
Mutia sedang bermain dengan Yusuf yang berada di pangkuannya, saat Yudha keluar dari lift setelah menyelsaikan urusannya membayar pajak. Sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyum hangat ketika mendengar tawa renyah Mutia, yang entah sejak kapan begitu ia sukai.
"Lihat, Ayah sudah kembali." ucapnya pada Yusuf, lantas menegakkan tubuh putranya dan mengatur posisi menghadap pada Yudha yang tengah berjalan menghampiri mereka.
"Halo, jagoan."
Setibanya di hadapan Mutia, Yudha langsung mengambil alih Yusuf. Mengangkat tinggi tubuh mungil Yusuf, lalu menggesekkan wajahnya di perut bayi lima bulan itu, membuat Yusuf tertawa karena merasa geli.
"Apa aku membuat kalian menunggu lama?" Yudha menatap Mutia setelah ia menggendong Yusuf dengan benar.
Mutia menggeleng, tersenyum dan beranjak dari duduk sambil meraih tas yang berisi semua kebutuhan Yusuf. "Aku bahkan tidak menyadari kepergian Mas dan tiba-tiba saja Mas sudah ada disini lagi bersama kami."
"Ya, beruntung tadi antriannya tidak terlalu banyak." kemudian Yudha mengulurkan tangannya untuk menangkup sisi wajah Mutia, lantas mengusap pipi wanita itu yang bersemu dengan ibu jarinya. "Hari ini kita mau ambil undangan dulu atau fitting gaun kamu?"
"Undangan dulu, deh, Mas. Soalnya kan acaranya nggak sampai satu bulan lagi, undangan udah harus disebar. Kalau gaun kan kemarin cuma ngecilin di bagian lengan atas aja."
"Oke. Aku nurut apa kata calon istri, aku kan calon suami yang baik dan bijaksana." ucapan Yudha disertai dengan satu kedipan mata, sukses membuat rona merah di pipi Mutia semakin jelas terlihat, sementara tawa geli keluar dari sela bibirnya.
"Kita pergi sekarang?" tanya Yudha, yang mendapat anggukan dari Mutia. Tanpa membuang waktu Yudha meraih tangan wanita itu, menggenggamnya erat sembari berjalan berdampingan.
Menatap tangannya yang saling bertautan dengan Yudha, membuat Mutia tak bisa menahan diri untuk mengulas senyum. Tangan Yudha terasa begitu hangat dan menjanjikan sebuah perlindungan, seolah berkata; aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi, membuat Mutia semakin mengeratkan genggamannya dan menarik perhatian Yudha untuk menoleh padanya. Mereka saling berpandangan, lalu melempar senyum selama beberapa saat.
"Pegangannya jangan terlalu kuat, Mutia. Tenang saja, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu." ujarnya dengan nada jenaka.
Mutia menatap Yudha dengan satu alis terangkat. "Kenapa tidak mungkin? Jika yang sudah menikah saja bisa bercerai, apalagi kita yang baru akan menikah."
Sontak Yudha menghentikan langkahnya, pun dengan Mutia. Manik hitam pria itu menatap Mutia dengan lekat, sementara raut wajahnya tampak serius. "Aku tidak akan membiarkan wanita manapun mengalami kehancuran dan penderitaan yang sama dengan Mami karena ulah seorang pria. Aku tidak ingin ada Sultan dan Yudha yang lain, yang menjadi korban karena perbuatan Ayah mereka. Kamu bisa memegang ucapanku, Mutia, tapi jika suatu hari nanti aku mengingkari ucapanku, maka aku sanggup memotong lidahku sendiri di depanmu saat itu juga."
Mutia tersenyum rikuh, lalu menggunakan tangannya yang bebas untuk mengusap lengan Yudha, berusaha menghilangkan ketegangan yang pria itu tunjukan. "Maaf, aku tidak bermaksud meragukan, Mas."
Aku justru meragukan diriku sendiri. Bukankah rasanya begitu egois jika aku tetap menahanmu bersamaku, sementara kamu tidak mencintaiku. Akan seperti apa pernikahan kita nanti? Apakah aku akan kembali mengalami hal yang sama lagi?
