
"Sayang," Ustadz Amar memeluk Syahla dari belakang setelah mereka sampai di apartemen. "Ikut saya ke Amerika yuk?"
"Hah?" Syahla terkejut bukan main. "Kenapa tiba-tiba begitu? Memangnya kenapa?"
Ustadz Amar menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan istrinya. Benar sih kata sang istri, keputusannya itu sangat tiba-tiba. Hal itu terlintas begitu saja dipikirannya setelah melihat perlakuan Gian yang tampak agresif mendekati Syahla. Ia takut nantinya akan kecolongan saat dirinya sudah berada jauh di Amerika.
"Ya nggak ada apa-apa sih, hitung-hitung liburan. Memangnya sayangku nggak pengen jalan-jalan ke sana?"
"Hm.." Syahla berpikir sejenak. Bukannya tidak mau sih, hanya saja Syahla ini bukan tipe orang yang bersenang-senang untuk merencanakan liburan, apalagi sampai ke luar negeri. Kepikiran saja tidak.
"Apa nggak repot, Mas? Saya kan belum pernah ke luar negeri? Passport sama visanya gimana?"
"Itu sih gampang sayang," Ustadz Amar menjentikkan jarinya. "Kita tinggal buat saja. Nggak usah lama-lama lah, setidaknya sampai keluarga kamu pulang dari umroh."
Syahla tampak berpikir dalam-dalam. "Memangnya Mas di sana nggak sibuk? Katanya Mas masih ada proyek yang belum selesai,"
"Ya nanti Mas bisa ngerjain proyek pagi, terus pulangnya nemenin kamu seharian. Kalau misalnya sayangku bosan, kan bisa jalan-jalan sendiri."
"Ih, saya kan nggak jago-jago banget bahasa Inggris Mas!"
"Nanti kan ada temen Mas juga yang dari Indonesia. Dia bisa temenin kamu kemana-mana. Gimana? Mau ya?"
Syahla menatap wajah sang suami dengan ragu-ragu. Melihat tatapan mata Ustadz Amar yang terlihat memohon, jelas saja Syahla tak kuasa menolak. Ia akhirnya menganggukkan kepala perlahan-lahan.
"Yuhuuu!" Ustadz Amar mengangkat kedua tangannya, membuat Syahla terperanjat kaget. "Akhirnya bisa kuliah ditemenin istri!"
...----------------...
Sesuai rencana mereka, seminggu kemudian Syahla dan Ustadz Amar berangkat ke Amerika. Tentu saja sebelum berangkat Syahla sudah lebih dulu berpamitan pada Anggika, yang sekarang sedang fokus menemani pacarnya yang sudah hampir pulih. Tidak lupa, Syahla juga berpamitan pada Gian, karena sekalian dia mau menitipkan Marla pada laki-laki itu.
"Maaf ya ngerepotin," ucap Syahla saat dirinya menitipkan Marla pada Gian. "Padahal aku bisa titipkan dia di Petshop, tapi kamu malah nawarin buat jagain dia."
__ADS_1
"It's okay," Gian tersenyum sambil menimang-nimang kucing itu layaknya bayi. "Mahal kalau mau titip di Petshop. Sama aku saja, lebih gratis lebih terjamin!"
Syahla terkekeh mendengar ucapan Gian. Ia kemudian mengusap-usap bulu panjang Marla dengan gemas. "Baik-baik disini ya nak, Mama sama Papa mau pergi dulu."
Gian melirik Syahla dengan ragu-ragu. "Jadi berangkat sekarang?"
"Iya," Angguk Syahla. "Penerbangannya siang ini. Kamu mau oleh-oleh apa?"
"Ah, nggak usah, yang penting kamu pulang dengan selamat."
Syahla tersenyum. "Terimakasih ya Gian,"
"Iya sama-sama,"
Sejenak, mata kedua orang itu saling bertatapan. Panggilan Ustadz Amar dari depan pintu apartemen membuat mereka terkejut. Syahla lantas berpamitan dan melambaikan tangan pada Gian. Gian balas melambaikan tangan dan melihat kepergian Syahla dengan wajah kecewa.
"Semoga kamu selamat sampai tujuan," bisik Gian yang tak mampu ia ucapkan sedikit lebih keras.
...----------------...
Setelah menempuh jarak ribuan kilometer, akhirnya pesawat yang ditumpangi Syahla dan Ustadz Amar mendarat di bandara internasional Amerika Serikat. Ustadz Amar langsung menggandeng tangan Syahla dan masuk ke sebuah taksi yang memang sudah menunggu di depan bandara.
