Untuk Mutia

Untuk Mutia
Pasti menemukanmu


__ADS_3

Faisal tak bisa menyembunyikan perasaan bingungnya saat menemukan sosok pak RT berdiri dihadapannya, sedetik setelah ia membuka pintu rumah. Namun kebingungan itu seketika menghilang, berganti dengan kemarahan dan kebencian, saat manik hitamnya juga menangkap sosok mantan suami Mutia berada tepat di belakang pak RT. Keberadaan pria itu selalu membawa masalah dan ia yakin kali ini pun begitu.


"Nak Faisal tidak sekolah?" tanya pak RT, berbasa-basi. Sudah jelas jawabannya tidak, mengingat ini sudah pukul sembilan pagi dan Faisal sama sekali tidak mengenakan seragam sekolah.


"Mungkin karena saya merasa hal buruk akan terjadi, makanya tiba-tiba saja tadi pagi saya mengalami diare dan terpaksa mengirim surat ijin sakit." sahut Faisal, tatkala manik hitamnya melirik sinis pada Haikal. "Omong-omong, ada apa pak RT datang kemari?"


"Ah, itu... saya mau ketemu Wak-mu. Ada?"


Dengan mata menyipit, Faisal mengangguk. "Silahkan duduk. Saya akan panggilkan Wak Agus." kemudian Faisal melenggang masuk. Meninggalkan pak RT dan Haikal yang kini sudah mendudukkan tubuh di kursi rotan yang tersedia di teras.


"Pak RT."


Suara Agus sontak membuat Pak RT dan Haikal kembali beranjak dari duduk. Keduanya mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Agus, namun Agus hanya menyambut uluran tangan pak RT, sementara Haikal menerima tatapan tak suka dari pria lima puluhan itu.


"Ada apa ya, pak?" sembari duduk, Agus mempersilahkan pak RT kembali duduk dan mengabaikan keberadaan Haikal.


"Begini, nak Haikal datang ke rumah saya kemarin, dia meminta bantuan saya untuk bertemu Mutia, karena saat dia datang dua hari lalu, pak Agus dan keluarga mengusirnya."


Penjelasan Pak RT membuat Agus mendengus keras, namun ia terpaksa menahan ucapannya saat Endah menyajikan minum dan camilan. Setelah istrinya masuk ke rumah, Agus pun segera menanggapi ucapan pak RT.


"Ini rumah saya, dan saya memiliki hak penuh untuk mengusir orang yang tidak saya inginkan. Apalagi ditambah tamu tak diundang itu membuat keributan. Saya yakin pak RT juga akan melakukan hal yang sama, jika pak RT berada di posisi saya."


"Aku tidak akan membuat keributan, andai saja Mutia mau bertemu denganku dan Wak tidak melarang kami untuk bicara." Haikal tak bisa tetap diam dan tindakannya itu mendapat tatapan tajam dari Agus juga pak RT.


"Kamu datang pada saya untuk meminta bantuan, jadi tolong kendalikan emosi kamu. Atau saya akan berubah pikiran untuk membantu kamu." tegur pak RT, yang langsung membuat Haikal menghela nafas sembari menggumamkan kata maaf. Pak RT kembali mengarahkan atensinya pada Agus.


"Dengan segala kerendahan hati, saya meminta pak Agus untuk mengijinkan nak Haikal bertemu dengan Mutia. Mereka butuh bicara untuk menyelsaikan permasalahan diantara mereka." pinta pak RT dengan nada suara selembut mungkin, agar tak menyinggung.


"Tidak ada masalah lagi di antara Haikal dan Mutia. Segala urusan mereka sudah selesai, saat bajingan ini menceraikan keponakanku. Haikal sudah bahagia dengan hidup barunya, jadi biarkan Mutia juga merasakan hal yang sama. Jangan usik keponakanku lagi. Apa kau tidak cukup telah menyakitinya dulu dan sekarang kau datang lagi untuk mengganggu hidup barunya?" manik hitam Agus menatap Haikal lekat dan penuh kebencian.


"Aku hanya ingin minta maaf, Wak." Haikal memelas.