Mutia menatap tepat dimata Yudha, menelisik kedalaman hati pria itu, namun ia tak menemukan apapun selain keyakinan. "Aku ingin Mas berjanji satu hal padaku."
"Apa?"
"Jika nanti Mas menemukan wanita yang Mas cintai, tolong katakan padaku, insya'Allah, aku akan ikhlas melepas Mas untuk bersamanya. Tapi tolong, jangan khianati aku dengan menjalin hubungan di belakangku."
Tanpa keraguan Yudha mengangguk mantap. "Aku berjanji." karena itu tidak akan pernah terjadi.
...* * *...
Mutia meminta Yudha untuk menemaninya belanja bulanan di supermarket, karena persediaan di rumah hampir habis. Sehingga disinilah mereka sekarang, berdiri diantara rak-rak supermarket yang berisi berbagai jenis kebutuhan dapur.
"Oh iya, susu sama roti Yusuf masih ada?"
Setelah berkonsultasi dengan dokter, diusia sekarang Yusuf sudah diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan padat, namun masih harus dalam bentuk lunak, seperti bubur susu. Sementara untuk makanan selingan atau camilan, dokter menyarankan Mutia memberi Yusuf biskuit khusus bayi dalam bentuk kepingan untuk melatih keterampilan jari-jari tangannya (motorik halus) serta merangsang pertumbuhan gigi bayi.
__ADS_1
Untuk susu formula, Mutia tidak sepenuhnya menghentikan pemberian ASI pada Yusuf. Ia masih memberikan ASI eksklusif dan mengkombinasikannya dengan susu formula. Dokter sudah memilihkan susu formula yang tepat untuk dikonsumsi oleh Yusuf. Sebenarnya Mutia tidak terlalu sering memberikan susu formula, hanya pada saat ia tengah membawa Yusuf berpergian atau berada di tengah keramaian yang tidak memungkinkannya untuk menyusui Yusuf.
"Aduh, untung Mas ingetin. Tadi aku lupa mencatatnya."
"Ya udah, kalau gitu aku aja yang ambil kebutuhan Yusuf. Masih merk yang sama, kan?"
Mutia mengangguk. "Sekalian ambilin bubur, tomat sama pepaya ya, Mas."
Yudha tahu bahwa pepaya dan tomat sering kali Mutia jadikan jus untuk diberikan pada Yusuf. "Oke. Aku ke sana dulu ya." telunjuk Yudha mengarah pada rak yang berisi makanan bayi.
Saat mendapat anggukan dari Mutia, Yudha tak langsung beranjak pergi. Ia masih menyempatkan diri untuk mengecup pipi Mutia, yang sukses membuat calon istrinya itu merona malu dan reflek menepuk lengannya.
"Kok, aku dipukul, sih, calon istri?" matanya menyorot jenaka, tatkala bibirnya mengulum senyum. "Emangnya aku salah apa?"
"Ngapain pakek cium-cium segala."
Ini pertama kalinya Yudha mengecup pipinya, biasanya pria itu hanya akan memberikan kecupan di dahi. Jika kecupan di dahi saja bisa membuatnya merona merah, apalagi kecupan di pipi yang terasa intim, berhasil membuat Mutia merasa pipinya panas terbakar.
Masih dengan wajah merona, Mutia mengamati sekitar, yang untungnya tidak terlalu ramai dan tidak ada yang memerhatikan mereka. "Nggak enak di lihat orang, Mas."
"Iya, iya, maaf." meletakkan tangan di puncak kepala Mutia, Yudha mengacak rambut wanita itu, hingga membuat beberapa helainya terlepas dari ikatan dan tampak berantakan.
"Abisnya kamu buat aku gemas. Pipi kamu ini sekarang jadi kelihatan mirip squishy, yang minta banget di cubit dan diremas-remas."
"Udah, Mas." sekali lagi Mutia menepuk lengan Yudha. Antara jengkel dan malu. Memang benar, sejak melahirkan Yusuf, Mutia merasa tubuhnya sedikit berisi, pun dengan pipinya. "Entar ada yang dengar, malah bikin salah paham."