Syahla tak henti-hentinya berdecak kagum saat mobil yang mereka tumpangi melewati jalanan kota negeri Paman Sam itu. Ia merasa berada di dunia lain saat ini. Lagipula ini juga perjalanan pertamanya pergi ke luar negeri.
"Selamat datang di Amerika," Ustadz Amar mempersilahkan Syahla untuk masuk ke apartemennya terlebih dulu. Syahla menurut, ia langsung mengitarkan pandangannya pada sekeliling ruangan.
"Lumayan kecil, ya?" Ustadz Amar mendekati sang istri. "Tapi apartemen ini termasuk murah, dan letaknya dekat dengan kampus. Jadi kalau cuma bertahan selama tiga tahun saja sih, tidak masalah."
Syahla mengangguk-anggukkan kepalanya. Tumpukan pakaian di atas sofa membuat ia mengerutkan kening. "Itu bajunya sia—"
Belum sempat Syahla meneruskan ucapannya, seorang laki-laki keluar dari dalam kamar. Wajah laki-laki itu tampak terkejut melihat kedatangan Ustadz Amar. Syahla dan Ustadz Amar lebih terkejut lagi karena laki-laki itu tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana kolor pendek.
__ADS_1
"Adi!" Ustadz Amar spontan menutup mata Syahla dengan tangannya. "Ganti baju dulu sana! Kamu menodai mata istriku!"
Adi yang baru sadar terlonjak, buru-buru ia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
"Maaf," Ustadz Amar menggigit bibirnya. "Itu Adi, teman satu rumah saya. Dia memang agak ngawur orangnya."
"Nggak papa kok," Syahla mengalihkan pandangan. "Cuma sedikit kaget saja."
Ustadz Amar lantas mengangkat pakaian-pakaian kotor yang ada di sofa dan ia hempaskan begitu saja di tempat sampah. Syahla jelas terkejut melihat pemandangan itu. "Mas, bajunya..”
"Nggak papa sayang, biar nanti dicuci sama yang punya. Kalau nggak digituin nggak bakal dicuci. Udah, sini duduk, kamu pasti capek." Ustadz Amar menepuk-nepuk sofa dan mempersilahkan istrinya duduk.
Beberapa saat kemudian, Adi keluar dengan kaos dan celana panjang sudah menempel di badannya. Ia kemudian menghampiri pasangan suami istri itu dengan canggung.
"Halo, nyonya Amar. Aku Adi, teman serumahnya Amar. Aku minta maaf karena membuat kamu terkejut di kali pertama pertemuan kita,"
"Tidak masalah," Syahla tersenyum. "Panggil saja saya Syahla pak,"
"Pak?" Adi merasa keberatan. "Jangan pak dong, aku nggak setua itu. Aku tiga tahun lebih muda dari suamimu. Kamu bisa panggil aku Adi, atau Abang juga boleh."
"Ehem!" Ustadz Amar berdehem, pertanda dia keberatan dengan opsi terakhir.
Adi meringis. "Oh iya, Syahla kalau mau istirahat silahkan, kamu pasti capek kan? Kalau kalian berdua nggak nyaman sama keberadaanku di sini, aku akan numpang nginep di rumah orang."
"Eh, jangan!" Syahla buru-buru mengibaskan tangan. "Saya kan posisinya numpang di sini. Bang Adi tetap di sini saja, nggak apa-apa!"
"Eng.." Adi terlebih dulu melirik Ustadz Amar yang melirik tajam ke arahnya sebelum ia menggelengkan kepala cepat. "Nggak papa Syahla, demi keamanan jiwa dan raga, aku rela kok tidur di luar! Udah ya, aku pergi dulu, Bye!"
"Loh, Bang Adi! Mau kemana?" Syahla berniat mencegah kepergian Adi, tapi Ustadz Amar sudah menariknya sehingga dia kembali duduk di atas sofa.
"Sudah, biarkan saja. Kamu kaya nggak tahu saja kalau orang Indonesia itu fisiknya kuat, tidur di depan supermarket juga nggak masalah! Yang penting, sekarang kamu istirahat. Ya?"
__ADS_1
"Tapi.." Syahla masih mau menjawab. Tapi mengingat tubuhnya yang sudah terlampau lelah, ia akhirnya memilih diam dan menuruti suaminya saja.