Untuk Mutia

Untuk Mutia
Menerima penghakiman


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Yudha masih betah berada di ruang tamu rumahnya yang di tempati oleh beberapa karyawan BM. Seperti hari-hari sebelumnya, Yudha begitu menikmati waktunya berinteraksi dengan Yusuf. Seperti ada kesenangan dan kebahagian tersendiri dalam hatinya saat bermain dengan bayi mungil menggemaskan itu. Sudah satu minggu berlalu sejak hari kelahiran Yusuf, namun euforia yang ia rasakan tak kunjung berkurang, justru kian bertambah setiap harinya. Jika bisa, Yudha tak ingin berpisah dengan Yusuf barang sebentar saja.


Mungkin ini yang disebut dengan... naluri seorang Ayah, meskipun kenyataannya ia bukanlah Ayah biologis Yusuf. Akan tetapi, ia begitu menyayangi Yusuf layaknya anak sendiri. Ia sudah jatuh cinta pada bayi mungil itu sejak perawat memberikan Yusuf padanya, untuk ia kumandangkan adzan di telinganya.


"Mas Yudha... belum mau pulang?"


Mutia muncul di ruang tamu dengan membawa botol susu berisi asi-nya, sembari melirik cemas pada jam dinding. Biasanya Yudha sudah berpamitan pulang lepas adzan isya', tapi malam ini saat jarum pendek pada jam dinding telah berada di antara angka sembilan dan sepuluh, bahkan tidak terlihat tanda-tanda pria itu akan beranjak pergi.


Yudha mengarahkan atensinya pada Mutia. Menatap dengan satu alis terangkat.


"Maaf, bukannya aku bermaksud ingin mengusir, Mas Yudha. Tapi... nggak enak sama tetangga." cepat-cepat Mutia mengemukakan kegelisahannya, karena tak ingin membuat Yudha tersinggung.


Sudut bibir Yudha tertarik membentuk seulas senyum, namun belum juga mulutnya terbuka untuk menanggapi ucapan Mutia, suara bel yang berbunyi nyaring berulang kali menarik perhatian keduanya.


"Biar aku yang buka." serta merta Yudha beranjak dari duduk.


Sekian detik berlalu, namun sosok Yudha tak kunjung kembali. Apa Mas Yudha langsung pulang? pikirnya. Karena penasaran Mutia memutuskan untuk menyusul Yudha ke depan dan melihat siapa yang datang, dengan membawa Yusuf dalam gendongannya.


Mutia menatap bingung pada orang-orang yang berkumpul di halaman rumah, kemudian tatapannya teralih pada kursi teras yang kini ditempati oleh Yudha dan... pak RT.


"A-ada apa ini?" ujarnya dengan dahi mengernyit.


"Duduklah, Mutia. Saya juga ingin bicara denganmu." sahut pak RT. "Sebenarnya Gus Yudha meminta untuk bicara dengannya saja, namun karena masalah ini melibatkanmu, jadi kamu juga harus mendengarkan."

__ADS_1


Yudha menghela nafas, kemudian beranjak dari duduk, lantas menyuruh Mutia untuk menempati kursinya, sementara ia sendiri mengambil kursi di dalam dan meletakkannya disamping Mutia.


"A-ada masalah apa, pak?" Mutia bertanya sembari menepuk-nepuk bokong Yusuf yang bergerak gelisah di pangkuannya.


"Ada yang menyebarkan gosip tentang kalian yang, maaf, berbuat zina."


"Astaghfirullah." Mutia merasakan jantungnya berdetak menyakitkan. Siapa yang telah tega memfitnahnya?


"Dan anak yang baru saja kamu lahirkan adalah anak hasil zina." sambung pak RT, membuat Mutia seketika memejamkan matanya. Meresapi nyeri yang mendera hatinya.


"Yusuf-ku bukan hasil zina. Dia terlahir suci dan tidak memiliki dosa seujung rambut pun!" hardik Mutia dengan mata berkaca-kaca, sembari memeluk erat putranya dengan tubuh gemetar.


"Maaf, Mutia. Saya tidak bermaksud bicara kasar, namun saya hanya mengatakan apa yang saya dengar. Gosip itu terus menyebar, hingga seluruh penghuni komplek mengetahuinya dan mendesak saya untuk segera menemui kalian, namun karena beberapa waktu ini saya banyak pekerjaan, baru malam ini saya bisa mengabulkan permintaan mereka. Syukurnya, meski tidak sabar, mereka bisa menahan diri dengan tidak berbuat anarkis."


Menjeda ucapannya untuk mengambil nafas, tatkala matanya menatap bergantian pada dua orang dihadapannya. "Dan juga, menurut informasi dari para tetangga, Gus Yudha sering kali mengujungi rumah ini, bahkan tak jarang pulang pada malam hari. Lalu malam ini kami menemukan Gus Yudha disini, seolah membuktikan kebenaran dari informasi yang kami dapatkan."


Semua penghuni rumah Yudha kini tengah berdiri diambang pintu, mengamati dalam diam dan kebingungan.