"Mutia pasti sudah memaafkanmu, jadi kau tidak perlu lagi bersikeras untuk menemuinya. Lagipula... Mutia tidak ada disini."


"Wak bohong. Jelas-jelas dua hari lalu Mutia membukakan pintu untukku. Tolong Wak, aku ingin bicara dengannya." beranjak dari duduk, Haikal menatap Agus dengan sengit. Pria yang sedang diselimuti kemarahan itu sama sekali tidak peduli lagi pada pak RT yang memintanya untuk tenang.


"Mutia! Mutia, keluar! Kamu tidak bisa selamanya bersembunyi dariku!"


Teriakan Haikal sontak membuat Agus dan pak RT beranjak dari duduk, serta memancing keingintahuan para tetangga. Faisal dan Endah berlari keluar karena keributan yang Haikal buat.


"Kau benar-benar tidak tahu malu!" Faisal mendesis, menatap jengah pada Haikal yang masih berteriak memanggil Mutia.


"Haikal, cukup! Jangan membuat keributan." tegur pak RT. "Lagipula pak Agus sudah bilang Mutia tidak ada disini."


"Wak Agus berbohong. Aku tidak mungkin berhalusinasi melihatnya dua hari lalu." bantah Haikal.


"Bisa saja. Mungkin karena sudah terlalu merasa bersalah pada Mutia, kau sampai berhalusinasi melihatnya." tak acuh Agus menanggapi.


"Mutia ada disini dan aku akan membuktikannya sendiri." dengan gerakkan cepat Haikal menerobos masuk ke dalam rumah Agus, membuat pemilik rumah gelagapan dan langsung menyusul Haikal, diikuti oleh pak RT.


Agus dan Faisal berusaha menghentikan Haikal yang terus berteriak memanggil Mutia sembari membuka setiap pintu kamar dan memeriksa semua ruangan, namun ia sama sekali tidak menemukan mantan istrinya.


"Dimana kalian menyembunyikan Mutia, hah?" Haikal mencengkram kerah baju Faisal yang berada di dekatnya, membuat remaja tujuh belas tahun itu tersenyum sinis.


"Ayuk memang tidak ada disini. Mungkin kejiwaanmu sudah terganggu, jadi aku sarankan kau segera ke rumah sakit jiwa."


"Brengsek!"


Bersamaan dengan Haikal mengayunkan tangannya untuk memukul Faisal, dua orang pria bertubuh besar memegangi tangannya dan menyeretnya menjauh dari Faisal.


"Sudah cukup!" pak RT menatap Haikal dengan geram. "Sebaiknya anda segera pergi dari sini."


"Dan pastikan dia tidak kemari lagi, pak RT. Karena seperti yang anda lihat, kedatangannya hanya membuat keributan dan membuat kami tidak nyaman." celetuk Agus sembari bersorak dalam hati.


Pak RT mengangguk pelan, kemudian memerintahkan dua orang satpam untuk membawa paksa Haikal keluar dari kediaman Agus.


Syukurlah kemarin Ayuk sudah balik ke Bali. Jika Ayuk masih disini hari ini,entah kegilaan apalagi yang akan Haikal lakukan. Batin Faisal.


Sementara itu, Haikal yang tengah diseret oleh dua orang satpam terus meronta dan mengatakan ia bisa berjalan sendiri. Saat kedua satpam itu melepaskannya, Haikal mendengus keras dan berjalan cepat menghampiri mobilnya. Masuk ke dalam dan membanting pintunya dengan keras.


"Sialan!" berulang kali Haikal memukuli setir mobil, lantas mengusap wajahnya dengan kasar. Baru saja ia akan melajukan mobilnya, namun pembicaraan dua orang yang tengah membeli sayur di dekat mobilnya, mengurungkan niat Haikal.


"Mutia lama nggak pulang, eh... pas pulang malah bawa calon suami."

__ADS_1


"Iya. Mana ganteng dan kaya lagi. Tapi yang lebih membuat kaget, dia bawa anak. Apa mungkin anak itu, anak haram? Hasil hubungan Mutia dan calon suaminya itu."


