
"Mau minum kopi atau mandi dulu, A'?" bersamaan dengan Azril melangkah masuk, Mutia mengekori pria itu yang kini tengah sibuk menggulung lengan kemeja.
"Es teh, Mutia. Sore ini aku butuh sesuatu yang dingin, untuk meredakan kepalaku yang terasa panas."
Tanpa bertanya lebih lanjut, Mutia bergegas ke dapur. Tak sampai lima menit Mutia sudah kembali dengan membawa segelas es Teh, lalu memberikannya pada Azril.
Helaan nafas keluar dari sela bibir Azril setelah meneguk minumannya, kemudian ia menoleh pada Mutia. "Lamia belum pulang?"
"Belum, A'."
"Lalu Ghifar?"
"Pergi dari jam sepuluh tadi. Tapi nggak bilang mau kemana."
Kembali Azril menghela nafas dan meneguk teh miliknya, menikmati sensasi dingin yang mengaliri tenggorokannya. "Kamu masih ada kerjaan, Mut?"
"Semua pekerjaan sudah aku selesaikan. Ada apa, A'?"
"Kalau begitu, tolong pijat kepalaku. Aku merasa ada beban puluhan kilo yang menimpa kepalaku, berat sekali."
Mutia mengangguk. Setelah Azril meletakan gelas dan menyandarkan punggung, Mutia mengambil posisi di belakang Azril, lalu mulai menggerakan jari-jari mungilnya untuk memberikan pijatan relaksasi.
"Omong-omong, Mutia. Rendang buatan kamu enak." Azril berucapan dengan mata terpejam, menikmati tekanan lembut yang Mutia berikan.
"Alhamdulillah, kalo enak."
__ADS_1
"Besok siapkan lagi bekal untukku makan siang, ya?"
"Siap, pak bos."
Azril terkekeh mendengar jawaban Mutia, yang di balut nada humor nan ceria.
"Hm... Aa ada masalah? Tidak biasanya Aa pulang dengan wajah kusut dan penampilan berantakan." Mutia memulai introgasi untuk memuaskan rasa penasarannya.
Kelopak mata Azril terbuka, menampakan manik hitamnya yang menyorot penuh kemarahan. "Aku di rampok."
"Hah?" beberapa detik pijatan Mutia terhenti. "Kok bisa?"
"Aku dan satu temanku mendapat tugas memperbaiki kabel listrik yang bermasalah di daerah pinggiran Bali. Lalu saat pulang, kami dihadang oleh beberapa orang. Semua barang berhaga mereka ambil. Jika saja mereka tidak membawa senjata tajam, kami tentu akan melawan. Beruntung mereka tidak mengambil mobil kantor, mungkin karena mereka tahu hal itu tentunya beresiko tinggi. Kalau sampai mobil kantor juga diambil, entah bagaimana caranya kami pulang, tanpa uang sepeserpun."
Azril mengangguk pelan.
"Sabar ya, A'. Ini adalah sebuah terguran sekaligus pengingat buat Aa."
Azril melirik Mutia dengan dahi mengernyit. "Maksudnya?"
"Apakah Aa sudah mengeluarkan sedekah?"
Pertanyaan Mutia membuat Azril tertohok. "Aku tidak pernah bersedekah, kecuali di hari raya."
"Astagfirullah. Aa harus ingat, bahwa disetiap harta yang kita dapatkan, ada milik orang lain. Allah memberi kita kelancaran rezeki, bukan hanya untuk diri kita sendiri, namun juga untuk berbagi dengan orang-orang kurang mampu. Sebagian harta yang Aa miliki adalah titipan dari Allah untuk mereka. Dan juga... dengan bersedekah akan membersihkan harta Aa, sekaligus menambah tabungan amal ibadah di akhirat kelak." menjeda ucapannya, Mutia menghirup nafas dalam guna mengisi paru-paru yang mulai menyempit karena kekurangan oksigen.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada Aa adalah sebuah terguran dari Allah, bahwa Aa tidak boleh serakah. Dan juga, sebagai pengingat bahwa sudah seharusnya Aa mengeluarkan beberapa persen harta yang Aa dapatkan untuk mereka yang membutuhkan. Allah menciptakan manusia secara seimbang, ada yang kaya dan miskin. Agar yang kaya membantu yang miskin, dan yang miskin membantu yang kaya."
