
"Aduhh... maaf ya, Mut, aku terlambat."
"Aku maklum. Sekarang kamu kan mak-mak, bukan lagi anak SMA yang bisa keluar rumah dengan mudah." sahutnya, tak lupa menyungging senyum saat melihat betapa repotnya Arumi.
Menjadi Ibu dua orang anak diusia muda, pastilah cukup menyulitkan. Namun Mutia bisa melihat binar kebahagian di manik coklat madu Arumi, menunjukan bahwa karibnya sangat menikmati peran sebagai Ibu muda.
Tak munafik, Mutia mengakui bahwa ia merasa sedikit iri dengan kehidupan yang Arumi milikki. Dicintai oleh suaminya dan memiliki dua orang anak yang melengkapi kebahagian rumah tangga mereka. Jika Tuhan sudi mengabulkan pintanya, Mutia juga ingin memiliki kehidupan seperti yang Arumi milikki.
"Ata duduk deket tante ya?" bersamaan dengan itu Mutia menarik kursi disampingnya. Tersenyum hangat pada anak perempuan berusia lima tahun yang masih setia menggenggam tangan Arumi.
Permata mengangguk. Sudah cukup mengenal Mutia sebagai teman dekat Ibunya, membuat Permata tak lagi merasa canggung. Ia pun diam saja saat Mutia meraih tubuh kecilnya dan mendudukkannya di atas kursi.
"Thanks, Mut."
Ketika menoleh pada Arumi, Mutia mendapati Ibu muda itu sudah duduk di hadapannya sembari memangku Karalo yang tiba-tiba saja menangis.
"Mungkin Alo poop? Biasanya anak kecil kan rewel pas lagi laper, poop atau nggak enak badan."
Serta merta Arumi memeriksa diapers yang dikenakan putranya, sebelum menghela nafas pelan. "Aku harus ke toilet buat ganti diapers Alo. Kamu bisa tolong jagain Ata?"
Ibu jari Mutia mengacung tanda setuju. Lalu saat Arumi melenggang pergi dengan membawa tas berisi peralatan Karalo, Mutia mengarahkan atensi pada gadis kecil disampingnya. "Ata mau makan apa, sayang?"
"Ayam lica-lica sama susu kocok oleo."
Usia Permata memang bertambah, namun gadis kecil itu masih belum bisa mengucapkan huruf R. Tapi setidaknya sekarang Permata sudah bisa menyusun kalimat dengan benar, tidak lagi terbalik-balik hingga membuat bingung orang yang mendengarnya.
"Ayam rica-rica sama milkshake oreo?" ulang Mutia, yang langsung mendapat anggukan antusias dari anak sulung Arumi. Ia pun segera memanggil pelayan, lalu menyebutkan pesanannya dan Permata.
Beberapa menit kemudian Arumi kembali sembari menggendong Karalo yang tidak lagi menangis. Bocah itu bahkan sekarang tengah tertawa sembari menarik-narik rambut ikal Ibunya.
"Kamu nggak bawa stroller?" Mutia bertanya saat Arumi sudah kembali duduk dihadapannya.
"Nggak. Lupa." Arumi nyengir. "Kalian udah pesen makanan?"
Mutia mengangguk. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri meja mereka dengan membawa pesanannya dan Permata, sementara Arumi baru akan memesan makanan untuknya.
"Jadi... apa yang mau kamu bicarakan?" mengeluarkan kotak roti dari dalam tas, Arumi memberikan satu keping roti bayi pada Karalo. "Pasti penting, kan? Karena biasanya kamu akan mengatakan apa saja lewat telpon, nggak seperti hari ini yang ngotot banget ngajak ketemu."
Mutia tersenyum getir. "Aku dan Haikal pisah."
"Hah? Pisah?" perhatian Arumi sempat teralihkan saat pelayan menyajikan pesanannya. Pembicaraan mereka dilanjutkan setelah pelayan melenggang pergi. "Maksud kamu pisah rumah, karena Haikal ada kerjaan di luar kota?"
"Bukan. Tapi kami bercerai."
Arumi menganga sesaat, lantas menatap Mutia dengan tajam. "Kok bisa? Bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja? Dan kenapa kamu baru memberitahuku?"
