Untuk Mutia

Untuk Mutia
Kebenaran yang disembunyikan


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah Lamia berpamitan pergi keluar kota, namun Azril tak kunjung menanyakan keberadaan istrinya pada Mutia. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada yang berbeda dalam kesehariannya. Dan pada pagi hari ketiga, Mutia mulai kesal sendiri. Ia merasa kecewa karena Azril bersikap tak acuh pada Lamia. Meskipun mereka sedang bertengkar, tidak sepatutnya Azril bersikap sama seperti Lamia. Abai, dan membiarkan masalah berlarut-larut tanpa penyelesaian.


Kedua pasang mata itu pun secara bersamaan menoleh pada benda pipih di atas meja makan. Azril, sang pemilik ponsel segera meraih benda persegi tersebut dan langsung menerima panggilan masuk.


Mutia tidak tahu apa yang orang diseberang telpon bicarakan. Namun saat melihat mata Azril yang membelalak dan wajah pria itu yang kini tampak pucat pasi, sudah cukup memberitahu Mutia bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.


"A-ada apa, A'?" Mutia tak bisa menahan keingintahuannya saat Azril telah mengakhiri panggilan.


"I-Ibuku..." pandangan Azril tak fokus, sementara tangannya terkepal erat diatas meja.


"Ada apa dengan Ibu Aa?"


Kali ini kristal bening tampak menghiasi manik kelam Azril. "Ibuku... ibuku meninggal, Mutia."


...* * *...


Setelah menerima kabar tentang kematian Ibunya, Azril segera melakukan penerbangan ke Bandung dengan di temani oleh Ghifar. Pukul satu siang mereka tiba di kota kembang, bersamaan dengan jenaza Ibunya yang akan di kebumikan.


Tanpa memedulikan ucapan saudaranya yang memintanya untuk beristirahat, Azril justru membaur dengan rombongan yang akan mengantarkan Ibunya ke tempat peristirahatan terakhir. Bukan hanya ikut memikul keranda, Azril bahkan ikut memasukan raga Ibunya ke dalam liang lahat sembari menahan desakan air mata yang mengancam akan keluar. Skleranya memerah, namun akhirnya Azril berhasil bertahan hingga orang-orang selesai menimbun jenaza Ibunya dengan tanah.


Tidak seperti saudara-saudaranya yang melampiaskan kesedihan mereka dengan mengeluarkan air mata, Azril tetap berdiri tegak di depan makam Ibunya, meskipun tatapannya kosong terarah pada nisan yang bertuliskan nama sang Ibu.


Satu minggu sebelum kepergian Ibunya, Azril menerima telpon dari wanita yang sudah melahirkannya itu. Ibunya meminta ia pulang karena merindukannya. Namun Azril berkata ia sudah menghabiskan cuti libur untuk tahun ini, sehingga ia terpaksa menunda kepulangannya tahun depan. Azril tidak tahu, bahwa saat itu Ibunya sudah terbaring kritis di ranjang rumah sakit. Wanita dengan lima cucu itu melarang anak-anaknya yang lain untuk memberitahu Azril.


Dan hal itu kini memberikan penyesalan yang begitu dalam untuk Azril. Andai saja ia mengabulkan keinginan Ibunya, maka ia masih sempat bertatap wajah serta bersua dengan sang Ibu. Azril tersenyum miris. Setelah sang istri, kini Ibunya juga meninggalkannya. Kenapa para wanita itu begitu kejam padanya?


"Azril, ayo pulang. Kau butuh istirahat." kakak tertuanya menepuk pundak Azril, membuat Azril perlahan mengalihkan tatapan kosong pada sang kakak.


"Tidak. Aku akan membantu untuk menyiapkan pengajian nanti malam, setelah itu aku akan langsung pulang ke Bali."


"Apa? Pulang?" Ghifar yang sejak tadi mendampingi Azril dalam diam, kini menyuarakan kebingungannya. "Kenapa Aa mau langsung pulang? Seharusnya Aa tetap disini, minimal hingga hari ketiga."

