganga syok, sementara Yudha hanya menatapnya dengan terkekeh kecil. Reaksi Mutia saat ini, sama seperti yang Arumi tunjukkan beberapa tahun silam.
Yah... pasti akan sulit memercayai bahwa Sultan yang kini tampak begitu akrab dengan sang Ayah, pernah terlibat perang dingin.
"Pemberontakkan Mas Sultan menarik seluruh perhatian Mami dan Papi. Mereka sibuk memikirkan cara untuk menyembuhkan luka serta mengambil hati Mas Sultan, membuat mereka lupa, bahwa anak mereka tidak hanya Mas Sultan. Ada seorang Yudha yang juga terluka." menghela nafas pelan, Yudha menatap ke depan dengan pandangan menerawang.
"Berbeda dengan Mas Sultan yang mengeluarkan kemarahannya dengan melakukan pemberontakan, aku justru memendam semua kemarahan itu hingga detik ini. Sehingga rasanya, disini..." Yudha menyentuh dada. "Begitu sesak. Membuatku terkadang kesulitan untuk bernafas."
"Aku berusaha mengerti, berusaha memahami keadaan saat itu dan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Biar bagaimana pun, Mas Sultan adalah kakakku dan dia sudah banyak menderita. Awalnya aku berpikir tidak masalah jika dia mendapatkan perhatian lebih. Tapi... setiap manusia pasti memiliki batas kesabaran kan, Mutia?"
Tak ada jawaban dari Mutia, sebab wanita itu tahu Yudha tak membutuhkan jawaban darinya.
Hari itu Yudha remaja meminta Apsel untuk datang ke sekolahnya guna mengambil hasil pengumuman kelulusan sekolah menengah pertama, karena pada hari itu sang Ibu sedang dalam keadaan tidak sehat dan harus di rawat inap. Apsel telah berjanji akan datang, namun hingga sore Yudha menunggu, sang Ayah tak kunjung datang dan hal itu membuat kepala sekolah menahan surat kelulusannya sampai orang tuanya datang.
"Saat tak ada lagi orang disekolah, aku memutuskan untuk pulang. Sore itu aku memilih berjalan kaki untuk meredam kemarahan serta kekecewaan yang ada di hatiku, agar saat pulang aku tidak lepas kendali dan membuat Mami bersedih. Keputusan yang kemudian akhirnya aku sesali."
__ADS_1
Yudha memejamkan matanya rapat. Nafas pria itu terdengar memburu, dengan genggamannya pada Mutia kian mengerat.
Mutia tahu, apa yang akan Yudha katakan selanjutnya pastilah sangat berat dan menyakitkan, sehingga Mutia berusaha menahan diri, bersabar untuk tidak mendesak Yudha.
"Saat melewati lorong gelap itu," masih dengan mata terpejam, Yudha menggerakkan kepalanya gelisah dan sesekali terdengar suara gemeletuk gigi. Yudha seolah kembali pada kejadian beberapa tahun silam.
"Seseorang menarikku hingga ke ujung lorong. Disana ada sebuah gudang tak terpakai dengan pencahayaan remang-remang. Aku panik dan meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun tubuh kecilku yang kurus membuat usahaku sia-sia saja."
Membuka matanya, kini tatapan Yudha tampak dingin dan penuh dendam. "Jengkel menghadapi rontaan serta teriakanku, pria tua dengan mulut beraroma alkohol itu akhirnya memukul kepalaku dengan botol minumannya."
Mutia terkesiap, reflek menutup mulutnya. Respon Mutia membuat Yudha terkekeh dengan pandangan kosong.
"Itu bukanlah bagian mengerikannya, Mutia. Bagian mengerikannya adalah saat pria itu..." Yudha mengetatkan rahang dengan nafas memburu. "Saat bajingan itu melepaskan celanaku. Dan kamu pasti sudah bisa menebak apa yang pria tidak bermoral itu lakukan selanjutnya."
Mutia mengangguk dengan kaku.
"Kamu pasti jijik padaku sekarang kan, Mutia?" Yudha menatap Mutia sembari tersenyum getir. "Aku memakluminya, jika kamu memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita. Karena aku pun merasa jijik pada diriku sendiri." tangan Yudha yang berada diatas meja mengepal kuat, hingga menonjolkan urat-urat di lengannya.
