
Setelah berhasil memberikan kejutan pada Mutia, yang sukses membuat Ibu satu anak itu benar-benar terkejut dengan kenyataan bahwa Sekar adalah Ibu Yudha dan Arumi adalah calon iparnya, bukan karena kedatangan mereka yang tiba-tiba, kini keempatnya duduk di ruang keluarga. Membicarakan tentang bagaimana Sekar dan Arumi bisa mengenal Mutia, hingga menertawakan cara kerja takdir Tuhan yang begitu unik mempersatukkan dua orang hamba-Nya.
"Jadi... Mutia sahabat Arumi?"
Arumi menanggapi pertanyaan Yudha dengan anggukan antusias, sembari merangkul lengan Mutia yang duduk disampingnya.
"Tapi selama ini aku hanya sering bertemu dengan Kavira?"
"Itulah bagian lucunya," kali ini Sekar yang menyahut. Terkekeh geli sebelum meneruskan ucapannya. "Pas Mutia datang ke rumah, kamu lagi keluar. Entah kuliah atau cuma sekadar nongkrong sama temen-temen kamu. Terus setelah lulus S1, kamu ngelanjutin kuliah ke Bali, sementara disaat bersamaan Kavira dan Mutia makin rutin main ke rumah. Tapi setelah menikah, Mutia nggak pernah lagi main ke rumah. Mami maklum, sih, sebagai wanita yang sudah menikah, nggak akan bisa lagi kemana-mana dengan bebas tanpa ijin suami."
Mutia menegang saat Sekar membicarakan tentang Haikal. Dengan kaku Mutia menoleh pada Arumi, bertanya-tanya dalam hati, apa wanita itu juga mengatakan tentang perceraiannya pada Sekar? Namun Arumi hanya menanggapi pertanyaan tak tersiratnya dengan tatapan bingung. Kemudian Mutia hanya menggeleng, sebelum kembali mengalihkan atensinya pada Yusuf yang menatapnya dengan sorot polos.
"Mas inget nggak, waktu datang ke sekolahku, ngajakin ngomong tentang Mas Sultan, pas Mas Sultan lagi ke Lombok?" tanya Arumi, yang mendapat anggukan dari Yudha.
"Nah, waktu kedatangan Mas cuma selisih beberapa menit dari kepulangan Mutia."
"Waktu itu mereka belum jodoh, Rum, makanya belum diijinkan Tuhan untuk ketemu. Dan sekarang, sudah saatnya mereka di persatukan." sela Sekar, menatap putra bungsunya dengan binar antusias.
"Dari dulu Mami udah niat banget mau jodohin kamu sama salah satu dari sahabat Arumi, karena Mami udah terlanjur sayang banget sama mereka, tapi Arumi melarang. Katanya, Mas Yudha berhak mendapatkan wanita yang benar-benar dia inginkan. Dan sekarang, harapan Mami terkabul. Tanpa rencana perjodohan, kamu dan Mutia akan segera menikah."
Yudha menatap hangat pada Ibunya sembari mengulas senyum. Merasa lega karena penerimaan Ibunya terhadap Mutia.
"Tante," panggilan Mutia bukan hanya menarik perhatian Sekar, namun juga Yudha dan Arumi. "Aku pamit ke dapur ya, mau bantuin mbah masak makan siang."
"Iya, Sayang. Nggak pa-pa." sahut Sekar, tanpa mengilangkan senyum dari wajahnya.
"Yusuf biar sama aku." Yudha mengambil alih Yusuf, sebelum Mutia beranjak dari duduknya.
"Aku ikut." dengan gesit Arumi berlari kecil menyusul Mutia yang sudah melangkah ke dapur.
"Dasar pecicilan." ejek Yudha, yang ditanggapi Arumi dengan juluran lidah.
__ADS_1
Sekar tertawa. "Kalian ini, kalau ketemu pasti saling ejek."
Yudha hanya menanggapi dengan seulas senyum. "Mami nggak capek? Mending istirahat, Mi, sambil nunggu makan siang."
"Walau udah tua, tubuh Mami masih fit ya. Bolak-balik Prabu-Bali dalam satu hari aja Mami sanggup." sahut Sekar sembari mengerutkan bibir, yang sukses membuat Yudha tertawa.
"Iya, iya, aku percaya, kok." mengulum senyum geli, Yudha menunduk sekilas, menatap Yusuf yang tampak nyaman dalam pangkuannya. "Mami nginep berapa hari?"
