
"Aku pergi ya, A'."
Tak langsung menyahut, Azril melirik piring Lamia. "Habisin dulu nasi gorengnya."
"Aku ada meeting pukul tujuh nanti, lagipula... aku sudah kenyang."
Azril mendesah. Mengambil serbet, lalu membersihkan sekitar mulut, lantas bangkit dari duduk. "Aku antar."
"Nggak usah, A'. Aku bawa mobil aja, soalnya makan siang nanti aku ada janji di luar sama klien." meraih tangan Azril, Lamia mengecup bagian punggung tangan. "Aku pergi. Aa lanjut makannya. Bye." sekali lagi Lamia mengecup pipi Azril, sebelum melenggang pergi dengan berlari kecil.
Membuang nafas kasar, Azril menatap lekat punggung Lamia yang kian mengecil. Jujur saja, Azril mulai jengah. Pekerjaan Lamia sebagai manager di sebuah perusahaan elektronik, membuat seluruh waktu dan perhatian Lamia tercurah pada pekerjaannya.
"A'."
Saat menoleh, Azril bukan hanya menemukan Mutia, namun juga dua kantung plastik berwarna putih yang sangat ia kenali, berada di atas meja makan.
"Aku nggak bisa terima ini, A'. Jadi aku kembalikan." dengan itu Mutia sedikit mendorong dua kantung plastik di hadapannya mendekat pada Azril.
Sebenarnya Mutia sudah ingin mengembalikan barang-barang tersebut tadi malam, namun saat ia akan mengetuk pintu kamar Azril, suara bel mengurungkan niat Mutia.
Lamia pulang.
Cepat-cepat ia menyimpan barang pemberian Azril ke dalam kamar, karena tak ingin menimbulkan kesalahpahaman. Pagi ini pun ia harus menunggu Lamia pergi kerja dulu, baru ia bisa mengembalikan barang-barang tersebut.
"Kenapa di kembalikan?" Azril menatap lekat. "Bukannya kamu membutuhkan barang-barang ini? Dan juga, susu dan vitamin milikmu sedikit lagi akan habis."
Mutia membelalak. "Bagaimana Aa tahu vitaminku sudah mau habis?"
Tentu saja Mutia kaget, mengingat botol vitamin miliknya disimpan dalam laci yang ada di kamar. Dan jika Azril tahu tentang sisa vitaminnya, itu berarti Azril masuk ke kamarnya dan membuka lacinya, kan?
"Dua hari yang lalu aku melihat botol vitamin milikmu di atas kulkas, mungkin kamu lupa menyimpannya."
Tanpa sadar Mutia menghela nafas lega, merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang Azril.
"Ambillah. Jika kamu menolak untuk mengambilnya, lalu siapa yang akan memakai barang-barang itu? Seperti yang kamu tahu, Lamia belum hamil dan aku tidak akan pernah bisa hamil."
"Maaf, A'. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya." Mutia menggeleng pelan.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena aku tidak pantas menerimanya. Jika Aa lupa, aku ini hanya pembantu yang bekerja pada Aa dan Teh Lamia. Meskipun aku membutuhkan barang-barang ini, namun belum memiliki uang untuk membelinya, bukan berarti aku akan terima begitu saja saat Aa membelikannya. Maaf, bukan bermaksud tidak berterima kasih atas pemberian Aa, hanya saja... aku tidak ingin hal ini menjadi masalah di masa depan." cerocos Mutia. Sebagai seorang janda, ia harus benar-benar pandai menempatkan diri.
Azril terdiam, masih dengan mata menyorot lekat. Sejujurnya ia cukup takjub dengan kemampuan bicara Mutia yang sudah seperti kereta ekspres dan tidak berhenti sebelum tiba di stasiun.
"Duduklah."
"A'?"
"Kita harus bicara, Mutia. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman seperti yang kamu khawatirkan."
"Tapi..." Mutia melirik pakaian khas pekerja PLN bagian lapangan, yang dikenakan oleh Azril. "Bukannya Aa harus kerja?"
Azril menatap sekilas jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Masih pukul tujuh kurang. Jam kerjaku dimulai pukul delapan, teng. Jadi... duduklah."
Pada akhirnya Mutia mengangguk. Ditariknya kursi terdekat, lalu menjatuhkan bokong diatas permukaan kursi.
"Ibuku... juga seorang janda." mulai Azril, membuat pupil mata Mutia membesar. "Perceraian Ibu dan Ayah terjadi saat adikku, Hasna, masih berusia enam bulan. Alasan Ibu, Ayah berselingkuh. Sementara alasan Ayah, Ibu masih belum bisa melupakan pria yang ia cintai dan kerap kali membicarakan pria tersebut saat mereka sedang bersama. Karena tak bisa lagi mempertahankan pernikahan, mereka akhirnya bercerai.
"Setelah perpisahan mereka, Ibu menghidupi kami seorang diri. Menjadi seorang janda, memberikan sebuah tekanan mental untuk Ibu. Tidak sedikit orang membicarakan hal buruk tentangnya, pria-pria yang selalu melecehkan Ibu dan para istri pria-pria itu yang selalu menyalahkan Ibu, menuduh Ibu menggoda suami-suami mereka.
"Hari demi hari kondisi psikis Ibu semakin memprihatinkan. Ibu menjadi tempramental, sulit untuk mengendalikan emosi dan melampiaskan kemarahannya pada kami, tapi beruntungnya Ibu tidak pernah main tangan.
