USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
36. Sakit?


__ADS_3

Malam sudah semakin larut. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau pasangan pengantin baru itu akan melepaskan diri dari pelukan masing-masing. Yang ada, bibir mereka malah bertaut semakin dalam.


Syahla bisa merasakan ada hawa panas yang membara dari dalam tubuhnya. Ia tidak tahu itu apa, yang jelas ia menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh suaminya.


Ustadz Amar sendiri sudah merasa tidak sabar. Masih sambil mendekap sang istri, ia melangkahkan kaki menuju sofa ruang tengah. Lalu, dengan lembut, ia baringkan tubuh Syahla ke atas sofa.


Napas Syahla terengah-engah saat Ustadz Amar memberi jeda pada ciuman mereka. Ia lalu merangkulkan kedua tangannya ke leher sang suami dan kembali melanjutkan aktivitas mereka.


Tangan Ustadz Amar yang hendak membuka kancing piyama Syahla membuatnya terhenyak. Dengan kedua tangannya, Syahla mendorong perlahan dada bidang sang suami agar jarak mereka sedikit menjauh.


"Maaf," Ustadz Amar mengetahui pertanda itu. "Kalau kamu belum siap, saya tidak akan memaksa."


Syahla menggigit bibir. Dia bukannya tidak siap, hanya sedikit terkejut saja. Maka, untuk meyakinkan sang suami, ia peluk kembali suaminya erat-erat.


Dengan suara lirih, Syahla berucap. "Saya sudah siap Om Suami,"


Ustadz Amar tertegun sejenak, tapi ia kemudian membenamkan wajahnya pada leher sang istri. "Tidak apa-apa. Saya akan lakukan pelan-pelan,"


...----------------...


Adzan Subuh yang terdengar dari handphone Syahla membuat gadis itu membuka mata. Astaga, sejak kapan dia tertidur? Syahla menolehkan kepala dan mendapati tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Tapi suara guyuran air dari dalam kamar mandi membuatnya tahu suaminya ada di sana.


Syahla memejamkan mata sejenak. Tubuhnya terasa nyeri, dan ia merasa kelelahan yang amat sangat. Saat hendak beranjak, Syahla mengaduh kesakitan karena kakinya terasa lemas.


"Sudah bangun?" Ustadz Amar keluar dari kamar mandi. "Cepetan mandi, mumpung airnya masih hangat."


Syahla menggigit bibir. Ia jadi teringat kembali kejadian semalam. Setelah memulai permainan di atas sofa, suaminya lantas menggendongnya masuk ke kamar dan melanjutkan permainan mereka di sana. Syahla sendiri tidak tahu berapa lama mereka melakukan itu, karena tahu-tahu dia sudah tertidur pulas dan terbangun saat subuh tiba.


"Kenapa?" Ustadz Amar merasa heran karena istrinya tidak kunjung beranjak. Syahla menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin menjelaskan keadaan tubuhnya yang terasa sakit akibat kegiatan semalam.


"Sakit, ya?" tebak Ustadz Amar. "Maaf.." ujarnya menyesal.

__ADS_1


"Eh, nggak papa," Syahla menggelengkan kepalanya. "Cuma sedikit kok,"


Ustadz Amar menatap istri kecilnya yang terbalut selimut. Ia kemudian mengangkat tubuh Syahla ala bridal style, membuat gadis itu terperanjat kaget.


"Eh?" Syahla melotot. "Om Suami ngapain?"


"Saya minta maaf karena sudah membuat kamu sakit begini. Sebagai permintaan maaf, saya akan merawat kamu sampai sembuh."


"T-tapi nggak perlu sampai digendong segala, kan?" Syahla menutup mukanya malu. "Turunin saya sekarang!" teriak Syahla sambil memukuli punggung suaminya. Pukulan itu tentunya tidak berakibat banyak pada Ustadz Amar sehingga ia tidak melepaskan sang istri sampai benar-benar sudah masuk ke kamar mandi.


"Bisa mandi sendiri? Apa perlu saya mandikan?" tawaran Ustadz Amar membuat pipi Syahla memanas, buru-buru didorongnya sang suami hingga keluar pintu.


"Saya bisa sendiri!"


...----------------...


"Gue nggak nyangka kalau perkembangannya bakal secepat ini," Dian membaca novel revisian Syahla dari tabletnya. "Lu dapet referensi darimana sampai bisa nulis sedetail ini?"