"Kalian bisa menanyakan pada mereka, apa saja yang kami lakukan. Apa pernah kami melakukan kontak fisik berlebihan dan lain sebagainya." Yudha melemparkan tatapan tajam pada beberapa orang yang berdiri di halaman. Bersikap layaknya Tuhan yang berhak memberikan penghakiman.


"Saya juga selalu berada di ruang tamu atau ruang keluarga setiap kali berkunjung, jadi semua penghuni rumah pasti akan melihat saya saat keluar dari kamar atau akan ke dapur." kecuali beberapa hari lalu, batinnya. Namun hanya satu kali itu saja, itupun karena ia merasa panik.


"Mereka karyawanmu, pasti akan tutup mulut. Mereka tentunya tidak ingin di pecat, jika sampai membongkar kebusukkanmu." ujar salah satu pria dari kerumunan di depan mereka, membuat Yudha menggeletukkan gigi, menahan geram. Sedangkan Mutia menundukkan kepala, menatap Yusuf sembari menangis tanpa suara.

__ADS_1


"Iya, apalagi wanita itu seorang janda. Dia pasti merasa kesepian dan haus belaian, lalu menggoda atasannya yang masih sendiri. Tidak bisa menjadi istri, jadi simpanan pun cukup."


"Nyonya! Jaga mulut anda. Atau saya akan memperkarakannya ke meja hijau." manik hitam Yudha berkilat murka. Menatap tajam pada wanita bertubuh tambun yang kini sudah menyembunyikan diri, karena menerima tatapan Yudha yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


Ya Allah, aku tidak pernah ingin menjadi janda. Tapi kenapa semua orang justru berkata seolah aku menikmati status ini dan memandang rendah diriku.


Isakkan Mutia mulai terdengar, menarik perhatian Yudha. Ada dorongan dalam dirinya untuk mengusap punggung wanita itu, namun jika ia lakukan, itu akan membuat posisi mereka semakin sulit.


"Lalu pak RT mau kami bagaimana?" tanya Yudha setelah membuang nafas kasar.


"Untuk membuat warga tenang, saya meminta Gus Yudha untuk tidak datang kemari lagi. Jika memang ingin memantau kondisi rumah ini, Gus Yudha bisa meminta orang kepercayaan untuk melakukannya. Dan orang itu tentunya harus wanita, karena semua penghuni di rumah ini adalah wanita, agar tidak lagi memunculkan masalah seperti ini."


"Dan itu artinya, saya tidak bisa lagi menemui Yusuf." gumam Yudha. Manik kelamnya menatap Yusuf yang berada di pangkuan Mutia dengan sorot nanar.


"Gus Yudha bisa mengajak Mutia dan anaknya bertemu ditempat lain. Tempat umum yang ramai, bukan tempat tertutup seperti rumah ini."


Dengan kaku Yudha menganggukkan kepalanya. Meski tidak menyukai perkataan pak RT, namun ucapan pria dengan sebagian rambutnya sudah memutih itu memang benar adanya. Pria dan wanita yang tidak terikat hubungan saudara atau pernikahan, sangat di larang untuk berada di ruangan yang sama, hanya berdua saja.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi. Maaf sudah mengganggu. Dan... sebaiknya Gus Yudha segera pulang, ini sudah malam." tanpa mendengar jawaban Yudha, pak RT mengajak para warga untuk beranjak pergi, begitu pula dengan para karyawan BM yang memutuskan masuk ke rumah, meninggalkan Mutia dan Yudha.


"Mutia, maaf. Aku menyulitkanmu." tampak jelas penyesalan di manik hitam Yudha ketika menatap Mutia yang masih setia menundukkan kepalanya, namun Mutia sama sekali tidak menanggapi ucapannya. Wanita itu seolah larut dalam dunianya sendiri.


"Jangan berkecil hati, nak. Tak peduli seluruh dunia membencimu, menghujatmu atau bahkan merendahkanmu, aku... Ibumu akan selalu mencintaimu, menyayangimu dan mengasihimu di setiap hembusan nafasku, hingga Tuhan memutuskan telah habis masaku. Kamu anak Bunda, salah satu malaikat tak bersayap yang dengan baik hati telah Tuhan titipkan padaku. Bunda akan menjagamu, melindungimu, bahkan sekalipun nyawa taruhannya. Tolong, jangan dengarkan kata mereka." gumaman itu terdengar bersamaan dengan suara tangis pilu.

__ADS_1


Yudha yang mendengar gumaman Mutia merasakan hatinya tersayat sembilu, namun juga ada perasaan asing yang menelusup dalam dirinya. Perasaan ingin melindungi yang begitu kuat, karena ia tidak menyukai air mata yang keluar dari mata indah Mutia, juga perasaan yang tidak Yudha ketahui apa artinya.


Yang pasti, saat ia melihat Mutia menangis terisak, ia tak ingin ada pria lain yang menghapus air mata Mutia dan memberikan pelukan menenangkan pada wanita itu. Dan hal tersebut membuat Yudha memikirkan berulang-ulang apa yang ia inginkan dan apa yang harus ia lakukan.


__ADS_2