Menghela nafas pelan, tampak begitu tertekan, Mutia pun menceritakan apa yang sudah dialaminya. Tanpa mengurangi ataupun melebihkan cerita untuk menarik simpati. Ia bercerita murni hanya untuk berbagi dan melegakan sedikit hatinya yang sesak.
__ADS_1
"Beberapa minggu ini kamu disibukkan dengan persiapan acara tujuh bulanannya kak Fio, aku tidak ingin mengganggumu."
"Ya Allah, Mutia. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Aku tidak akan merasa terganggu. Justru sekarang aku merasa bersalah karena tidak bisa menemanimu melewati masa sulit." manik coklat madu Arumi menunjukan sorot menyesal, namun sedetik kemudian berubah nyalang.
"Dasar pria tidak tahu diri. Seharusnya dia bersyukur mendapatkanmu. Sebagai istri, kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, tapi dia malah menghamili wanita lain, sepupumu pula. Semoga saja Tuhan segera membalas perbuatan mereka."
Dalam hati Mutia mengamini doa Arumi. Ia bukan malaikat yang berhati suci, meski tampak menerima, nyatanya Mutia selalu mengutuk Haikal dan Sonya setiap kali ada kesempatan.
"Tidak perlu merasa bersalah, Arumi, sebab aku yang memang sengaja tidak memberitahu. Dan ya... aku berharap Tuhan tak lama-lama membiarkan mereka bahagia diatas penderitaanku."
Arumi mengangguk setuju. "Lalu sekarang apa rencanamu?"
"Aku ingin berpamitan, karena aku sudah memutuskan untuk pindah ke luar kota."
Arumi menunjukan sorot keberatan. "Kamu ingin menjauh dari Haikal? Tidak perlu, Mut. Dia yang bersalah padamu, seharusnya dia yang merasa malu dan menjauh darimu."
"Aku tidak berniat melarikan diri, Rum. Aku pergi untuk menyembuhkan luka hati dan membuka lembaran baru. Lagipula... siapa tahu takdirku ada di kota lain."
"Apa keputusanmu sudah final? Kamu sudah memikirkannya baik-baik?"
Arumi berusaha menggoyahkan pilihan Mutia, yang mendapat anggukan tegas dari sahabatnya. Arumi pun membuang nafas kasar. Kavira udah pergi, sekarang Mutia mau ninggalin aku. Punya dua sahabat, kok tega banget sih, keluhnya dalam hati.
"Jadi... kota mana yang kamu pilih?"
Mutia mengedikan bahu. "Aku akan mengikuti kemanapun takdir membawaku."
"Aelah... sok puitis kamu."
...* * *...
"Cek."
"Ponsel?"
"Cek."
"Charge? Powerbank?"
"Cek." Mutia menunjukan dua benda yang baru saja Faisal tanyakan, lalu memasukannya ke dalam tas tangan.
"Tiket?"
"Cek. Udah dipesan."
Helaan nafas berat keluar dari sela bibir Faisal. "Dompet? Kartu identitas?"
"Ah ya," menepuk dahi, serta merta Mutia menghampiri meja hias. Mengambil dompet yang tersimpan di dalam laci, kemudian menyimpannya bersama ponsel. "Untung kamu ingetin. Kalau nggak, ntar udah sampe Palembang, terpaksa balik lagi."
__ADS_1
"Atau nggak usah pergi aja sekalian."
Sejenak Mutia menatap Faisal, namun memilih tak menanggapi dan kembali menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.
"Yuk, apa tidak bisa Ayuk batalkan saja niat pergi dari kota ini?"
"Sal!" meletakan tas make up yang baru saja ia ambil, Mutia menatap jengah pada adiknya. "Kita udah bahas ini berulang kali. Aku bahkan rela undur kepergian aku, sampe empat hari, hanya untuk menunggumu libur sekolah agar bisa mengantarku ke bandara. Kalau tahu begini, mending dari kemaren-kemaren aja aku pergi."
"Maaf," adalah tanggapan untuk gerutuan Mutia. "Aku hanya merasa tidak rela melepaskan Ayuk ke kota lain, sendirian pula." desahnya, membuat Mutia tak tega dan ia pun mendekati Faisal, memeluk sang adik. "Ini semua gara-gara si brengs*k Haikal. Kalau saja dia tidak menyakiti Ayuk, pasti Ayuk tidak akan pergi keluar kota dan meninggalkanku."
"Tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Mungkin ini adalah cara Tuhan memberitahuku bahwa Haikal bukan jodohku dan sudah saatnya aku berhenti memperjuangkannya."
Faisal mengangguk setuju. "Ayuk jaga diri baik-baik, sesampainya disana, segera hubungi aku."
...* * *...
Takdir Tuhan itu bekerja dengan sangat unik dan tidak terduga, seperti yang terjadi pada Mutia. Niat hati pergi ke kota Medan, Mutia justru mendarat di bandara Ngurah Rai.
Kembali pada kejadian beberapa jam lalu, saat Mutia akan menunjukan e-ticket yang ia pesan pada petugas bandara. Di meja petugas, ia berdiri disamping seorang wanita muda yang tengah memohon-mohon agar diberikan satu tiket ke Medan, sementara tiket sudah habis.
Mutia terus mengamati, bahkan sampai wanita itu menjatuhkan tubuh di kursi tunggu sembari menangis terisak. Mengabaikan petugas yang memanggil-manggil namanya, Mutia menghampiri wanita muda itu.
"Hai, aku Mutia." sembari tersenyum Mutia mengulurkan tangan. Senyumnya kian lebar saat wanita itu menyambut uluran tangannya.
"Astari Keyla." mempersilahkan Mutia duduk disampingnya, tatkala ia menghapus air mata.
"Aku dengar tadi kamu meminta petugas memberikan satu tiket ke Medan untukmu. Ada apa? Kamu terlihat panik dan juga terburu-buru."
"Kedua orang tuaku berpisah, karena itu aku memutuskan untuk merantau ke Palembang. Niatnya... liburan kali ini aku ingin menemui Ibu di Bali, tapi baru saja aku mendapat telpon dari Medan yang mengabarkan bahwa Ayahku kritis dan ingin segera bertemu denganku. Aku takut terlambat menemuinya, karena itu aku cepat-cepat memesan e-tiket, tapi sudah habis. Jadi aku memutuskan datang ke bandara dan berharap petugas disini bisa membantuku, tapi tenyata tidak bisa. Kecuali ada penumpang yang membatalkan penerbangan." tangis Astari kembali pecah. Membayangkan ia terlambat menemui Ayahnya, membuat ia ketakutan.
Mutia yang berada disisi orang tuanya saat malaikat menjemput saja, tetap merasakan kesedihan yang mendalam, apalagi Astari jika ia sampai tak sempat bersua dengan Ayahnya. Setelah menimbang-nimbang, Mutia pun mengabil keputusan yang ia harap bisa membantu Astari.
"Aku ada e-tiket penerbangan ke Medan. Kamu bisa ambil tiketnya setelah aku melakukan pembatalan."
Isakkan Astari seketika terhenti. Ditatapnya Mutia dengan raut terkejut dan binar di kedua bola matanya.
"Kamu serius? Tapi ini adalah penerbangan terakhir ke Medan untuk hari ini. Dan juga, kalau refund dengan waktu mendekati jadwal penerbangan seperti ini, uang yang dikembalikan hanya 10%."
"Tidak apa-apa, aku percaya Tuhan akan menggantinya berkali lipat. Lagipula kamu lebih membutuhkan tiket ini. Aku bisa pergi besok, lusa, atau beberapa hari lagi."
"Terima kasih, Mutia, terima kasih." Astari memeluk Mutia dengan penuh rasa syukur dan helaan nafas lega. Lalu saat melepaskan diri, Astari menarik lengan Mutia. "Kita temui petugas untuk membatalkan tiketku dan juga tiketmu, setelah itu aku akan memesankanmu tiket. Kamu mau penerbangan ke Bali atau Jogja? Karena hanya itu penerbangan untuk hari ini."
"Nggak usah, Astari."
"Please, kumohon ambil. Atau berikan nomor rekeningmu, aku akan transfer uang tiket milikmu."
Setelah berpikir, entah mengapa tiba-tiba saja hatinya ingin ia pergi ke kota... "Bali."
__ADS_1
...****************...
...TO BE CONTINUE...