Setelah pertemuannya dengan Dian selesai, Syahla kembali ke kampus dengan langkah riang. Anggika yang sudah menunggunya di kantin merasa heran melihat tingkah laku sahabatnya itu.


"Ada hal baik, ya?" Anggika menebak-nebak. Syahla hanya menjawab sambil tersenyum, membuat Anggika berdecak. "Gitu ya, kalau yang senang-senang nggak bagi-bagi," cibirnya pura-pura kesal.


Syahla terkekeh. Ia kemudian memberi isyarat agar Anggika mendekat dan berbisik di telinga gadis itu. "Aku ditembak sama Pak Amar dihari pernikahan kami yang ke 100,"


"Oh My God," Anggika membulatkan mulutnya. "Terus, Lo terima kan? Parah sih kalau Lo nolak,"


Syahla melirik Anggika dengan tatapan malu-malu dan menganggukkan kepalanya sambil tertawa.


"Idih, bucin! Bucin! Nih ya, baru kali ini Gue lihat ada suami yang nembak istrinya setelah berbulan-bulan menikah! Aneh banget tau nggak! Terus, setelah nembak, ngapain lagi?"


Syahla menyadari tatapan Anggika menyiratkan sesuatu yang mengarah ke pembicaraan 18+. Langsung saja dipukulnya bahu Anggika sampai gadis itu mengeluh kesakitan.

__ADS_1


"Jangan mikirin yang aneh-aneh!"


"Cie, cie," Anggika terus menggoda Syahla sampai kedatangan seorang lelaki membuat tawanya mendadak berhenti. Dalam sekejap, tatapan matanya berubah menjadi tidak ramah.


"Halo, adek-adek!" Kak Rama rupanya tidak bosan-bosan menjadi orang ketiga dari kedua gadis itu. "Ada apaan sih? Kok bahagia banget?"


Anggika menyeruput es tebunya sebelum menjawab dengan nada pamer. "Ya iyalah bahagia, Syahla kan habis dapat kejutan dari pacarnya!"


"Oh ya?" Kak Rama memandangi Syahla sejenak, lalu tersenyum lebar. "Seneng dong?"


"Ya senenglah!" Anggika menyerobot Syahla yang hendak menjawab pertanyaan itu. "Syahla cinta banget sama cowok itu, dan cowok itu juga bucin banget sama Syahla. Duh, romantis banget deh!"


Kali ini Syahla hanya tersenyum tipis mendengar bualan Anggika. Lagipula Anggika tidak salah. Dirinya dan Ustadz Amar memang saling mencintai meski baru sadar kemarin.


"Tenang aja, Gua jagonya bikin cewek berpaling dari cowoknya," Kak Rama kemudian mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas. "Novel tereliye yang terbaru. Lengkap dengan tandatangannya,"


Mata Syahla terbelalak menerima novel dari tangan Kak Rama. Seingatnya, novel itu baru rilis dua minggu yang lalu, dan Syahla ketinggalan untuk memesan pre-order. Tidak disangka, Kak Rama malah sudah mendapatkan novel itu duluan.


"Wah, beneran loh!" Mata Syahla berbinar-binar. "Boleh saya pinjam kak?"


"Kenapa harus pinjam? Gua kasihin novel ini buat Lu, Lala!" Kak Rama terkekeh. "Lu bisa baca sepuasnya,"


Syahla tertegun. Ia kemudian menoleh ke arah Anggika yang memberi kode dengan matanya yang menyiratkan 'Jangan diterima! Jangan diterima!'. Syahla menghela napas berat. Dengan berat hati, ia taruh kembali buku itu ke atas meja.


"Maaf Kak, tapi saya nggak bisa terima ini."


"Kenapa? Gua kan cuma mau ngasih hadiah dari seorang senior ke juniornya aja,"


"Tetap saja, nggak bisa Kak, saya minta maaf." Syahla kemudian beranjak dari duduknya dan menggamit lengan Anggika. "Saya permisi ya Kak,"


Kak Rama menatap kepergian gadis yang menarik perhatiannya itu sembari mengacak rambutnya kasar.

__ADS_1


"Lu pikir Gua akan menyerah begitu saja? Huh, tidak mungkin! Bagaimanapun juga, Gua harus mendapatkan Lu, Syahla!"


__ADS_2