Untuk Mutia

Untuk Mutia
Janda satu anak


__ADS_3

"Aku sudah melamarnya, Mi. Dalam waktu dekat aku akan mengajaknya menemui Mami."


Rencana awal Yudha ingin langsung membawa Mutia dan Yusuf untuk bertemu Ibunya, namun setelah dipertimbangkan lagi hal tersebut bisa saja membuat Ibunya syok dan mungkin akan berakhir dengan serangan jantung saat mengetahui bahwa ia akan menikahi seorang janda satu anak.


Tapi ternyata, memberitahu Ibunya terlebih dulu lewat panggilan telpon juga bukanlah keputusan bijak, karena Ibunya justru memberi respon pertama kali berupa teriakan histeris sembari memanggil menantu —pertama— kesayangannya, seolah hal yang ia sampaikan tadi adalah sesuatu yang luar bisa dan sangat mustahil untuk terjadi.


Perilaku Ibunya sama sekali tidak mencerminkan pribadi orang Jawa yang dikenal lemah lembut.


"Yang kamu lamar, perempuan kan, Yud?" setelah berteriak histeris, kini Ibunya mengajukan pertanyaan dengan nada khawatir.


Yudha memutar matanya. Selama ini ia memang tidak pernah menujukkan ketertarikan pada lawan jenis atau berminat untuk menjalin sebuah hubungan, tapi itu bukan berarti ia memiliki penyimpangan seksual.


"Iya, Mi. Dia perempuan sejak lahir. Tanpa operasi kelamin."


"Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih karena telah Engkau sadarkan putra hamba yang selama ini tersesat." ujarnya dramatis, membuat Yudha menghela nafas pelan. Ibunya memang terkadang berlebihan. "Jadi siapa wanita hebat yang sudah berhasil meluluhkan hati putra bungsu Mami ini, hm?"


"Namanya Mutia Haruka dan dia... seorang janda satu anak."


Hening. Tak ada lagi celotehan Ibunya dan Arumi di seberang telpon. Keduanya seolah sepakat untuk membungkam. Dan Yudha tahu jelas apa alasan mereka terdiam, tentu saja karena status Mutia yang adalah seorang janda, bahkan memiliki satu anak. Yudha memaklumi hal tersebut, Ibunya pasti ingin ia mendapatkan seorang gadis, namun bagaimana lagi, bila hatinya justru menginginkan Mutia.


"Apa Ayahnya bernama Sugiono?"


Yudha mengiyakan dengan alis bertaut. "Bagaimana Mami tahu?"


"Kapan kamu akan mengajaknya bertemu Mami?" bukannya menjawab pertanyaan Yudha, Sekar justru mengalihkan pembicaraan.


"Belum tahu, Mi. Tapi aku usahakan dalam minggu ini."


"Baiklah, Mami tunggu kedatangan kalian."


...* * *...


"Mut, pria itu datang lagi."


Serta merta Mutia yang tengah menginput data pembeli mobil yang berhasil ia dapatkan, mengalihkan atensi pada Keyla yang baru saja datang dan berdiri di depan meja kerjanya. Menatapnya dengan lekat, tatkala ia diam mematung.


"Apa aku harus kembali mengatakan bahwa kamu tidak ada di kantor?"


Mutia menghela nafas, kemudian mengangguk.


"Sebenarnya siapa pria itu, Mut? Ada hubungan apa kamu dengannya? Dan bagaimana bisa kamu mengabaikan pria setampan itu? Yah... walaupun masih lebih tampan pak bos, sih."

__ADS_1


Godaan Keyla membuatnya menerima delikkan dari Mutia, namun wanita itu sama sekali tidak terganggu, justru mengedipkan satu matanya dan terkekeh.


"Mau gimana lagi, Mut, pesona pak bos sampai detik ini belum ada tandingannya."