"Rencananya sih dua hari, kalau Papi kamu nggak nekat nyusul kesini dan maksa Mami pulang."
"Tunggu dulu. Apa itu maksudnya Mami kesini, tanpa kasih tahu Papi?" pertanyaan Yudha mendapat cengiran dari sang Ibu, membuat pria dua puluh tujuh tahun itu mengerang pelan. "Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Nanti Mami sama Arumi nginap dirumah aku aja."
"Loh, kenapa nggak disini?"
"Rumah ini sedianya untuk para karyawan aku, Mi. Mereka pasti nggak akan nyaman jika ada Ibu dan ipar bos mereka disini. Itu akan membuat mereka merasa diawasi."
Sekar mengangguk setuju. "Yud, kamu benar-benar yakin sama Mutia?"
"Tidak, Sayang. Mami tidak sepicik itu. Mami hanya tidak ingin status Mutia dan Yusuf akan kamu permasalahkan dimasa depan. Mami sudah menganggap Mutia dan Kavira sebagai putri Mami, jadi Mami nggak mau mereka tersakiti."
"Selama ini aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuatku yakin untuk berkomitmen. Namun Mutia, aku tidak pernah merasa seyakin ini saat mengambil keputusan untuk menikahinya."
Sekar tersenyum lembut. "Syukurlah kalau begitu."
...* * *...
"Mbah, bisa tinggalin aku sama Rumi sebentar? Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya." pinta Mutia dengan sopan, setibanya mereka di dapur. Dan ucapan Mutia, sukses membuat Arumi menatapnya dengan dahi mengerut.
Mbah Sriti mengangguk pelan. "Kalau Mutia butuh mbah, mbah di kamar ya. Mau lipat baju-baju Yusuf."
Mutia mengiyakan. Setelah mbah Sriti benar-benar meninggalkan dapur dan memastikan tidak ada siapapun di sekitar mereka, Mutia menatap Arumi yang kebingungan dengan raut cemas dan dahi dibasahi peluh dingin.
__ADS_1
"Rum, apa kamu memberitahu tante Sekar tentang perceraianku dan Haikal?"
Arumi menggeleng. "Tapi Mami pasti sudah bisa menduganya, karena Mas Yudha bilang kamu janda." manik jelaga Arumi memerhatikan gestur tubuh Mutia yang tampak gelisah. "Ada apa. Mut? Kamu terlihat seperti orang yang... ketakutan."
Mutia menghela nafas berat, sebelum menanggapi pertanyaan Arumi. "Aku belum memberitahu Mas Yudha kebenarannya."
"Maksud kamu?"
"Setahu Mas Yudha, aku janda karena suamiku meninggal, bukannya karena bercerai, Arumi."
"Ya Tuhan, Mutia. Kenapa kamu melakukan itu?"
"Awalnya karena spontanitas, tapi lama kelamaan, aku malah menjadikan hal itu sebagai jawaban saat ada yang bertanya. Aku tidak pernah membayangkan akan sampai pada posisi ini, Rum. Jangankan menjadi istri Mas Yudha, berekspektasi menjadi orang terdekatnya saja aku tidak berani."
Arumi menatap iba pada karibnya yang kini menangkup wajah dan terisak. Dengan lembut Arumi mengusap punggung Mutia.
"Lalu sekarang bagaimana?"
Menjauhkan telapak tangannya, Mutia menggenggap tangan Arumi, menatap wanita dua anak itu dengan sorot memohon. "Tolong, jangan katakan kebenarannya pada Mas Yudha. Nanti... aku sendiri yang akan memberitahunya."
Menghela nafas pelan, Arumi mengangguk. "Meskipun aku tidak menyukai kebohonganmu, tapi aku juga tidak akan ikut campur. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Terima kasih, Rum." Mutia tersenyum lega.
"Tapi kamu harus secepatnya memberitahu Mas Yudha, apalagi kamu dan Haikal memiliki Yusuf. Itu tentu akan menjadi masalah nantinya."
"Pasti, Rum."
Kemudian dua bersahabat itu kembali meneruskan pekerjaan mereka memasak makan siang. Keduanya sepakat untuk tidak memanggil mbah Sriti, membiarkan wanita tua itu beristirahat.
Aktivitas memasak mereka disertai dengan obrolan ringan dan canda tawa, hingga suara ribut dari arah ruang keluarga menarik perhatian keduanya. Mereka saling pandang dengan sorot bertanya, sebelum mematikan nyala kompor dan bergegas menghapiri asal keributan.
__ADS_1