
Waktu berlalu dengan cepat. Tahu-tahu saja sekarang sudah hari minggu pagi. Terhitung enam hari sejak Mutia menuntut penjelasan dari Azril atas kebohongan pria itu, Mutia tak lagi bersikap sama terhadap Azril. Wanita hamil itu mulai membatasi diri dan menciptakan jarak yang lebar. Alasannya tentu saja karena ia tak ingin perasaan Azril padanya kian berkembang dan membuat Lamia membencinya saat tahu Azril menyimpan perasaan untuknya.
"Teh,"
Panggilan Mutia menarik perhatian Lamia. Wanita dua puluh tujuh tahun menatap Mutia dengan satu alis terangkat.
"Maaf, telah membuat Teteh kecewa dan merasa di khianati. Tapi demi Allah, Teh... tidak pernah sedikitpun terbesit dalam hati dan pikiranku untuk merebut suami Teteh. Aku sudah sangat bersyukur karena Allah mempertemukan aku dengan Teteh. Wanita baik yang mau menampungku tanpa memedulikan asal usulku, status jandaku dan memberikan pekerjaan, tempat tinggal serta makan gratis untukku."
"Aku memang seorang janda, Teh. Yang selalu di pandang sebelah mata oleh orang-orang, yang selalu di cap sebagai wanita gatal kesepian dan kurang belaian, yang harus di curigai karena memiliki persentase besar untuk menjadi pelakor, yang mungkin juga di anggap lebih rendah dari seorang pelacur."
Mutia tersedak ludah karena menahan tangis. Matanya sudah memerah dan di hiasi oleh kristal bening. Sementara Lamia menatap Mutia dengan lekat, ada perasaan bersalah juga menyesal yang tampak jelas di manik kelam wanita itu. Rasa bersalah dan menyesal karena telah menyakiti Mutia, baik fisik maupun hatinya. Namun setelah apa yang ia lakukan, Mutia masih saja bersikap baik padanya.
Betapa jahatnya aku. Merasa diri paling benar, hingga aku berani menghakimi Mutia. Astagfirullah, maafkan aku ya Allah.
"Namun aku masih tahu diri, Teh. Selagi dalam keadaan sadar, aku tidak akan pernah memberikan rasa sakit pada seseorang, karena aku sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya tersakiti." menunduk, Mutia menatap kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan. Ingatan saat Haikal membawa Sonya ke rumah mereka dan mengakui perselingkuhan mereka serta kehamilan Sonya, kembali berputar dalam benaknya.
"Banyak yang bilang, sebelum kamu menyakiti seseorang, rasakan sendiri sakit itu lebih dulu, karena hal itu akan membuatmu lebih bisa menghargai perasaan orang lain. Dan aku... menerapkan hal itu dalam hidupku, Teh. Sebab aku percaya, apa yang kutanam, itu pula yang akan kutuai. Setiap perbuatan harus di pertanggung jawabkan dan akan mendapat balasan yang setimpal."
Tak bisa lagi menahan air mata yang mendesak ingin keluar, Mutia akhirnya membiarkan satu tetes mengaliri pipinya. Namun seolah tak cukup, setetes cairan asin itu kini berubah menjadi deraian dan membasahi wajah Mutia. Ketika Mutia menatap Lamia, wanita dua puluh tujuh tahun merasa iba melihat Mutia yang tampak begitu mengenaskan.
"Mutia..."
"Aku hanya ingin membersihkan nama baikku, sebelum pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk dalam ingatan Teteh tentang aku." Mutia menyela.
"Pe-pergi?" Lamia membelalak dan serta merta meraih tangan Mutia untuk ia genggam. "Aku tidak memecatmu, Mutia. Lalu kenapa kamu mau pergi?"
__ADS_1
"Setelah kejadian pagi itu, keberadaanku disini pasti membuat Teteh tidak nyaman dan merasa khawatir aku benar-benar merebut suami Teteh." bibir Mutia menyungging senyum kecil, yang tampak getir.
Lamia perlahan melepaskan pegangannya di tangan Mutia, lantas memalingkan wajah. Tak ada suara yang keluar dari sela bibirnya, karena apa yang Mutia katakan memang benar. Setiap hari Lamia selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan Azril akan meninggalkanya dan memilih bersama Mutia.
Mendapati diamnya Lamia membuat Mutia menunduk, kian tersenyum pedih. Ia sudah —tanpa sengaja— menyakiti Lamia dan menghancurkan kepercayaan wanita itu. Jadi... sudah benar lah keputusannya untuk angkat kaki dari rumah Lamia.
"Sekali lagi aku minta maaf, Teh. Dan terima kasih, selama beberapa bulan ini Teteh sudah memberikan tempat berlindung untukku dari panas dan hujan, memberiku makanan enak dan sehat, juga memperlakukanku dengan baik. Aku tidak tahu kapan bisa membalas kebaikan Teteh." kembali Mutia menatap Lamia. Kali ini wanita dua puluh tiga tahun itu mengulas senyum tulus nan hangat.
"Jika suatu hari nanti kita kembali bertemu, aku harap kemarahan Teteh sudah hilang."
Beranjak dari duduk, Mutia mengambil tas miliknya yang —sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari— ia sembunyikan di balik dinding. Sekali lagi Mutia melempar senyum pada Lamia yang juga telah berdiri dan menatapnya dalam diam.
"Aku pamit, Teh." membalik tubuh, Mutia melangkah perlahan.