__ADS_1


Karena aku membutuhkan Mutia. Aku membutuhkan pelukannya segera untuk membuatku tetap waras. "Aku kemari tanpa memberi kabar pada tempatku bekerja, karena terburu-buru. Jadi aku harus pulang dan meminta ijin. Aku akan kembali saat pengajian tiga hari kematian Ibu."


...* * *...


Mutia membelalak terkejut. Tubuhnya terhuyung ke belakang, nyaris terjatuh saat tiba-tiba saja seseorang memeluknya sedetik setelah ia membuka pintu. Andai saja Ghifar tidak bergerak cepat menghampirinya dan menahan punggungnya, Mutia yakin saat ini ia sudah terjatuh di lantai dengan darah segar mengalir di kedua kakinya.


"Ibu pergi, Mutia. Ibu meninggalkanku untuk selamanya." Azril bergumam di lekukan leher Mutia. Saat ini ia tengah dalam keadaan setengah sadar. Tertekan karena kematian Ibunya, juga lelah karena melakukan penerbangan dua kali dalam satu hari.


"Jika tidak ingat saat ini kau sedang berkabung, aku pasti sudah mematahkan tanganmu yang berani-beraninya memeluk Mutia." ujar Ghifar ketus sembari menarik tubuh Azril yang setengah sadar, lalu menyeretnya ke kamar dengan Mutia mengekor dibelakangnya.


"Hati-hati, tuan. Aww..." Mutia berseru sembari meringis saat melihat Ghifar membaringkan tubuh Azril ke tempat tidur dengan kasar, hingga membuat kepala Azril terbentur kepala ranjang.


"Diam, Mutia." Ghifar masih sibuk mengurus Azril dan menyelimuti kakak iparnya, setelah itu ia menoleh pada Mutia. "Keluar lah. Kembali ke kamarmu dan tidur. Ini sudah larut malam, Mutia."


"Tapi..." Mutia melirik Azril yang sudah benar-benar hilang kesadaran.


Mengikuti arah pandangan Mutia, Ghifar mendengus. "Kenapa kamu begitu peduli? Biarkan saja. Besok Teh Lamia akan pulang."


Mutia mencoba tidur, namun ia tidak bisa. Karena itu Mutia memutuskan kembali ke kamar Azril untuk memeriksa kondisi pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu, karena percuma saja ia mencoba tidur, sementara hatinya gelisah di penuhi oleh kekhawatiran.


"Bu, maafkan aku." bersamaan dengan Mutia membuka pintu kamar, terdengar igauan Azril. Ia pun berjalan mendekati ranjang. "Aku akan pulang, Bu. Tunggu aku. Kumohon."


Mendapati bulir-bulir keringat memenuhi dahi Azril, Mutia reflek menempelkan punggung tangannya disana. Sedetik kemudian Mutia berjengit saat merasakan suhu tubuh Azril yang begitu panas. Azril demam.


Dengan cekatan Mutia mengambil alat pengukur suhu tubuh. Menjepitnya di ketiak Azril, lalu keluar dari kamar untuk ke dapur mengambil air dingin beserta handuk kecil.


Ketika mendapati panas Azril cukup tinggi, Mutia berusaha membangunkan pria itu, namun Azril sama sekali tidak membuka kelopak matanya dan hanya menggumam tak jelas. Mutia panik, ia ingin memanggil Ghifar, tapi tak tega mengganggu waktu istirahat si tuan muda. Karena itu Mutia putuskan untuk mengompres Azril saja. Jika sampai besok pagi panas Azril tidak turun, baru ia akan meminta Ghifar untuk membawa Azril ke rumah sakit.


Satu jam berlalu, Mutia masih berkutat dengan handuk dingin untuk mengompres Azril. Hingga rasa kantuk tak tertahankan menderanya dan membuat Mutia tertidur dalam posisi duduk di lantai, sementara kepalanya berbaring miring di ranjang Azril.


...* * *...

