
Hayo, adakah yang benar tebakannya tentang siapa yang cilik Yusuf?
...****************...
"Dia... A' Azril."
"Dan siapa Azril ini?" desak Yudha dengan nada tak sabar.
Menoleh pada Yudha, Mutia menghela nafas pelan. "A' Azril adalah kakak iparnya kak Ghifar. Suaminya Teh Lamia, majikanku dulu."
"Lalu kenapa dia menculik Yusuf? Dan bagaimana dia bisa memiliki kartu pengunjung? Apa kamu yang memberikannya?"
Mutia menggeleng. "Aku hanya memberikan kartu pengunjung pada kak Ghifar saat pertama kali dia datang kemari."
"Apa Ghifar yang memberikannya?"
Kembali Mutia menggeleng. "Mana mungkin kak Ghifar memberikan kartu pengunjung itu pada A' Azril, sementara kak Ghifar tahu aku menjaga jarak dengan kakak iparnya."
"Dan kenapa kamu menghindari pria itu?"
"Bukannya aku pernah bilang sama Mas tentang kesalahpahaman yang terjadi padaku dan Teh Lamia, yang membuatku memutuskan untuk pergi dari rumahnya?"
Yudha mengangguk.
"Nah, setelah kejadian itu A' Azril mengatakan dia menyukaiku, karena itu aku membuat jarak darinya. Dan sejak keluar dari rumah mereka, aku tidak pernah menjalin komunikasi dalam bentuk apapun lagi dengan A' Azril."
"Itu artinya Azril menggunakan Yusuf untuk membuatmu menemuinya."
Panggilan dari salah satu satpam menginterupsi pembicaraan mereka, membuat keduanya sadar bahwa mereka masih di dalam pos satpam.
"Apa kami perlu membuat laporan ke pihak berwajib, pak?"
"Iya."
"Jangan!"
Serta merta Yudha mengarahkan tatapannya kepada Mutia sembari mengerutkan dahi. "Kenapa? Bukannya tadi kamu ingin segera melapor?"
Bukannya menanggapi pertanyaan Yudha, Mutia justru bicara dengan kedua satpam di hadapannya. "Kami akan menyelesaikannya secara kekeluargaan, pak. Terima kasih atas bantuannya. Permisi." kemudian Mutia meraih tangan Yudha, menarik pria itu untuk pergi meninggalkan pos jaga.
"Mutia, kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa kamu melarang mereka membuat laporan?"
"Karena A' Azril suami Teh Lamia."
"Lalu?"
__ADS_1
Menghentikan langkahnya, Mutia berdiri menghadap Yudha yang juga ikut berhenti. "Teh Lamia sudah sangat baik padaku, Mas. Jika bukan karena bantuannya saat pertama kali aku datang ke Bali, entah bagaimana nasibku sekarang. Aku tidak bisa melaporkan A' Azril ke polisi. Kalau aku lakukan, A' Azril tentu akan di penjara dan pasti membuat Teh Lamia sedih."
"Tapi dia menculik Yusuf, Mutia? Apa yang di lakukannya merupakan tindak kriminal."
"Aku tahu, Mas. Namun untuk saat ini aku akan menyelsaikan secara kekeluargaan. Aku tidak mau menyakiti pihak manapun."
"Dan mengorbankan Yusuf? Seperti katamu, apapun bisa terjadi pada Yusuf."
"Aku yakin A' Azril tidak akan menyakiti Yusuf."
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" Yudha tersenyum sinis. "Kalau dia bisa dengan nekat menculik Yusuf, ada kemungkinan dia juga sanggup menyakiti Yusuf."
"Mas, jangan menakuti aku." raut wajah Mutia tampak khawatir.
"Lihat, kamu saja tidak sepenuhnya yakin, kan? Tunggu apalagi? Kita sudah memiliki bukti, jadi sebaiknya kita segera serahkan bukti itu ke polisi."
"Mas..."
"Atau kamu peduli padanya? Kamu menyukainya, karena itu kamu tidak ingin dia di penjara. Iya, kan?!" tanpa sadar Yudha meninggikan suaranya dan menatap Mutia dengan tajam.
"Astaghfirullah, nggak Mas." memerhatikan sekitar, Mutia menghela nafas lega karena tidak ada satupun orang yang melihat pertengkaran mereka. "Kalau memang aku menyukainya, aku tidak akan pergi darinya. Tolong, Mas. Jangan seperti ini. Aku berada di posisi yang sulit. Disatu sisi aku mengkhawatirkan Yusuf, namun disisi lain aku tidak bisa melupakan semua kebaikan Teh Lamia karena hal ini."
Sesaat Yudha memejamkan matanya sembari mengucap istighfar berulang kali dalam hatinya untuk mengusir setan yang tengah merayunya agar meluapkan amarah dengan membabi-buta.
Merengkuh lengan Yudha, Mutia bersadar di pundak pria itu. "Tidak apa. Aku tahu Mas juga mengkhawatirkan Yusuf."
...* * *...
Sebelum menghubungi Ghifar, Mutia membuka blokir pada nomor Azril, kemudian menghubungi pria itu. Tersambung, namun sama sekali tidak mendapat jawaban. Menyerah menghubungi Azril, Mutia beralih menelpon Ghifar. Tak membutuhkan banyak waktu untuk panggilan itu akhirnya di angkat oleh pria diseberang telpon.