"Usia anak Mutia baru empat bulan, sementara Mutia pergi kan sekitar satu tahun yang lalu. Jadi ada kemungkinan, saat meninggalkan kota ini, Mutia memang sudah dalam keadaan hamil. Sementara kalau calon suaminya yang menghamili, seharusnya sekarang Mutia dalam kedaan mengandung."


Haikal tak bisa menahan diri lagi. Keluar dari mobil, Haikal menghampiri ibu-ibu yang sedang membeli sayur sembari membicarakan Mutia.


"Maaf, saya tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu-ibu. Apa benar Mutia akan menikah dan sudah memiliki seorang anak?"


"Loh, Haikal. Kamu tidak tahu?" seorang wanita yang mengetahui siapa Haikal pun menanggapi pertanyaan pria itu.


Haikal menggeleng pelan.


"Iya. Sebentar lagi Mutia akan menikah. Dan dia sudah punya anak laki-laki. Usianya baru empat bulan. Namanya Yusuf."


Anak? Empat bulan? Mungkinkah... "Lalu sekarang dimana Mutia? Saya dari rumah Wak Agus dan Wak Agus bilang Mutia tidak ada dirumahnya."


"Dia sudah pergi kemarin siang."


"Pergi? Pergi kemana?!" tanpa sadar Haikal meninggikan suara, membuat ibu-ibu yang ada di dekatnya mengerut takut. Kemudian ia meminta maaf saat melihat ibu-ibu itu membuat jarak dengannya.


"Entahlah. Tapi mungkin Mutia kembali ke Bengkulu. Karena Yuk Endah pernah bercerita dengan kami kalau Mutia dapat pekerjaan disana."


Bengkulu? Lihat saja, Mutia. Aku pasti menemukanmu.


...* * *...


"Yah... kenapa akad-nya harus di Prabu, sih? Kenapa nggak disini aja, sekalian resepsi." komentar Keyla setelah Mutia memberitahu wanita itu tentang pernikahannya yang akan diselenggarakan dua bulan lagi.


"Karena keluarga kami kebanyakan tinggal di Prabu, Key. Aku berharap semua keluarga dan orang terdekat aku bisa hadir di hari akad nikah, sementara resepsi di Bali untuk yang bisa aja."


"Tapi aku jadinya nggak bisa hadir di akad nikah kamu. Tahu sendiri jatah cuti aku udah habis, jadi nggak bisa ambil libur. Satu hari di kota baru apa enaknya, aku kan mau eksplorasi kota kelahiran kamu." Keyla merengut, tatkala Mutia mengulum senyum. Namun sedetik kemudian wanita itu memasang cengiran lebar dan bergayut manja di lengan Mutia.


"Kecuali kamu bisa minta pak bos buat kasih aku libur di hari pernikahan kalian. Yah, minimal seminggu lah."


"Gila, kamu!" dengan jengkel Mutia menarik tangannya, membuat Keyla tergelak. "Aku memang calon istrinya Mas Yudha, tapi aku tidak akan pernah melakukan nepotisme."


"Ahh, nggak asyik nih Mrs. Barata soon to be." goda Keyla dengan nada mengejek yang dibuat-buat.


"Mut,"


"Kenapa, Lin?" beranjak dari kursi yang ia duduki, lantas menghampiri Alin dengan diikuti oleh Keyla.


"Ada yang nyariin kamu dibawah."


"Siapa?"


"Aduh, aku nggak tahu namanya. Pria itu pernah setiap hari datang kesini buat ketemu kamu."


Mutia dan Keyla saling pandang, kemudian mengulum senyum.


"Calon suami masa depan aku datang." ujar Keyla dengan nada genit.


"Oke, makasih ya, Lin." mengabaikan Keyla yang mengekorinya bak anak itik, Mutia bergegas menghampiri Ghifar. Dilantai satu ia menemukan pria itu kini tengah berbincang dengan pegawai bengkel, tampak cukup akrab.


"Kak," panggil Mutia, yang langsung mencuri perhatian Ghifar. Pria itu beranjak menghampirinya sembari tersenyum lebar.


"Hei, aku harap tidak mengganggumu."