__ADS_1


Usai Mutia menceritakan kejadian semalam, tak ada lagi suara yang terdengar. Keduanya sepakat membungkam dengan pandangan lurus ke depan. Saat ini mereka tengah duduk berdampingan di bangku taman komplek. Ghifar sengaja membawa Mutia keluar dari rumah, selain untuk menjauhkan Mutia agar tak mendengar pertengkaran Lamia dan Azril, juga untuk mendengar penjelasan dari wanita itu.


"Seharusnya saat tadi malam aku memintamu tidur, kamu mematuhinya, sehingga hal ini tidak akan terjadi, Mutia." komentar Ghifar tanpa menatap Mutia.


"Jika aku tahu besok akan mati, hari ini aku akan memperbanyak amal dan menyiapkan segala keperluan kematianku. Sayangnya, aku atau siapapun tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di detik selanjutnya. Jadi kuharap tuan tidak bicara seolah-olah aku sengaja melakukan hal itu." Mutia bersungut tak terima.


Ghifar menoleh. Didapatinya wajah Mutia kini tampak merah padam dengan manik hitam wanita itu menatap marah padanya. Helaan nafas Ghifar terdengar berat. "Sudah jelas Azril lah yang membawamu ke ranjang. Pertanyaannya, apakah dia juga tidur seranjang denganmu atau tidak?"


Mutia menunduk dalam, tak tahu jawaban apa yang harus ia berikan pada Ghifar.


"Semalam aku mengkhawatirkannya dan merawatnya sebagai seorang adik. Aa baru saja kehilangan Ibunya, aku yakin Aa juga pasti kembali teringat dengan kematian adiknya, Hasna. Aku hanya tidak ingin Aa semakin terpuruk, tapi nyatanya..."


"Tunggu dulu!" Ghifar menyela. "Hasna? Adik Azril?"


Menoleh pada Ghifar yang juga tengah menatapnya, Mutia mengangguk pelan. "Aa bilang, aku mengingatkannya pada Hasna, adiknya yang meninggal saat tengah mengandung."


"A-apa?" selama beberapa saat Azril kehilangan kata-kata, lalu mendengus dan tertawa sumbang. Setelah itu atensinya kembali pada Mutia, yang kini tengah menatapnya bingung. "Kamu ini naif atau bodoh, Mutia. Bisa-bisanya kamu percaya saja di tipu mentah-mentah oleh Azril."


"Maksud tuan?"


"Azril itu anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua kakaknya laki-laki, begitu pula dengan adiknya yang saat ini sedang kuliah."


Mutia pucat pasi, sementara tubuhnya kaku bak patung. "Ti-tidak mungkin." lirihnya dengan kepala mengeleng tak percaya. "Lalu... I-ibunya, apakah benar mengalami tekanan mental dan harus di rawat di rumah sakit jiwa?"


Kali ini Ghifar mengangguk.


Ada secerca harapan di manik kelam Mutia. Sudah ia duga, Azril tak mungkin membohonginya. "Dan Ibunya depresi karena kematian putrinya, kan?"


"Mutia, sudah kukatakan Azril tidak punya saudara perempuan. Ibunya memang depresi, tapi karena bercerai setelah mengetahui perselingkuhan suaminya." Ghifar menggeram pelan, jengkel karena Mutia lebih memercayai Azril daripada dirinya. "Satu tahun yang lalu Ibunya di nyatakan sembuh dan kakak tertua Azril lah yang merawatnya."


Tubuh Mutia melunglai, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Dengan lelah Mutia menyandarkan punggung dan menengadah, menatap langit yang tampak cerah dengan cahaya matahari yang terasa menyengat kulit.

__ADS_1


A' Azril membohongiku. Tapi... kenapa? Kenapa dia mengarang cerita hingga sedemikian rupa dan membuatku percaya? Dia bahkan tega menggunakan Ibunya untuk lebih meyakinkanku. Oh Tuhan... apa lagi yang akan terjadi padaku?


__ADS_2