Tepat setelah menuruni undakan teras, Lamia memanggilnya, membuat Mutia seketika berhenti melangkah dan mengarahkan atensinya pada Lamia. Sepersekian detik kemudian Mutia menerima dekapan hangat dari wanita yang sudah ia anggap sebagai saudaranya.
Mutia tersenyum. Menciptakan jarak, lalu menyeka setetes air mata yang menggantung di sudut mata Lamia. "Teteh nggak salah, jadi nggak ada yang perlu aku maafkan."
"Kalau begitu, kamu juga tidak perlu pergi."
Kepala Mutia menggeleng pelan. "Untuk menyembuhkan luka, kita butuh waktu dan jarak. Karena itu... aku memutuskan pergi agar Teteh bisa menyembuhkan luka atas kekecewaan yang kuberikan."
"Tapi kamu mau kemana? Bukannya kamu bilang tidak punya siapa-siapa di Bali? Dan kamu juga lagi hamil."
Menatap lurus ke depan, pandangan Mutia menerawang, tatkala tangannya mengusap perut. "Seperti takdir membawaku ke Bali, takdir juga lah yang akan menuntun langkahku kemana aku harus pergi. Tapi... di perjalanan nanti, aku yakin akan kembali menemukan orang-orang baik seperti Teteh. Jadi... Teteh tidak perlu mengkhawatirkanku."
__ADS_1
...* * *...
Dulu, sewaktu sekolah dasar Mutia pernah dipilih oleh guru olahraga-nya untuk ikut lomba lari antar sekolah. Namun sebelum melawan siswa dari sekolah lain, Mutia harus bersaing dengan teman-teman antar kelas dari sekolahnya untuk menjadi yang tercepat. Jika ia berhasil mengalahkan teman-temannya, maka ia lah yang akan dikirim ke perlombaan untuk mewakili sekolah.
Hari itu guru olahraga menyuruh mereka keliling lapangan sepak bola sebanyak tiga kali. Mutia salah satu pelari tercepat, buktinya ia bisa mengalahkan tiga pesaingnya di dua kali putaran. Pada putaran terakhir dan tersisa satu saingan, yang Mutia ingat bernama Ira dengan rambut keriting sebahu, Mutia semakin mempercepat laju larinya untuk mengejar Ira.
Saat akan melewati rerumputan lebat yang berada di sekitar tiang gawang, hatinya berkata agar Mutia tidak melewati rumput tersebut atau suatu hal buruk akan terjadi. Namun saat melihat Ira berlari melewati rumput tersebut dan ia baik-baik saja, Mutia mengabaikan kata hatinya.
Setelah melewati rerumputan lebat itu, tiba-tiba saja Mutia merasakan larinya melambat, pandangannya tidak fokus dan tubuhnya lemas. Tapi karena tak ingin kalah, Mutia tetap berlari, hingga kemudian temannya yang tertinggal berteriak memanggil namanya, memintanya berhenti dan mengatakan kakinya terluka parah. Di detik itu pula langkah Mutia terhenti dan ia langsung terduduk.
Ketika guru olahraga menghampirinya dan memeriksa kakinya, Mutia baru merasakan sakit. Matanya membelalak, namun tak menangis saat mendapati luka menganga di bagian belakang pergelangan kakinya. Luka itu cukup besar, mengeluarkan banyak darah dan bahkan menampakan urat putih yang ada di sana. Mutia bahkan masih sempat menyentuh urat yang menyembul, sebelum guru olahraga membawanya ke rumah sakit.
Luka tersebut membuatnya harus mendapat dua belas jahitan dan istirahat di rumah selama hampir tiga minggu. Mutia tidak bisa berjalan, sehingga terpaksa melompat-lompat dengan satu kaki. Namun neneknya memaksa Mutia untuk berjalan dengan benar dan menggerakan kakinya, jika tidak ingin cacat seumur hidup.
Mutia bersyukur sekarang, karena paksaan neneknya Mutia bisa kembali berjalan normal, meskipun bekas jahitan masih terlihat di pergelangan kaki kanannya. Dan sejak hari itu pula, Mutia tak pernah lagi mengabaikan kata hatinya.
Namun sepertinya kali ini, setelah sekian tahun, Mutia mulai meragukan kata hatinya. Bagaimana tidak, saat melihat sebuah restoran mewah dari seberang jalan, tiba-tiba saja hati Mutia berkata bahwa ia harus masuk ke dalam restoran tersebut. Bukan hanya hati, bayinya pun berkonspirasi untuk mendesaknya memakan daging panggang di restoran yang harganya bisa menguras isi dompet Mutia.
Dan kini Mutia mulai menyesali keputusannya. Karena sudah tiga puluh menit berlalu, makanan yang sama sekali tidak mengenyangkan perutnya pun telah tandas, namun tidak ada hal apapun yang terjadi.
Orang bilang, kata hati tidak pernah salah. Lalu ini? Aku mengikuti kata hatiku, makan di restoran yang membuat dompetku menjerit, tapi tidak ada apapun yang terjadi. Terkadang, kata hati pun pernah salah.
Tepat saat Mutia melambaikan tangan, memanggil pelayan untuk meminta bill, seseorang menepuk bahunya. Ketika menatap si pemiliki tangan, Mutia mendapati seorang wanita cantik tengah menatapnya dengan seulas senyum lebar.
"Ah... syukurlah aku tidak salah orang. Mutia, kita bertemu lagi." si wanita cantik berucap riang.
__ADS_1
Mutia mengerutkan dahi. "Maaf, kamu siapa ya?"