Untuk Mutia

Untuk Mutia
Ketahuan selingkuh


__ADS_3

"Sibuk bener, bu."


Bersamaan dengan itu, terdengar suara nyaring dari panci yang terjatuh menghantam lantai. Sedetik kemudian Mutia beristighfar sembari mengusap dadanya, sebelum melemparkan tatapan tajam pada pemiliki suara yang sudah membuatnya kaget.


"Keyla! Gimana kalau tadi karena kaget aku tiba-tiba lahiran, kamu mau tanggung jawab?"


Bukannya merasa bersalah telah mengagetkan Mutia, Keyla justru memasang cengiran lebar. "Salah kamu sendiri terlalu fokus sama masakan kamu, sampe aku ketuk pintu dan ngucap salam aja kamu nggak denger. Terus pas aku buka pintu, ternyata nggak di kunci. Ya Allah, Mutia, kamu kok ceroboh banget, sih. Gimana kalau ada orang jahat yang masuk? Masih bagus kalau dia cuma ambil barang-barang di rumah ini, tapi kalau dia juga nyakitin kamu, gimana?"


"Kenapa jadi kamu yang ngomel? Harusnya aku yang marah karena udah kamu kagetin." sungut Mutia, namun Keyla hanya menanggapi dengan kekehan geli. "Dan... aku bukannya nggak mau kunci pintu, tapi pintunya memang nggak bisa di kunci. Tadi pagi Nyimas buka kuncinya terlalu keras dan membuat anak kunci yang memang udah bengkok, jadi patah di dalam lubang kunci."


"Lah, terus gimana?" menarik kursi bar, Keyla mendudukkan tubuhnya, tatkala Mutia kembali memasak. "Udah panggil tukang buat benerin? Kan bahaya kalau dibiarin terlalu lama. Takutnya apa yang aku bilang tadi kejadian. Ya... walaupun komplek ini ada satpamnya, tetap saja kita nggak boleh lengah."


"Aku udah minta Nyimas untuk telpon tukang, tapi katanya nanti aja, dia mau laporan sama Mas Yudha dulu."


"Dia mau laporan ke pak bos, biar pak bos yang urus pembayarannya. Cih, perhitungan banget, sih. Biaya tukang juga nggak akan mahal-mahal banget. Lagian... kalau dia nggak mau keluarin uang buat perbaikan, seharusnya dia nggak merusaknya." Keyla mencebikan bibir. Tangannya meraih pisang di dalam keranjang, membuka kulitnya, lalu melahapnya dengan rakus, melampiaskan kekesalannya pada Nyimas yang ingin sekali ia telan hidup-hidup.


"Aku juga mikir gitu, Key. Hal sepele kayak gini, nggak usahlah sampe ke Mas Yudha. Jadi aku maksa minta nomor tukangnya dan bilang aku yang akan bayar biayanya, tapi Nyimas malah marah dan bilang aku cari muka. Padahal kan aku nggak kehilangan muka, jadi buat apa di cari."


Keyla tertawa renyah mendengar gerutuan Mutia, membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk. Mutia yang iba melihat Keyla menepuk-nepuk dadanya, dengan cepat memberikan segelas air untuk Keyla.


"Anjir! Hampir mati aku." keluh Keyla setelah menandaskan air pemberian Mutia. Wajahnya merah padam karena sempat kekurangan oksigen. "Kan lucu kalau aku masuk berita dengan judul Wanita cantik meninggal dunia karena tersedak buah pisang."


Mutia tak bisa menahan dirinya. Wanita hamil itu melepaskan tawa, bersamaan dengan tangannya bergerak mematikan nyala kompor.


"Kualat* kamu ngomongin Nyimas."

__ADS_1


(Kena tulah/celaka*)


"Mana mungkin. Orang tua aku juga bukan." bantah Keyla. "Terus... gimana tuh kelanjutan cerita si pintu?"


"Ya, bersambung." Mutia mengedikkan bahu. Tak acuh, namun matanya justru menyorot khawatir. "Mudah-mudahan aja kuncinya sudah di perbaiki sebelum malam."


Keyla mengangguk-angguk pelan, lalu menatap beberapa piring berisi makanan tersaji di meja bar. "Banyak banget, Mut. Kamu masakin makan siang untuk semua penghuni rumah ini? Di bayar berapa kamu sama mereka?"


"Nggak, kok." Mutia meletakkan piring berisi ikan nila bakar ke atas pantry, lantas mencuci semua peralatan memasak yang tadi ia gunakan. "Aku masak buat Faisal. Adikku libur sekolah dua minggu dan dia memutuskan untuk mengunjungiku sekaligus berlibur disini selama empat hari."


