Untuk Mutia

Untuk Mutia
Nazril Rashaad


__ADS_3

Reflek Mutia membalik tubuhnya, sedetik kemudian teflon yang ia pegang pun terjatuh menghantam lantai dengan keras. Menimbulkan suara nyaring memekakkan telinga, sekaligus memecah keheningan yang sempat tercipta.


Mutia gelagapan, seperti pencuri yang ketahuan sedang melakukan aksinya. Tatkala pria berwajah tampan dengan warna kulit coklat eksotis, menatapnya dengan sorot menuntut dan tak sabar.


"Aku..."


Ucapan Mutia terhenti di ujung lidah, saat telinganya menangkap suara dering ponsel yang berasal dari saku celana pria di hadapannya. Kepalanya mengangguk, tanda mengerti, kala pria itu memintanya untuk diam sementara ia menjawab panggilan.


"Ada apa, Lamia?"


"Kata Guntur, dari lapangan Aa langsung pulang."


"Ya. Dan sekarang aku sudah dirumah."


"Aa sudah bertemu Mutia?"


"Maksudmu gadis empat belas tahun yang ada di rumah kita?" manik hitamnya menatap Mutia dari bawah ke atas dengan satu alis terangkat.


Diseberang telpon Lamia membekap mulut sesaat, berusaha menahan tawa. "Dia bukan gadis empat belas tahun, A'. Usianya sudah dua puluh tiga tahun."


"Hah? Kamu pasti bercanda. Di lihat dari sudut manapun, dia tampak seperti gadis belia."


"Percaya, deh. Aku udah lihat e-ktp miliknya, kok. Mulai hari ini, Mutia kerja sama kita."


"Kerja?"


"Hooh. Gantiin mak Jum."


"Kamu kenal dimana?"


"Kita lanjut pas aku udah pulang aja ya, A'. Sekarang aku mau meeting."


"Meeting? Ini udah jam setengah lima, aku nggak yakin meeting kamu itu selesai dalam waktu tiga puluh menit menjelang jam pulang."


"Karena itu aku telpon, Aa. Selain mau bilang tentang Mutia, aku juga mau kasih kabar kalau aku bakal pulang malam."


"Lagi?!" suaranya meninggi. Campuran lelah dan marah. Sementara Mutia yang masih bergeming di tempatnya, berjengit kaget sembari mengusap-usap dada. "Udah satu minggu ini kamu pulang malam, Lamia. Ingat... kamu bukan wanita single lagi, kamu punya suami yang harus di urus. Aku pulang, maunya ketemu istri, bukan asisten rumah tangga."

__ADS_1


Oh... jadi pria ini suaminya Teh Lamia. Dalam hati Mutia menarik kesimpulan.


"Kalau kayak gini terus, jangan salahin aku, bila suatu hari nanti aku justru kepincut sama pembantu kita, yang selalu ada untukku."


Terdengar tawa merdu Lamia dari seberang telpon, membuat si pria kian geram. "Kamu cinta banget sama aku, A'. Apalagi untuk dapetin aku, kamu butuh perjuangan yang ekstra dan mengorbankan banyak hal. Jadi aku yakin, kamu nggak akan mungkin mengkhianati aku."


"Terserah kamu, Lamia. Aku capek. Pulang ke rumah, bukannya seneng lihat istri, malah darah tinggi karena istri nggak ada di rumah. Kamu mau pulang malem, kek. Lembur, kek. Atau nggak pulang sekalian, silahkan saja. Aku udah bosen ingetin kamu tentang kewajiban seorang istri."


Kemudian tanpa menunggu tanggapan Lamia, pria itu mengakhiri panggilan. Tak lama suara dering ponsel kembali terdengar, namun kali ini pria itu justru melepaskan baterai dan menyimpannya ke dalam saku celana bersama ponsel.


"Hei, kamu Mutia?"


Si pemilik nama gelagapan karena tiba-tiba saja diajak bicara. Dengan kaku Mutia pun mengangguk.


"Aku Nazril Rashaad, suaminya Lamia. Kamu bisa panggil aku Azril saja."


"Mas Azril, gitu?"


Azril menggeleng. "Aku orang Sunda."


"Satu kampung halaman sama Teh Lamia, toh."


"Bisa Mas, eh maksudnya A'."


Azril tersenyum melihat Mutia yang tampak kikuk. "Satu banding satu, ya. Lalu tambahkan sedikit susu. Susunya ada di kabinet bagian atas. Nanti kamu letakan saja di ruang keluarga. Aku mau mandi dulu."