"Ibu yang memang tidak bisa mengendalikan emosi untuk pertama kalinya memukuli Hasna di hadapan pria itu. Melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya. Aku berusaha menghentikan Ibu, namun seperti dirasuki iblis, Ibu berhasil menjauhkanku darinya dan terus memukuli Hasna, hingga akhirnya adikku babak belur dan pingsan.
"Saat Hasna sudah tak sadarkan diri, Ibu baru mendapatkan kesadarannya dan menyesal karena telah menyakiti Hasna, setelah itu kami langsung membawa Hasna ke rumah sakit.
"Selama dua hari Hasna tidak sadarkan diri. Hingga di hari ketiga saat Ibu pulang untuk mengambil baju ganti dan aku membeli makan siang, saat kembali ke ruang rawat Hasna , aku tak lagi menemukannya disana. Dia pergi. Dan sejak hari itu, kami tak pernah lagi melihatnya. Adikku seolah mengilang di telan bumi.
"Berbulan-bulan aku mencarinya, namun hasilnya nihil. Lalu di bulan keenam, pria yang menghamili Hasna datang ke rumah dengan membawa kabar bahwa... Hasna sudah meninggal."
Mutia terkesiap, reflek menutup mulutnya yang menganga syok.
"Pria itu mengatakan saat di rumah sakit, dia yang membawa pergi Hasna . Niatnya ingin menggugurkan kandungan Hasna, namun saat mendengar detak jantung bayinya, pria itu berubah pikiran. Ia membawa Hasna menjauh dari anak-istrinya dan memutuskan untuk menikah sirih, menjadikan Hasna sebagai istri kedua.
"Selama berbulan-bulan mereka hidup bersama secara sembunyi-sembunyi. Sampai akhirnya Hasna terpeleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan hebat. Adikku meninggal saat dokter tengah melakukan operasi untuk mengeluarkan anaknya. Namun Tuhan berkehendak lain, keduanya justru tak bisa di selamatkan. Tuhan begitu menyayangi Hasna dan bayinya, tak ingin mereka berada dalam kondisi sulit di masa depan, karena itu Dia memilih untuk memanggilnya pulang."
Menghela nafas pelan, Azril tersenyum lemah saat mendapati manik hitam Mutia dihiasi kristal bening.
"Apa kamu berhasil menangkap maksud dari ceritaku, Mutia?"
__ADS_1
"Aku..." Mutia kesulitan bicara karena menahan tangis. "Aku mengingatkan Aa pada Ibu dan juga adik Aa?"
Azril tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Lebih tepatnya... aku ingin menebus kesalahanku karena telah lalai menjaganya dan membuat banyak waktu terbuang sia-sia. Saat mengetahui kamu hamil, aku seketika teringat pada Hasna, melihat bayangan dirinya pada dirimu. Karena itu... aku jadi bertindak berlebihan, layaknya seorang kakak dan Paman yang ingin selalu memberikan yang terbaik pada adik serta calon keponakannya. Maaf, telah membuatmu merasa tidak nyaman. Namun aku tidak bisa menahan diri. Rasanya begitu membahagiakan, saat kamu menemukan kembali apa yang telah hilang."
Mutia merasa bersalah. Ia kembali mengingatkan Azril pada kenangan pahit tentang Hasna. Melihat raut kesedihan di wajah Azril, membuat jantung Mutia rasanya seperti di tusuk oleh ribuan jarum.
"Aa merindukannya?"
"Sangat. Apalagi setiap melihat keadaan Ibu, yang sejak kepergian Hasna, lebih sering melamun dan mengamuk, hingga membuatku terpaksa memasukkan Ibu ke panti rehabilitasi, karena tak ingin orang lain merasa terganggu dengan keadaan Ibu."
Suasana menjadi hening karena tak ada lagi diantara mereka yang mengeluarkan suara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, hingga suara dering ponsel memecah kebisuan. Dering yang berasal dari saku celana Azril.
"Aku langsung ke lapangan saja." ujar Azril pada orang di sebrang telpon, lalu kembali menyimpan ponselnya. "Aku harus pergi sekarang."
Meraih tas, Azril terburu-buru meneguk Teh hangat miliknya, lalu beranjak meninggalkan meja makan. Saat akan melewati dinding pembatas, Mutia memanggilnya, membuat ia menoleh.
"Aku... tidak keberatan jika Aa menganggapku sebagai Hasna."
Mutia tidak tahu apa keputusannya sudah tepat, namun ia hanya mengikuti apa kata hatinya, bukankah orang-orang bilang, hati tak pernah salah, kan?
Azril menaikan alis. "Apa itu artinya kamu menerima barang-barang itu?"
Anggukan Mutia adalah jawaban.
Azril mengulas senyum lebar. Manik hitamnya tampak berbinar. Serta merta ia menghampiri Mutia, lalu memeluk wanita itu untuk mengungkapkan perasaan bahagia yang membuncah di hatinya. Dan tindakan Azril sukses membuat Mutia menegang kaku. Beruntungnya kesadaran Azril dengan cepat kembali, sehingga ia segera menciptakan jarak.
"Maaf." canggung, Azril mengusap tengkuknya.
Mutia tersenyum kikuk. "Tidak apa. Aku hanya kaget. Aku kan adiknya Aa."
Azril tersenyum hangat. Ditepuknya puncak kepala Mutia dengan sayang. "Aku pergi, kamu jangan telat makan dan jangan lupa minum vitamin ya, adik kecilku."
Mutia mengangguk patuh. Lalu saat Azril meninggalkannya, Mutia menghela nafas berat.
"Jangan *baper, Mutia. Jangan baper."
(*bawa perasaan)
...****************...
__ADS_1