Masih tak mengeluarkan suaranya, Mutia hanya menanggapi dengan dengusan, tatkala Keyla membungkuk didepannya, menatap dengan lekat.


"Pasti ada hal penting yang ingin pria itu bicarakan denganmu, sampai dia setiap hari datang kemari untuk menemuimu, meskipun kamu selalu menghindarinya."


"Maaf, Key. Aku belum bisa cerita." Mutia menunduk. Menatap fokus pada jemarinya yang bergeming di atas keyboard.


"Oke, aku nggak akan maksa." Bibirnya mengulas senyum saat Mutia mendongak, menatapnya. "Aku memang tidak tahu ada apa diantara kamu dan pria itu, tapi aku ingin mengingatkan, menghindarinya tidak akan menyelsaikan apapun, justru akan membuat hal itu kian berlarut-larut. Jadi jika memang bisa segera diselsaikan, jangan menunda lagi."


Setelah kepergian Keyla, Mutia menyandarkan punggungnya. Mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu, yang sempat membuatnya lupa cara bernafas.


"Mutia! Ya Tuhan, akhirnya aku menemukanmu." sedetik kemudian tubuh mungil Mutia sudah berada dalam pelukan Ghifar. Pria itu mendekapnya dengan erat, sesekali mengecup ubun-ubunnya sembari mengucap syukur.


Baru saja Mutia berniat mendorong Ghifar untuk melepaskan pelukkan pria itu padanya, Ghifar sudah lebih dulu menciptakan jarak, meski kini kedua tangan adik mantan majikannya itu memegang bahunya dengan erat, seolah takut ia akan melarikan diri.


Ghifar memindai tubuhnya dari atas ke bawah berulang kali, dengan senyum lebar yang tak kunjung hilang dari wajahnya. Senyum yang begitu membuatnya tampak memesona dan menarik perhatian beberapa kaum hawa disekitar mereka, termasuk Itjhe yang sejak tadi mengamatinya dan Ghifar.


"Aku senang melihatmu baik-baik saja. Dan oh Tuhan," manik hitam Ghifar menatap lekat perut Mutia selama beberapa detik, sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada wajah yang begitu ia rindukan.


"Kamu sudah melahirkan? Laki-laki atau perempuan? Bagaimana kondisinya? Berat tubuhnya? Dan kalau aku tidak salah hitung, sekarang dia berusia empat atau lima bulan, kan? Dimana dia Mutia? Aku tidak sabar ingin melihatnya."


"Tu-tuan..."


Dengan dahi di penuhi keringat dingin, Mutia menatap panik pada Ghifar. Sementara Ghifar tampak tak menyadari kekalutan Mutia, karena ia terlalu bahagia bisa kembali bertemu wanita yang sampai detik ini masih merajai hatinya.


"Tidak, Mutia." Ghifar menyela. "Aku ingin kamu memanggilku seperti dulu. Panggilan tuan muda yang kuminta padamu waktu itu hanyalah bentuk dari kemarahan dan kekecewaanku."


Yudha semakin dekat dan pria itu kini tengah tersenyum padanya, tatkala Mutia menatap bergantian pada Yudha dan Ghifar dengan jantung bertalu-talu.


Demi Tuhan, kenapa aku merasa seperti istri yang takut ketahuan selingkuh?


"Aku tahu sikapku kekanakan dengan menyulitkanmu agar kamu merasa tersiksa untuk membalaskan rasa sakit hatiku. Kupikir, aku akan merasa lega, puas dan senang, tapi ternyata aku salah. Saat aku menyakitimu, aku justru juga merasakan sakit itu."


"Kak, kita bisa bicara lain waktu." Ujar Mutia tergesa, sembari melirik Yudha yang kini berjarak dua meter darinya.


Ghifar menggeleng. "Kamu harus mendengarkanku sekarang Mutia. Saat kamu pergi, aku merasakan ketakutan yang begitu besar, ketakutan akan kehilanganmu lagi, tanpa kamu tahu bahwa sampai detik ini aku masih mencintaimu."


