
Waktu menunjukan pukul setengah enam sore ketika akhirnya mereka tiba di rumah. Usai menemani Mutia memeriksa kondisi kandungannya, Ghifar mengajak —lebih tepatnya memaksa— wanita hamil itu untuk ikut bersamanya. Mulai dari pergi ke pusat perbelanjaan dan tanpa persetujuan dari Mutia membeli barang-barang yang Ghifar pikir wanita itu perlukan, sampai mendaftarkannya ke sebuah komunitas senam ibu hamil.
Bahkan Ghifar juga memaksanya langsung mengikuti kelas pertamanya hari itu juga, hingga selesai pukul empat sore. Mutia bahkan tidak menyiapkan makan siang untuk Azril, sesuai permintaan pria itu, ia harap Azril tidak marah karena ia juga tidak memberikan kabar.
"Aku capek ngadepin kamu, A'! Sebenarnya ada apa? Kenapa Aa terus mengabaikanku. Memang apa salahku?!"
Tepat saat mereka memasuki rumah, Ghifar dan Mutia mendengar suara teriakan keras. Keduanya saling pandang sebelum berjalan menghampiri asal suara, namun tepat saat Mutia akan melewati dinding pembatas dan masuk ke ruang keluarga, Ghifar menahan pergelangan tangannya. Mutia menoleh, menatap Ghifar dengan kernyitan halus menghiasi dahinya.
"Disini saja. Mereka butuh waktu berdua." lirih Ghifar, yang langsung mendapat anggukan dari Mutia.
"Jawab, A'! Jangan diam saja! Kamu pikir enak diabaikan hampir dua minggu, hah?!"
"Kamu mempertanyakan bagaimana rasanya diabaikan?" untuk pertama kalinya setelah satu minggu, Azril mengeluarkan suaranya. "Aku ingin menanyakan hal serupa padamu? Bertahun-tahun kita menikah, aku diam saja, selalu mengikuti apa yang kamu mau, lalu akhir-akhir ini aku memintamu berhenti bekerja, apa kamu mengikuti perkataanku? Tidak, kamu mengabaikannya, Lamia."
"Oh, jadi ini masih masalah pekerjaanku? Kenapa Aa begitu keukeh memaksaku berhenti bekerja? Aa merasa rendah diri karena gajiku lebih besar dari Aa, begitu?"
Ghifar memejamkan matanya. Ia yakin pertengkaran suami-istri itu akan semakin memanas karena Lamia baru saja menyinggung ego Azril. Dan terbukti, detik berikutnya Ghifar mendengar suara tinggi Azril yang menggelegar.
"Jaga bicaramu, Lamia! Kemarahanku padamu sudah bertumpuk. Aku mendiamkanmu sejak kamu pulang dari rumah sakit, bukan hanya karena sebelumnya kita bertengkar perihal pekerjaanmu, tapi karena diagnosa dokter atas kondisimu. Kamu mau tahu apa yang dokter katakan padaku?" kali ini suara Azril terdengar mendesis penuh penekanan, kentara jelas bahwa pria itu masih berusaha menahan amarahnya.
"Dokter mengatakan rahimmu bermasalah, sehingga membuatmu akan sulit untuk hamil. Saat dokter mengatakan bahwa masalah pada rahimmu di sebabkan oleh konsumsi rutin meminum pil kontrasepsi, padahal kamu belum pernah mengandung dan melahirkan, membuatku tidak percaya. Kamu tidak mungkin meminum pil kontrasepsi karena sengaja ingin menunda kehamilan, itu yang kuyakini dan dengan percaya diri mengatakan bahwa dokter pasti salah."
"Istriku tidak mungkin tega melakukan hal itu, disaat dia tahu aku sangat menginginkan seorang anak. Namun semua keyakinan itu hilang tak berbekas saat aku menemukan botol pil sialan yang kamu sembunyikan di laci tempat kamu menyimpan pembalut. Kamu membabat habis kepercayaanku, Lamia. Dan itu lebih menyakitkan daripada penolakanmu untuk berhenti bekerja." sambung Azril.
