Untuk Mutia

Untuk Mutia
Faisal Kamil


__ADS_3

"Saat masuk tadi aku mendengar suara keras dari arah kamarmu. Kupikir kamu sedang bertengkar dengan salah satu penghuni di rumah ini, tapi ternyata hanya ada pertengkaran sepasang kekasih disini."


Sekian menit berlalu dalam keheningan, Yudha kembali mengeluarkan suaranya sembari melemparkan tatapan sinis pada Faisal yang masih bergeming di belakang punggung Mutia, sebelum mengalihkan perhatian pada Mutia yang menatapnya dengan dahi mengernyit.


"Maaf, bila kehadiranku mengganggu, namun aku hanya ingin mengingatkan. Sepertinya kamu lupa, aku pernah mengatakan padamu saat kamu akan tinggal di rumah ini, bahwa setiap penghuni di rumahku sangat di larang untuk membawa seorang pria, apalagi sampai memasukannya ke kamar. Dan apa yang kamu lakukan ini sungguh mengecewakan, Mutia." lanjut Yudha, membuat Mutia panik, serta merta menggelengkan kepalanya sembari menggoyangkan kedua tangan.


"Sepertinya ada kesalahpahaman disini."


Faisal berhasil menarik perhatian Yudha dan Mutia. Remaja itu sama sekali tidak terganggu dengan tatapan tajam Yudha, justru mengulum senyum, tatkala manik hitamnya berkilat geli.


Dengan langkah ringan, tidak terintimidasi oleh aura tak bersahabat yang Yudha keluarkan, Faisal menghampiri Yudha. Berdiri disamping Mutia, lantas mengulurkan tangannya pada pria dua puluh tujuh tahun di hadapannya.


"Aku Faisal Kamil. Adik Mutia."


Melihat reaksi Yudha saat mendengar ucapannya membuat Faisal tersenyum lebar. Mata yang membelalak dan raut terkejut yang tampak di wajah tampan Yudha, menguatkan pemikiran yang beberapa saat lalu memenuhi otaknya.


"Dan kau?"


Yudha berdehem, lantas dengan segera menjabat tangan Faisal. "Aku Yudha. At..."


"Bos-nya Yuk Mutia?" potong Faisal, yang mendapat anggukan kaku dari Yudha.


Setelah jabatan tangan mereka terlepas, Yudha mengarahkan atensinya pada Mutia yang sejak tadi hanya diam mengamati.


"Jadi... dia adikmu?"


Jiwa Mutia yang beberapa saat lalu seperti menghilang dari raganya, kini telah kembali dan membuat wanita hamil itu berjengit kaget. Kemudian dengan kikuk menganggukan kepalanya, sebelum menoleh pada Faisal.


"Kamu bawa kartu pelajar?"

__ADS_1


Meski bingung, Faisal menganggukkan kepala. "Ada di dompet, dalam tas bagian depan."


Sedetik kemudian Mutia menghampiri tas punggung Faisal. Mengambil kartu pelajar milik adiknya, lantas beralih membuka lemari pakaian. Setelah menemukan apa yang ia cari, Mutia kembali ke hadapan Yudha.


"Ini kartu pelajar milik Faisal. Namanya sama dengan yang tertera dalam kartu keluarga kami. Dan ini... foto keluarga kami yang diambil satu tahun sebelum Bapak meninggal." bersamaan dengan itu Mutia menyodorkan ketiga barang yang ia sebutkan pada Yudha, untuk lebih meyakinkan pria itu.


Sejak tadi Faisal terus mengamati Yudha. Mulai dari gestur tubuh, sampai ekspresi wajahnya. Dan kini Faisal melihat kelegaan di wajah serta tatapan Yudha setelah melihat berkas-berkas yang Mutia berikan, bahkan Faisal juga sempat mendengar helaan nafas Yudha, seolah ia baru saja melepaskan beban berat dari dalam hatinya.


"Oke." Yudha bergumam, lalu mengembalikan berkas-berkas Mutia. "Silahkan lanjut bicara. Tapi tolong... jangan meninggikan suara. Takutnya tetangga dengar dan pasti berpikiran sama sepertiku tadi."


Mutia mengangguk. Sedetik kemudian Yudha melangkah pergi, meninggalkan Mutia yang langsung menutup pintu kamarnya dan membuang nafas panjang.


"Ya Allah, jantungku nyaris melompat keluar." ujarnya sembari memegangi dada.


"Aelah, Ayuk berlebihan. Kalau nggak salah, kenapa harus secemas itu." komentar Faisal, lantas tertawa geli.


"Biarpun nggak salah, kalau di tatap setajam itu sama bos, tetap aja bikin kicep."


Mengabaikan raut kesal sang kakak, Faisal kembali membahas pokok pembicaraan awal mereka.