"Ish, apaan sih, Mas Yudha. Genit banget." keluh Mutia saat Yudha mencolek dagunya sembari tertawa, lantas beranjak meninggalkannya.
Saat Mutia tengah fokus memilah-milah barang kebutuhan di rak, seseorang menyentuh pundaknya, membuat Mutia secara otomatis mengarahkan atensinya pada si pemilik tangan. Kemudian Mutia tanpa sadar memundurkan tubuh, saat penglihatannya menangkap sosok yang sangat tidak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
"Ternyata benar kamu, Mutia. Akhirnya..." sosok dihadapan Mutia tampak tersenyum, setelah menghela nafas lega.
Selama beberapa hari —tepatnya sejak ia tanpa sengaja melihat Haikal melewati butik— Mutia merasa was-was, takut Haikal akan menemukannya, namun setelah satu minggu berlalu hal yang ia takutkan tak pernah terjadi, sehingga membuat Mutia mulai merasa tenang, karena berpikir mungkin hari itu ia hanya salah lihat. Tapi sekarang, ia justru bertemu dengan sosok yang sangat ia hindari, di tempat dan di situasi yang menegangkan.
Bagaimana kalau Mas Yudha muncul saat Haikal masih disini? Bagaimana kalau Haikal melihat Yusuf? Ya Allah, tolong aku. Dengan perasaan ketar-ketir, sesekali Mutia melemparkan tatapan cemas ke tempat dimana sebelumnya Yudha menghilang.
"Aku senang akhirnya bisa menemukanmu, Mutia. Jangan melarikan diri lagi, kumohon."
Bersamaan dengan itu Haikal meraih tangan Mutia, memegang dengan kuat namun tak menyakiti, membuat Mutia sontak menatap tangannya yang berada dalam genggaman Haikal dan berusaha melepaskan diri. Sayang, usahanya tak membuahkan hasil.
"Lepaskan, Haikal." Mutia mendesis dengan mata menyorot tajam.
"Tidak akan. Jika aku lepaskan, kamu pasti akan bersembunyi lagi. Aku ingin bicara denganmu, Mutia, kita harus menyelsaikan permasalahan diantara kita."
Sebelumnya Haikal begitu kesal saat Ayahnya menyuruhnya ke Bali untuk membantu persiapan pernikahan anak dari adik Ayahnya. Kedua orang tuanya tidak bisa hadir dikarenakan Ibunya sedang dalam kondisi tidak sehat, padahal disaat bersamaan ia ingin ke Bengkulu untuk mencari Mutia. Tapi sekarang Haikal merasa bersyukur Ayahnya meminta ia ke Bali, sehingga membuatnya kini bisa bertemu dengan Mutia.
"Permasalahan apa lagi? Bukankah semuanya sudah selesai sejak hakim menyatakan kita resmi bercerai."
__ADS_1
Haikal menghela nafas. "Perpisahan kita diselimuti oleh kemarahan dan juga kekecewaan, karena itu aku mencarimu untuk meminta maaf atas semua perbuatan jahatku padamu."
"Oke, aku maafkan. Sekarang bisa lepaskan aku dan tolong... jangan muncul lagi di hadapanku. Sama sepertimu dan Sonya, aku juga ingin bahagia dengan kehidupan baruku, tanpa bayang-bayang masa lalu."
"Kamu benar-benar sudah memaafkanku? Semudah itu?"
Mutia mengangguk. "Ya, memaafkan memang mudah, namun melupakan lah yang sulit. Semua yang terjadi akan terus ada dalam ingatan, sampai aku mati. Atau... jika aku kehilangan ingatanku."
Helaan nafas panjang keluar dari sela bibir Haikal, tatkala matanya menampakkan sorot menyesal. "Andai bisa memutar waktu, aku akan memilih jujur padamu, daripada mengkhianatimu dan membuatmu terluka, hingga kini aku menerima ganjarannya."
"Tidak ada yang perlu disesali, Haikal." kembali Mutia menarik tangannya dan bersyukur Haikal tak lagi menahannya. "Lagipula... aku menyukai hidupku yang sekarang. Dan jika bukan karena perbuatanmu dulu, mungkin aku tidak akan berada disini dan menemukan kebahagianku." Mutia mengedikkan bahu.