Mutia yang berdiri di samping Ghifar menggerakan tangannya untuk menyeka air mata. Entah karena hormon kehamilan atau karena ia juga merasakan kekecewaan dan kesakitan mendalam yang Azril rasakan dari suara pria itu, yang membuat Mutia akhirnya menangis. Namun saat merasakan rangkulan dan usapan di punggungnya, Mutia seketika berhenti menangis dan menoleh pada Ghifar yang sama sekali tidak menatap ke arahnya.
"Sejak kapan?" Azril kembali mengeluarkan suaranya. "Sejak kapan kamu mengonsumsi pil sialan itu?"
Kemudian terjadi hening. Lamia yang sebelumnya bicara dengan menggebu-gebu, kini diam membisu.
"Kenapa, Lamia? Kenapa tidak menjawabku? Ayo, keluarkan suaramu yang tinggi dan lantang tadi. Aku ingin mendengar jawabanmu." sedetik kemudian Azril mengeluarkan tawa getir. "Kamu mengecewakanku, Lamia. Dan sekarang aku tidak tahu bagaimana caranya menatapmu tanpa teringat setiap kata yang dokter ucapkan padaku."
Setelah itu terdengar langkah kaki menjauh dan di detik berikutnya Ghifar menarik Mutia untuk keluar dari rumah.
"Kita mau kemana, tuan?"
"Masuk lewat pintu belakang. Dan ingat, Mutia. Bersikaplah seperti kamu tidak mendengar dan mengetahui apapun."
...* * *...
"Mutia."
Pemilik nama yang tengah mencuci piring bekas sarapan langsung menghentikan pekerjaannya dan berbalik untuk menatap Lamia yang kini berdiri di hadapannya.
"Iya,Teh."
"Ini uang belanja untuk satu minggu ke depan." bersamaan dengan itu Lamia menyodorkan beberapa lembar uang pada Mutia. "Jika Aa bertanya, katakan aku pergi ke luar kota. Ada meeting penting dengan atasan di kantor pusat."
__ADS_1
Nyaris saja Mutia bertanya; Kenapa Teteh tidak berpamitan langsung dengan A' Azril? Mutia lupa, kalau beberapa hari ini Azril dan Lamia bahkan sudah pisah kamar. Lamia memutuskan tidur di kamar tamu untuk menghindari Azril. Entah karena merasa bersalah atau malu.
Lamia memang tampak biasa, namun Mutia tahu Lamia pasti selalu menangis di malam hari. Hal itu terlihat jelas dari matanya yang sembab dan bengkak. Meski Lamia sudah menutupinya dengan make up, tapi Mutia masih bisa melihatnya, walau samar.
"Mutia, kamu dengar aku?" Lamia menyentak lamunan Mutia.
"I-iya,Teh. Aku dengar."
Kemudian menggerakan tangan untuk mengambil uang yang Lamia berikan. Setelah itu ia mengekori Lamia yang kini berjalan meninggalkan dapur dengan membawa koper berukuran sedang, mengantar wanita itu hingga ke teras rumah dimana sebuah mobil travel telah menunggunya.
"Jaga rumah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." pesan Lamia, yang mendapat anggukan dari Mutia, sebelum wanita itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Mutia yang masih bergeming.
"Kalau Teteh malah menghindar kayak gini, bagaimana masalahnya bisa selesai."
Ketika berbalik Mutia berjengit kaget, saat mendapati Ghifar yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Mutia bahkan sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki mendekatinya.
"Tuan membuatku kaget." Mutia beristighfar sembari mengelus dada, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar cepat karena efek terkejut.
"Teh Lamia mau kemana? Pakek bawa koper segala." mengabaikan keluhan Mutia, Ghifar justru menatap lekat mobil travel yang telah membawa kakaknya.
"Teh Lamia bilang ada kerjaan di luar kota."
"Berapa lama?"
"Satu minggu."
Jawaban Mutia membuat Ghifar mendesahkan nafas kasar, kemudian meninggalkan Mutia tanpa sepatah kata lagi.
