
Mengedarkan pandangan, Mutia menemukan sebuah lemari kayu tiga pintu di sudut ruangan, meja hias dengan desain klasik, tempat tidur ukuran quuen, sofa, buffet, nakas, rak buku, air conditioner dan juga TV layar datar 21' yang menempel pada dinding, lengkap dengan buffet kaca berisi satu set dvd pada bagian bawahnya.
Sedetik kemudian Mutia berdecak kagum saat melihat begitu lengkapnya perabotan di dalam kamar yang akan ia tempati untuk tiga bulan —sebelum usahanya menentukan kelanjutan nasibnya— ke depan, bahkan kamar itu memiliki kamar mandi pribadi.
Saat melihat Keyla yang kini berdiri di balkon kamar, Mutia berjalan menghampiri wanita itu. Tak bisa ia menahan diri untuk kembali mendecak kagum saat melihat halaman rumah yang di penuhi berbagai jenis pohon dan bunga-bungaan.
Mutia tahu halaman yang tadi ia lewati memang indah, namun saat di lihat dari lantai dua, halaman itu justru terlihat berkali-kali menganggumkan, karena ia bisa melihat keseluruhan sisinya. Dari atas juga Mutia bisa melihat sampai keluar gerbang rumah yang di buat tinggi menjulang dan di jaga oleh dua orang petugas keamanan yang berada di dalam pos dekat gerbang.
"Ya Allah, cantik banget. Nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan." memejamkan matanya, Mutia menarik nafas dalam. Bibirnya menyungging senyum lebar saat menghirup udara yang terasa masih sangat segar.
Mas Yudha pinter banget milih rumah di lokasi yang masih asri kayak gini. batinnya memuji.
"Iya. Aku aja mau tinggal disini." sahut Keyla. Ikut menatap kagum setiap keindahan yang tersaji di depan matanya. Kemudian tiba-tiba ia menoleh pada Mutia. "Kamu boleh melakukan apapun pada kamar ini. Mau menghias balkon dengan tanaman gantung, mengubah warna cat kamar, atau bahkan mengubah seluruh interior-nya, pak bos nggak larang. Asal satu... setiap isi rumahnya dalam keadaan bersih dan rapi. Dengan kata lain, harus di jaga serta di rawat baik-baik. Pak bos akan selalu melakukan pemeriksaan secara mendadak."
Mutia mengangguk paham. Kini ia menyandarkan pinggul pada besi pembatas balkon, tatkala manik hitamnya memindai sekitar kamar barunya. "Mas Yudha... emang sebaik dan se-loyal ini ya orang-nya?"
Keyla menghela nafas, lalu ikut menyandarkan pinggulnya dengan tangan bersedekap. "Pak bos itu... seperti mata uang."
"Hah?" Mutia menoleh sekilas pada Keyla, membuat mereka bersitatap dan Keyla tersenyum padanya, sebelum kembali sama-sama fokus ke depan.
"Iya. Uang yang di kedua sisinya tidak sama."
"Maksudnya? Aku makin nggak ngerti, Key."
Keyla terkekeh geli. "Maksud aku, pak bos itu memiliki dua sisi yang berbeda. Disatu sisi, pak bos itu baiknya kebangetan. Dia nggak akan berpikir dua kali untuk melakukan apapun dan memberikan apapun pada seseorang, selagi orang itu tidak mengusiknya, mengganggu teritorinya dan yang paling penting, bisa bersikap profesional dengan tidak mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan."
__ADS_1
"Tapi... disisi lain pak bos itu juga jahat pakek banget. Saat dia marah, pak bos akan bicara dengan nada tinggi dan bahkan sering mengeluarkan kata-kata kasar. Biasanya itu kalau apa yang di lakukan bawahan sudah tidak bisa dia tolerir lagi. Dan juga, pak bos cuma marah disaat itu doang. Beberapa jam kemudian dia akan bersikap biasa, seolah tak terjadi apapun. Tapi tetep aja, buat kita yang di marahin dengan nada tinggi dan kalimat kasar diusia setua ini, rasanya gimana gitu. Malu, cyin."
"Pak bos itu juga orangnya ramah, membuat beberapa orang lupa diri sehingga menghilangkan batasan antara bos dan bawahan. Terutama para karyawan wanita yang jadi baper karena kebaikan dan perhatian yang pak bos berikan. Tapi... saat wanita-wanita itu mulai tidak profesional dengan menunjukan perasaan mereka secara terang-terangan dan berusaha untuk menjalin hubungan dengannya lebih dari hubungan kerja, pak bos akan menjadi pribadi yang tak tersentuh sekaligus kejam."
"Kejam?" Mutia membeo. Sulit membayangkan Yudha yang begitu ramah dan sopan saat menolongnya di lorong toilet, memiliki sikap seperti yang baru saja Keyla katakan.
"Iya, kejam." sahut Keyla. "Dulu pernah ada karyawan wanita dari bagian administrasi, namanya Helena, yang menunjukan perasaan sukanya pada pak bos secara terang-terangan. Karena terlalu sibuk menarik perhatian pak bos, Helena jadi tidak fokus bekerja. Dan seperti yang tadi aku bilang sebelumnya, pak bos akan bersikap baik selagi orang itu tidak mengusiknya, mengganggu teritorinya dan bisa bersikap profesional. Sementara Helena sudah melewati semua batasannya, sehingga membuat pak bos tidak tahan lagi."
"Lalu... apa yang Mas Yudha lakukan?" Mutia tak bisa menahan diri untuk tetap diam saat ia merasa penasaran.