"Ah, tenang aja, A'. Aku selalu punya waktu buat Aa." celetuk Keyla dengan gaya centil, membuat Mutia yang mendengarnya memutar mata malas, sementara Ghifar menatap Keyla dengan alis bertaut.


"Dia sahabat aku, Kak. Namanya..."


"Astari Keyla." sambar Keyla sembari meraih tangan Ghifar dan menjabatnya dengan berlebihan. "Panggil Keyla aja. Sayang juga boleh." kemudian mengedipkan satu mata.


Mutia mengulum senyum geli saat melihat Keyla yang heboh, berhadapan dengan Ghifar yang tenang dan cenderung tak acuh. Mereka akan sangat cocok jika menjadi pasangan, saling melengkapi, pikir Mutia.


"Euhm, Ghifar." sahut Ghifar seadanya, lantas menarik paksa tangannya dari genggaman Keyla.


Dengan wajah merengut, Keyla mencium telapak tangannya. "Nggak bau, kok." lalu beralih mengarahkan tangannya pada Mutia. "Nggak bau kan, Mut?"


Ucapan Keyla, Mutia tanggapi dengan gelengan kepala.


"Terus kenapa A' Ghifar narik tangannya seolah aku baru aja pegang terasi dan dia takut ketularan."

__ADS_1


Mutia mendesa lelah, kemudian menatap Ghifar yang mengerut bingung sembari mengibaskan tangannya. "Udah, Kak. Abaikan saja. Dia kalau udah menjelang siang, sering banget konslet otaknya. Maklum, lapar."


Ghifar menanggapi dengan kekehan geli, sementara Keyla yang menjadi bahan pembicaraan hanya bisa mengerutkan bibir.


"Jahat banget sih, Mut." sungut Keyla, namun sama sekali tak di pedulikan.


"Omong-omong, ada apa kakak cariin aku?"


"Mau ngajak makan siang. Itupun kalau kamu mau. Sama Yusuf juga. Aku kangen sama dia."


"Euhm... gimana ya, kak." beberapa saat Mutia tampak berpikir. "Aku bilang sama Mas Yudha dulu, ya?" Mutia tak ingin terjadi kesalahpahaman, mengingat Ghifar adalah pria dari masa lalunya.


Ghifar tersenyum, kemudian mengangguk.


"Key, ayo naik." ajak Mutia sembari meraih tangan Keyla.


"Nggak, ah. Aku mau temenin Aa Ghifar aja." menarik tangannya, Keyla membalik tubuh Mutia, kemudian mendorong pelan punggung sahabatnya. "Kamu pergi sana, beri kesempatan pada wanita single ini untuk melakukan pendekatan."


...* * *...


"Lho, sejak kapan Yusuf disini?" adalah kalimat pertama yang Mutia ucapkan setelah ia membuka pintu ruangan Yudha dan melihat bayi menggemaskannya tengah berbaring di karpet berludru yang Yudha bentangkan di tengah ruang kerja pria itu.


Menoleh pada Mutia, Yudha melirik jam tangannya sebelum menjawab. "Sekitar satu jam yang lalu. Aku minta mbah Sri antar Yusuf kemari."


"Terus mbah-nya, mana?"


Membiarkan pintu tetap terbuka, Mutia berjalan menghampiri Yudha sembari memerhatikan sekitar ruang kerja pria itu. Lalu saat tidak menemukan apa yang ia cari, Mutia pun akhirnya mengambil posisi duduk disamping Yusuf dan langsung menggendong putra kecilnya.


"Anak Bunda kok wangi banget, sih. Mau pedekate sama cewek ya nak?" bersamaan dengan itu Mutia mengecupi perut Yusuf dan membuat bunyi-bunyi lucu dengan mulutnya, memancing gelak tawa keluar dari sela bibir mungil Yusuf.


Yudha terkekeh melihat interaksi Mutia dan Yusuf, lalu menanggapi pertanyaan calon istrinya. "Aku kan bilang, tadi minta mbah Sri antar Yusuf kemari. Itu artinya mbah cuma mengantar, terus langsung pulang."


Mutia mengangguk-angguk pelan. Terlalu senang menemukan Yusuf di ruang kerja Yudha, membuat Mutia lupa tujuannya menemui pria itu.