"Kakak masih di Bali?" tanya Mutia dengan nada terburu-buru.
"Ya. Ada apa, Mutia?"
Tak langsung menanggapi pertanyaan Ghifar, Mutia justru tersenyum kecil pada Yudha yang kini menjatuhkan tubuh disampingnya.
"A-apa A' Azril ada di rumah?"
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Azril?"
"Apa kakak memberikan kartu pengunjung ke rumah Mas Yudha pada A' Azril?"
"Tidak, Mutia. Aku menyimpan kartu itu, namun kartu itu tiba-tiba hilang dari dompetku. Aku pikir tidak akan menjadi masalah, karena itu aku tidak mengatakannya padamu." Ghifar cepat tanggap. "Terjadi sesuatu?"
Mengingat Yusuf yang tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini, membuat Mutia kembali menangis sembari memberitahu Ghifar apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Dan sampai sekarang, A' Azril belum juga menghubungiku."
Dada Mutia terasa sesak karena terus menangis, menyebabkannya sulit untuk bernafas. Saat merasakan usapan di punggungnya, Mutia menoleh pada Yudha, memaksakan senyum. Tangannya yang gemetar bergerak menyeka air mata yang membasahi pipi.
"Karena itu aku telpon kakak. Mungkin kakak tahu dimana A' Azril sekarang."
"Maafkan aku, Mutia. Aku tidak tahu dimana Azril." ujar Ghifar, merasa bersalah. "Sejak kepergian kamu, Azril jadi jarang pulang ke rumah dan sering bertengkar dengan Teteh, bahkan sudah dua bulan ini Azril sama sekali tidak pulang."
"Ya Allah, sekarang apa yang harus kulakukan?" Mutia bergumam lirih dan tak bisa menahan desakan air matanya yang memaksa untuk keluar.
Ghifar merasa hatinya begitu sakit mendengar tangisan Mutia. Sialan, Azril. Jika dia melakukan sesuatu yang menyakiti Yusuf, aku bersumpah akan meremukan tubuhnya dengan kedua tanganku, geram Ghifar diselimuti emosi.
"Mutia, aku akan berusaha untuk mencari Azril secepatnya. Kamu jangan khawatir, Yusuf pasti akan baik-baik saja."
Menanggapi ucapan Ghifar, Mutia mengangguk dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Namun saat menyadari Ghifar tidak akan melihat anggukannya, Mutia pun mengeluarkan suaranya.
"Iya, kak. Tolong segera hubungi aku, kalau kakak sudah menemukan A' Azril."
Setelah mengakhiri panggilan, Mutia semakin menenggelamkan tubuh mungilnya dalam rengkuhan lengan Yudha, memeluk pria itu dengan erat. Sudah tiga jam berlalu, namun Azril tak kunjung menghubunginya dan hal itu membuat hatinya kian kalut. Ia berharap Azril benar-benar tidak sampai hati menyakiti bayi kecilnya.
"Aku buatin kamu teh hangat dulu, ya."
Mutia mengangguk.
Melihat kondisi Mutia yang tampak memprihatinkan, membuat Yudha marah pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apapun untuk meringankan beban wanita itu. Ia... merasa tak berguna.
Tepat saat Yudha beranjak dari duduk, Mutia meraih tangannya, membuatnya mengarahkan atensi pada wanita itu.
"Keberadaan Mas disisiku, sangat berarti bagiku. Tanpa Mas, aku tidak yakin masih bisa bernafas dengan baik seperti sekarang." ucap Mutia, seolah tahu apa yang saat ini Yudha pikirkan.
Berjongkok di hadapan Mutia, Yudha menangkup wajah wanita itu sembari mengulas senyum hangat. Satu tangannya bergerak mengusap lembut surai panjang Mutia yang tergerai dan terasa lembab karena keringat. Manik hitamnya menatap Mutia lekat, kemudian di kecupnya dahi wanita itu dengan penuh perasaan.
"Kalau begitu kupastikan, aku akan selalu ada disisimu."
Mutia menanggapi ucapan Yudha dengan seulas senyum lebar. Meski matanya masih meneteskan cairan bening, tapi ia menangis untuk alasan yang berbeda. Kali ini ia menangis karena bahagia memiliki Yudha.
Saat tak bisa lagi melihat sosok Yudha yang telah menghilang di balik dinding dapur, Mutia menyandarkan punggung dengan mata terpejam. Otaknya kembali mengingat setiap detail wajah Yusuf. Namun rasanya baru beberapa detik ia memejamkan mata, Mutia terpaksa kembali membuka kelopak matanya saat mendengar suara ponselnya yang berdering singkat. Menandakan ada pesan masuk. Pesan dari nomor asing.
^^^Temui aku sekarang, Mutia. Sendirian.^^^
^^^Bayimu terus menangis karena merasa lapar.^^^
Dan di bawah pesan itu tercantum sebuah alamat.
Tak perlu menjadi cenayang untuk tahu siapa pemilik nomor asing yang baru saja mengirim pesan padanya, sehingga tanpa membuang waktu Mutia segera meninggalkan rumah. Mengabaikan Yudha yang terus memanggilnya.
__ADS_1