"Yang miskin membantu yang kaya?" tanya Azril dengan nada tak percaya.
"Iya. Coba bayangkan kalau semua manusia di muka bumi ini kaya raya. Tidak akan ada yang membuka toko untuk berjualan sembako, lauk pauk dan juga sayur mayur. Lalu... bagaimana orang kaya bisa mencukupi kebutuhan mereka? Walau banyak uang, itu akan percuma saja. Begitu pula sebaliknya. Jika semua manusia miskin, siapa yang akan membeli barang-barang yang mereka jual untuk menghasilkan uang? Tidak ada, kan. Jadi... sudah seharusnya, kita yang diberi lebih oleh Allah, berbagi dengan mereka yang kekurangan. Jangan khawatir harta Aa akan habis karena bersedekah. Sebab, Allah sudah menjanjikan pahala serta balasan berkali lipat, untuk mereka yang mau berbagi dengan saudaranya."
Azril terdiam, begitu pula dengan Mutia. Wanita hamil itu membiarkan Azril memikirkan semua ucapannya, sementara ia tetap melanjutkan tugasnya memijat kepala Azril.
"Sejak Ibu dirawat dan Ayah menghilang bak di telan bumi, tak ada lagi yang menasehatiku tentang agama. Setelah menikah dengan Lamia pun, dia tidak pernah mengingatkanku tentang hak dan kewajiban sebagai hamba Allah. Selama ini aku hanya sibuk mencari uang, terus menimbun harta, tanpa sadar bahwa harta yang aku kumpulkan sebagiannya adalah milik orang lain. Astagfirullah, betapa serakahnya aku." menegakkan punggung, Azril menutup wajah dengan kedua belah tangan.
Melihat Azril yang tampak begitu menyesal, Mutia mengambil posisi duduk di sofa yang berseberangan dengan pria itu, dipisahkan oleh meja kopi.
"Masih belum terlambat untuk memperbaiki diri. Sebagai manusia, kita memang sering kali khilaf. Aku tahu, ini pasti tidak mudah. Namun jika polisi mendapatkan pelakunya dan barang-barang serta uang yang diambil sudah tidak ada, sebaiknya Aa mengikhlaskan harta yang sudah hilang. Anggap saja Aa sedang bersedekah. Insya'allah, nanti akan mendapat gantinya."
Azril menatap Mutia dengan sorot hangat sembari tersenyum tulus. "Ya. Insya'allah, aku ikhlas."
"Lebih baik sekarang Aa mengurus pemblokiran kartu ATM, kartu kredit, sim, surat-surat kendaraan serta kartu identitas yang berada di dalam dompet, agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab."
Azril mengangguk pelan. Sementara Mutia merasa lega karena Azril tidak tersinggung dan merespon ucapannya dengan baik. "Maaf ya, A'. Aku tidak bermaksud menggurui."
"Tidak perlu meminta maaf, Mutia. Aku justru berterima kasih, karena kamu sudah mengingatkanku."
Manik hitam Azril berbinar takjub. Seharusnya Lamia yang berada disisinya saat menghadapi situasi seperti ini, mengingat wanita itu adalah istrinya. Namun kenyataannya, justru Mutia —pekerja dirumahnya— yang ada untuknya. Menjadi air yang memadamkan api amarahnya.
"Kamu persis seperti Hasna. Yang selalu berhasil menenangkanku. Terima kasih, adik kecilku yang manis."
__ADS_1