USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
41. Bulek


__ADS_3

"Coba kamu bikinkan bumbu opor, Nduk," Perintah Bulek sembari sibuk mengiris cabai merah. "Bisa kan?"


"Eng, anu Bulek.." Syahla menggaruk-garuk tengkuknya. "Saya belum pernah masak opor,"


"Loh, gimana to? Masa sudah jadi istri nggak bisa masak? Anak Bulek saja dari SD sudah diajari masak rendang, kalau cuma masak opor mah kecil!"


Syahla hanya bisa tersenyum canggung sambil memamerkan deretan giginya yang rapi. Sebenarnya tidak ada yang mau tahu tentang kemampuan anak Bulek, tapi kalau Syahla menjawab begitu, pasti akan terjadi masalah besar kan?


"Yasudah, sini kamu iris cabenya! Kalau cuma iris-iris bisa kan?"


"Bisa, Bulek," Syahla segera menggantikan posisi wanita itu di depan talenan. "Begini kan?"


"Aduh, salah! Harusnya miring panjang-panjang! Jangan pendek begitu!"


Syahla langsung memperbaiki potongannya. "Begini?"


"Aduh! Rusak semuanya! Kamu itu malah ngerepotin Bulek aja!" Bulek kemudian mengusir Syahla sampai gadis itu minggir dengan kebingungan.


Sabar, sabar, batin Syahla dalam hati.


...----------------...


"Istrinya Amar itu lo, masak nggak bisa, bikin bumbu nggak bisa! Masih nggak bisa apa-apa sudah berani nikah!" Omelan Bulek sekarang berpindah ke ruang tengah, dimana semua keluarga sedang berkumpul. "Kamu itu kalau cari istri mbok ya jangan lihat cantiknya aja to Le!"


Syahla yang sedang mencuci piring di dapur hanya bisa menghela napas panjang mendengar pembicaraan Bulek tentang dirinya. Dia tak habis pikir. Sebenarnya Bulek itu sadar tidak sih kalau bicara sekeras itu bisa membuat orang yang dibicarakan mendengar? Apa memang dia sengaja karena ingin Syahla mendengar? Tapi buat apa? Apa untungnya coba?


Sabar, Syahla, sabar. Syahla terus merapalkan kata-kata itu sambil mencuci piring. Ia lampiaskan kekesalannya pada perabotan kotor dan menggosoknya sampai benar-benar mengilap.


"Istri," Ustadz Amar tiba-tiba muncul di belakang sang istri dan langsung memeluk Syahla lembut. "Perlu bantuan, nggak?"

__ADS_1


"Jangan!" Tolak Syahla mentah-mentah. "Nanti bulek makin ngomel-ngomel kalau lihat Om Suami bantuin saya,"


"Maafin Bulek ya Sayang.." Meskipun dilarang, Ustadz Amar tetap membantu istrinya membilas piring yang sudah disabun. "Bulek itu jadi begini setelah ditinggal minggat suaminya sama wanita lain. Aslinya dia baik kok, mungkin sekarang begitu karena faktor stres."


"Kalau lagi stres jangan bikin orang lain stres," Syahla bersungut-sungut. "Padahal Ibu baik banget loh, kok bisa beda 180 derajat begitu sih?"


"Sabar, sabar," Ustadz Amar mengusap-usap punggung istrinya. "Setelah ini langsung tidur saja ya? Istri pasti capek,"


Syahla mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian membiarkan suaminya menyelesaikan cucian piring sementara dirinya memeluk manja Ustadz Amar.


"Eh, anakku yang paling cantik dateng!" Suara Bulek lagi-lagi menggema dari ruang tengah. "Amar! Sini Le!"


"Dipanggil tuh," Cibir Syahla. "Sana pergi,"


"Kamu juga dong," Ustadz Amar mengecup lembut dahi istrinya. "Kan kita suami istri,"


"Tapi kan saya nggak dipanggil,"


...----------------...


"Ini Karin Mar, anak Bulek! Masih inget nggak?" Bulek tampak antusias memperkenalkan seorang gadis di sampingnya, tapi ekspresinya berubah kesal saat melihat Syahla yang menempel pada Ustadz Amar.


"Karin sama Amar kan dulu sering main bareng, Bulek inget banget kalian sering manjat pohon belimbing belakang rumah!" Ucap Bulek sengaja memanas-manasi Syahla.