...* * *...
Tapi Lamia sudah harus pulang karena mendapat telpon dari Ghifar yang memberikan kabar buruk. Melupakan niatnya untuk menjauh sejenak dari Azril dan menenangkan diri, karena saat ini Azril membutuhkan dirinya sebagai istri untuk mendampingi pria itu.
Lamia masuk menggunakan kunci cadangan. Ketika pintu terbuka, Lamia hanya di sambut oleh suasana hening. Lamia tak merasa aneh, mengingat ini masih pukul enam pagi, semua penghuni rumah pasti masih tertidur.
Seharusnya ia pulang dari kemarin, tepat setelah Ghifar memberi kabar, namun cuaca yang tak bersahabat karena hujan mengguyur deras, membuat Lamia baru bisa pulang hari ini.
Tanpa menimbulkan kegaduhan yang berarti, Lamia melangkah ke kamarnya dan Azril untuk melihat kondisi suaminya. Ia yakin Azril pasti tidak baik-baik saja, setelah apa yang pria itu alami kemarin. Namun saat Lamia membuka pintu kamar, ia lah yang menjadi tidak baik-baik saja kala mendapati Mutia meringkuk dalam selimut di atas ranjangnya.
Seketika Lamia terbakar emosi. Dengan berang Lamia berderap cepat menghampiri ranjang, lalu meraih tangan Mutia yang masih dalam keadaan tertidur lelap, menyentak tubuh wanita hamil sehingga terbangun paksa dan berdiri dengan linglung.
"Teh Lamia?" Mutia memastikan karena ia belum bisa melihat secara jelas.
"Apa yang kamu lakukan, Mutia? Aku memercayaimu, tapi kamu justru menikamku. Kenapa kamu tidur di ranjangku? Ingin menggantikan posisiku sebagai istri Azril, hah?"
"A-apa?"
Belum sadar apa yang terjadi padanya, Mutia mengamati sekitar dengan perasaan bingung. Lalu atensinya terpaku pada ranjang yang masih dalam keadaan berantakan. Sungguh, Mutia tak mengerti kenapa ia bisa tidur di atas ranjang, padahal ia ingat betul, semalam ia tertidur tanpa sengaja dalam keadaan duduk diatas lantai.
__ADS_1
Ketika tatapannya kembali pada Lamia, Mutia hanya mendapati sorot penuh kemarahan. Tak ada lagi tatapan lembut yang selama ini selalu wanita itu tunjukan padanya. "Teh, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti apa yang Teteh lihat dan pikirkan."
"Oh ya?" Lamia tertawa sarkastik. "Tapi sayangnya, aku lebih memercayai apa yang dilihat oleh mataku."
Mendekati Mutia, tanpa perasaan Lamia menarik rambut hitam Mutia yang tergerai, membuat wanita hamil itu memekik sakit sembari memegangi rambutnya, berusaha melepaskan cengkraman Lamia yang terasa begitu menyakitkan.
"Sakit?"
Lamia bertanya dengan nada mengejek sembari tersenyum sinis, kemudian semakin mengeratkan cengkramannya. Tak peduli pada Mutia yang meringis dan memohon untuk di lepaskan, ataupun keadaan wanita itu yang saat ini tengah hamil besar. Lamia seperti kerasukan. Kehilangan akal sehat.
"Apa yang kamu rasakan sekarang, belum ada apa-apanya, Mutia. Aku lebih sakit melihatmu tidur di ranjangku. Dasar, sialan! Seharusnya aku memang tidak menerima janda di rumah ini!"
Tanpa perasaan Lamia menggerakan tangannya yang mencengkram rambut Mutia, sebelum mendorong tubuh Mutia dengan kasar. Beruntung wanita hamil itu terjatuh di atas ranjang, jika tidak... sesuatu yang buruk pasti akan terjadi pada kandungannya.
"Teh, kumohon. Dengarkan penjelasanku. Demi Allah, aku bahkan tidak pernah memiliki niat untuk merebut posisi Teteh." susah payah Mutia bicara disela derai air mata yang mulai membasahi pipinya. Perlahan Mutia menggerakkan tangannya yang gemetar, meraih tangan Lamia untuk ia gengam.