Ucapan Ghifar membuat Mutia syok. Setelah sekian lama, Ghifar masih menyimpan dirinya di hati pria itu.

__ADS_1


"Dan aku memutuskan untuk kembali memulai lagi semuanya denganmu. Tidak peduli meskipun kamu sudah pernah menikah dan sekarang memiliki seorang anak."


"Kak,"


"Mut, kita bisa pergi sekarang." tiba-tiba saja Yudha sudah berdiri di samping Mutia dan merengkuh pinggang wanita itu. "Maaf membuatmu menunggu lama. Tadi ada berkas penting yang harus segera aku periksa."


Mutia menatapnya dengan seulas senyum kaku, sembari menganggukkan kepalanya. Hal tersebut tentu saja membuat Yudha mengerutkan dahi, sebelum mengalihkan atensinya, hanya untuk mendapati sosok Ghifar tengah menatap tajam padanya.


"Mas, dia kak Ghifar." suara Mutia menjawab keingintahuan Yudha tentang siapa pria yang kini berdiri di hadapannya. "Kak Ghifar ini adik majikanku dulu."


"Ah begitu," Yudha tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya, yang di sambut Ghifar dengan malas. "Saya Yudha. Tunangan Mutia." dan ucapannya sukses membuat Ghifar membelalak, lalu melemparkan tatapan tajam pada Mutia.


"Meskipun belum resmi." guyon Yudha sambil terkekeh, tak menyadari atmosfer panas diantara Ghifar dan Mutia.


"Tunangan?" melepaskan jabatan tangannya dengan Yudha, Ghifar menatap lekat wanita di hadapannya, menunggu jawaban.


"Kak, kita akan bicara lain waktu." pinta Mutia, bukannya memberi Ghifar jawaban. "Sekarang aku harus pulang karena ini jam makan siang anakku."


"Tapi..."


Tanpa memedulikan kelanjutan ucapan Ghifar yang pasti ingin memprotes kesepakatan sepihaknya, Mutia menggenggam tangan Yudha, kemudian mengajak pria itu pergi bersamanya meninggalkan Ghifar yang berulang kali memanggilnya, namun sama sekali tidak ia pedulikan


Lalu pada kenyataannya, Mutia sama sekali tidak menepati janjinya pada Ghifar, ia justru terus-terusan menghindari pria itu. Entah sampai kapan.


Sentuhan di pundaknya membuat Mutia berjengit kaget dan serta merta menegakkan duduknya, sebelum melihat siapa pemilik tangan yang kini masih berada di pundaknya.


"Mas Yudha." ujarnya sembari beranjak. "Mas udah lama disini?"


"Lumayan. Apa yang kamu pikirkan, hm?" tangan Yudha terangkat, jemarinya menyingkirkan anak-anak rambut yang menghalangi pandangannya untuk menatap wajah Mutia.


"Tidak ada. Oh ya, kita makan siang sekarang?"


Yudha mengangguk, kemudian berdehem. "Aku sudah memberitahu Mami tentang kamu dan Yusuf."


Mutia meneguk ludah dengan kesulitan. "Dan apa pendapat Ibu Mas tentangku?"


"Entahlah. Mami cuma bilang, menunggu kedatangan kita."


Manik hitam Mutia menyorot cemas. "Bagaimana jika Ibu Mas tidak menyukaiku?"


"Sudah sering kukatakan, jangan berpikiran buruk. Allah akan mengabulkan apa yang kamu pikirkan." menangkup sisi wajah Mutia, Yudha memberikan usapan pelan dengan ibu jarinya. "Setidaknya Mami sudah memberi kesempatan untuk mengenalmu, tidak langsung menghakimi-mu tentang statusmu. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus percaya semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Mutia mengangguk, meskipun kenyataannya dalam hati Mutia merasa gelisah.


__ADS_2