"Yah, jadi kamu nggak bisa nemenin aku keluar, dong." wajah Keyla menampakan raut kecewa.


"Maaf." Mutia merasa bersalah, tatkala Keyla tertawa keras.


"Santai aja kali, Mut." dengan berlebihan Keyla menepuk-nepuk bahu Mutia. "Omong-omong, kamu mau jemput adik kamu ke bandara? Bareng aku aja, sekalian aku mau ke pantai. Biasa, cuci mata lihat pria bule pakai celana dalem doang."


Beranjak dari duduk, Keyla mengambil tas tangannya yang berada di atas meja bar. "Aku nggak mau ganggu quality time kamu sama adik kamu. Bye, aku pergi dulu."


"Key! Keyla!"


Namun Keyla mengabaikan panggilannya. Wanita bertubuh ramping itu hanya melambaikan satu tangannya pada Mutia, tanpa repot-repot menghentikan langkah dan berbalik.


"Dasar, Keyla."


Mutia kembali berkutat dengan masakannya. Menyajikan piring-piring berisi makanan favorit adiknya ke atas meja makan. Tak lama kemudian Mutia mendengar bunyi bel, disertai dengan suara orang mengucap salam. Mengetahui bahwa suara itu adalah milik adiknya, Mutia bergegas menanggalkan celemek dan mengelap tangannya, lantas berjalan cepat menuju ruang tamu.

__ADS_1


Ketika pintu terbuka, Mutia langsung menerima pelukan erat. Meski sempat kaget, akhirnya Mutia tertawa saat mendengar Faisal berkata merindukannya.


"Kamu ini, gimana kalau bukan aku yang buka pintunya? Bisa panjang perkara." keluh Mutia sembari mengusap sayang surai hitam adiknya yang sedikit lembab karena keringat.


Faisal menautkan alis, kemudian melepaskan pelukannya pada Mutia. Kedua tangan remaja itu memegang pundak Mutia, tatkala matanya terfokus pada perut besar sang kakak yang beberapa saat lalu terasa mengganjal pelukan mereka.


"Ayuk..." nafasnya tercekat. Faisal mengangkat pandangan, menatap Mutia dengan sorot terkejut sekaligus bingung. Ia ingin bertanya, namun entah kenapa tiba-tiba saja ia menjadi bisu.


"Masuk dulu. Kita bicara di dalam." meraih tangan Faisal, Mutia menarik remaja dengan tas di punggung untuk masuk ke kamarnya.


Setibanya di kamar Mutia, Faisal langsung menyentak tangan wanita itu. Meletakan tasnya sembarangan, lalu melemparkan tatapan kecewa pada Mutia.


"Ayuk hamil dan aku sama sekali tidak mengetahuinya. Sudah sebesar ini," Faisal menunjuk perut Mutia. "Ayuk menyembunyikannya dariku." bahu Mutia kembali Faisal cengkram dengan kuat. "Si... siapa Ayah bayi dalam kandungan Ayuk?"


Mutia menghela nafas pelan. Faisal memang sering kali bertingkah layaknya kakak posesif dan memperlakukannya seperti adik yang nakal.


Ketegangan di antara mereka terpecahkan oleh suara ketukan di pintu kamar Mutia, keduanya serentak menoleh ke arah pintu. Mutia mengerutkan dahi, bertanya-tanya tentang siapa yang ada di balik pintu kamarnya saat ini, karena seingatnya tidak ada orang dirumah selain dirinya dan penghuni lain juga jarang pulang saat jam istirahat.


Tak ingin merasa penasaran lebih lama, Mutia berjalan menghampiri pintu kamar dan membukanya. Sedetik kemudian Mutia mendapati sosok yang sangat ia kenal, tengah berdiri menjulang tinggi di hadapannya dan memberinya tatapan tajam.


"Mas... Mas Yudha." lirih Mutia.


Bukannya menanggapi ucapan Mutia, Yudha justru menatap ke balik punggung wanita itu. Menatap pria yang berdiri satu meter di belakang Mutia dengan mata memicing curiga dan raut tak suka, sebelum melemparkan tatapan kecewa pada wanita hamil di hadapannya.


"Apa ini, Mutia? Kamu membawa seorang pria ke dalam kamarmu?"

__ADS_1


Mutia kesulitan meneguk ludah. Kenapa sekarang ia merasa seperti baru saja ketahuan selingkuh?


__ADS_2