"Jadi... ada apa?" Yudha berhasil menarik perhatian Mutia. "Aku yakin ada hal yang mau kamu bicarakan denganku, sampai datang ke ruangan ini tanpa kuminta lebih dulu."


Reflek Mutia menepuk dahinya. "Ya Allah, untung Mas ingetin." kemudian ia berdehem, mendadak gugup. Dan rengkuhan lengannya pada tubuh mungil Yusuf kian mengerat. "Di bawah ada kak Ghifar. Dia ngajak aku makan siang bareng. Boleh?"


Baru saja Yudha membuka mulut untuk menanggapi, Mutia kembali mengeluarkan suaranya.


"Sama Yusuf juga."


Yudha menatap Yusuf yang bergelung nyaman dalam pelukan Mutia. Tangannya bergerak mengusap lembut pipi berisi bayi itu. "Kamu memang calon istriku, Mutia. Tapi bukan berarti aku berhak membatasi ruang gerakmu dan siapa saja yang boleh juga tidak boleh kamu temui. Bahkan sekalipun nanti kita sudah menikah, kamu tetap memiliki hak penuh atas dirimu. Selama kamu bisa menjaga kehormatanmu dan juga kehormatanku kelak, aku tidak akan melarangmu untuk melakukan apapun."


Senyum lebar seketika menghiasi wajah Mutia. Perasaan gugupnya hilang seketika. "Aku hanya ingin menghormati Mas Yudha. Sebagai istri nantinya, sudah kewajibanku untuk meminta ijin terlebih dulu pada suamiku. Lagipula... aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman."


"Insya'Allah, aku percaya padamu, Mutia. Selama kepercayaan dan kejujuran diantara kita tetap terjaga, aku yakin hubungan kita akan baik-baik saja."


"Terima kasih, Mas." Mutia menatap Yudha sembari bergumam penuh rasa syukur dalam hati atas kebaikan Sang Pencipta yang telah memberikan Yudha untuknya.


"Mas mau makan di luar atau aku minta orang buat anterin makan?"


"Nanti aku makan bersama Fajar, sekalian antar mobil pembeli."


"Kalau begitu aku sama Yusuf pergi sekarang, ya, nggak enak sama kak Ghifar karena kelamaan nunggu."


Yudha mengangguk tanpa menghilangkan senyum dari wajah tampannya, tatkala Mutia beranjak dari duduk dengan membawa serta Yusuf dalam gendongannya.


"Dah, Ayah."


Menggerakkan tangan Yusuf, Mutia lambaikan pada Yudha, membuat calon suaminya tertawa kecil. Setelah Yudha membalas lambaian Yusuf, Mutia membalik tubuhnya dan mulai melangkah untuk keluar. Namun baru dua langkah, Yudha memanggilnya, menarik perhatiannya.


"Kenapa, Mas?"


Mengabaikan pertanyaan Mutia, Yudha berjalan menghampiri wanita itu. Satu tangan Yudha terangkat menangkup pipi Mutia, mengusapnya lembut dengan ibu jari, kemudian mendekatkan wajah dan memberikan kecupan hangat di dahi calon istrinya.


Tindakan Yudha tentu saja membuat Mutia seketika mematung dengan jantung berdebar cepat.


"Kamu dan Yusuf hati-hati." Yudha bicara masih dengan tangan mengusap pipi Mutia yang mulai memunculkan rona merah. "Omong-omong, kamu pakai anting baru." sedetik Yudha melirik telinga Mutia.


Dengan kikuk Mutia menjawab. "I-iya, Mas. Dikasih Keyla. Kenapa? Jelek, ya?"


Yudha menggeleng pelan. "Bagus, kok. Aku suka. Kamu kelihatan makin cantik."

__ADS_1


Dan demi menyelamatkan jantungnya, yang menghentak rongga dada begitu kuat seolah akan melompat keluar, Mutia pun berlari kecil meninggalkan Yudha dengan wajah yang sudah benar-benar merah padam. Mengabaikan Yudha yang terbahak dibelakangnya.


__ADS_2