"Jangan sentuh aku." menyentak tangan Mutia, sedetik kemudian Lamia melayangkan tamparan di pipi kanan Mutia. Bukannya merasa bersalah melihat jejak tangannya di wajah wanita itu, Lamia justru tersenyum puas. "Benar kata Ibu-Ibu di komplek ini. Janda sepertimu pasti merasa kesepian dan haus belaian. Sehingga tidak akan peduli pria manapun yang di dekati, sekalipun pria itu adalah suami orang."
"Astagfirullah, Teh." beranjak dari ranjang, Mutia berdiri menantang di hadapan Lamia. "Aku memang janda, Teh, tapi bukan pelacur yang akan mengangkang pada pria manapun yang mau membayarku. Jika aku ingin merebut suami Teteh, aku sudah melakukannya dari awal, tidak perlu menunggu hingga berbulan-bulan."
"Jadi kamu memang ingin merebut suamiku, hah?"
Mutia menghela nafas. Bicara dengan orang yang di selimuti emosi tidak akan ada gunanya. Segala kalimat yang Mutia ucapkan pasti akan selalu salah.
"Dasar janda gatal!"
Kembali Lamia menggerakan tangannya untuk menampar Mutia, namun tepat di detik terakhir telapak tangan itu akan menyentuh wajah Mutia, sebuah tangan menahan pergelangan Lamia. Mencengkram kuat sebelum menghempaskannya, membuat tubuh Lamia sedikit tersentak dan terhuyung mundur.
"Apa-apaan kamu, Lamia?! Pulang ke rumah malah buat keributan. Matahari bahkan belum muncul, kamu bisa membuat orang-orang terganggu."
Mendapati penampilan Azril yang baru selesai mandi, dengan handuk hanya melilit bagian bawah tubuhnya, kembali mematik kemarahan Lamia. Dengan emosi yang membubung tinggi, Lamia menatap Mutia, lalu menyerang wanita hamil itu dengan lebih brutal. Menjabak, memukul, mencakar, bahkan Lamia menendang dan meludahi Mutia.
Azril yang panik segera memeluk tubuh Lamia dengan erat. Memastikan Mutia baik-baik saja, kemudian meminta wanita hamil itu keluar dari kamarnya. Selama beberapa detik Mutia bergeming, menatap linglung pada Lamia yang kini meronta dalam pelukan Azril.
"Keluarlah, Mutia. Biar aku yang menjelaskan pada Lamia. Cepat!"
Gelagapan, Mutia mengangguk, lantas berjalan sedikit terburu keluar dari kamar Azril dan Lamia.
"Mau kemana kamu, sialan! Jangan pergi!" adalah teriakan terakhir Lamia, sebelum suaranya teredam karena pintu kamar yang sudah tertutup.
Mutia bersandar lelah pada dinding disamping pintu kamar sembari memejamkan matanya dengan rapat. Seharusnya Lamia mau diajak bicara, agar ia bisa memberi penjelasan, bukan langsung menyerangnya dengan membabi buta.
"Mutia."
Ketika membuka mata, Mutia mendapati Ghifar tengah berlari menghampirinya dengan raut panik dan mata yang menatapnya dengan sorot khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanya Ghifar, setelah tiba di hadapan Mutia. "Tadi aku mendengar suara teriakan Teh Lamia." kemudian atensi Ghifar menangkap sesuatu yang tak biasa di wajah Mutia. Pria itu pun membelalak dan langsung menangkup lembut rahang Mutia. "Ini bekas tamparan. Siapa yang menamparmu, Mutia?"
__ADS_1
Suara pecahan kaca dan bantingan barang dari dalam kamar Azril dan lamia, sempat mengalihkan fokus Ghifar. "Mereka bertengkar lagi? Lalu kenapa kamu berdiri disini?"
Menatap tepat di manik hitam Ghifar, Mutia bicara lirih. "Kali ini aku penyebab pertengkaran mereka."