"Jadi... sudah berapa usianya?" dagu Faisal mengedik ke arah perut besar Mutia.


"Masuk delapan bulan."


"Ya Tuhan," kali ini tangan Faisal bergerak menyugar rambut. Kemudian ia teringat sesuatu yang membuatnya seketika membelalak. "Ayuk baru setengah tahun disini, itu artinya anak ini..."


Mutia mengangguk. "Pas beberapa hari tiba di Bali, ternyata aku udah hamil delapan minggu."


"Astagfirullah, Ayuk. Gimana bisa, sebelum berpisah kalian sempat buat anak dulu, hah?"

__ADS_1


"Sal, waktu itu aku belum tahu tentang perselingkuhan Haikal dan Sonya. Aku juga nggak pernah menyangka bahwa kami akan berakhir di meja hijau. Kamu jangan menyudutkanku seperti ini." mendudukkan tubuh di pinggir ranjang, Mutia menutup wajahnya dan terisak lirih.


Faisal merasa iba sekaligus bersalah melihat Mutia yang tampak begitu tertekan. Meredakan emosinya, Faisal menghampiri Mutia, duduk berdampingan.


"Maaf, aku tidak bermaksud memojokan Ayuk." merangkul Mutia, Faisal membawa wanita itu agar bersandar padanya. "Aku hanya marah pada Haikal. Bisa-bisanya bajingan itu membuat Ayuk hamil, lalu meninggalkan Ayuk."


"Saat itu Haikal mabuk. Dia melakukannya dalam keadaan tidak sadar dan melupakan apa yang telah terjadi."


Menciptakan jarak, Faisal menatap Mutia lekat. "Jadi dia tidak tahu kalau Ayuk hamil?"


Mutia menggeleng. "Aku tidak memberitahu siapapun selain Arumi, Kavira dan sekarang kamu. Bahkan semua orang disini tahunya suamiku sudah meninggal."


"Masya Allah, Ayuk berbohong."


Menutup wajahnya, Mutia mengusap pelan. "Pertama kali, tanpa sengaja aku mengatakan bahwa suamiku sudah meninggal. Dan sekarang aku jadi keterusan."


Faisal kembali membawa Mutia ke dalam pelukannya. Dengan lembut Faisal mengusap lengan atas sang kakak. "Ayuk juga tidak memberitahu om Tono?"


Mutia menggeleng. "Kalau aku beritahu Ayah, aku yakin Ayah pasti akan memperjuangkan hak anakku dan artinya aku harus kembali pada Haikal, sementara aku tidak ingin itu terjadi."


"Ya, Ayuk benar. Aku juga tidak sudi lagi menerimanya sebagai kakak ipar. Dia juga sebentar lagi akan memiliki anak, jadi aku yakin dia tidak akan menginginkan anak ini. Jadi biarkan bayi ini lahir dengan mengetahui fakta bahwa dia hanya memiliki seorang Ibu dan paman yang begitu menyayanginya."


Mendongak, Mutia menatap Faisal dengan mata berkaca-kaca. "Kamu menerima bayi ini?"


"Meskipun aku membenci Ayahnya yang brengsek itu, namun dalam dirinya juga mengalir darah Ayuk. Jadi mana mungkin aku bisa membencinya." bak seorang kakak, Faisal mengusap surai panjang Mutia, lantas mendaratkan kecupan di puncak kepala wanita hamil itu. "Omong-omong, kenapa Ayuk tidak memberitahuku? Jika hari ini aku tidak menemui Ayuk, mungkin aku baru tahu saat Ayuk pulang ke Prabu dan menggandeng seorang balita."


Mutia tertawa renyah dalam rengkuhan hangat Faisal. "Aku tidak ingin membahasnya lewat telpon ataupun skype. Karena aku yakin kamu akan bereaksi seperti tadi. Dan kalau sedang marah, kamu pasti akan langsung mematikan panggilan, lalu segera menyusulku kemari. Tidak peduli jika saat itu kamu akan bolos sekolah. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi."


Faisal menghela nafas pelan, lalu memerhatikan sekitar kamar Mutia. "Ayuk bilang bekerja sebagai asisten rumah tangga, tapi kenapa kamar Ayuk sebagus ini?"

__ADS_1


"Maaf, aku belum sempat mengatakannya padamu. Saat kamu menelponku waktu itu, sebenarnya aku sudah berhenti di tempat kerja lama dan di terima kerja oleh Mas Yudha. Jadi sales di dealer mobil miliknya."


Anggukan Faisal adalah tanggapan untuk ucapan Mutia. Kemudian terdengar suara dari perut Faisal, membuat remaja itu menatap Mutia sembari memasang cengiran lebar.


__ADS_2