
"Kamu mau pesan apa?"
Wanita yang belum Mutia ketahui namanya ini beberapa saat lalu menjadi korban pencurian. Mutia yang pada saat itu baru saja keluar dari area bandara dan berdiri dipinggir jalan untuk menunggu angkutan umum, mendengar teriakan minta tolong dari wanita dihadapannya ini, lalu tanpa pikir panjang memberikan bantuan.
Dengan cekalan kaki, Mutia berhasil membuat si pencuri jatuh terjungkal dan melepaskan tas berisi laptop milik wanita bersetelan khas pekerja kantoran. Beruntung saat itu ada mobil polisi yang sedang melakukan patroli, sehingga Mutia pun langsung saja meminta bantuan pihak berwajib dan membuat si pencuri tunggang langgang.
Lalu disini lah ia sekarang, duduk di dalam restoran untuk menerima ucapan terima kasih berupa makan siang,meski ia sudah bersikeras menolaknya.
"Apa aja, Mbok."
Wanita itu mengernyit. "Please, jangan panggil Mbok, aku berasa kayak mak-mak atau pekerja rumah tangga yang udah lanjut usia." kemudian ia menyebutkan pesanannya dan Mutia pada pelayan.
"Tapi bukannya Mbok itu panggilan yang sopan untuk wanita Bali yang masih berusia muda?" Mutia meyerukan pikirannya setelah pelayan meninggalkan meja mereka. "Aku baca di google, sih." sambungnya sembari menyengir.
"Memang, tapi nggak usahlah panggil kayak gitu." si wanita cantik berambut hitam lurus mengibaskan tangannya. "Aku asli Bandung. Tinggal disini baru sekitar tiga tahun, ikut suami yang dimutasi kerja. Jadi... panggil Teteh aja."
Mutia pun mengangguk pelan. Ia mengucapkan terima kasih dan tak lupa tersenyum ramah pada pelayan yang tengah menyajikan makanan di atas meja.
"Omong-omong, aku Azmya Lamia Jaelani. Biasanya orang-orang memanggilku dengan nama Lamia. Dan kamu?"
"Aku Mutia Haruka, Teh. Panggil aja Mutia."
Lamia menanggapi pelayan yang berpamitan undur diri dengan anggukan kepala, lalu tanpa sengaja melihat tas besar di dekat kaki meja. "Kamu baru datang ke kota ini?"
"Iya, Teh. Aku dari Prabumulih."
Lamia menautkan alis. "Prabumulih itu nama kota?"
Mutia tersenyum kecil. Kota kelahirannya memang belum cukup di kenal. "Prabumulih bagian dari Sumatera Selatan, Teh. Kota kecilnya Palembang."
__ADS_1
"Oh... Palembang ya. Kota pempek dengan jembatan Ampera. Jauh juga kamu kemari, nyebrang pulau."
Cengiran Mutia adalah respon untuk ucapan Lamia.
"Terus... ke Bali mau ngapain? Ke rumah saudara?" Lamia mulai menyantap makan siangnya, pun dengan Mutia.
"Aku mau cari kerja, Teh."
"Kerja?" gerakan Lamia menyuap terhenti. Ditatapnya Mutia dengan lekat. "Aku pikir kamu kabur dari rumah. Merajuk pada orang tua karena memberimu uang saku yang sedikit."
Mutia tersedak. Cepat-cepat ia meneguk jus apel miliknya untuk meredakan tenggorokan, kemudian berdehem pelan. "Aku bahkan sudah lulus sekolah dari bertahun-tahun lalu, Teh."
"Serius?" Lamia membelalak tak percaya. "Emang usia kamu sekarang berapa?"
"Dua puluh tiga?"
"Masa, sih? Wajah kamu justru terlihat seperti anak yang baru lulus SMP. Apalagi badan kamu mungil banget, mungkin tinggi kamu nggak sampai 160."
"Ya ampun, beruntung banget kamu punya wajah yang awet muda. Dengan tinggi 154, tubuh langsing, dada dan bokong yang tampak pas, wajah baby face, kulit kuning langsat, rambut hitam legam dan ikal, kamu memiliki segala hal yang diinginkan kebanyakan wanita. Aku yakin pasti banyak pria yang menyukaimu. Iya kan?"
Dalam hati Mutia mengiyakan, namun mirisnya ia justru berakhir dengan Haikal yang sama sekali tidak mencintainya. Jika yang Lamia katakan benar, lalu kenapa Haikal justru berselingkuh dengan sepupunya? Lamia yang berbohong atau mata Haikal yang bermasalah?
Ah... jangan lupa, Mut. Cinta itu buta. Kalau udah cinta, nenek-nenek aja dibilang cantik.
"Mutia,"
Tersentak kaget, Mutia menatap Lamia dengan gelagapan, lantas tersenyum kikuk. "Maaf, tadi Teteh ngomong apa?"
"Sekarang kamu mau kemana? Biar nanti abis makan, aku anter kamu."
__ADS_1
"Nggak usah, Teh. Aku baru mau cari-cari rumah sewaan."
"Lah, jadi kamu ke Bali tanpa persiapan apapun?"
Mutia menggeleng pelan.
"Aku sebenarnya punya kerjaan buat kamu, tapi aku nggak yakin kamu bakal mau."
"Kerjaan apa, Teh?" Mutia tampak bersemangat, matanya berbinar.
"Asisten rumah tangga-ku baru saja berhenti, karena anaknya nggak memperbolehkannya kerja lagi. Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja padaku. Tinggal di rumahku, dapet makan tiga kali sehari dan juga gaji bulanan full, tanpa di potong biaya apapun. Gimana?"
Ya Allah, Mutia. Jauh-jauh terbang ke Bali, masa kamu cuma berakhir jadi babu? Cela benaknya.
Daripada kamu luntang lantung nggak jelas, mending di terima. Kamu nggak perlu mikirin biaya sewa rumah dan juga uang untuk makan,kamu bisa fokus menabung serta mengirim uang pada Faisal. Kalau uangmu sudah cukup, kamu bisa beli rumah kecil, cari kerjaan yang lebih layak, lalu ajak Faisal ke Bali. Anggap saja ini sebagai batu loncatan. Kali ini hatinya yang memberikan pendapat.
"Bagaimana, Mutia?" suara Lamia menarik perhatian Mutia. "Tapi kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa, kok."
"Eh... aku mau, Teh." sambar Mutia dengan cepat, tak ingin kehilangan kesempatan.
Lamia tersenyum lebar, membuat wajah ayu-nya kian memesona. "Bagus. Ayo, selesaikan makanmu, setelah itu kita akan pulang. Oh ya... sekedar informasi. Dirumahku ada suami dan juga adik lelakiku."
*
*
*
...****************...
__ADS_1
...TO BE CONTINUE...