
Seketika Mutia menghentikan langkahnya. Dalam hati mendesah jengah, sebab tahu bahwa saat ini ia tengah kembali menjadi bahan pergunjingan.
Ia pikir dengan tinggal di sebuah komplek perumahan elite, tak akan ada yang menjadikannya buah bibir. Terlalu naif memang, beranggapan orang-orang yang tinggal di komplek perumahan elite, tidak suka ikut campur urusan orang lain. Tahu-nya sama saja. Wanita kalau sudah berkumpul, pasti ada saja yang menjadi bahan gosip.
"Ibu-Ibu, sudah. Jangan suka ngomongin orang. Memangnya Ibu-Ibu mau jadi kayu bakar di neraka nanti? Ngomongin yang benar kenyataannya saja berdosa, apalagi yang belum kita tahu kebenarannya. Dosanya jadi berlipat ganda." nasehat seorang wanita berhijab yang tampak begitu anggun dan bijak. Mutia mengenal wanita itu sebagai istri pak RT.
"Ihh... bu RT, emangnya Ibu nggak khawatir kalau benar ternyata itu si Mutia dihamilin sama suaminya Lamia? Tempat tinggal kita bisa kena sial, loh, bu." wanita yang memulai gosip tentang dirinya kembali berucap.
"Assalamualaikum, Ibu-Ibu." berjalan mendekat, Mutia menyapa ramah para Ibu yang tengah bergosip sembari mengulas senyum ramah seolah ia tidak mendengar apapun.
"Wahh... lagi beli sayur ya?"
Sebelum salah satu dari mereka menanggapi, Mutia menyambung ucapannya.
"Atau... menggunjingkan seseorang?" tembak Mutia, membuat beberapa orang yang membicarakannya seketika memalingkan wajah. Bibirnya menyungging senyum miring, tatkala manik hitamnya menatap si penjual sayur.
"Mang, aku mau bahan-bahan sop."
"Oke, Mutia. Mau sama bunga kol juga?"
__ADS_1
Mutia menanggapi pertanyaan itu dengan anggukan, lalu ia beralih menatap bu RT.
"Pagi, bu RT." sapanya.
"Pagi juga, Mutia. Oh iya, bapak bilang surat perpindahan dan pembaharuan e-ktp kamu sudah selesai, jadi sudah bisa kamu ambil."
"Iya, bu. Nanti aku ambil."
"Omong-omong, Mutia... maaf aku tidak bermaksud ikut campur, namun aku hanya ingin bertanya, tentang suamimu."
"Tidak apa, Bu. Suamiku sudah meninggal. Satu minggu sebelum kedatanganku ke Bali. Aku harap jawabanku ini sudah cukup memberitahu, bahwa anak dalam kandunganku ini bukan hasil zina dan perselingkuhan. Kalau Ibu mau, aku bisa menunjukan surat kematian suamiku." Mutia berucap sembari mengusap perutnya yang membuncit, berharap anaknya tak mencontoh perbuatannya yang kembali berbohong.
"Tidak apa, Bu. Aku juga tidak ingin dituduh macam-macam. Menjadi janda selalu saja di pandang negatif oleh khalayak umum. Padahal siapa yang mau jadi janda. Jika bisa memilih, lebih baik jadi perawan tua, dari pada menjadi janda." ucapan Mutia sukses menohok hati siapapun yang mendengarnya.
...* * *...
"Astagfirullah, kenapa sedikit sekali orang yang bisa menjaga mulutnya." Mutia mendumel dalam perjalanan pulang ke rumah Lamia. Tangan kanannya memegang kantung berisi sayuran, sementara tangan kirinya mengusap perut sembari terus bergumam amit-amit disela gerutuannya.
"Dan karena mulut mereka juga aku jadi terpancing emosi. Sok-sok bilang mau nunjukin surat kematian suami. Gimana caranya coba? Wong Haikal masih sehat wa'alfiat, mana bisa aku mengurus surat kematiannya. Apa aku harus membunuh Haikal, biar dia beneran mati? Ya Allah, jangan sampai itu terjadi."
__ADS_1
Kali ini tangan kiri Mutia beralih memukul-mukul ringan pelipisnya. "Dasar bodoh, dasar bodoh. Ini namanya, lepas dari kandang singa, masuk ke mulut buaya, Mutia."
Ditengah penyesalan Mutia akan kebodohannya yang bicara tanpa berpikir, ia melihat pintu rumah Lamia dalam keadaan terbuka lebar. Gerakan kakinya terhenti, mulutnya menganga dan dengan cepat ia merogoh saku celana yang ia kenakan, sebelum menarik keluar sebuah kunci rumah.
Benar, aku tidak lupa menguncinya. Lalu kenapa sekarang pintunya malah dalam keadaan terbuka? Apa jangan-jangan ada pencuri?
Pemikiran tersebut membuat Mutia di serang rasa panik. Dengan memeluk perutnya, berlari kecil Mutia menghampiri teras rumah. Setibanya di depan pintu, langkah Mutia memelan. Ia mengendap-endap, tak ingin pencuri itu menyadari kehadirannya dan justru menyakitinya.
Setelah mengirim pesan pada Ibu RT, yang berisi permintaan tolong, Mutia melangkah masuk. Saat tak menemukan siapapun atau apapun di ruang tamu, Mutia semakin memasuki bagian dalam kediaman Lamia. Seharusnya ia tidak nekat dan menunggu bantuan, namun ia khawatir saat tengah menunggu, si pencuri justru sudah melarikan diri dengan membawa barang-barang berharga dari rumah Lamia, melalui pintu belakang.
Kini Mutia tiba di ruang keluarga dan ia menemukan sosok bertubuh tinggi tegap dengan balutan kaos hitam serta celana jins pudar, yang telah menerobos masuk rumah Lamia, sedang berdiri di depan televisi.
Berpikir sosok itu akan mencuri televisi, Mutia dengan panik memerhatikan sekitar. Lalu saat manik hitamnya menangkap pemukul bisbol milik Azril yang berada di tempat payung, Mutia segera mengambil benda tersebut. Setelah meletakkan kantung sayur, Mutia menghampiri pria di dekat televisi dengan mengendap-endap, lalu sedetik kemudian pemukul bisbol ia hantamkan pada tengkuk si pria pencuri.
Menyadari si pencuri belum hilang kesadaran, Mutia kembali memukulnya, kali ini pada bagian pelipis, membuat pria berkaos hitam akhirnya tumbang, tergeletak di lantai.
Disisa kesadarannya, pria itu menatap Mutia dengan mata menyipit, sebelum tersentak kaget dan bergumam pelan. "Mutia."
...****************...
__ADS_1