"Eng, maaf Bulek, tapi saya kan cuma pernah ketemu Karin waktu pernikahannya Papa sama Ibu, setelah itu saya nggak pernah ketemu lagi karena ikut Mama," Ustadz Amar mengoreksi, membuat wajah Bulek langsung memerah. Sementara Syahla sekuat tenaga menahan tawa.


"Eh, apa iya to? Kok Bulek lupa ya? Hahahaha! Oh iya, Nduk, kue buatanmu mana? Sudah ditunggu daritadi loh!" Bulek sepertinya sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Karin kemudian mengeluarkan sebuah plastik besar.


"Ini Bude pesanannya," Karin memberikannya pada Ibu. "Ada tiga macam kue. Risol, Putri Ayu sama Nagasari."

__ADS_1


"Aduh, pintarnya anak Bulek," Bulek tak henti-henti memuji putrinya sendiri. "Kalau namanya perempuan tuh harusnya begini, pintar masak! Pintar mengerjakan pekerjaan rumah! Sebenarnya Karin ini sudah sangat matang kalau diajak berumahtangga, tapi sayang Amar malah milih yang lain,"


Syahla melotot mendengar ucapan Bulek, segera ia menatap tajam suaminya yang langsung panik.


"Eh, bukan begitu sayang," Ustadz Amar berusaha menjelaskan. "Saya sama Karin nggak ada apa-apa kok,"


"Itu benar, kami memang nggak ada apa-apa kok," Karin ikut membenarkan. "Mamakku memang sering ngawur kalau bicara. Maaf ya?"


Ustadz Amar menghela napas lega setelah melihat raut wajah Syahla kembali normal meski bibirnya agak mengerut sedikit.


"Memangnya kenapa sih? Bulek kan cuma mau ngasih tau fakta. Buat pelajaran, kalau cari calon istri itu yang pintar melayani suami. Bisa masak, bisa nyuci, bisa beres-beres. Jangan milih yang nggak bisa apa-apa!" Ucap Bulek berapi-api.


"Maaf Bulek," Ustadz Amar lama-lama merasa tidak tahan juga dengan ucapan buleknya. "Tapi saya carinya istri, bukan pembantu. Lagian saya sama Syahla itu saling mencintai, dan kami berdua sangat bahagia. Menurut saya itu sudah cukup menjadi standar istri yang baik bagi saya,"


Bulek memutarkan bola matanya kesal. "Ya kan Bulek cuma ngomong saja! Nggak usah dijawab juga!"


Setelah berkata begitu, Bulek langsung beranjak dari duduknya dan menghilang di balik pintu kamarnya.


"Sampai kapan sih dia begitu?" Ibu menghela napas panjang. "Padahal sudah lima tahun sejak suaminya pergi, kenapa nggak berubah juga ya? Padahal dia dulu nggak begitu loh,"


"Maaf ya Bude," Karin menundukkan kepala merasa bersalah. "Saya harusnya menjaga Mamak lebih baik lagi,"


"Nggak Nduk, bukan salahmu. Sebagai kakak, Bude juga bertanggungjawab menjaga adek Bude." Ibu kemudian menatap Syahla dengan tatapan menyesal. "Maafin adik Ibu ya Nduk, dia sekarang sedang berjuang menerima keadaan. Tolong dimaklumi ya,"


Syahla tersenyum. "Nggak papa Ibu, saya mengerti kok."


"Yasudah, kalian pasti capek, sekarang silahkan istirahat saja," Papa mempersilakan. "Nanti biar kami yang membereskan ini semua,"


Syahla menatap suaminya terlebih dulu untuk meminta persetujuan. Bagaimanapun, dia merasa tidak enak hati karena posisinya sebagai tamu di rumah itu. Tidak pantas rasanya ia pergi ke kamar meninggalkan mertuanya begitu saja. Tapi Ustadz Amar hanya menganggukkan kepala sambil membimbingnya agar berdiri.

__ADS_1


"Benar kata Papa. Kita masuk kamar saja yuk,"


Syahla akhirnya menurut. Kebetulan tubuhnya sudah lelah. Punggungnya sangat rindu ingin bersua dengan kasur. Semoga saja besok keadaan menjadi semakin baik. Semoga saja.


__ADS_2