Mendekatkan tubuhnya, Mutia merengkuh lengan Yudha, kemudian menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Sesekali tangannya bergerak mengusap lengan Yudha.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku."
Sembari tersenyum, Mutia menjawab. "Aku melibatkan Allah dalam keputusanku untuk menerima pinangan Mas Yudha. Jadi insya'allah, aku tidak akan berubah pikiran. Sebab aku yakin, Allah pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya."
"Terima kasih, karena tetap bertahan denganku." Yudha menatap penuh haru. "Masih ingin mendengar kelanjutan ceritaku?"
"Jika Mas tidak keberatan." Mutia menarik diri untuk menciptakan jarak, namun Yudha justru merengkuh pundaknya, memeluknya dari samping.
"Saat itu tidak ada yang menolongku, Mutia. Si brengsek itu melakukannya sampai aku pingsan. Lalu saat aku sadar, hari sudah malam. Aku berusaha untuk bangun, mengabaikan kondisiku yang mengenaskan dan kepalaku yang masih mengeluarkan darah, aku berjalan tertatih pulang kerumah. Dan sesampainya dirumah, kamu tahu apa yang kudapati, Mutia?"
"Kedua orang tuaku dan Mas Sultan sedang makan malam bersama, tanpa kehadiranku. Mereka... sama sekali tidak khawatir denganku yang tak kunjung pulang. Mami dan Papi berbincang ringan, sementara Mas Yudha hanya menjadi pendengar. Dari pembicaraan mereka aku pun tahu alasan kenapa Papi tidak memenuhi janjinya padaku. Papi... menjemput Mas Sultan ke Pagaralam setelah menerima telpon dari guru Mas Sultan, yang memberi kabar bahwa Mas Sultan tergelincir sehingga membuat kakinya terkilir."
"Aku marah dan memutuskan untuk langsung masuk ke kamar tanpa menyapa mereka. Mengobati luka di kepalaku seadanya dan mengurung diri selama berhari-hari. Hingga suatu pagi aku terbangun di kamar rawat rumah sakit. Mami bilang, Mas Sultan dan Papi mendobrak kamarku, hanya untuk menemukanku terbaring dengan wajah pucat dan tubuh sedingin es. Ketika di bawa ke rumah sakit, dokter bilang luka di kepalaku mengalami infeksi. Beruntung aku segera di bawa kerumah sakit, sebelum semuanya terlambat. Padahal saat itu aku justru berharap Tuhan mencabut nyawaku, karena merasa tidak ada gunanya lagi aku hidup. Toh, tidak ada lagi yang peduli padaku."
Kedua orang tuanya dan Sultan terus memaksa Yudha untuk mengatakan apa yang terjadi, sehingga menyebabkan Yudha mendapat luka parah di kepala, namun Yudha menutup rapat mulutnya. Ia terlalu marah, kecewa dan juga... malu.
__ADS_1
Andai saja Ayahnya datang hari itu, ia tidak akan pulang sore, mengalami kejadian buruk karena ulah pria yang memiliki penyimpangan seksual dan mengalami luka parah di kepalanya. Andai saja hari itu Sultan tidak tergelincir, Yudha tidak akan mengalami hal buruk yang membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri.
Ingin sekali Yudha membenci Sultan yang telah merebut seluruh perhatian orang tua mereka, namun Yudha terlalu menyayangi sang kakak. Ia bukan adik tidak tahu diri, yang melupakan begitu saja segala kebaikan yang kakaknya lakukan. Dan karena tak bisa membenci Sultan, Yudha memupuk kemarahan, kekecewaan dan kebenciannya pada sang Ayah yang tak bisa bersikap adil pada kedua anaknya.
"Sampai detik ini, tidak ada yang tahu penyebab dari luka di kepalaku, Mutia." menoleh pada calon istrinya, Yudha menatap lekat. "Hanya kamu yang kuberitahu, karena aku memercayaimu."
Mutia tersenyum. Kedua tangannya menangkup wajah Yudha, memberikan usapan lembut. "Terima kasih telah memercayaiku."