"Aku juga sudah dengar tentang kehamilan Sonya yang selalu bermasalah. Aku turut bersedih untuk semua kehilangan yang kalian alami, tapi... jangan berpikir bahwa hal itu adalah ganjaran dari perbuatan kalian terhadapku, melainkan karena sekarang Allah hanya belum memberi kepercayaan pada kalian untuk memiliki salah satu malaikatnya. Aku sudah mengikhlaskan apa yang terjadi dan menjadikannya sebagai pembelajaran agar aku bisa menjalani hidup lebih baik lagi."
Kemudian bibirnya mengulas senyum kikuk. Sungguh, ia tak menyangka bisa mengucapkan kalimat sepanjang itu dengan nada tenang, padahal ia sedang ketakutan setengah mati hingga membuat bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan.
"Ten..."
Baru saja Haikal ingin menanyakan tentang anak Mutia yang ia ketahui dari pembicaraan orang-orang disekitar rumah Wak Agus, kemunculan seseorang yang menyerukan nama Mutia mengurungkan niatnya dan membuatnya seketika mengarahkan atensi pada asal suara, hanya untuk mendapati seorang pria berdiri di belakangnya dengan menggendong seorang bayi laki-laki dan beberapa barang di tangannya yang lain. Tanpa kesulitan pria itu berjalan menghampiri Mutia.
"Oh, hai. Teman, Mutia?" Yudha yang sudah berada di samping Mutia melemparkan senyum ramah pada Haikal.
"Aku..."
"Iya, Mas. Dia temanku dari Prabu." potong Mutia, sembari menatap Yudha dengan gugup.
"Ah, begitu." Yudha meletakkan semua barang-barang yang ia bawa ke dalam troli, lalu mengulurkan tangannya pada Haikal. "Saya Yudha, tunangan Mutia."
"Tu-tunangan?" Haikal tergagap dan menatap Mutia dengan lekat, namun wanita itu justru mengabaikannya.
"Ya. Tidak sampai satu bulan lagi kami akan menikah." Yudha menggoyang samar tangannya, memberi isyarat agar Haikal menyambut uluran tangannya dan memperkenalkan diri.
Namun bukannya memberikan apa yang Yudha inginkan, Haikal justru memaku atensi pada bayi mungil yang berada dalam gendongan Yudha. Wajah bayi yang mengingatkannya pada foto masa kecilnya. Ya, wajah bayi di gendongan Yudha sangat mirip dengannya saat seusia bayi itu.
"Dia..."
Yudha mengikuti arah tatapan Haikal, kemudian terkekeh pelan dan menepuk-nepuk lembut punggung Yusuf karena bayi itu tengah cegukkan. "Namanya Yusuf."
Haikal mengalihkan atensinya pada Yudha. "Be-berapa usianya?"
"Masuk enam bulan. Iya kan, Mut?" tatapan Yudha tertuju pada Mutia yang kini wajahnya tampak pucat pasi, membuat Yudha seketika menatapnya dengan khawatir. "Kamu sakit, Mut?" disentuhnya dahi, leher dan lengan Mutia. "Tubuhmu berkeringat dingin."
Meraih tangan Yudha, Mutia menggenggam erat. "I-iya, Mas. Aku tiba-tiba nggak enak badan. Bisa kita pulang sekarang?"
"Ya udah, nanti aku yang lanjut belanja setelah antar kamu dan Yusuf pulang. Ayo," meraih tangan Mutia, Yudha kembali menggandeng wanita itu. Sebelum pergi ia mengarahkan tatapannya pada Haikal. "Maaf, kami harus pergi lebih dulu."
Dengan kaku Haikal menganggukkan kepalanya. Hanya bisa bergeming saat Yudha dan Mutia meninggalkannya.
__ADS_1
Usianya baru masuk enam bulan. Wajahnya juga sangat mirip denganku sewaktu bayi. Apa dia benar-benar anakku? Aku harus menanyakan kebenarannya pada Mutia.