"Helena di pecat. Dengan tidak hormat. Pak bos bahkan mengeluarkan surat kelakuan buruk dan memastikan Helena tidak akan diterima di perusahaan manapun. Dan yang terakhir kudengar, sekarang Helena sudah menikah. Dia menjadi istri kedua dari pengusaha kopi di kota kelahirannya."
"Ya Allah, Mas Yudha sampai segitunya?"
Keyla mengangguk pelan. "Itulah kenapa aku bilang pak bos kejam. Bahkan menurutku, kekejaman pak bos melebihi kejamnya ibu tiri, ibukota ataupun sebuah perusahaan yang melakukan pemecatan secara besar-besaran. Tapi... salah Helena juga, sih. Udah tahu kalau pak bos nggak suka ada something dengan karyawannya, selain hubungan kerja, tapi Helena tetap aja ngeyel dan dengan tanpa pikir panjang flirting sama pak bos. Seharusnya dari awal Helena udah siap sama konsekuensinya saat dia memutuskan untuk mendekati pak bos."
Tapi bukankah setiap orang memang memiliki sifat baik dan buruk dalam dirinya.
Mutia hanya mengedikkan bahu. Ia belum terlalu mengenal Yudha, jadi ia belum bisa mengambil kesimpulan.
"Oke, lupakan tentang kepribadian pak bos." Keyla menatap Mutia dengan lekat. "Dari sekarang aku ingetin kamu untuk menjaga hati. Jangan sampai kamu terbawa perasaan sama perlakuan pak bos nantinya. Dia memang baik dan perhatian sama semua karyawannya, apalagi pada karyawan wanita. Itulah yang membuat banyak rekan-rekanku menaruh ketertarikan pada pak bos. Tapi menurut hasil pengamatanku, pak bos itu lebih terlihat sangat berhati-berhati dalam memperlakukan kaum wanita, seperti wanita adalah vas kristal yang bila pecah, tidak akan bisa di perbaiki lagi. Sayangnya... kaum kita ini memiliki tingkat kepekaan yang terlalu berlebihan. Dibaikin dikit, diperhatiin dikit, langsung aja bawa perasaan."
"Kamu juga gitu?" serang Mutia dengan telak. Bibirnya mengulas senyum geli saat mendapati rona merah seketika menghiasi pipi putih mulus Keyla.
"Apaan sih, Mut. Nggak lah." ujarnya malu-malu dan tak bisa menyembunyikan binar di matanya.
__ADS_1
Mutia terkekeh pelan, lantas mengusap sekilas lengan Keyla. "Aku maklum kalau kamu dan rekan-rekan kamu tertarik sama Mas Yudha. Dari segi fisik, Mas Yudha itu idaman kebanyakan wanita. Wajah sedap di pandang, tubuh tinggi tegap, kulit coklat eksotik dan Mas Yudha juga terkesan seperti bad and good di waktu bersamaan. Kalau aja kulit Mas Yudha seputih porselen, aku yakin para penggemar K-pop bakal mikir kalau Mas Yudha itu salah satu anggota boyband."
Keyla mengangguk setuju. "Denger suara baritone pak bos aja, bisa bikin para wanita menggigil minta di sentuh. Apalagi kalau pak bos punya mata biru kayak beberapa orang Jerman, beuh... makin lengkap lah pesonanya. Udahlah mapan, tampan pula, pas banget buat di jadiin calon imam."
"Jerman?" Mutia menautkan alis.
"Lah, aku belum bilang kalau pak bos itu keturunan Jawa-Jerman?"
Mutia menggeleng. "Bule rasa asli Indonesia, dong."
"Hooh. Pak bos sama kakaknya lebih nurut fisik Ibunya. Kecuali warna mata. Kalau Ibu mereka punya mata coklat karamel, Ayah mereka punya mata hitam pekat. Persis kayak blackhole. Makanya aku nggak berani lama-lama natap mata pak bos, takutnya aku terhisap dan tak bisa menemukan jalan pulang."
"Gini aja kamu udah tersesat ya." guyon Mutia, membuat Keyla mengerucutkan bibir.
"Terus kamu?"
"Aku? Kenapa sama aku?"
"Ya, emang kamu nggak merasakan ketertarikan sama pak bos gitu?"
"Ketertarikan?" tentu saja Mutia merasakannya. Bahkan sejak pertama kali bertemu Yudha, ia sudah memberi poin plus untuk pria itu. Namun ketertarikan yang ia milikki saat ini, hanya sebatas rasa kagum.
"Oke," Keyla kembali mengeluarkan suaranya. "Kalau sekarang ataupun nanti kamu tertarik pada Mas Yudha atau bahkan memiliki perasaan lebih dari itu, aku ingin kamu menyimpannya rapat-rapat. Jangan mengambil keputusan sembrono seperti Helena. Meski aku yakin pak bos pasti tahu siapa saja wanita yang menyimpan perasaan untuknya, tapi selama wanita itu tidak menunjukannya secara terang-terangan dan tetap menjaga profesionalitas, pak bos juga akan tetap bersikap seperti biasa."
Mutia tersenyum kecil. Ia kembali membalik tubuhnya. Dengan tangan berpegangan pada besi pembatas balkon, Mutia mendongak menatap langit cerah di siang menjelang sore ini. Sebelum kemudian menoleh pada Keyla yang juga tengah menatapnya, menunggu tanggapannya.
__ADS_1
"Saat ini aku tidak berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapapun, Key. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang dan melahirkan anakku dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun. Rasanya terlalu berlebihan, jika wanita janda sepertiku mengharapkan pria seperti Mas Yudha. Jadi kamu tenang saja... aku tidak akan memandang Mas Yudha lebih dari seorang atasan."
Mutia terlalu angkuh. Padahal ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi di detik selanjutnya dalam hidupnya.