Meraih satu tangan Mutia, Yudha menggenggamnya erat. "Perbuatan Papi pada kami lah, yang membuatku selalu membentengi diri. Aku selalu menjaga jarak dari setiap wanita, karena aku tidak mau seperti Papi. Aku ingin, saat nantinya aku jatuh cinta, maka wanita itu adalah istriku. Sebab aku tidak ingin mengulang apa yang Papi lakukan, hingga membuat istriku terluka dan menderita seperti yang Mami alami. Aku tidak ingin anak-anakku kelak menjadi bahan cemoohan dan harus berusaha keras mencari uang, seperti aku dan Mas Sultan."
Sudut bibir Yudha tertarik saat mengingat ucapan Mutia di pertemuan kedua mereka. "Seperti katamu, jika kita sudah pernah merasakan sakit dan terluka, kita akan menjadi pribadi yang selalu berhati-hati dalam melakukan segala hal. Karena kita tidak ingin memberikan atau merasakan sakit yang sama lagi."
Tatapan Yudha begitu hangat dan lembut menatap Mutia. "Aku tidak peduli saat orang-orang membicarakan tentang orientasi seksualku, karena penolakanku pada setiap wanita, sebab mereka tidak pernah berada di posisiku dan mengalami apa yang sudah kualami. Hingga kedatangan pak RT malam itu. Saat aku melihatmu menangis, aku seperti melihat Mami dimasa lalu dan tiba-tiba saja muncul dorongan kuat untuk melindungi kalian berdua."
Menggenggam kedua tangan Mutia, Yudha menatap wanita itu dengan penuh keyakinan dan tekad yang kuat. "Untuk saat ini, alasanku menikahimu memang karena Yusuf dan karena kamu mengingatkanku pada Mami, tapi aku berjanji akan berusaha keras untuk mencintamu, Mutia. Dan hanya kamu."
Alasan kedua Yudha, membuat Mutia kembali teringat pada Azril. Pria itu juga menjadikan Ibunya sebagai alasan untuk menarik perhatian Mutia. Bedanya, jika Azril mengarang kebohongan untuk mendapatkannya, Yudha justru mengatakan kejujuran setelah bersamanya. Bukankah itu berarti, Yudha tak ingin ada rahasia diantara mereka? Lalu, bagaimana dengannya? Ia menyimpan begitu banyak rahasia.
"Apa sampai sekarang Mas Yudha masih marah pada Papi? Belum bisa memaafkan Papi?"
"Sekian tahun berlalu, perasaan marah dan kecewaku perlahan mulai mengabur, Mutia. Memang benar, waktulah yang bisa menyembuhkan luka. Aku sudah mulai memaafkan masa lalu, namun untuk bersikap layaknya anak dan Ayah pada Papi, rasanya begitu sulit. Setiap kali berada di dekat Papi, aku selalu tak bisa menahan lidahku untuk tidak mengucapkan kata-kata tajam nan menyakitkan."
"Tidak apa-apa, Mas. Semua butuh protes. Biar waktu yang memperbaiki segalanya."
Sentuhan di pundaknya membuat Mutia yang tengah duduk di kursi teras sembari mengingat pembicaraannya dan Yudha beberapa hari lalu, tersentak kaget dan serta merta menatap pemilik tangan.
"Ada pesan masuk di ponselmu." Yudha menyerahkan benda pipih milik Mutia. Wanita itu meninggalkan kamar tanpa membawa ponselnya, saat Yudha bersikeras ingin memakaikan baju Yusuf dan menidurkan bayi gemuk berusia empat bulan itu.
Mutia mengambil alih ponselnya dan membuka pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Aku ingin bicara denganmu, Mutia. Temui aku atau aku akan meminta bantuan tunanganmu untuk membujukmu agar mau bicara denganku?
Mutia jelas menangkap sebuah ancaman dari kalimat di pesan singkat tersebut dan ia tahu betul siapa pengirimnya.
"Dari siapa? Kenapa dia mengirim pesan seperti itu padamu?"
__ADS_1
Ucapan Yudha membuat Mutia menoleh pada pria itu, hanya untuk mendapati calon suaminya tengah membungkuk disampingnya dengan pandangan terarah pada layar ponselnya.
Ya Allah, kenapa aku sampai lupa kalau ada Mas Yudha? Apakah ini pertanda bahwa aku harus menceritakan tentang Kak Ghifar pada Mas Yudha?