...* * *...


"Jadi sekarang Ayuk di Bali?"


Selesai makan malam, Mutia mengambil ponsel di kamar. Ia belum mengantuk, sekalian menunggu Lamia pulang untuk membukakan pintu, Mutia pun memutuskan duduk di ruang keluarga sembari menonton. Sedangkan Azril sudah masuk ke kamar dengan satu cangkir kopi lagi untuk menemaninya bekerja. Dan untuk adik Lamia, Azril bilang adik iparnya itu jarang pulang. Paling pulang hanya satu kali dalam tiga atau enam bulan.


"Kenapa nggak pulang aja, Yuk. Ambil penerbangan untuk besok, besoknya, besoknya lagi, sampe Ayuk lupa kalau mau pergi."


Mutia terkekeh. Beranjak dari sofa, ia melangkah menuju dapur. Mutia berniat membuat secangkir coklat panas untuk menemaninya. "Aku pikir, mungkin ini cara Tuhan menunjukan bahwa takdirku ada di Bali, bukan di Medan." dan juga... aku tidak mau menghadapi rengekanmu.


"Hahhh... ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Terus sekarang Ayuk dimana? Sudah dapet tempat tinggal?"

__ADS_1


"Yup. Aku juga udah dapet kerjaan, meskipun tidak sesuai ekspektasi, tapi lumayan lah... karena aku dapet tempat tinggal dan makan gratis. Kamu nggak usah khawatir, insya'allah bulan depan aku pasti kirim uang buat kamu."


"Aku nggak peduli dan sama sekali tidak mengkhawatirkan uang bulanan, yang aku khawatirkan itu Ayuk."


Mutia tersenyum. Senang rasanya saat tahu bahwa masih ada yang peduli. Kemudian telinga Mutia menangkap suara decitan pintu, ketika menoleh ia mendapati sosok Azril tengah berdiri diambang pintu kamar dan menatapnya dengan sorot... bimbang.


"Sal, nanti aku hubungi lagi." setelah mendapat jawaban dari Faisal, Mutia mengakhiri panggilan dan menghampiri Azril.


"Aa butuh sesuatu?"


Azril menggeleng. "Aku mau keluar sebentar. Beli martabak."


...* * *...


Mutia yang sedang memasak nasi goreng sosis untuk menu sarapan pagi ini, tiba-tiba saja merasakan perutnya diaduk-aduk. Mual tak tertahankan, membuat Mutia berusaha keras untuk mengeluarkan isi perutnya. Lalu saat dirasa ia benar-benar akan muntah, Mutia berlari cepat menuju kamar mandi yang berada di area dapur. Meninggalkan Lamia yang tengah menyeduh kopi, menatapnya dengan dahi berkerut.


"Kamu nggak pa-pa, Mutia?" tak bisa menahan diri, Lamia pun melemparkan pertanyaan setelah Mutia kembali.


"Iya, Teh. Aku baik-baik saja." untuk lebih meyakinkan, Mutia mengulas senyum.


"Tapi wajah kamu pucat, Mut. Udah beberapa hari ini aku perhatiin, kamu selalu muntah-muntah di pagi hari. Kayak orang hamil aja."


Ucapan Lamia membuat Mutia seketika mematung. Ia baru ingat, bahwa stok pembalutnya bahkan belum di buka. Ya Allah, apa mungkin aku...


Sekelebat ingatan tentang kejadian satu minggu sebelum perceraiannya dan Haikal, merasuk ke dalam otaknya, bak rekaman video yang di putar ulang. Malam itu Haikal pulang dalam keadaan mabuk, pria itu tampak tertekan dan meracau tidak jelas. Sebagai istri, sudah tugas Mutia membantu Haikal. Dan malam itu, mereka melakukan malam pertama setelah dua tahun pernikahan.


Keesokan paginya Haikal tak mengingat apapun, karena saat itu ia sedang dalam keadaan mabuk. Mutia merasa sedih, karena harus tidak sadar dulu, baru Haikal mau menyentuhnya.


Dan kalau benar aku hamil, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus memberitahu Haikal? Kehamilanku bisa saja membatalkan pernikahan Haikal dan Sonya, yang kata Faisal akan dilangsungkan minggu depan. Tapi... meski aku masih mencintainya, aku tidak bisa kembali padanya, setelah mengetahui perasaannya untuk Sonya. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


...*...


...*...


...*...


...****************...

__ADS_1


...TO BE CONTINUE...


__ADS_2